Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 100 Kerumah Nina


__ADS_3

Di kantor,


Aku mencoba profesional dengan menyingkirkan semua yang bersifat pribadi, mengerjakan semua tugas dengan sebaik mungkin hingga jam makan siang tiba.


Membuka ponsel berniat menghubungi Nina untuk mengabarkan jika sepulang kantor akan mampir kerumahnya.


Menekan tombol panggil di kontak Nina,


"Halo cantikk.... miss you,, kok kita sehati banget sich,, tau aja Aku rindu banget sama Kamu...."


Suara cempreng Nina menyambutku sebelum sempat Aku menyapanya.


"Masak sichh,, Aku jadi terharu....,, kamu sehat?? gimana Twins??"


"Aku sehat, Baby twins juga sehat,, kapan main kesini... kangen tau... pengen ngobrol,,"


"Ini Aku mau ngabarin, ntar sore kamu ada dirumah gak? pulang kantor Aku mau main kesana,,"


"Hah??? serius?? beneran yaaa... Aku tunggu lochh..."


Pekik Nina tak percaya.


"Iya,, Aku serius,,, Aku juga mau cerita sesuatu"


"Apaan??"


"Ntar aja disana,, kamu pasti kaget pas Aku datang"


"Ahh Vina!!! Suka banget bikin Aku penasaran."


"Ya udah ya.... sampai ketemu ntar sore.."


"Oke......."


Aku lalu menutup panggilan.


Sebuah pesan dari Agung,


"Siang sayang,, Aku rindu kamu.... gak sabar nunggu hari sabtu,,"


Aku hanya membaca, tak tergerak hati untuk membalas.


Aku hanya berpikir bahwa waktu kebebasanku semakin sedikit dan terasa semakin menyempit hanya tinggal beberapa hari lagi,, maka antara Aku dan Dirga tak kan bisa bersama lagi, sementara hati ini masih sangat mendambakan kebersamaan lebih lama lagi.


Aku membuang nafas dan beranjak dari meja kantor, kemudian tiba-tiba,


Bruk!!!


Tak sengaja Aku menjatuhkan beberapa tumpukan file diatas meja.


Aku berjongkok untuk memungutnya, selembar form cuti yang tergeletak diantara tumpukan file mengalihkan pandanganku.


Dengan cepat kubereskan file file yang berserak, kemudian Aku duduk kembali di kursi, memandang form cuti ditanganku.


Disana tertera pengajuan cuti satu minggu terhitung mulai hari jumat hingga satu minggu kedepannya,, cuti tahunan yang kubuat beberapa hari yang lalu namun belum sempat kuserahkan kepada Hrd.


Aku terdiam beberapa saat, kemudian meremas form cuti tersebut dan membuangnya ke tempat sampah di kolong meja kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang kantor menuju kantin.


Selama menyantap makan siang, Aku terus saja memikirkan masalah cuti yang belum kuserahkan.


"Apa sebaiknya Aku memajukan tanggal cuti??"


batinku.


Aku mempercepat suapanku, lalu buru-buru kembali masuk keruangan.


Tanganku sibuk mencari lembar form cuti kosong.


Setelah berhasil menemukan, Aku mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen ditangan, mengatupkan rahang lalu menghembuskan nafas.


Aku sudah bulat dan sangat yakin, bahwa ingin memajukan cuti,,2 hari lebih cepat terhitung mulai rabu besok.


Setelah menandatangani, Aku bergegas menuju ruang Hrd untuk menyerahkan form cuti yang baru saja kubuat.


Urusan cuti sudah selesai, tentu saja hal ini akan ku rahasiakan dari Agung maupun kedua orang tuaku.


Ini memang terlalu berani, dan Aku akui ini perbuatan yang tidak benar, hanya saja.. Aku ingin merasakan lebih banyak waktu bersama Dirga di saat-saat terakhir sebelum Aku sepenuhnya menyerahkan takdir hidupku bersama Agung,, orang yang kupilih disaat hatiku tengah hancur dan patah,,


10 menit sebelum jam pulang kantor,


Aku merapikan mejaku yang akan kutinggalkan selama 1 minggu kedepan.


Pesan dari Dirga masuk,


"Vina... Aku udah di depan,,"


hanya membaca pesan sederhana itu saja, hatiku sudah sangat berdebar, deg-degan dan salah tingkah,,


Oh Tuhan..... beginikah rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya,, ketika hati dapat bergetar hebat meski hanya dengan mendengar atau hanya menyebut namanya saja?


Dimana darah bisa berdesir hebat, hanya dengan menatap mata teduhnya,, badan terasa panas dingin walah hanya sekedar sentuhan biasa dari tangannya..


dan jantung berdegup kencang ketika mendengar panggilan dari bibirnya.


Aku benar-benar merasakan itu Tuhan,,

__ADS_1


Aku mengeluarkan tissue dari dalam tas, menepuk-nepukkannya diwajah sebelum men touch up kembali bedak dan memoleskan lipstik berwarna pink muda di bibirku, serta sapuan blush on tipis menghias tulang pipi serta dagu.


Sekali lagi Aku berkaca, memastikan wajahku sudah terlihat segar, tak lupa menyisir dan menata rapi kembali rambut panjangku.


Setelah yakin sempurna, Aku meninggalkan kantor untuk menemui seseorang yang sudah membuatku berkali-kali jatuh cinta padanya.


"Hai... sorry ya lama,,"


Basa basiku begitu masuk kedalam mobil.


Dirga hanya menatapku tak berkedip, kemudian tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum?"


Tanyaku.


"Kamu cantik... "


"Hem.... Makasih,"


Ujarku malu-malu.


"Oh ya...Nih sapu tangan kamu,,"


Aku mengambil sapu tangan Dirga dari dalam tas lalu menyodorkan sapu tangan yang hampir saja lupa ku kembalikan.


"Harusnya tak perlu dikembalikan, simpan saja sebagai kenangan"


Jawab Dirga mengambil sapu tangan itu dari tanganku kemudian menempelkan di hidungnya.


"Harum sekali..."


Ujarnya terus menghirup aroma pewangi pakaian yang sengaja kugunakan sangat banyak untuk mencuci sapu tangan itu.


"Udah,, jangan di ciumin terus ntar kamu mabok lagi..trus pingsan,, Aku yang repot!!"


Sindirku sembari tersenyum.


"Bilang aja cemburu!!"


cetus Dirga menyalakan mobil, sembari menolehku sekilas.


"Hah?? cemburu?? sama siapa??"


Tanyaku bingung.


"Sama sapu tangan! wkwkwkkw "


Dirga tertawa,


"Enak!!"


Jawab Dirga lagi.


"Apanya??"


Aku bingung lagi ...


"Kamu tadi bilang garingkan?? enak,, kriuk kriuk.."


Aku tertawa..


"Lelucon macam apa ini....?? gak jelas!!"


pungkasku.


Mobil melaju meninggalkan kawasan kantor.


"Ehm,, Nina udah tau kalau kita mau kerumahnya??"


Tanya Dirga.


"Sudah,, tadi Aku udah ngabarin Dia,, tapi Aku gak bilang kalau mau datang sama Kamu,, "


Sahutku.


"Kira-kira bagaimana ya reaksi Nina begitu melihat Aku,, ?"


"Kenapa nanya gitu??"


"Ya... soalnya kan Yang Nina tau, kamu dan Agung akan tunangan"


Aku menarik nafas dalam, kemudian menyandarkan tubuhku pada sandara mobil yang ku stel lebih turun.


"Kenapa?? "


Tanya Dirga menolehku sesaat.


"Entahlah,, Aku tak bisa berpikir apa-apa.. dan kamu tau,, ide konyol tentang satu pekan bersama ini hampir-hampir membuat Aku jadi seperti bukan Aku!"


Dirga terdiam mendengar ucapanku.


"Aku jadi sering bohong, bohong dan bohong lagi untuk menutupi kebohonganku,, Aku ngerasa bersalah sama Mama, sama Papa, terutama sama Agung!!"


Mendengar itu, Dirga menarik nafas,

__ADS_1


"Vin, maaf.. Aku gak tau akan jadi seperti ini, Aku juga ga nyangka ide itu bisa tercetus begitu saja dari mulut Aku, semua terjadi begitu saja,, Aku minta maaf kalo hal itu buat kamu jadi gak nyaman.."


Terang Dirga, sementara Aku hanya terdiam.


"Ehm.. Kalau seandainya memang kamu gak nyaman,, kita sudahi saja... tak perlu menunggu sampai satu pekan,, Aku ngerti,,, Aku gak akan maksa.. demi kamu, orang tua kamu dan... Agung pastinya"


Sambungnya lagi.


Aku menoleh Dirga dengan cepat, menatap wajahnya yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Aku merasa Dirga tersinggung dengan ucapanku ketika menyebut nama Agung tadi.


sepanjang jalan, antara Aku dan Dirga tak lagi bersuara,, kami hanya saling diam.


Sampai tiba di depan rumah Nina, Dirga masih tetap bersikap dingin.


Begitu mobil berhenti, Dirga melepaskan seat belt yang mengikat tubuhku, sementara Aku menatap wajahnya yang kini tanpa senyum.


wajah yang sangat kuhapal ketika ia dalam keadaan cemburu.


"Kamu duluan saja,, Aku lupa membeli sesuatu.. "


ujarnya tanpa menolehku.


"Kamu mau kemana?"


Tanyaku menyentuh bahunya.


"Ke minimarket depan jalan sana"


Ujarnya.


Aku menelan ludah,, kemudian turun dari mobil.


Belum sempat berbicara lagi, mobil Dirga sudah lebih dulu pergi menjauh dariku.


Aku melangkah gontai, dengan pikiran yang sedang tak karuan karena sikap Dirga barusan.


Rumah Nina tampak sepi meski mobilnya terlihat terparkir di garasi.


Aku mengetuk pintu,


Tak lama,


Pintu terbuka, dan mataku terbelalak melihat seseorang yang sedang berdiri membukakan pintu untukku.


Bukan Nina, bukan pula Alif suaminya.


"Bu Vina?? iya,, ini Bu Vina kan??"


Ujar gadis manis yang sepertinya juga tengah terkejut melihatku.


Aku masih terdiam, heran, bingung dan nyaris linglung.


"Masih ingat Aku kan Bu?? Ayumi yang kemarin ketemu di Mall 21"


Aku menyudahi kebingunganku, mencoba tersenyum dan mengangguk.


"Ehm.. Ninanya Ada??"


"Oh.. Bu Vina temannya kak Nina ya... sebentar Aku panggilkan, Bu Vina masuk aja dulu,, silahkan duduk."


tawar Ayumi ramah kemudian berlalu masuk kedalam.


"Kak Nina?? sejak kapan Nina punya adik? apa sepupunya?? atau..."


tanyaku dalam hati,, tak lama.. Nina keluar dengan menggendong salah satu baby Twins.


"Haloooo sayang.... ya ampuuunnn,, kangenn,, sorry ya.. jadi gak nyambut kamu datang,, maklum... rempong,, he... he... he... Ni si Twins abis mandi pada molor,, ni baru bangun satu"


Nina duduk disampingku setelah memeluk dan menciumku heboh seperti biasa,,


"Iya,, gak apa-apa... Ini siapa nich... Rania atau Raina?? sumpah aku gak bisa bedain ha...ha..ha..."


Jawabku sembri mengambil baby twins dari tangan Nina.


"Raina Aunty...."


Jawab Nina.


"Eh.. iya,, sama siapa kesini,, sama Agung ya??"


Nina melongok ke pintu depan.


"Bukan,, sama seseorang tapi Dianya lagi ada urusan bentar,, katanya ntar kesini lagi."


"Oh... seseorang?? siapa?? Daniel??"


tebak Nina.


Aku tersenyum menggeleng,,


"Ntar juga kamu tau.. sabarrr!!"


jawabku semakin membuat Nina penasaran.

__ADS_1


Bersambung***@


__ADS_2