Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 128 Aku pamit


__ADS_3

Aku masih menatapnya, lalu mencoba mengajaknya bicara.


"Vin... Besok Aku ke Samarinda.."


Ucapku penuh pengharapan.


"Udah tau..!!"


potongnya cepat.


"Aku mau pindah loch..."


Berharap Vina sedikit tersentuh dengan kepindahanku.


"Udah tau!!"


Lagi-lagi Vina menjawab dengan jawaban yang sama.


"Selamanya menetap disana"


Aku masih berharap ada keajaiban yang membuat hati Vina melunak terhadapku.


"Terus? kenapa emang nya??"


Tanyanya, kali ini Vina membalik badannya menghadapku.


Berhasil,, keajaiban itu akhirnya terjadi Vina meresponku meski wajah nya masih saja datar, setidaknya Sekarang dia menghadap kearahku.


"Kita gak akan ketemu lagi..."


sambungku.


Mendengar itu, tiba-tiba Vina terdiam, entah apa yang ia rasakan, mungkinkah Dia merasakan sedih seperti yang Aku rasakan?


Tapi, ah.. sepertinya itu tidak mungkin.


"Kamu pasti senang kan,, gak kan ada yang gangguin kamu,, ngintilin kamu,, nanya- nanya in kamu"


Vina masih diam,, dan mulai menatapku.


Menyadari Vina tengah menatapku,, segera kubuang pandanganku jauh kedepan, entah kenapa Aku tak sanggup bila harus bertentang mata dengannya, hatiku terasa nyeri... semakin takut akan rindu yang akan menyerang ketika nanti Aku jauh, Beberapa kali Aku terjebak saling pandang, meski akhirnya Vina memalingkan wajahnya menghindari kontak mata denganku.


"Vin,, maafin Aku ya.. Kalau setahun ini, Aku sudah membuat kamu merasa tak nyaman di sekolah"


Ujarku membuat Vina tertegun menatapku, lalu menunduk.


"Aku juga tau,, kalau kamu gak suka Aku ikutin,, Aku tanya-tanyain,, Aku datangin"


Terlihat Vina terkejut mendengar ucapanku, lalu menatapku dengan tatapan berbeda.


Entahlah, Aku mendadak bodoh tak dapat mengartikan tatapan itu, yang Aku tau hanyalah seperti ada kesedihan yang menggantung disana.


"Gak kok Gung,, bukan begitu..."


Jawab Vina, namun segera kupotong ucapannya.


"Udah, gak papa jangan ngerasa gak enak, Aku menyadarinya sendiri kok"


Lanjutku meneruskan ucapanku


Vina terdiam, kemudian menunduk, terlihat juga beberapa kali ia menelan ludah lalu menarik nafas.


Entahlah, apa yang ada dihatinya sekarang,, Aku tak tau, apa yang dia rasakan,, terlihat jelas kemuraman diwajahnya.


Ahh,, Vina.. melihat itu Aku semakin bingung,, apa yang sebenarnya ada dihatimu,, mungkinkah kamu merasakan kegundahan yang sama seperti Aku?


"Aku cuma berharap.. Setelah kepindahan ku, kamu jangan jutek-jutek lagi ya"


Ledekku.

__ADS_1


Vina menatapku,, lalu tersenyum mengangguk.


Ya Tuhan,, benarkah ini.. Vina tersenyum padaku.. ya, hanya padaku! senyum yang terlihat tulus dari hati,, bukan senyum yang ia buat untuk bikin Dirgantara panas dan cemburu seperti waktu itu.


Tak bisa lagi kugambarkan betapa bahagianya Aku hari ini.


Sungguh ini seperti mimpi,,


Ingin sekali rasanya Aku berjingkrak menselebrasikan kegirangan hatiku, meski hanya sebuah senyuman, tapi menurutku ini adalah bentuk kemajuan yang Aku tunggu-tunggu.


"Ehm... Vin, Aku pasti bakal kangen sama kamu ..!"


Tak kusangka, Aku berani mengatakan itu pada Vina.


Mungkinkah,, ini semua gara-gara senyuman darinya, menjadikan Aku lebih percaya diri seperti ini?


Sementara Vina terdiam menatapku.


"Vin kelak suatu hari.. jika kamu mau cerita,, kamu mau ngobrol atau sekedar tanya kabar.. kamu boleh kok telpon Aku... hehehhe,


Anggap aja Aku lagi promosiin diri Vin,, siapa tau... setelah gak ketemu Aku lagi.. Kamu malah rindu, hehhe... iya gak??"


Aku mencoba memecah kekakuan antara kami dengan candaan receh yang Aku sendiri tak tau apakah Vina menerimanya atau malah merasa mual.


"Iiichhh, pede....!! gak mungkin lah Aku rindu,, kamu kan nyebelin!! hehhehe"


Astaga!! Tak kusangka Vina membalas candaanku, dan Dia tertawa..


Dalam hitungan menit, suasana kaku dan dingin itu berubah mencair dan hangat, bahkan Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja diantara kami.


Hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Eh... Vin,, nanti kita chating ya, kita balas-balasan email, kita main sosmed, berbagi cerita seru, dan pastinya kita bakal sering telponan ya..."


pintaku pada Vina.


"Ehmm... Gimana ya, Aku kan masih di anggap anak kecil, jadi Aku belum boleh main gituan...hehhehhe, masih polos soal nya"


"Alaaahhh ..lagak lu..."


Cibirku, sembari melengos.


"Nanti dech, kalau Aku udah di beliin ponsel, nanti Aku kabari ya,, kakak ku..."


Aku terperangah, mendengar ucapan Vina dan panggilan itu.. ini bukan yang pertama kali Vina memanggilku dengan panggilan itu, tapi kali ini panggilan itu terasa berbeda, hatiku bergetar mendengarnya.


"Kakak?? sejak kapan?? Tapi... Gak papa dech, lucu juga"


Aku manggut-manggut, lalu meraih tas kecil yang sedari tadi menempel di tubuhku, lalu mengeluarkan kertas,, dan menuliskan deretan angka.


"Nich, kamu simpan ya... itu nomor ponselku."


Aku menyodorkan pada Vina.


"Oke..."


Vina menyimpannya dalam saku celananya.


"Vin.. Aku gak selamanya kok di Samarinda, suatu saat Aku akan balik lagi ke sini.."


"Terserah kamu aja,, kapan pun Kamu mau balik, Mama Papa pasti ngizinin kamu buat nginap di sini."


Tawarnya ramah.


"he ehm...makasih ya.."


"Ngomong-ngomong, kok kamu nyenenginnya di detik-detik Aku mau pindah sich? curang ah..."


Ujarku sedikit kecewa.

__ADS_1


"Loch, curang gimana?"


"Ya curang,, dulu kamu jutek banget,, sekarang, di hari terakhir Aku disini,, kamu super nyenengin.. bikin galau dech.."


"Kok galau??"


"Galau lah, jadi bimbang mau ikut pindah atau tetap tinggal"


"Hahahahaha...."


Untuk pertama kali Aku melihat Vina tertawa lepas,, Aku menatapnya dan tak kuasa ikut tertawa bersamanya.


"Ehm.. Vin,, boleh tanya satu hal? Eehm... Tapi, gak jadi lah nanti aja"


Aku mengurungkan niat ku untuk bertanya.


"Loch...kenapa?? Mau tanya apa? tanya aja.."


Desak Vina.


"Hehehe...nanti aja lah,, nanya nya pas Aku udah gak disini lagi, biar seru"


"Ah...dasar...Aneh"


"Bukan aneh... tapi lucu.. hihihi"


Aku tertawa.


Tanpa terasa,,waktu beranjak siang..


hari ini adalah hari pertama kami ngobrol santai dan lama.. dan untuk pertama kalinya Vina menanggapi Aku tanpa kekesalan.


Suara mama dan tante Yuni yang semakin mendekat ke arah kami, membuat kami menoleh.


"Sudah puas ngobrol nya Gung?"


tanya Mama.


"Iya ma,,"


"Tante pulang ya Vina sayang... Sekalian pamit, nanti kalo ada waktu,, kita main-main lagi."


Ujar Mama sembari mengelus kepala Vina, sungguh pemandangan yang indah.


"Iya tante,, hati-hati dijalan ya.. semoga selamat sampai tujuan,"


Ujar Vina.


"Buat kamu juga..!! Semoga betah ditempat yang baru"


Sambungnya dengan menjabat tanganku dan mengayunnya pelan.


Semua seperti mimpi, tanganku dan tangan Vina bertaut dan mengayun pelan diudara, jantungku berdebar, hatiku bergetar.. Sungguh Aku semakin terbuai dibuatnya.


"Andai saja.. sejak dulu kita seperti ini.. Vin..."


Bisikku dalam hati.


"Siap bosss"


Jawabku, mengundang gelak tawa dari kami semua.


Vina... dan kedua orang tuanya, mengantar Aku dan Mama sampai ke depan pagar.


Nampak Mama dan tante Yuni tengah berpelukan erat,, terlihat keduanya menitik kan air mata.


Pemandangan haru menyelimuti kami semua,


Tak cuma mereka yang bersedih, tapi Akupun merasakan hal yang sama,, pedih.. perih.. dan nyeri..

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2