
Dirga menatapku, sorot matanya penuh tanya.
"Daniel? Dia....."
"Dia sahabat Aku, sahabat sejak kita masih sama-sama disekolah dasar"
potongku sebelum sempat Dirga melanjutkan ucapannya.
Dirga mengatupkan bibir dan terlihat mengangguk pelan dengan wajah seolah penuh pertanyaan dan kegelisahan.
"Kamu kenapa, ekspresinya kok gitu?"
ujarku menatap wajah Dirga yang menunduk.
"Aku hanya berpikir sesuatu tentang Daniel, dan Aku yakin, bahwa Dia menyimpan hati untuk kamu,, terlihat dari cara dia menatap kamu, ada cinta yang begitu besar dari tatapan itu"
Dirga berbicara tanpa menatap mataku.
"Sok tau kamu!! kayak pakar ekspresi aja? hanya dengan melihat foto bisa bisanya menilai seseorang.. he.. he.."
Aku menepuk bahu Dirga dengan tertawa kecil, membuat Dirga tersenyum menolehku.
"Emang Dia gak pernah bilang kalau dia Suka kamu gitu?!"
Tanya Dirga.
"Dir... ngapain nanya gitu? kamu cemburu ya?? kan kamu bilang sendiri.. kita kesini buat bahas dan ngobrol tentang kita, menghabiskan waktu berdua tanpa membahas orang lain,"
Aku menyentuh pipi Dirga yang terasa dingin.
Mendengar itu, Dirga menolehku tersenyum lalu meraih tanganku, mengecupnya lembut.
"Iya.. kamu benar... waktu kita tinggal sedikit lagi, gak seharusnya kita sia-siakan untuk pembahasan yang lain"
Aku membalas senyum itu.
Dirga merangkul bahuku, dan Aku kembali menyandarkan kepalaku dibahunya, melewati malam dingin dengan menghadap api yang sedikit bisa menghangatkan tubuh.
Malam semakin menanjak, suhu semakin dingin, dengan piyama yang tengah kupakai sungguh tak bisa melawan dingin yang terasa menusuk sampai ke tulang, meski topi dan syal rajut sudah kukenakan sejak awal, tetap saja tubuhku terasa hampir beku.
"Kamu kedinginan ya??"
Ujar Dirga sepertinya menyadari gerak gerik tubuhku yang tengah kedinginan.
Aku mengangguk,
Dirga meraih tanganku dan menggosoknya perlahan, lalu menggenggamnya erat.
"Sini agak majuan"
Ajak Dirga untuk lebih mendekat dengan api.
Rasanya ingin sekali pulang ke villa, merebahkan diri di tempat tidur dengan selimut tebal, namun Aku tak mau melewatkan malam ini.
"Vin,, kamu ngantuk? mau Aku antar kembali ke villa?"
Tawar Dirga dengan menyelipkan rambutku di belakang telinga.
Aku terdiam, berpikir sejenak.
__ADS_1
"Ehm... Kenapa? tenang aja... Aku gak akan ikut masuk,, malam ini, Aku tidur di tenda ini saja,, Aku sewa Villa itu buat kamu"
Seperti ada batu besar yang baru saja lepas dari hatiku, lega sekali mendengar pernyataan Dirga barusan.
Tak salah Aku mencintainya sejak dulu,,
"Yuk... Aku antar...."
Dirga berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya membantuku berdiri,,
Berjalan pelan bersisian dengan tangan bertaut menuju Villa membuat hatiku benar-benar merasa nyaman dan tentram, namun hal yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi...
Baru beberapa langkah meninggalkan Tenda dan Api unggun, hujan tiba-tiba saja turun tanpa memberi tanda terlebih dahulu, membuat Aku dan Dirga panik, begitupun dengan pengunjung lain yang lari kocar kacir untuk berteduh.
"Astaga!! hujan Vin,, yuk buruan lari...sebelum hujannya semakin deras!"
Dirga menarik Lenganku.
Sementara pengunjung lain memilih berlari masuk kedalam tenda.
"Dir, hujan nya makin deras!!, kalau kita Ke villa percuma juga kita akan habis basah!!"
Posisi Villa yang masih jauh sementara hujan semakin deras, tak ada pilihan lain, kecuali memutuskan untuk putar balik masuk kedalam tenda seperti yang lain.
Setelah sampai kembali ke tenda, Aku buru-buru menutup resleting tenda menghindari percikan air hujan masuk dan membasahi bagian dalam tenda.
Dirga hanya diam dan terlihat canggung ketika berada didalam tenda.
Sebagian rambut dan wajahnya basah begitupun Aku, membuat tubuh kami semakin kedinginan.
Api unggun yang menjadi satu-satunya penghangat kini sudah padam diterpa air hujan yang lebat,
Sungguh rasanya begitu menggigil.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa kami akan berada di dalam ruang sempit, hanya berdua saja dalam kondisi setengah basah dengan cuaca yang sangat dingin.
Lima belas menit berlalu, hujan masih saja deras, tak ada tanda-tanda akan berhenti, sementara tubuhku sudah sangat menggigil kedinginan.
"Sayang... Hujan semakin lebat, tak ada tanda-tanda untuk segera berhenti, sepertinya akan sangat awet"
Ucap Dirga tanpa merubah posisi.
Aku tak menjawab, malah semakin mengecilkan tubuh dan membenamkan kepalaku diantara lutut, berharap bisa mengurangi sedikit kedinginan yang tengah kurasakan.
"Sayang... Kamu kedinginan?"
Dirga memutar badannya menghadapku.
Begitupun Aku.
Dirga menatapku dengan mata sendunya, begitupun Aku dengan gigi yang gemeretak menahan dingin.
Mata kami berpadu, tanpa senyum dan ekspresi hanya saling pandang dan terdiam menahan dinginnya malam.
Tak lama kemudian, Dirga memegang bahuku memperhatikanku, lalu mengusap wajahku dari sisa percikan air hujan yang masih tersisa.
Dirga juga merapikan rambutku, Aku benar-benar terbuai dengan semua perlakuan itu, terlebih ketika Dirga membawa Aku kedalam pelukannya, erat dan terasa hangat.
Aku memejamkan mata meresapi tiap cinta yang mengalir dari nafasnya yang membuat tubuhku kini terasa lebih hangat.
__ADS_1
Merasa sangat nyaman, membuatku semakin dalam membenamkan kepalaku didada bidangnya, kini tanganku membalas pelukan itu.
Setelah beberapa saat,
Dirga melepaskan pelukan eratnya dari tubuhku, membuat Aku kembali membuka mata dan tersadar dari buaian hangat cinta yang ditawarkan Dirga barusan.
"Kamu ngantuk Vin?"
Tanya Dirga dengan menangkupkan kedua belah tangannya pada pipiku.
Aku menengadah menatap mata yang terlihat penuh cinta itu.
Dirga mengecup keningku, lalu kembali memelukku.
Setelah itu, Dirga merubah posisi duduk nya dengan berpindah ke belakang tubuhku.
Dirga menarik tubuhku agar bersandar pada dadanya dengan posisi setengah berbaring, sementara Dirga memelukku dari belakang dengan tangan menangkup pada kedua lenganku berusaha untuk tetap menghangatkan Aku.
Aku hanya diam mengikuti semua bahasa tubuh Dirga, tanpa penolakan.
Selain karena rasa dingin yang membuatku nyaris beku, perasaan nyaman karena cinta juga menjadi alasanku menikmati romansa cinta yang tengah terjadi malam ini.
"Kamu tidur aja ya sayang,, Aku jagain kamu.. sampai hujan reda dan kamu bisa balik ke villa"
Aku mengangguk.
"Maafkan Aku, karena Ideku,, kamu jadi kedinginan seperti ini"
Sesal Dirga padaku.
Aku kembali membuka mata, dan menutup mulutnya dengan jari-jariku yang gemetar.
"Gak perlu minta maaf,, ini bukan salah kamu sayang"
Mendengar itu, Dirga membuka matanya lebar-lebar,
"Vin,, barusan tadi... kamu manggil Aku??? Sa... yang??!"
Ucapnya terbata tak percaya.
Aku mengangguk tersenyum,,
"Sungguh ini bukan halusinasiku karena dingin kan??"
Dirga kembali bertanya.
Aku menggeleng, kemudian tersenyum.
"Aku sayang sama Kamu!"
Ucapku.
"Sejak pertama kita kembali bertemu lagi,, Aku tak pernah mendengar pengakuan cinta kamu terhadap Aku,, terlebih panggilan itu...sama sekali tak pernah kudengar.. dan malam ini,, Aku mendengarnya.. dari bibir ini!"
Dirga mengusap lembut bibirku dengan ibu jarinya.
"Makasih sayang... makasih"
Dirga mengeratkan kembali pelukannya di tubuhku.
__ADS_1
Aku memejamkan mata, terlebih ketika Dirga membenamkan wajahnya pada samping leherku dan mengecupnya dengan lembut.
Bersambung***