Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 176 Ada apa dengan Elza?


__ADS_3

Rasa lega seketika kurasakan,, terasa lepas semua yang terhimpit di dalam hati.


Betapa Aku merindukan masa-masa ini, setelah bertahun-tahun tersimpan rapat, tertutup kabut amarah yang sebenarnya hanya bias diantara rasa rindu dan kesalah pahaman antara kami.


"Sudah hampir sore,, sepertinya kita harus pulang,,"


Kata-kata Dirga membuat Aku melepaskan pelukanku yang terus melekat pada Tari.


Rasanya sudah sangat lama sekali Aku tak merasakan hangatnya berada didekat Tari.


"Iya,, Aku juga khawatir Twins rewel"


Sambung Nina menoleh pada Alif.


Elza juga mengangguk tanda menyetujui usul Dirga.


"Ya udah, Tar.. Gung... Kita semua pamit pulang dulu,, nanti kita atur jadwal lagi biar kita kumpul-kumpul lagi ya..."


Ujarku,, Tari mengangguk tersenyum.


"Setuju banget,, apalagi kalau kumpulnya sambil terima undangan dari kalian berdua ya kan??"


Seloroh Nina, disambut anggukan dan senyum dari semuanya, tapi tidak dengan Elza.


Aku melihat ada yang janggal dari diri Elza sore ini.


Wajahnya terlihat berkeringat, sedikit pucat tangannya tak henti mengusap perutnya yang buncit.


"Aamiin... doain ya biar secepatnya bisa menyusul kalian"


Jawab Dirga.


"Za... kamu gak pa pa?"


Tanyaku menatap cemas membuat semua secara serentak memandang Elza, termasuk Daniel yang segera siaga mengajak Elza kembali duduk.


Elza terlihat meringis.


"Za... kumat lagi?"


Kata-kata yang terlontar dari mulut Daniel memancing tanda tanya besar dalam hatiku.


"Kumat lagi? maksudnya gimana Niel?"


"Sudah satu bulan ini, Elza selalu mengeluhkan nyeri di perutnya?"


"Lalu apa sudah diperiksakan ke dokter?"


Tanyaku yang juga kini memilih duduk di hadapan Elza.

__ADS_1


"Sudah, kata dokternya cuma kontraksi biasa.. tapi... akhir-akhir ini kayaknya lebih sering dari biasanya deh,, iyakan za??"


Jawab Daniel terlihat seolah sedang mengingat ingat.


Tak lama, Agung datang dengan membawakan segelas air hangat untuk Elza.


"Minum dulu za..."


Aku menyambut gelas dari tangan Agung dan menyerahkannya pada Elza.


"Makasih Vin,, ehm... udah,, Aku gak apa-apa.. sekarang udah mendingan.. yuk pulang"


Ujar Elza setelah meneguk habis air hangat ditangannya.


"Kamu yakin?"


Tanya Daniel,


"Atau kita langsung cek ke dokter gimana?"


Sambungnya.


"Enggak,, enggak usah Niel, Aku udah gak papa..."


Tolak Elza.


"Selalu gini,, selalu nolak kalau diajak cek ke dokter,, Aku takut kamu kenapa-kenapa!"


"Iya za, Daniel benar... seharusnya di cek aja dulu,, takut kehamilan kamu kenapa-kenapa"


Bujuk Nina.


"Beneran,, Aku udah gak apa-apa Nin, gak usah cemas ya... tuh lihat.. Aku udah baik-baik aja kan?"


Elza mencoba tersenyum didepan kami semua.


"Ya udah kalau gitu,, yuk kita pulang"


ajakku


Semua bergegas beranjak setelah ketegangan yang baru saja terjadi karena Elza.


Setelah berpamitan pada Agung dan Tari, Kami semua satu persatu menuju mobil masing-masing untuk pulang.


Sampai di mobil,


"Ehm... Vin, apa sebaiknya bulan depan saja kita menikah,,!!"


Penuturan Dirga barusan membuatku tercengang-cengang.

__ADS_1


"Hah? Bulan depan? Kamu serius??"


Tanyaku tak percaya.


"Ya... Aku serius....!!"


Jawab Dirga mantap dan penuh keyakinan.


"Dir, kamu bilang gini karna kamu kepancing sindiran mereka tadi ya?"


selidikku menatap raut wajah serius Dirga.


"Kepancing? kenapa harus kepancing,, enggaklah... Aku cuma merasa memang sudah saatnya kita meresmikan hubungan kita dengan sebuah buku nikah,, gak cuma kata-kata Aku sayang kamu, gak sanggup kehilangan kamu ya gitu-gitu"


"Hemm.... Apa kamu sudah beber-bener yakin?"


Tanyaku lagi.


"Vin,, Aku udah yakin 1000 persen,, jadi tunggu apa lagi,, teman-teman kamu bener loh,, sekarang cuma tinggal kita yang masih belum halal,, masih on the way Halal, padahal yang lain udah on the way baby"


Aku tertawa mendengar ocehan Dirga yang disertai muka memelas darinya.


"Vin, kok ketawa?? mau kan,, ?"


Dirga menggoyangkan lenganku.


"Ehm... Gimana ya? setuju gak ya??"


"Ahh.... Vina!! "


Dirga melengos, membuang mukanya lalu menyalakan mobil segera melaju meninggalkan rumah Agung menggilas jalanan kota.


Mobil berhenti di depan rumah,,


"Vin,, setuju gak setuju Aku mau turun nemuin Papa sama Mama kamu!!"


Ujarnya.


"Loh,, untuk apa?"


Tanyaku bingung.


"Aku mau meminta restu melamar kamu!! Aku gak mau tunangan-tunangan lagi!! Pokoknya lamaran langsung nikah TITIK!!"


Dirga turun dari mobil, meninggalkanku dan berjalan cepat menuju pintu rumahku yang tertutup.


Mendapati itu semua, dengan cepat, Aku turun dari mobil dan segera menyusulnya.


"Dirga!! Tunggu dulu!!

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2