Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 179 Menemui Elza


__ADS_3

Keesokan harinya,


"Pagi calon Istri....."


Sapa Dirga begitu Video call darinya kuangkat,


Aku sudah bersiap ingin berangkat kerja,


"Pagiiii juga calon imam..."


Jawabku.


"Sudah cantik banget,, masih pagi loh..."


"Iya,, sengaja... mau cepet-cepet sampe kantor.. kamu belum mandi? emangnya gak kerja?"


Tanyaku heran sembari melangkah menuju mobil.


"Kerja,, bentar lagi... cowokkan gak perlu dandan,, Ehm... kenapa pengen cepet-cepet sampe kantor,, ada yang mau di lihat ya .. ahh,, kamu,, Aku jadi cemburu!!"


Ambeknya yang masih terlihat berbaring di bawah selimut.


"Yahh... mulaiiii,, gak lah,, mau ada meeting pagi ini,, oh iya... gimana kamu udah bilang sama Paman tentang yang kemarin?"


Tanyaku yang kini sudah ada dibalik kemudi.


"Ehm... iya,, Aku nelpon juga mau ngabarin itu,, udah... Aku udah bilang,, besok malam Paman sama Bibi eh,, semuanya deh... mau datang kerumah kamu.. sampein sama Orang tua kamu ya..."


"Oke,, ya udah ya... Aku mau jalan dulu... kamu buruan mandi.. baukkk!!!"


Ledekku sembari menutup hidung.


"Ehmmm... ya kaliii sampe sana kecium!! Ya udah kamu hati-hati ya... bye Vitri!!!!"


mataku melotot mendengar panggilan dari Dirga, niatku untuk mematikan panggilan kuurungkan.


"Vitri??! Vitri siapa??!!"


"Hahaha... hahha.... Vitri,, Vina calon istri.. Haha"


"Ohh... kirain,, ya udah Bye..."


Aku mematikan panggilan dan segera meluncur menuju kantor.


Diperjalanan,


Aku kembali mengingat Elza,, sejak pesannya semalam, Aku jadi selalu memikirkannya, muncul perasaan tak enak setiap kali menduga-duga apa yang ingin ia ceritakan.


Sampai di kantor, kucoba melupakan sejenak tentang pikiranku yang berpusat pada Elza setidaknya sampai jam istirahat makan siang nanti.


Menenggelamkan diriku dalam segala rutinitas harian kantor, seperti biasanya, bahkan hari ini, setumpuk berkas untuk meeting pagi sudah menunggu diatas meja kerjaku.


Jam makan siang tiba,


Buru-buru kurapikan meja kerjaku, memasukkan semua peralatan kedalam laci.


Kuraih ponsel dan memeriksanya.


2 pesan kuterima, dari Elza dan Dirga.


Aku membuka pesan masuk dari Elza.


💌


"Vin, kamu jadi kesini kan?"


Segera ku ketikan balasan,


"Jadi za,, Aku otw sekarang"


Lanjut membuka pesan dari Dirga,


"Sayang.. makan siang bareng mau?"


Rasanya ingin sekali kunikmati siang ini makan bersama Dirga yang pastinya akan dilewati bersama dengan kencan super romantis, tapi tak mungkin kubatalkan janjiku untuk menemui Elza dirumahnya.


Huffth...


Sejenak kuhela nafas panjang lalu kubalas pesan Dirga.

__ADS_1


"Sebenarnya Aku pengen banget Dir,, tapi maaf banget ya,, Aku sudah janjian sama Elza.. gak papakan?"


Hanya beberapa detik, balasan kembali kuterima,


"Oke,, gak papa... makan siangnya kita ganti makan malam gimana?"


"Oke,, siap.. sampai ketemu nanti malam ya.."


"Siap sayangg..."


Kumasukkan ponsel ku didalam tas, lalu meraih kunci mobil diatas meja, kemudian bergegas Aku meninggalkan kantor, menuju parkiran dan melesat menuju rumah Elza.


Hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit saja, Aku sudah sampai didepan kediaman Elza dan Daniel.


Sebuah rumah yang dibeli Daniel beberapa hari setelah mereka menikah.


Selama Elza menikah dengan Daniel, ini adalah kedua kalinya Aku main kesini, yang pertama, saat pertama kali mereka pindah, dan ini yang kedua kalinya.


Aku memandang sekeliling rumah yang nampak sepi, sudah dipastikan Daniel tak ada dirumah,, karena bekerja.


Bergegas turun dari Mobil dan berjalan menuju depan pintu rumahnya.


Belum sempat jariku memencet bel rumah tersebut, pintu sudah terbuka dan perempuan dengan wajah pucat muncul dari baliknya.


"Elza.... "


Aku menyebut namanya pelan, mataku memandang tak berkedip penampilannya, seakan tak percaya dengan apa yang terpampang didepan mataku saat ini.


Wajah pucat, tanpa polesan bedak dan lipstik, tanpa alis mata dan bulu mata lentik, bahkan rambut panjangnya hanya diikat seadanya.


Sungguh berbanding terbalik dengan Elza yang kukenal biasanya, yang tak akan pernah lepas dari lipstik serta pensil alis, yang tak pernah percaya diri bertemu orang tanpa polesan bedak dan bulu mata,, bahkan rambut,, Elza begitu piawai menata rambut dengan berbagai macam model.


Kemana semua itu sekarang?


Dan kemarin? wajar saja penampilannya kemarin jauh terlihat sederhana dibanding yang sudah-sudah saat menghadiri acara, biasanya Elza akan terlihat paling cetar membahana, secara ia adalah seorang yang sangat memperhatikan fashion dan bukankah memang pekerjaannya sebagai beauty vlogger, yang juga merangkap sebagai pengelola bisnis kosmetik.


Apa jangan-jangan Daniel memperlakukannya dengan buruk, apa rumah tangga mereka tak bahagia hingga Elza benar-benar terlihat berbeda?


pertanyaan serta dugaan-dugaan negatif memenuhi ruang kepalaku.


"Masuk Vin,,"


"Eh iya... ehm,, Za.. kamu baik-baik saja?"


Tanyaku disela-sela langkahku masuk mengiringi langkahnya yang terlihat berat.


Elza menatapku, dan tersenyum layu.


"Kenapa nanya gitu? Aku jelek ya??"


Selorohnya.


"Ahh... maaf Za,, jangan tersinggung,, Aku gak bermaksud, ehm bukan gitu,, tapi sepertinya kamu sedang tidak enak badan,, kamu pucat"


Jawabku buru-buru memegang tangannya, sungguh Aku sangat takut Elza tersinggung, atas pertanyaanku.


"Iya gak apa-apa, wajar kok kamu nanya gitu...Aku memang sedang tak sempat memperdulikan penampilanku,,"


"Kenapa Za? Ada apa? Apa kamu lagi ada masalah sama Daniel?"


Cecarku,


Elza tersenyum kemudian menggeleng.


"Duduk dulu Vin,, Aku buatkan kamu minum ya,, sambil Aku siapkan kamu makan,, tentu kamu belum makan siangkan? kita makan sama-sama"


"Za... za.. udah,, kamu disini aja.. biar Aku yang ambil minum dan siapkan makan,, kamu bilang aja dimana tempatnya"


Aku memegangi tangan Elza menghentikan langkahnya yang tampak gemetar.


"Gak apa-apa Vin,, Aku aja.."


tolak Elza.


"Enggak... enggak,, kamu gemetaran gini,, kamu duduk aja ya..., Daniel juga!! udah tau istrinya lagi sakit bukannya ambil cuti dulu kek!!"


Omelku kesal.


"Daniel gak salah kok Vin, Aku yang memintanya untuk tetap bekerja"

__ADS_1


Bela Elza, membuatku menoleh sesaat dan melanjutkan langkahku keruang makan,


Di pojok ruangan, terlihat meja makan yang diatasnya banyak sekali bungkusan, dan begitu kuperiksa ternyata isinya aneka masakan yang sepertinya sengaja dipesan Elza karena Dia tak bisa masak karena sedang sakit.


"Za... makanannya yang ada diatas meja ya??"


Pekikku dari arah meja makan.


"Iya Vin,, Aku belum sempat masak.."


Ujarnya sambil berjalan pelan sembari memegangi perutnya menyusulku.


Melihatnya terhuyung, Aku buru-buru menghampirinya dan memapahnya untuk duduk di kursi makan.


"Maaf ya,, sambutannya seadanya.."


Ujar Elza.


Aku seperti tengah melihat orang lain, bukan Elza yang Aku kenal ceria dan super cerewet.


Kini Elza terlihat lemah dengan wajah kuyunya.


Setelah semua selesai kuhidangkan, Aku mengambilkan piring untuk Elza.


Saat mengisikan nasi ke piring Elza, dan hendak mengisi lauk, Elza menolak dan menarik piringnya.


"Kenapa za?"


Tanyaku bingung.


"Aku sedang tidak berselera makan itu Vin,,"


Ujarnya, kemudian meraih botol kecap yang terletak tak jauh dari piringnya, kemudian menumpahkan sedikit kecap di nasinya.


Aku terperangah melihatnya.


Sadar tengah diperhatikan, Elza tersenyum menatapku.


"Makan Vin..."


Aku mengangguk lalu buru-buru mengalihkan tatapanku dan menyuapkan pelan nasi kemulut.


"Za... Aku... boleh nanya?"


Ujarku hati-hati.


Elza mengangguk,


"Kamu sakit? kamu sakit apa? lalu... Apa kamu dan Daniel baik-baik saja atau... Daniel memperlakukan kamu tidak baik?"


Hatiku berdebar menunggu jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut Elza.


"Aku sama Daniel baik-baik saja Vin, Daniel memperlakukan Aku baik, Dia peduli dan sangat perhatian sama Aku,, kamu jangan berpikir yang jahat-jahat tentang Daniel, Dia suami terbaik, bukan hanya Daniel,, tapi Ibu dan Ayahnya juga begitu baik"


Aku menarik nafas lega, setidaknya satu pikiran jahatku tidak terbukti.


"Lalu... Apa yang membuatmu sampai seperti ini?"


Tanyaku lagi.


"Aku sakit Vin,, Aku akan cerita tapi kamu janji... jangan pernah ceritakan ini kepada siapapun,, termasuk Daniel,,"


Elza menatapku matanya seolah memohon.


"Sakit apa Za?? dan... kenapa Daniel tak boleh tahu tentang penyakit kamu,, bukankah Dia suami kamu?"


Tanyaku sedikit cemas.


"Aku gak mau ngebebanin Dia Vin,, kasian Dia Sudah terlalu banyak beban dalam hatinya.."


Elza menghentikan suapannya, Air matanya mengalir, hal itu membuat Aku meletakkan sendok yang baru saja kuangkat untuk masuk kedalam mulut, dan memilih beranjak dari kursi untuk memeluk Elza.


"Za.... Ada apa ini sebenarnya... cerita semuanya ke Aku..."


Elza melepaskan pelukanku, dan beranjak dari kursinya.


"Ayo ikut Aku..."


Ajaknya menuju kesebuah tempat, yang baru kuketahui bahwa tempat itu adalah kamar nya.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2