
Sejak dari kejadian disekolah tadi, sampai sore ini, Aku masih memikirkan tentang ucapan Tari dan Daniel.
Mungkin mereka benar, Aku terlalu naif, terlalu berharap dan terlalu memaksakan diri.
Cinta pertamaku tumbuh kala Aku masih terlalu belia, hingga itu membuatku berpikir jika cinta pertama adalah cinta sejati yang akan terus abadi dalam hati, lantas..
Apa itu salah??
Kurasa tidak!!
Cinta itu fitrah, dan Aku tak bisa menolak kehadirannya di hatiku, apalagi harus membuang dan melupakannya begitu saja, tidak bisa!!
Perasaan ini terlalu kuat!! dan jika kelak cinta pertama ini memang tak ditemukan dan dipersatukan oleh takdir, setidaknya Aku siap dan tau alasannya mengapa.
Huufft....
Aku merebahkan diri diatas tempat tidur, Besok Agung pulang lagi ke Samarinda, padahal besok belum genap satu minggu, entah apa alasan Agung yang akhirnya memilih menyudahi liburannya lebih cepat dari yang sudah ia rencanakan diawal.
Ingin sekali rasanya Aku mengantar Agung sampai bandara, tapi sekolahku bagaimana, apalagi sekarang di sekolah lagi gencar-gencarnya ulangan dadakan dan quiz.
Drrttt....
Pesan masuk dari Agung,
💌
"Vin, habis magrib Aku jemput ya... kita jalan, "
Segera Aku mengetikkan balasan.
"Oke"
Singkat, dan berhenti hanya sampai disitu.
...****************...
Selepas mandi sore,
"Duh.. Anak gadis tumben banget jam segini udah mandi, rapi.."
Komentar Mama begitu melintas didepan kamar yang sengaja tak tertutup rapat.
"Oh iya Ma, Vina lupa bilang,, nanti habis Magrib, Vina mau keluar sama Agung, boleh yah Ma,, besok Agung balik ke Samarinda"
Ujarku sembari berjalan mendekati Mama yang berdiri di ambang pintu kamarku.
Mama mengangguk.
Waktu yang ditunggu-tunggu tiba,
Tepat pukul 7 malam, terdengar suara pintu diketuk.
Aku yang sudah rapi berjalan kearah pintu untuk menemui Agung, namun langkahku kalah cepat dari Papa yang lebih dulu tiba di depan pintu.
"Eh Agung, mau keluar ya sama Vina?"
Tanya Papa.
__ADS_1
Aku menghampiri Papa disusul Mama.
"Ehm... Iya Om, boleh kan Om?"
Agung sedikit canggung.
"Boleh, asal pulangnya jangan larut malam ya Gung, besok Vina sekolah."
Pesan Papa.
"Siap Om, maksih ya Om"
"Ya udah, Ma.. Pa... Vina pamit ya..."
Aku mencium kedua orang tuaku, begitupun Agung yang dengan sopannya mencium tangan Mama dan Papaku.
Kami melaju menembus keramaian kota, dan berhenti di taman kota.
"Ehm... Vin, awalnya Aku mau ngajakin kamu ngedate di kafe, tapi dijalan tadi Aku berubah pikiran, dan memutuskan ngajakin kamu kesini, kamu gak masalahkan Aku ajak kesini?"
Ujar Agung sembari turun dari motor dan berjalan bersisian denganku menuju bangku taman.
Aku menoleh Agung, mengangguk dan tersenyum.
Baru saja duduk, Agung meninggalkanku beberapa saat dan kembali lagi dengan 2 botol minuman dan satu kantong snack.
"Maaf ya, nunggu lama... "
Ujarnya seraya membukakan botol minuman untukku.
"Malam ini kamu cantik, makasih ya..."
Aku mengernyitkan dahi.
"Makasih?? untuk apa??"
"Makasih, untuk malam ini.. kemarin... dan hari-hari lainnya selama Aku disini"
"ih, serem ah... pake maksih-makasih gitu... biasa aja"
Aku menggeleng.
"Ehm... Vin, Eng.... ah... udah ah gak jadi!!"
Terlihat Agung bersandar pada kursi taman.
"Apa?? Mau ngomong apa sih?? Ngomong aja, ntar jerawatan loh...."
Desakku.
"Hahhahh... enggak jadi, Aku lupa mau bilang apa hehheh"
Agung tersenyum lebar.
"Ih... aneh!!"
"Biarin aneh, yang penting kece?"
__ADS_1
Agung membusungkan dada dan membenarkan kerah bajunya sombong.
"Idiihhh.... sombong banget.!!!"
Aku mengacak-acak rambut Agung, membuat Agung dengan cepat menangkap lenganku.
Matanya menatapku dalam dan lembut, bibirnya mengatup rapat, terlihat dadanya naik turun menandakan jantungnya berdegup sangat kencang dan cepat.
Mataku tak berkedip menyaksikan raut wajah sempurna didepan wajahku dengan jarak yang cukup dekat, hingga hembusan nafasnya sangat bisa kurasakan.
Malam ini baru kusadari, Agung begitu manis.
Namun sebelum hatiku merasakan hal yang lebih aneh lagi..
"Ehm... Maaf... becandaaa!!!"
Ujarku menarik cepat lenganku dari genggam tangan Agung.
Agung menghembuskan nafas, seolah baru tersadar dari ketidak sadarannya merubah posisi duduknya kembali seperti semula.
"Ya Tuhan, kenapa perasaan ini bisa berubah canggung seperti ini!!!"
Batinku.
"Ehm... Vin, nanti pas Aku pulang, kamu jangan rindu ya... sebab Palembang Samarinda itu cukup jauh, gak bisa ditempuh pakai motor butut sewaanku ini! Hahhaha"
Agung terlihat berusaha mencairkan suasana yang sempat beku sesaat.
"Hahahh,, bukan Aku yang rindu, malah motor sewaan kamu yang rindu!"
"Iya ya... Dia hebat loh... setia banget sama Aku selama Aku disini Tapi besok Dia Akan kutinggalkan, kira-kira Dia sedih gak ya??"
Agung memandang motor tua sewaannya.
"Bisa jadi.. wkwkwk"
Jawabku sembari tertawa.
Agung menatapku lagi, kemudian membenarkan rambutku yang tertiup angin malam.
"Kalau kamu??"
Ujarnya pelan.
Aku terdiam,
"Aku?? Maksudnya??"
Tanyaku bingung.
"Sedih??"
Ulangnya.
"Ehm... Ya,, sedih juga sich... itu artinya kita akan lama lagi baru bisa ketemu"
Balasku dengan memegang tangan Agung yang beberapa kali mengelus rambut di kepalaku.
__ADS_1
Bersambung***