
Pagi datang,
Meski hati belum bisa melupakan yang terjadi semalam, tapi hari ini Aku harus menghadiri pernikahan Daniel dan Elza, mau tak mau Aku harus menepikan dulu segala kekacauan hati yang sedang porak poranda,,
"Vin,, udah siap? kita berangkat sekarang?"
Mama yang tiba-tiba saja muncul di dalam kamar ketika Aku yang masih mencoba belajar tersenyum untukku perlihatkan pada semuanya.
"Ehm... Udah Ma,, yuk kita berangkat.... Papa mana Ma?"
Tanyaku yang tak melihat Papa.
"Udah nunggu di depan,, kita berangkat pakai mobil Kamu aja ya...."
Aku mengangguk.
Di perjalanan,
"Gak nyangka ya Vin, jodohnya Elza itu Daniel,, sahabat kecil kalian sendiri"
"Iya Ma... Kami semua juga kaget,, padahal dulu kerjaan mereka berantem mulu, gak bisa akur"
"Itulah namanya Jodoh, kita gak bisa nebak.. dengan siapa akhirnya kita dipersatukan... meski bertahun-tahun menjalin hubungan tapi kalau bukan jodoh... sekuat apa kita menahannya, akan ada suatu alasan yang pada akhirnya membuat kita berpisah, begitupun sebaliknya, meski dipisahkan berbagai macam halangan dan rintangan, kalau sudah takdirnya berjodoh.. suatu saat akan dipertemukan"
Ucapan Papa membuat Aku tertegun,
Papa benar... mungkin hal itulah yang tengah kujalani sekarang,, tapi benarkah Dirga yang akan menjadi jodohku?
Batinku.
Setelah hampir satu jam,
mobil tiba di depan gedung tempat pernikahan Daniel dan Elza.
Parkiran sudah hampir padat terisi, beruntung masih ada celah yang kosong sehingga mobilku masih bisa menyelinap diantara mobil para tamu undangan.
"Vina....!"
Baru saja kami turun dari mobil,
dari arah belakang terdengar seseorang menyapaku, membuat Aku dan Mama menoleh berbarengan ke asal suara.
Deg!!
Seorang laki-laki yang begitu sangat Aku kenal sedang berjalan menghampiriku dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Dirga?"
Ucapku pelan, Mama menolehku, seolah bertanya Dia siapa.
"Pagi Om.. Tante"
Sapa ramah Dirga ketika tiba dihadapan kami dan mencium tangan kedua orang tuaku sopan.
Aku seperti terpaku dengan suasana pagi ini di depan mataku.
"Pagi... Ehm.... ini..."
Ucap Mama mencoba mengingat Dirga.
"Dirga Tante,, Dirgantara Abinata.. teman Vina waktu SMP"
Dengan penuh percaya diri dirga mengenalkan dirinya dihadapan kedua orang tuaku.
"Duh,, maaf ya... Tante lupa,, maklum dah Tua,, faktor umur.. hahaha"
Tawa Mama di depan Dirga.
"Ini yang kemarin waktu acara Vina nyanyi ya?benerkan,, ?"
celetuk Papa.
Astaga!!
Tak kusangka, ingatan Papa masih sangat tajam, bahkan hal ini saja Papa ingat, padahal tamu yang nyanyi saat acara itu banyak sekali, bukan cuma Dirga.
"Benar sekali Om.... Gak nyangka,, om ingat saya"
Dirga tersenyum lebar, sesekali terlihat Dirga melirik kearahku.
Ada debaran hati yang sebisa mungkin kusembunyikan, Aku tak ingin kedua orang tuaku curiga, walau bagaimana pun.. mereka belum tau yang saat ini terjadi antara Aku dan Agung.
Ya Tuhan... Agung, mengingatnya membuat rasa bersalahku kembali seperti menguliti.
__ADS_1
"Ya udah... yuk,, kita masuk sepertinya akad nikah udah mau dimulai..."
Ajak Mama, Aku mengangguk dan menggandeng tangan Mama, sementara Dirga berjalan berdampingan dengan Papa sembari mengobrol yang entah apa topik obrolan mereka Aku tak mendengar jelas.
Didalam gedung, pandanganku berkeliling mencari keberadaan teman-temanku yang belum kelihatan dimataku.
Tak lama, Mataku tertuju pada seseorang yang melambaikan tangan kearahku, senyumku tersungging,
"Ma... Vina kesana ya...."
Aku menunjuk kearah Nina, sementara Mama sudah dalam posisi duduk bersama Papa dan Dirga yang masih terlibat obrolan menarik, terlihat dari sikap keduanya yang sama-sama antusias.
"Oh... iya,, Mama disini aja,, "
Jawab Mama yang juga melambai dan tersenyum pada Nina begitupun sebaliknya.
"Haii... Aunty Vina.... Uncle Agung gak ikut??"
Tanya Nina begitu Aku tiba di mejanya dan segera mengambil alih salah satu baby twins ke gendonganku.
"Halooo Twins tayangggg....,, enggak,, Unclenya sibuk,, "
Jawabku.
"Agung kemana Vin?"
Tanya Nina serius,
"Agung sedang ada urusan Di Batam Nin, pagi ini baru berangkat"
Jawabku.
"Lantas... sejak kapan Dirga bisa sedekat itu sama Papa??"
Tanya Nina menunjuk Dirga dengan bibirnya.
"Baru aja,, tadi ketemu didepan"
Ujarku menoleh sesaat kearah Dirga, dan tak kusangka, pandanganku terjebak oleh Dirga yang juga tengah menatapku.
Tak lama...
Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk, mataku terbelalak melihat nama sang pengirim pesan,
Buru-buru kupalingkan wajahku kembali kepada layar ponsel.
"Kamu cantik sekali pagi ini.... masih bolehkah Aku meminta senyummu pagi ini? jika kamu mengizinkan,, menolehlah kemudian tersenyumlah..."
Dadaku berdebar, antara ragu dan malu, kuberanikan menolehnya, Dirga menatapku lekat.
Aku tersenyum kearahnya, kemudian memalingkan kembali wajahku lalu mencium kepala Baby Twins.
"Makasih.. "
Dirga kembali membalas pesanku.
"Vin, tuh Elza..."
Nina mencuil lenganku menunjuk panggung didepan kami, membuat Aku buru-buru tersadar dari perasaan baper berkepanjangan.
Nampak Elza dengan menggunakan gaun putih dan mahkota bak seorang putri, terlihat luar biasa cantik sekali,
"Ya ampun... cantik banget ya Nin..."
"Iya, Aslinya aja emang udah cantik apalagi dipoles ya makin cantik lah...."
Jawab Nina, kami dan semua tamu undangan yang hadir benar-benar terpukau dengan aura pengantin yang ditampilkan Elza.
Tak lama, Daniel menyusul dengan baju senada, Daniel nampak gagah dengan balutan jas pengantin putih, Daniel sempat memandang kearah kami membuat kami mengacungkan jempol kearahnya hal itu membuat Daniel tersenyum.
"Ehm... Vin, maaf tuh cincin tunangan kemana? kok gak dipakek?
Nina tiba-tiba menyenggol bahuku dan menunjuk jariku yang kosong.
mendapat pertanyaan itu, Aku gelagapan merasa belum ada persiapan memilih jawaban terbaik untuk pertanyaan Nina.
"Ehm... Itu,, Ehm... Anu.. Eng... lupa... iya lupa dipake"
Jawabku gugup.
"Lupa?? kok bisa??"
Nina menatapku penuh rasa curiga.
__ADS_1
Aku mengangguk mencoba meyakinkan Nina.
"Kok aneh ya... cincin tunangan bisa lupa dipake lagi? padahalkan mestinya dipake terus,, hem...."
Nina terus menatapku membuatku salah tingkah.
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Aku kan Vin?"
Ucap Nina mendelik.
"Menyembunyikan apa sih...? Enggak lah,, jadi Cincinnya agak longgar gitu,, jadi kalau mandi kena sabun suka melorot, makanya Aku buka,, eh malah lupa pakek lagi"
Aku menatap Nina tersenyum, sementara Nina tetap memasang wajah penuh kecurigaan.
"Kamu yakin? Bukanya kamu lepas sengaja karena ada Dirga?"
Nina mencoba menebak.
"Ih apaan sih Nin,, kok bawa-bawa Dirga.? "
Aku mencubit pinggang Nina, kami tertawa.
"Maafkan Aku Nin, yang masih belum bisa cerita sekarang tentang Aku, Agung dan Dirga, tentang semua yang terjadi antara kami... Aku belum siap"
Batinku.
"Ehm... Vin, Aku udah punya Dua baby, Elza dan Daniel menikah, kamu juga udah tunangan dan on the way Nikah juga,, Kabar Tari gimana ya? apa Dia juga sudah menikah? Apa Dia mengingat kita dan merindukan Kita seperti yang sedang kita rasakan?
Nina menunduk,
"Kita Doakan saja ya.. dimanapun Tari berada, dengan siapa dan bagaimana Dia sekarang, semoga selalu diberikan yang terbaik untuknya."
"Aamiin....."
"Oh ya.. Diki apa gak bisa datang ya? Kok Aku belum lihat dia?"
Aku tiba-tiba mengingat Diki, yang kini dikenal dengan panggilan baru Ustaz Diki.
"Oh,, ada kok... Tapi sekarang entah kemana Dia..."
Jawab Nina yang celingak celinguk mencari keberadaan Diki.
"Nahh... panjang umur... tuh orangnya nongol,, Diki berjalan kearah kami, dengan penampilan yang semakin Agamis, dengan janggut yang dibiarkan tumbuh subur didagunya, peci yang tak pernah lepas dari kepalanya.
Kabar terakhir, katanya Diki sekarang mendirikan sebuah yayasan sekolah islam untuk anak Tk dan prasekolah.
"Assalamualaikum... Sapanya sembari menangkupkan kedua tangan di dadanya, begitu sopan, sangat jauh berbeda dengan Diki yang dulu.
"Walaikum salam..."
Jawabku dan Nina kompak.
"Maaf ya... kemarin Aku gak hadir waktu acara kamu,, Aku lagi diluar kota.. "
"Iya gak papa Dik,, Aku paham kesibukan kamu.."
Jawabku tersenyum,
"Oh ya... Mana Tunangan kamu? itu yang lagi sama Papa kamu ya??"
Tanya Diki menunjuk Dirga,
Aku menelan ludah,,
"Oh.. ehm bukan Dik, Dia lagi berangkat ke Batam ada urusan"
"Ohh... Maaf, Aku kira itu.."
"Gak Papa.."
"Aku sebenernya gak nyangka loh,, Daniel akhirnya menikah dengan Elza,, malah duku sempat ngira,, Daniel akan menikahi kamu sesuai dengan impian masa kecilnya..hehe.."
Diki melontarkan fakta baru, bahwa ternyata Daniel dulu mengimpikan menikah denganku,,
"Ah.. namanya juga bocah Dik,, biasa lah kalau gitu.."
kilahku.
"Iya,, jodoh itu rahasia Tuhan.."
Jawab Diki lagi.
Bersambung***
__ADS_1