
Pagi-pagi sekali Aku sudah bersiap untuk sarapan, semangatku hari ini berlipat lipat ganda untuk cepat-cepat sampai disekolah.
Tujuanku cuma satu, Aku ingin cepat bertemu Tari, dan menerima balasan surat dari Dirga.
"Tumben pagi-pagi sekali dah siap Vin, kamu piket??"
Tanya mama membawa segelas susu hangat yang diletakkan di samping cangkir kopi Papa yang masih mengebulkan asap.
"Engh... Iya Ma...."
Aku terpaksa berbohong, tak mungkin juga Aku bilang ingin cepat menerima balasan surat.
"Assalamualaikum....."
Salam dari luar, terdengar setelah tak berapa lama terdengar suara motor berhenti.
Aku beranjak untuk membuka pintu, namun Mama dengan sigap menahan langkahku.
"Udah Vin, kamu lanjut sarapan aja.. Biar Mama yang buka, siapa ya pagi-pagi?"
"Kayaknya Agung deh Ma..."
Jawabku yakin.
Sayup kudengar obrolan Mama diluar, Aku tersenyum tipis dan menyudahi sarapanku.
"Benarkan... si Kakak Mahasiswa.."
Ujarku ketika menghampiri Mama dan Agung yang tengah mengobrol di teras rumah.
"Dasar Anak Sma!!"
Balas Agung.
"Ya udah yuk berangkat"
Ajakku pada Agung.
"Loh..loh gak sarapan dulu Agungnya Vin?!"
teriak Mama saat Aku menarik tangan Agung cepat.
"Tenang aja Ma.. Dia udah sarapan dijalan..hahhha"
Seruku membuat Mama menggelengkan kepala dengan tingkahku, sementara Agung tersenyum kecut.
"Apaan sih, Aku sebenernya laper loh, sengaja pagi-pagi kesini mau minta sarapan!!"
Agung menggerutu diatas sepeda motor yang belum ia nyalakan.
"Oh... Kamu serius?? ya udah,, yuk masuk dulu.. maaf ya..."
Aku yang tak enak hati kembali melepas helm yang terlanjur terpasang dikepalaku.
"Bercanda ding..... wkwkwkkw"
kali ini gantian Aku yang memasang tampang kecut.
Motor melaju,
Sepanjang perjalanan hatiku terus berdebar, bukan karena Agung yang menjemputku pagi ini, atau karena pertemuanku kembali dengannya,tapi karena terus membayangkan dan memikirkan surat balasan dari Dirga yang akan Aku terima dari tangan Tari sahabatku pagi ini.
Tak kusangka, Tarilah yang menjadi jembatan penyambung komunikasiku kembali dengan Dirga.
Senyumku tersungging, hatiku menerka-nerka apa isi surat balasan yang akan Aku terima, akankah ada kata manis disana? Akankah ada kata rindu yang dituliskan Dirga untukku, atau malah pernyataan pengakuan cinta darinya,
Ah.... ya Tuhan, kenapa seperti ada yang menggelitik geli dihati kecilku... Riak-riak kebahagian menyelimuti hatiku pagi ini.
Pletak!!!!
"Astagaaa....!!! Apaan sih Gung, kaget tau!!"
Aku yang tengah menghayal tiba-tiba saja dikagetkan dengan helm Agung yang sengaja ia benturkan ke helmku.
__ADS_1
Gelak tawa Agung semakin membuatku jengkel, beberapa kali tepakan telapak tanganku mendarat di punggungnya.
"Lagian ngapain senyam-senyum sendiri gitu?! Hah?? suka ya ketemu Aku lagi?? Bahagia ya Aku jemput?? Ngomong aja jangan malu-malu..huahahhha"
"Haduh... memalukan sekali, ternyata dari tadi Agung memperhatikanku dari kaca spion"
Gerutuku dalam hati.
"Ihh... udah deh,, jangan ge er ya... gak usah kepedean!! Aku tu lagi mikirin sesuatu tapi bukan kamu! dan gak ada kaitannya sama Kamu!!"
Aku mendengus kesal.
"Kamu yakin???"
Goda Agung.
Namun tak kujawab.
Motor tiba didepan sekolah,
"Mas bro.. Aku masuk ya... Bye....."
Aku bersiap meninggalkan Agung namun langkahku kalah cepat dengan cegatan dari tangan Agung.
"Eiitttss... tunggu dulu, nanti siang jadikan?"
Tanyanya.
"Iya... oke... oke udah ya... Aku buru-buru... dahh...."
Aku berlari cepat sebelum Agung sempat berkata-kata lagi.
Di dalam otakku, yang ada saat ini hanyalah ingin cepat-cepat bertemu Tari.
Sesampainya dikelas yang masih sepi, tak kujumpai Tari, begitupun Elza dan Daniel, sepertinya mereka belum datang.
Hanya Nina yang tengah sibuk menyusun kotak bekalnya diatas meja.
"Nin.. Tari belum nyampe ya??"
"Kayaknya belum"
Jawab Nina cuek tanpa melihatku, matanya masih sibuk dengan bekal didepannya.
"Nin, kamu ngapain sih?"
Tanyaku menyenggol bahunya.
"Kamu gak lihat Aku sedang nyusun makanan, biar urutannya benar"
"Urutan apaan? udah kayak mau absen aja ada urutannya."
"Aku belum sarapan, ni sekarang mau sarapan,, yuk temenin Aku?"
Ujarnya mulai membuka satu persatu bekal yang ia bawa.
"Astaga Nin,, banyak banget... kamu mau sarapan Apa sekaligus sampe makan malem? udah kayak bekal tentara mau perang!"
Ledekku yang melihat banyaknya jenis makanan yang tersusun diatas meja, mulai dari nasi goreng telur, sosis goreng, roti sandwich, telur rebus, jus jeruk, susu coklat dan beberapa bungkus keripik.
"Ini juga paling bertahan cuma sampe jam 10"
Jawab gadis tambun dihadapanku ini membuatku terkekeh.
Aku meletakkan ranselku dan memilih berjalan keluar kelas menunggu Tari, sungguh hati ini tak tenang sebelum Tari datang.
5 menit menjelang Bel masuk,
Aku mulai cemas, takut jika Tari hari ini tak sekolah.
Mataku tak berkedip mengarah pada gerbang sekolah yang mulai di dorong oleh penjaga sekolah untuk di tutup.
Dan Ahhh.... Akhirnya tari menyembul bersama Daniel dan juga ada Elza disana.
__ADS_1
Aku membuang nafas lega.
Aku melambaikan tangan pada Mereka bertiga yang semakin mempercepat langkahnya menghampiriku yang berdiri di depan pintu kelas.
Tak sabar sekali rasanya, secepat kilat Aku menarik lengan Tari agar lebih cepat mendekat denganku.
"Kok.. siang banget?"
Basa basiku membuka percakapan berharap Tari segera menyodorkan Surat balasan dari Dirga yang begitu sangat Aku tunggu.
"Iya tadi ban motorku pecah, jadi ke tukang tampal ban dulu deh"
Jawab Tari.
Masih tak ada tanda-tanda ia akan memberikan sesuatu padaku.
"Kalian kenapa ikut-ikutan telat?"
Sambung Tari bertanya pada Daniel dan Elza.
"Ini nungguin si Elza lama, mau sekolah udah kayak mau Show!!"
Jawab Daniel jutek.
"Ahh... mana ada gitu!! Gak gitu ya!! jangan percaya Tar..., Vin... Orang Dianya aja yang jemput Akunya kesiangan!!"
Elza membela diri.
Ingin sekali Aku segera bertanya tentang surat itu pada Tari, hanya saja guru keburu datang.
Disela-sela tugas mencatat,
Aku menyenggolkan siku pada Tari, beruntungnya Tari segera merespon kode dariku.
"Apaan?"
Tanyanya pelan.
"Tar, surat kemarin udah kamu kasih?"
Tanyaku sedikit berbisik.
Tari mengangguk.
Aku terdiam beberapa saat, menunggu respon balik Tari,
Merasa Tari tak merespon,
kemudian kembali Aku memberi kode.
"Ssttt....!"
mulutku berdesut sembari kembali mentoel lengan Tari.
Tari menatapku dengan memainkan alisnya.
"Apa Dirga mengirimkanku balasan?"
Tanyaku.
Kali ini Tari menggeleng.
Melihat reaksi Tari, senyum semangat yang Aku kumpulkan dari pagi terasa seperti terbang melayang meninggalkan ragaku yang kini tertunduk lesu.
Aku menarik nafas dalam, lalu menghentikan kegiatan mencatatku.
Ada ngilu yang tiba-tiba saja mengiris sebagian hatiku.
Perasaan Rindu yang menggebu sejak kemarin seperti membias begitu saja,
Bayangan wajah Dirga yang sejak semalam tak lepas dari memori ingatanku kini seperti terbawa angin.
Kecewa, hanya itu yang bisa mendefinisikan perasaanku detik ini.
__ADS_1
Bersambung***