
Sampai di depan Kafe,
"Vin, kamu kesini naik apa?"
Tanyaku sembari menatap mobil mengkilap yang terparkir manis tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Ehmm... Naik... naik... ehm..."
"Naik itu.. !"
Potongku sebelum sempat Vina menjawab.
"Dir, kamu kenapa??"
Tanya Vina seketika setelah Aku terdiam.
"Vin, Kamu yakin mau ikut Aku?"
Kupancing Vina.
"Emangnya kenapa nanya gitu Dir??
Ucapnya mencoba menatap wajahku yang tengah menunduk.
"Sini... ikut!!"
Kutarik lengannya menghampiri motor tua milik Paman Usman.
"Kita naik ini!"
Vina terdiam, lalu memandangku dan motor bergantian.
"Dir, sebenarnya kita mau kemana sih...? Ehm.. gimana kalau kita perginya naik mobil Aku aja"
Mendengar itu, ada sedikit perih dihatiku, mungkinkah Vina malu jika pergi denganku naik motor matic tua ini?
"Kalau kamu keberatan, gak apa-apa kita batal aja gak masalah!!"
kulepaskan pegangan tanganku dari pergelangan tangan Vina.
"Loh... Gak gitu Dir,, ,maksud Aku...."
"Udah...!! gak apa-apa, Aku ngerti.. Ngerti banget, Maaf Aku memang tidak tau diri!!"
__ADS_1
"Loh... kok ngomong gitu? Kamu salah paham Dir...Aku gak maksud....."
"Lagian mana mungkin seorang Nona mau diboncengin motor panas-panas,, Kamu juga pasti malu kan??"
Rasa kecewa tiba-tiba saja menyelusup dalam hatiku.
"Dirga!!! stop!!!"
Ucapan Vina membuatku terperanjat terlebih ketika ucapan itu dibarengi dengan telunjuknya yang menyentuh bibirku.
"Nih... kamu dengar baik-baik ya!!! Aku sama sekali gak malu!! trus Aku juga bukan seorang Nona!!! dan satu lagi!! Aku masih Vina yang dulu!!"
Tegasnya membuat Aku tediam.
Beberapa detik terdiam,
"Maaf..."
ucapku, kemudian menyuruhnya naik keatas motor.
"Dir, kita mau kemana??"
"Udah tenang aja, nanti juga kamu tau."
ujarku ketika, motor berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
Vina hanya mengangguk, dan segera kutarik lengannya untuk masuk.
"Eiitt.... Dir, tunggu..tunggu, Ini kan udah sore banget, emang kita bisa masuk?? bukannya udah di gembok ya...?"
"Kamu tenang aja, satpamnya tetangga Aku... tadi pagi Aku dah ngomong ke Dia kok..."
Hem... Padahal Aku baru saja setengah jam yang lalu berbalas pesan dengan Pak Min, memintanya untuk jangan pulang dulu dari sekolah karena Aku mau Nostalgia.
"Sore Pak Min...."
"Eh Abi, Sore... baru nyampe?? Saya kira gak jadi,, sebentar saya buka gemboknya dulu ya..."
"Makasih Pak Min..."
"Cantik benerrrr Bi,, jangan lepas lagi"
komentar Pak Min begitu melihat Vina,, sementara Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
__ADS_1
Hemm... Andai saja Bapak Tau,, bahwa yang sedang kubawa ini Bini orang... Haduhhhh...
"Vin, kamu rindu kelas gak?? yuk naik!!"
Aku menunjuk lantai dua, yang merupakan kelas kami.
Vina mengangguk tersenyum,
Sampai diatas dan bernostalgia dengan semua kenangan disana,
"Vin, ada satu lagi tempat yang tak boleh kita lupakan,,"
Ujarku.
Vina menatapku,
"Iya, Aku tau...."
Kami kembali turun kebawah berputar menyusuri koridor menuju perpustakaan.
"Vin, kamu tau... disini, diperpustakaan ini, adalah tempat yamg paling sulit untuk Aku lupakan, kamu tau kenapa??"
Tanyaku.
Vina menatapku serius.
"Kenapa?"
"Karena disini, kita terakhir kali bertemu.. dan Aku menyesali satu hal sampai detik ini"
Tiba-tiba saja memori otakku memutar kembali kenangan kala itu, betapa Aku takut kehilangan Vina disaat Aku belum sempat mengungkapkan semua yang ada dihatiku padanya.
"Menyesali?? apa??"
Desak Vina tak sabar.
"Menyesali sesuatu yang tak berani kuungkapkan, dan rasa penyesalan itu masih ada sampai saat ini, kamu tau Vin, saat terakhir kali kita bertemu... Ingin sekali Aku katakan bahwa Aku takut kehilangan kamu, Aku takut jauh dari kamu, sebab Aku sayang sama Kamu"
Aku seperti terlepas dari batu besar yang menghimpit hatiku, lega sekali.
Vina menatapku, tatapan yang dalam entah apakah ia bahagia atau malah sebaliknya.
Bersambung***
__ADS_1