
Vina adalah gadis pertama yang membuat Aku jatuh cinta, Dia juga gadis pertama yang bisa mengalihkan semua duniaku,, meski tak pernah ada perlakuan manis darinya untukku, tapi anehnya hatiku tak bisa berpaling darinya.
Vina sudah berhasil mematikan rasaku untuk yang lain.
Dia cinta pertamaku,, dan selamanya akan tetap menjadi pengisi hatiku.
Satu tahun berlalu sejak pertama kali melihatnya di sekolah ini, dan kini kegelisahan tengah menggerogoti hatiku, ujian kelulusan sekolah menengah pertama baru saja usai, itu artinya tak lama lagi Aku akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah menengah atas, dan tentu saja Aku tak akan bertemu Vina sesering dulu.
Dan yang lebih membuatku gelisah adalah, keinginan Mbak Echa yang diutarakannya melalui telepon semalam, bahwa Dia menginginkan Aku dan Mama pindah tinggal bersamanya ke Samarinda,
Ada sedih yang kusimpan rapat dalam hati,, agar tak mengeluarkan air mata sedikitpun. Aku malu jika sampai Mama tau Aku menangisi kepindahanku ke Samarinda hanya karena tak ingin jauh dari Vina.
Ingin sekali Aku menolak kepindahan ini dengan berkata bahwa Aku ingin sekolah disini saja,, tapi sepertinya itu tak mungkin,, sebab Mbak Echa sudah mendaftarkan Aku di sebuah sekolah kejuruan terbaik di kota Samarinda.
Mau tak mau Aku harus terima, Aku tak ingin mengecewakan orang-orang yang kusayang.
Sehari sebelum keberangkatan kami ke Samarinda, Mama mengajakku berkunjung kerumah Tante Yuni, untuk berpamitan, Ada bahagia yang luar biasa dihatiku hingga tak sabar ingin sampai disana untuk bertemu Vina.
Belum tepat pukul 8 pagi, Aku dan Mama sudah sampai di kediaman Tante Yuni, Ramah dan hangat, begitu yang kurasakan saat Tante Yuni menyambut kedatangan kami.
"Maaf ya Yun,, pagi-pagi kami sudah mengganggu bertamu kesini"
Basa basi Mama begitu tante Yuni mempersilahkan kami duduk.
"Ah,, kayak sama siapa aja Ri.. ngomong-ngomong sepertinya ada hal penting ya...?? ada apa,,?? kok Aku malah yang jadi tegang ya..."
Ujar Tante Yuni menatap kami serius.
"Iya,, gini.. sebenarnya kami kesini mau pamit"
"Pamit? maksudnya pamit? pamit kemana??!"
Tante Yuni dengan cepat memotong pembicaraan.
"Gini... Besok,, kalau tidak ada halangan,, Kami.. Aku sama Agung mau ke Samarinda tinggal disana,, Echa yang minta"
Mendengar itu, raut wajah Tante Yuni seketika berubah, ada sedih yang tergantung dari tatapan matanya ke Mama, begitupun Mama.
Sesaat keheningan menyelimuti ruang tamu, tak ingin larut dalam kesedihan, Aku mencoba memecah kesunyian.
"Ehm,, Tante... Vina nya kemana ya? kok dari tadi Agung gak melihat Vina?"
__ADS_1
Tanyaku.
"Oh.. itu,, Vina ada dikamarnya,, sepertinya belum bangun,, biasa kalo hari minggu suka siang bangunnya,,"
Jawaban Tante Yuni, membuatku tersenyum, begitupun Mama dan tante Yuni yang ikut tertawa.
"Ehm.. Ma, Tante.. Agung keluar sebentar ya... diujung jalan sana rumah teman Agung, sekalian mau pamit juga,"
Pamitku pada Mama dan Tante Yuni.
Mereka mengangguk, Segera Aku beranjak keluar dan berharap ketika Aku kembali Vina sudah bangun dan mau mengobrol denganku, walau hanya sebentar, Aku ingin pamitan kecil yang manis sebelum Aku pergi,, dan belum pasti kapan akan kembali, Aku berharap bisa melihat senyuman tulus darinya meski hanya sekali saja.
30 menit berlalu,
Aku kembali kerumah Tante Yuni, dengan hati berdebar kuucapkan salam.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Jawaban serentak terdengar dari dalam.
"Tante,, kenapa pindah nya gak nunggu kelulusan Agung dulu,,?"
Tanya Vina, membuat Aku kembali menatap wajahnya.
"Iya Vin, mau nya sich gitu, tapi Mbaknya Agung gak sabaran, mau boyong Tante dan Agung Agar tinggal Dekat dengan nya."
Mendengar itu, Vina mengangguk-angguk.
"Biar lah nanti ijazah dan surat kelulusan biar di kirim lewat pos aja, udah di bicarakan juga sama pihak sekolah"
Sambung Mama.
Sepanjang obrolan, Aku tak bisa memalingkan sedikit saja pandanganku dari Vina, Aku terus menatapnya, hatiku terasa sedih.. karena setelah ini Aku tak kan bisa lagi melihatnya setiap hari, memandang senyumnya setiap saat meski terkadang harus sembunyi-sembunyi sebab Aku tau,, Dia tak suka jika Aku terus membuntutinya.
Aku tau,, Vina dekat denganku hanya karena ingin membuat Dirga cemburu,, Aku sudah tau itu,, tapi Aku tidak marah,, Aku tidak tersinggung apalagi sampai membencinya,, Aku terima semuanya sebagai bentuk pengorbanan untuk membuktikan rasa suka dan sayangku padanya.
Aku rela hanya dijadikan objek oleh Vina,, Aku juga rela jika kehadiranku tak pernah dianggap olehnya,, bagiku itu bukanlah masalah,, karena Vina adalah gadis pertama yang membuatku di perbudak oleh cinta, hingga apapun yang berhubungan dengan Vina bagiku itulah hal utama.
Wajarlah jika Mas Irfan sering mengejekku jika Aku bucin parah pada Vina yang sama sekali tak pernah menyukai Aku apalagi sampai jatuh cinta,, jauhh...
__ADS_1
Tapi.. yaah... begitulah cinta,, tak peduli seperti apa sikapnya, bagaimana Dia menganggap kita,, jika sudah main hati, semua tak bisa menandingi.
Aku tau, saat ini Vina sadang tak nyaman karena menerima tatapan dariku.
Beberapa kali Dia membuang muka untuk menghindari pandanganku, namun itu tak membuat Aku berhenti menatapnya.
"Vin,, duduk di teras yuk"
Tiba-tiba saja Aku memberanikan diri melontarkan ajakanku kepadanya.
Hal itu membuat Vina kaget seperti tak percaya, jelas sekali dari wajahnya jika sebenarnya berat untuknya menuruti ajakanku.
Aku beranjak lebih dulu, lalu berjalan keluar meninggalkan Mama, Tante Yuni dan Vina yang masih terdiam dikursinya.
Tak lama, Vina menyusulku keluar.
Aku yang sudah duduk di kursi teras melihat Vina datang dengan wajah malasnya berdiri agak jauh dariku.
"Duduk Vin, ntar tinggi loch berdiri terus"
Aku mencoba meledeknya untuk mencairkan kekakuan pada kami.
Vina masih berdiri dan bersandar pada pilar teras rumahnya dengan wajah tanpa senyuman.
" Ehm.... Suka-suka aku donk,, ini kan rumahku"
Jawabnya ketus.
Meski hati ini sakit, namun Aku mencoba menganggap ini hanyalah bagian dari proses, itu saja.
"Jutek amat non, pamali..."
Balasku dengan senyuman.
Vina terlihat semakin kesal, lalu melangkah ke arah kursi kemudian duduk dengan melipat tangan di dada, masih dengan mulut mengatup dan tatapan mata penuh kejengkelan.
"Maafkan Aku Vin, bukan niatku membuat kamu menjadi kesal, bahkan mungkin sangat jengkel, tapi Aku hanya ingin menunjukkan perasaanku yang tak pernah kamu sadari,
Aku hanya berharap, suatu saat bisa meluluhkan hati kamu, meski bukan saat ini tapi Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa merasakan betapa Aku sayang kamu.. tak peduli sebesar apa perasaan kamu terhadap Dirgantara, tak peduli setulus apa Dirgantara akan memberimu cinta, yang harus kamu tau.. bahwa cinta itu tak pernah salah, dan Aku ingin suatu saat hatimu terbuka.
Bersambung***
__ADS_1