
Mendengar pertanyaanku, Vina tak lantas menjawab, terlihat gugup dan salah tingkah terlebih ketika Aku menatapnya menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya,
Vina malah menatapku ragu-ragu, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Mendapat respon seperti itu, Aku semakin yakin ada sesuatu yang Vina tau sementara Aku tak tau.
"Vin, Dirga baik-baik ajakan sama istrinya?"
Tanyaku lagi.
Vina kembali menatapku, lalu menelan ludah..
"Aku gak tau!"
Jawabnya singkat.
Aku menghela nafas.. lalu kembali duduk menghadap ke depan.
Tak lama,
"Ehmm... kita duduk disana yuk..."
Ajak Vina padaku, sembari menunjuk dimana Nina dan yang lain tengah berkumpul,
Aku menuruti kemauan Vina, berjalan menuju meja Nina sembari menggandeng tangannya,
Hal yang membuat darahku mendidih kembali terjadi, ketika kami melewati meja Dirga adegan bak drama korea antara Vina dan Dirgantara ketika saling pandang tak berkedip menampakkan tatapan cinta antara keduanya benar-benar membuatku bagai tak berarti di hari bahagiaku sendiri.
sekali lagi kukatakan, andai saja Aku ini seorang perempuan sudah tentu saat ini Aku tak kan malu untuk menangis terisak dan berlari dari kerumunan tamu.
"Haii... calon pengantinn..."
seru Elza begitu kami tiba dan duduk bersama di tengah-tengah mereka, mengalihkan perhatian Vina pada Dirga.
Daniel kembali menyalamiku dan Vina dengan wajah santai dan senyum lepasnya.
Untuk pertama kalinya Aku melihat si Tengil ini tersenyum melihat Aku dan Vina.
"Selamat ya... Vin... Bro..!!"
Ucapnya pada kami berdua.
"Makasihh... kamu ya,, !! jadian gak bilang-bilang!! takut diminta traktir ya...??"
Ledekan Vina pada Daniel yang hanya dibalasnya dengan tertawa.
Tak lama datang laki-laki dan perempuan yang belakangan Kutahu bahwa yang perempuan adalah adik dari suami Nina sementara yang laki-laki kekasihnya. Mereka berdua menghampiri meja kami sembari menyerahkan Baby Twins kembali kepada Nina dan Alif.
"Selamat ya Bu Vina,, kirain bakal jadi Ibu beneran buat kami dari Bapak kesayangan kami.. he.. he... he..."
Seru Perempuan yang ternyata bernama Ayumi.
"Hushhh...!! "
Nina menyenggol lengan Ayumi membuat Ayumi buru-buru menangkupkan Kedua belah tangannya tanda permintaan maaf.
Celotehnya barusan menimbulkan tanya dihatiku,, apa maksud dari ucapannya,,
"Ibu beneran?? dari Bapak kesayangan kami? maksudnya gimana sih... Kok Aku gak faham?
Kuutarakan kebingunganku tentang ucapannya.
"Ah.. ehmm... enggak kok Pak,, hehehe.. Biasalah becanda, gak nyambung yaaa maaf.. maaf.."
Kilahnya.
Sementara Vina dengan raut wajah tegang terlihat beberapa kali mencoba mengatur nafasnya.
Ditengah-tengah obrolan, Aku tiba-tiba terfokus saat melihat Dirga beranjak dari kursinya, dan ternyata tak hanya Aku, tapi Vina dan yang lainnya juga sama-sama menyorot Kearah Dirga.
Seketika kami semua terdiam, suasana tiba-tiba hening, terlebih ketika melihat Dirga berhenti didepan Band pengisi acara.
Apa yang akan dilakukannya?
Hatiku berdebar, menunggu kejutan apa lagi yang akan terjadi?
Vina dan Nina saling pandang, Aku memperhatikan Vina dan Dirgantara secara bergantian.
__ADS_1
Terlihat jelas, memang ada sesuatu diantara mereka.
Lain halnya dengan Ayumi dan kekasihnya yang terlihat antusias tersenyum sembari bertepuk penuh semangat kala intro lagu dimainkan.
Dirga terlihat duduk santai di depan tiang microphone, sesekali matanya menyorot kearah Vina menyulutkan api cemburu dihatiku.
"Kalian semangat sekali,, kenal dekat sama Dia?"
Tanyaku pada Ayumi dan kekasihnya,
Mereka kompak mengangguk dan tersenyum lebar.
Aku semakin penasaran, seperti apa hubungan kedua orang ini dengan Dirga, dan Maksud ucapannya tadi.... masih terasa mengganjal dihatiku.
Saat Dirga mulai melantunkan bait demi bait lagu yang mengisahkan tentang cinta yang terlambat, Aku merasa lagu itu sengaja dipilih Dirga karena isinya sama persis dengan yang sedang ia alami saat ini.
Aku menoleh Vina,
Dia menunduk, dan mengepal jari-jarinya, seolah turut larut dalam luka kisah lagu tersebut,,
Ya Tuhan... kisah apa ini?
kenapa terasa semakin rumit.. jika boleh memilih,, Aku ingin kembali seperti dulu...biarlah tetap menjadi sahabatnya, agar sakit hati ini tak pernah ada.
Terlebih rasa cemburu yang kurasakan lebih panas dari saat Aku masih menjadi sahabatnya dulu.
Setelah Dirga selesai menyanyi, semua tamu bertepuk, terlebih Ayumi dan Kekasihnya yang paling semangat.
Namun tidak dengan Vina,
Ia malah menunduk, dan menangis diam-diam dan mulai terisak.
Nina yang seolah tau, mendekat dan menggenggam tangan Vina, Daniel memijat pelipisnya, sementara Elza menatap bingung.
Saat seperti ini, Aku tak tau apakah Aku harus kesal, marah, cemburu atau malah sedih melihat Vina yang seperti terpukul tak berdaya.
Dengan hati yang terasa kacau balau, Aku berdiri, mencabut beberapa helai tissue dan menyerahkan tissue itu pada Vina, Sesaat Vina menatapku lalu menerima tissue itu kemudian menyeka pipi dan sudut matanya.
Bersamaan dengan itu, Dirga turun dari kursinya berjalan kearah kami.
"Selamat ya Vin... Ervina Delia, semoga lancar sampai hari H ya..."
Ucapnya penuh senyuman.
Melepaskan tangan Vina, Dirga beralih menyalamiku, kemudian merangkul sembari menepuk pundakku.
"Selamat Bro...,, bahagiakan Vina selalu... jangan sakiti Dia! "
Ujarnya sebelum meninggalkan kami, kemudian melangkah keluar.
Hal yang tak terduga terjadi,
Vina menangisi kepergian Dirga seolah tak rela ditinggalkan, semua tingkahnya menimbulkan tanda tanya besar dalam otak dan hatiku, apa yang sebenarnya terjadi selama Aku pergi?
Mengapa Vina seolah berat sekali membiarkan Dirga pergi?
Hari ini, yang seharusnya menjadi hari yang bahagia untukku, malah menciptakan banyak goresan luka di hatiku.
Aku menoleh Vina,
"Sepertinya setelah ini akan ada banyak yang mesti kita obrolkan"
ucapku lalu mengalihkan pandanganku.
Vina hanya Diam...
Aku meninggalkannya yang tertunduk,
Kulihat Ayumi sedang berjalan kearah depan,
Ide mendekati Ayumi dan mencari tahu tentang Dirga Dan Vina sepertinya menjadi pilihanku.
Ku percepat langkahku keluar untuk menemui Ayumi.
Sampai diluar,
"Ay.... "
__ADS_1
Panggilku membuat Ayumi menoleh.
"Bapak?"
ujarnya bingung.
"Aku boleh nanya?"
"Nanya? nanya apa Pak?"
Jawabnya.
"kamu kenal Dirga sudah lama? apa Dia teman kerja?"
Pancingku.
"Iya Pak, udah lumayan lama,, Pak Dirga Atasan kami di pabrik Pak, ada apa ya Pak..?"
"Oh,, enggak.. cuma pingin tau aja... kelihatan akrab sekali,, oh ya... kamu tau kenapa hari ini Dia datang gak sama Anak dan istrinya?"
Tanyaku.
"Anak? Istri aja belum punya... boro-boro mau punya anak.. he.. he... he"
Aku tercengang mendengar jawaban dari Ayumi,
"Jadi... Dirga belum menikah?"
Tanyaku memastikan.
Ayumi mengangguk.
Rasanya duniaku terasa gelap,, mendapati kenyataan bahwa Dirga belum menikah, perasan takut kehilangan Vina semakin besar menerpa hatiku.
"Ay... Apa Vina tau soal ini?"
Tanyaku dengan jantung berdegup kencang.
"Ya Taulah Pak... masak iya Bu Vina mau diajak jalan berdua kalau Pak Dirga suami orang"
Deg!!
Jantungku yang berdegup kencang tiba-tiba seolah berhenti sesaat mendengar kalimat Yang dilontarkan Ayumi.
"Jalan berdua?"
Tanyaku memastikan,,
"Ups... Haduhh... keceplosan!!!"
Ujar Ayumi lirih,, namun jelas sekali terdengar di telingaku.
"Gak Papa Ay... ngomong aja,, Aku jamin.. semua akan baik-baik saja.."
Ucapku dengan tatapan mata memohon pada Ayumi untuk jujur bercerita.
Ayumi terlihat ragu dan takut-takut.
"Sebenarnya, Aku juga baru kenal sama Bu Vina, seminggu yang lalu.. waktu itu ketemu pas lagi di mall, saat itu Bu Vina lagi bareng Sama Pak Dirga, dan Pak Dirga yang ngenalin kami, dan ternyata tak disangka Bu Vina dan Pak Dirga temenan sama Kak Nina, Aku tau itu saat Bu Vina dan Pak Dirga kerumah Kak Nina, Awalnya kupikir mereka pacaran.."
Ayumi menghentikan ceritanya ketika Kekasihnya memanggil.
"Ehm... Pak permisi ya... Aku masuk dulu"
Ayumi meninggalkanku yang tertunduk, badanku terasa lemas, banyak sekali hal yang tidak kuketahui selama kepergianku.
Perih dan pedih hanya itulah gambaran hatiku yang rasa-rasanya sudah tak berbentuk lagi.
Satu jam berlalu,
Saling diam dan semakin terpaku, saat satu persatu tamu pamit pulang, termasuk Nina, Alif, Twins, Ayumi, Edgar, Elza dan Daniel yang sebelumnya sempat mengabadikan momen pertunanganku dengan berfoto bersama.
Kini yang tersisa hanya tinggal keluarga inti saja yang masih berkumpul bercerita dan bersenda gurau.
Vina,, kenapa begitu mudahnya kebohongan demi kebohongan itu tercipta antara kita.
Bersambung***
__ADS_1