
Selepas makan malam bersama dirumah Nina, Aku memberi Dirga kode untuk mengajaknya pulang.
Dirga mengangguk kecil.
"Ehm... Lif, Nin kayaknya kita dah harus pamit pulang dah malem juga."
Ujar Dirga membuka percakapan untuk pamit pulang.
"Iya Nin, Bang... kami mau pamit pulang,, makasih banyak loh jamuan makan malamnya, udah repot-repot"
Sambungku.
"Ahh... enggaklah,, malah Kami senang sekali dikunjungi,, iyakan Bang,,? apalagi dengan cara ini,, kita bisa kembali menyambung silaturahmi,, karena ternyata Dirga sama Bang Alif sahabat lama,, dan ternyata juga Ayumi teman Dirga di tempt kerja,,"
Nina bergelayut di lengan Alif.
"Semesta selalu mempunyai cara untuk mempertemukan dan menyatukan,, semoga ini rencana Tuhan,, dan semoga juga ini pertanda baik"
ucapan alif membuat Aku, Dirga dan Nina serempak menoleh kearahnya.
Sungguh kalimat yang sarat akan makna.
"Maksud Abang apa??"
Tanya Nina mendongak menatap wajah suaminya.
"Seperti yang Aku bilang semoga ini pertanda baik,,sebab tidak ada yang tidak mungkin didunia ini,, pertemuan kita disini bukanlah sebuah kebetulan, tapi ini bagian dari rencana Tuhan"
Alif kembali mengeluarkan kata-kata yang seolah memberi kami harapan.
"Ahh... Abang suka gitu!! Aku pusing ngartiinnya,, bodo ah...."
Nina mentoel pipi Alif, melihat itu Aku tersenyum.
Sempat kulirik Dirga yang berdiri di sampingku,, wajahnya seolah mengiyakan semua ucapan Alif.
"Ehmm... Ya udah,, kita jalan ya Nin,, aduh padahal pengen banget pamitan sama twins,, pengen unyel-unyel lagi pipinya,, tapi gak bisa"
"Ntar Aku gendong kesini ya..."
Jawab Nina.
"Jangan... jangan Nin, kasian mereka udah tidur,, salam aja buat mereka .. salam peluk cium..."
Cegahku ketika Nina hendak berlalu masuk kamar.
"Oke Lif,, lanjut dulu ya..."
Dirga memeluk tubuh Alif, sementara Alif terlihat mengusap-usap pundak Dirga.
"Semangat ya Bro... jangan putus asa,, selama janur kuning belum melengkung..."
Bisiknya yang masih bisa terdengar jelas ditelingaku.
Aku dan Nina tertawa.
Aku dan Dirga menuju mobil dan masuk, bersiap meninggalkan rumah Nina.
Tangan Alif dan Nina melambai seiring dengan ban mobil yang mulai berputar meninggalkan halaman rumah yang mempertemukan Dirga dengan orang-orang yang tak pernah disangka-sangka.
Di perjalanan pulang,
"Vin, kamu dengar sendirikan Ucapan Alif tadi,,?"
"Ucapan yang mana?"
Tanyaku.
"Kalau semesta selalu punya cara untuk mempertemukan dan menyatukan orang,, semoga ini pertanda baik,,"
Dirga menoleh sesaat untuk melihat reaksiku.
"Iya Dia benar... siapa sangka kan main kerumah Nina bisa membuat kamu dan Alif ketemu lagi, terus Nina ternyata Adik iparnya kerja bareng kamu,, dan ternyata lagi adiknya sahabat kamu"
Jawabku polos.
Dirga menghembuskan nafas,,
__ADS_1
"Kenapa kok kamu buang nafas gitu,, kayak lagi kesal??"
Tanyaku menatap Dirga yamg gelang-geleng.
"Iya... itu juga,, tapi lebih tepatnya bukan itu maksud ucapan Alif tadi"
"Loh... Aku salah mengartikan ya?? terus??"
"Ya maksudnya tadi,, semesta punya cara untuk menyatukan kita,, dengan perantara Nina,, terus ternyata Ayumi adik nya Alif yang tak lain sahabat Aku,, yang ternyata lagi menikah dengan Nina sahabat Aku dan kamu. gitu!! paham gak??"
Tanya Dirga kali ini dengan sebelah tangan membelai kepalaku.
Aku menoleh dan tersenyum.
"Terus pas Dia bilang bahwa pertemuan kita hari ini bukan hanya kebetulan tapi ini bagian dari rencana Tuhan,, Aku setuju sekali"
"oh yaa??"
responku dengan bibir menyungging senyum meledek.
"Iya lah... ucapan-ucapannya seolah memberi semangat baru meskipun hanya sepersekian persen karena kenyataannya hari minggu nanti kamu akan resmi terikat pertunangan dengan Agung."
Senyum di bibir Dirga tiba-tiba berganti dengan kemuraman.
Aku menggosok bahunya sekedar ingin menguatkan hatinya, yang mungkin saja saat ini tengah guncang.
Terdiam beberapa saat, Aku kemudian mengingat Ayumi.
"Dir... Ayumi di tempat kamu kerja posisinya apa??"
Uhuk... uhuk... uhuk...
Dirga terbatuk-batuk..
"Dir.. kamu kenapa?? kamu gak papa??"
Aku menepuk lembut pundaknya.
"Ehm... engh.. Enggak apa-apa... cuma kesedak,, mungkin ada yang nyebut nama Aku... heheh... ya itu sih kata orang jaman dulu,, kalu tiba-tiba kesedak,, berarti ada yang lagi ngomongin kita."
Ujar Dirga.
"Gak ada air minum ya??"
Tanyaku sembari mencari-cari botol air minum.
"Oh... Ada... ada,, tadi Aku tarok di belakang,, pas narok tas."
Aku menoleh kebelakang, dan meraih tas yang tergeletak di kursi belakang,, namun mataku tak sengaja melihat sesuatu disana.
Aku kembali melihat kedepan memastikan Dirga tak melihat kelakuanku yang kepo.
Aku menyentuh dan mengangkat sedikit dengan jari-jariku bahan kain yang mirip pakaian tersebut, dan dugaanku benar,, bahan tersebut sebuah jas hitam senada dengan celana yang tengah dipakai Dirga.
Buru-buru kuletakkan kembali jas hitam tersebut,
"Ada Vin??"
Tanya Dirga,
"Engh... ada... ada kok.. ini,, "
Aku segera mengambil sebotol air mineral dan membukakannya untuk Dirga.
Dirga menerimanya kemudian meneguknya beberapa kali.
Pikiranku kembali ke jas di kursi belakang,, bagaimana mungkin seorang buruh pabrik bekerja dengan memakai jas?
lalu... seragam Ayumi dan Edgar saat bertemu kemarin juga tidak dipakai Dirga,, dan juga kemeja dan celana yang ia kenakan hari ini?? Apa mungkin Dia bertukar pakaian karena ingin terlihat rapi saat bersamaku?? lalu jas yang kutemukan di kursi belakang itu punya Syintia? tapi...jelas jelas itu jas laki-laki.
Aku sontak menggelengkan kepala, hal itu membuat Dirga menoleh kearahku.
"Vin,, kamu kenapa?? kamu baik-baik saja??"
"Ehmmm.. iya,, Aku baik-baik saja..."
"Ehmm... Dir,, kamu belum jawab posisi Ayumi sebagai apa??"
__ADS_1
"Ehm... Ayumi... Ayumi,, ehm... Dia sebagai.. salah satu staff keuangan bagian produksi,, ya itu"
Dirga menjawab sedikit terbata dan gugup.
"Ohh,, kalau Edgar??"
"Ehm... Edgar kepala operator produksi"
Jawabnya lagi kali ini sembari menyeka keringat di dahi,, padahal suhu didalam mobil kurasa sama sekali tidak panas,, apalagi ini sudah malam.
"Kenapa Vin,, kok nanya mereka?"
"Ohh... enggak,, kira- kira masih ada lowongan gak ya disana buat Aku He... he.."
Jawabku sengaja agar suasana tidak tetang setegang wajah Dirga saat ini,, yang Aku sendiri tak tau,, apa yang membuat ia terlihat tegang dan sangat gelisah.
"Ngaco kamu,, ngapain?? bukannya kamu dah enak di tempat yang sekarang,, diluar sana banyak loh yang mengincar posisi kamu??"
"Ya gak papa,, pingin pengalaman baru aja,, ehh.. itu,, samaaaa... Aku suka aja liat seragamnya Ayumi,, keren jadi keliatan kayak cewek Macho gitu..hihihi"
Aku menyindir secara halus.
"Ahh... ada-ada aja,, masuk kerja cuma alasan suka seragam,, aneh kamu,, lagian gak cocok sama wajah kamu!"
Celetuk Dirga.
"Enak aja!! emang ga cocok kenapa?? jelek ya??"
Aku mencebik.
"Bukan gitu sayang... eh.. maksudnya Vina,, wajah kamu itu anggun,,beda dengan Ayumi yang lebih tomboy, kamu lebih cocok ya.. pake yang ginian,, rapi,, sepatu heels, manis makin keliatan cantik dan elegan"
puji Dirga sambil menunjuk setelan blazer yang Aku gunakan.
Ada riak-riak ombak kebahagian menerpa hatiku kala Dirga memuji penampilanku.
Ingin sekali Aku mengekspresikan betapa Aku tengah ke ge-eran dengan pujian itu,, namun itu tidak mungkin terjadi, bagaimana bisa Aku melompat-lompat berselebrasi didalam mobil seperti sekarang.
"Oh...iya, tapi ngomong-ngomong,, kamu bagian apa sich disana,, kok gak pake seragam kayak Ayumi dan Edgar??"
Cetusku membuat Dirga seperti tersentak dan kembali gelagapan.
"Ohh... ehm... itu,, Aku... Aku sama aja kayak Edgar,, cuma... itu,, apa,, Aku gerah sama bajunya tebal banget, jadi Aku pakainya pas masuk pabrik aja,, jadi Aku tinggalin di loker, gitu... iya gitu..."
Jawaban yang terbata-bata darinya semakin membuat rasa penasaranku semakin besar.
"Ohh... gitu,, pengen deh,, lihat kamu pakai seragam itu,, kira-kira kamu macho gak ya.."
Aku memainkan alis mataku menatap Dirga.
"Iya... nanti Aku pakai buat ngajak kamu kencan haha.. hah..."
Tawa Dirga seolah menyimpan kegelisahan dan rahasia yang besar.
Aku kembali menatap kedepan, begitupun dengan Dirga yang kembali fokus dengan kemudinya.
"Ehmm... Dir, besok Aku gak kerja"
"Loh,, kenapa??"
Tanya Dirga kaget.
"Aku majuin cuti"
"Majuin cuti?? Agung pulang lebih awal?? atau tanggal pertunangan kamu di percepat?"
Dirga beberapa kali menolehku.
"Enggak,, Cuma.... Aku pengen lebih lama dan lebih banyak waktu bersama Kamu!!"
Ucapan itu keluar dari bibirku dengan sendirinya meluncur bebas tanpa tedeng aling-aling, Kurasa tak perlu gengsi dan malu-malu lagi untuk jujur dengan perasaanku terhadapnya.
Sudah cukup selama ini kutahan dan kututupi,, kenyataannya itu menyakitkan dan membuat kesalahpahaman hingga terjadi sutuasi seperti sekarang.
Dirga menolehku, lalu mengusap pucuk kepalaku,,
"Sabar ya ,, semoga kita diberikan jalan yang terbaik... Akupun seperti itu...selalu ingin bersama kamu lebih lama.."
__ADS_1
Bersambung***