
POV>>> DIRGANTARA
Hari pertama menjejakkan kaki di sebuah sekolah SMP swasta terbaik menurut Orang tuaku,
Sebetulnya bukanlah kemauanku masuk kesekolah ini, banyak sekali alasan yang membuatku tak menyukai sekolah ini salah satunya adalah Aku harus terpisah dari teman-temanku di sekolah dasar, meski ya.. sebetulnya Aku tak terlalu memiliki banyak teman di sekolahku, tapi setidaknya Aku merasa berada dilingkungan yang nyaman.
Aku memang tak banyak teman, mungkin karena Aku yang tak asyik, selain sikapku yang pendiam, Aku juga lebih suka menyendiri dan tak banyak bergaul.
Ahh... Malas sekali rasanya hari ini, ini masih terlalu pagi dan pasti masih akan lama lagi menunggu jam pulang, dengan melangkah gontai kuputuskan untuk duduk sejenak di bangku batu di pinggir lapangan, sambil terus memperhatikan sekeliling sekolah yang sama sekali tak menarik buatku.
Ditengah kebosanan yang tengah mendera hatiku, tiba-tiba... Siapa Dia? seseorang menyita perhatianku, merubah rasa bosan menjadi penasaran,, bahkan mampu menggetarkan hatiku yang sama sekali belum pernah kurasakan.
Aku bagai terbius pesonanya.
Mataku terus mengamatinya dari kejauhan, Tanpa bertanya, Aku sudah tau bahwa Dia murid baru sama seperti Aku.
Dan Ahhh... Dia menatapku,, ingin sekali Aku tersenyum, namun sayangnya... belum sempat itu terjadi langkahnya kian menjauh meninggalkanku.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu para murid baru,
Saat speaker sekolah memanggil untuk berkumpul di lapangan,
Aku kehilangan Dia,, si gadis yang sempat menyita perhatianku tadi pagi.
Saat ini Aku hanya berharap,, semoga kami di pertemukan di satu kelas yang sama.
Dengan sangat serius kudengarkan nama-nama yang disebutkan, serta kuperhatikan dengan seksama satu persatu murid baru yang dipanggil namanya, tujuanku hanya satu mencari tau diam-diam nama si Gadis manis yang sempat menggetarkan hati.
"Ervina Delia !! ruang 1.1 !"
Netra mataku melebar, ketika seorang gadis manis yang kutunggu-tunggu itu melangkah maju dan menaiki tangga menuju lantai 2,
"Ohh... namanya Ervina..."
Batinku lega,
"Dirgantara Abinata !! ruang 1.1!!"
"Yess!!!"
Ingin sekali Aku bersorak dan melompat-lompat kegirangan ketika harapanku menjadi kenyataan untuk bisa satu kelas dengannya.
Dengan cepat Aku melangkah menyusulnya naik ke lantai 2.
Kini yang ada dipikiranku adalah, andai saja semua kursi sudah penuh, yang tersisa hanya satu kursi dan itu disebelah Ervina, namun itu sepertinya tak akan terjadi, sebab baru beberapa nama saja yang dipanggil.
Saat Aku masuk, mataku segera tertuju pada Bangku Ervina yang ternyata sudah duduk berdua dengan seorang gadis gendut,
Aku menghela nafas, harapanku kali ini tak menjadi kenyataan,
Kuputuskan untuk duduk dibarisan ujung meja nomor dua, lurus dengan meja Ervina, tujuanku hanya satu agar leluasa memandangi wajahnya.
Aku tak tau, apa Aku yang terlalu percaya diri atau memang Ervina juga memperhatikanku, Aku merasa Dia sedang memandangku, Dengan gerakan cepat, kutolehkan kepalaku kearahnya, dan benar.. Ervina sedang menatapku, hanya beberapa detik lalu dia memalingkan wajahnya menghindari tatapanku, Aku menelan ludah kecewa.
__ADS_1
Tak banyak kegiatan untuk hari ini, hanya pengenalan lingkungan sekolah, dan perkenalan diri dan juga asal sekolah.
Selebihnya hanya diisi dengan permainan seru.
Waktu pulang tiba..
Tak lupa petugas Osis yang menjadi panitia mencatat kan barang apa saja yang mesti di bawa besok pagi.
Orientasi siswa ini akan berlangsung 3 hari.
Itu artinya besok adalah hari kedua.
Di jam pulang sengaja Aku berlama-lama hanya untuk mencari tau,, kemana dan dengan apa Ervina pulang,,
Aku terus mengintainya dari kejauhan, memandanginya yang tengah duduk di halte bis, hingga berlalu bersama Bis yang membawanya menghilang dari pandangan mataku.
Hari ke 2,
Sejak pagi, Aku belum melihat batang hidungnya, entah apa yang membuat Dia belum juga muncul meski bel masuk sudah dibunyikan, Ada perasaan resah dan gelisah membuat mataku tak berhenti menatap bangku kosong miliknya.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki yang berlari dan berhenti didepan kelas.
Semua mata menatap kearah pintu, termasuk Aku yang kini bernafas lega ketika melihat Sosok yang kutunggu sejak tadi berdiri mematung di depan pintu dan mengetuk ragu.
"Silahkan masuk!!"
Ucap panitia merespon ketukannya. Dia berjalan pelan menuju tempat duduk.
Namun langkahnya terhenti, kala salah seorang panitia menahannya.
Tanyanya.
"I... iya kak"
gugupnya.
" Kenapa terlambat..??"
Tanyanya lagi.
"Mobilnya bannya kempes kak"
Jawabnya mencoba menjelaskan.
"Oke..karena vina terlambat, gimana kalo kita kasih hukuman?"
Seru salah satu panitia yang kucurigai menyukai Ervina, sebab matanya yang tak henti menatap Ervina sejak tadi tak berkedip.
"Setujuuuu!!!!!"
Seru seisi ruangan membuatnya semakin cemas dan tegang.
"Gimana kalo vina kita suruh berkeliling minta tanda tangan semua yang ada di kelas ini?"
__ADS_1
panitia yang satunya menimpali.
Mereka adalah anggota Osis yang menjadi panitia orientasi siswa baru.
Ervina mengangguk sembari meletakkan tas kemudian mengambil buku dan pena untuk mulai berkeliling.
Satu persatu meja dihampirinya untuk meminta tanda tangan mereka.
Tiba di depan mejaku,
Sungguh Aku senang bukan kepalang, dapat memandang wajahnya lebih dekat, apalagi ketika tak sengaja kulihat Dia menatapku sekilas, tentu saja kesempatan itu tidak kusia-siakan, Aku tersenyum dan Astaga..... Dia membalas senyum itu..
Andai saja Aku bisa meminta waktu untuk berhenti, sekedar untuk menikmati lebih lama senyuman itu.
Hari ke 3
Ini adalah hari terakhir orientasi.
mereka menyebut sebagai penutupan orientasi. Itu artinya hari selanjutnya adalah hari belajar normal.
Dan kata para panitia hari ini akan ada penghargaan kepada peserta orientasi terbaik, dan itu akan diumumkan di akhir orientasi.
Sambutan dari kepala sekolah membuka acara,
dan tibalah saat yang di tunggu.
Saat ketua panitia menyebut kan nama peserta orientasi terbaik.
"Untuk siswa peserta orientasi terbaik diberikan kepada..... Dirgantara Abinata dari kelas 1.1 !!!"
Setengah tak percaya, ketika namaku disebut dan dinobatkan menjadi peserta terbaik, entah apa dasar penilaian mereka, sehingga bisa memilih Aku.
Sebenarnya Aku malu, dan sama sekali tak berharap ada di sini didepan semua siswa, tapi mau bagaimana lagi,, Aku harus menghargai keputusan panitia.
Mudah-mudahan saja siswi terbaiknya adalah Ervina..
Harapku dalam hati.
"Untuk siswi peserta orientasi terbaik diberikan kepada.... Salsadila dari kelas 1.3 !!
"Hem..., Ternyata malah Caca yang dapat,, sepupuku yang setiap saat selalu bersamaku
Tergurat kecewa dalam hatiku.
Tapi eittss... tunggu dulu,, Aku menangkap pemandangan yang lain didepan sana,
Ervina Delia tengah menatapku, tapi tatapan itu berbeda,, bukan tatapan biasa.
Seperti seseorang yang tengah kesal.
Apa yang sebenarnya membuat Dia sekesal itu?!
Apa mungkin... Dia marah padaku? tapi karena apa?
__ADS_1
Bersambung***