Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 150 Benar-benar kejutan


__ADS_3

Tak lama, kulihat si Pria kembali keluar dari mobil, dan berlari menghampiri sebuah mobil yang baru saja terparkir,


Rasa tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, Vina berada disana, di dalam mobil bersama Dirgantara.


Sedikit bersembunyi, Aku terus menatap kearah mobil, dari tempat ku berdiri Aku bisa melihat jelas kedalam mobil.


Tak lama, Dirgantara Turun dari Mobil, namun tidak dengan Vina yang masih berada didalam, setelah ngobrol sesaat dengan Pria tersebut, Dirgantara kembali masuk kedalam mobil,


Hatiku terasa berdenyut saat mulai kulihat gelagat dari keduanya,


tatapan mesra serta beberapa kali tangan Dirga menyentuh kepala Vina, dan yang menyakitkan adalah ketika belaian mesra itu begitu dinikmati Vina.


Hatiku panas dan bukan main terbakar cemburu,


ingin rasanya Aku berlari menghampiri mobil mereka yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatku berdiri, namun entah kenapa berat sekali langkah kaki ini, namun untuk pergi meninggalkan adegan demi adegan mesra itu rasanya Aku masih ingin melihatnya meski dengan hati yang perih.


Aku menutup mataku sesaat kala Vina berada dalam dekapan mesra Dirga, pelukan erat penuh cinta terpampang jelas didepan mataku, ingin rasanya menjerit, mengeluarkan sakit yang teramat sangat dari dalam hatiku.


Ternyata kejutan yang kuharapkan seperti acara-acara di televisi berbanding terbalik dengan kenyataan


Ya Tuhan,, sakit.. pedih dan perih..


Andai saja Aku seorang perempuan mungkin Aku sudah menjerit dan menangis terisak,, melihat ini.


Didetik berikutnya,


hatiku kembali hancur lebur, luruh bersama jatuhnya air mata yang sudah tak bisa kutahan lajunya, ketika bibir Dirga dan Vina menyatu,


Ya Tuhan,, inikah puncak dari sakit yang kerap kurasakan,,? haruskah kesabaranku berakhir hari ini,,? haruskah cinta ini berhenti disini?


Aku membalik tubuhku membelakangi mobil.


Kuseka pipi dan sudut mataku, menarik nafas dalam, menenangkan hatiku.


Aku menelpon Vina.


"Halo Gung,,"


Sapanya,


"Halo sayang... Aku sudah landing.. Aku udah jalan ke parkiran ya,, Aku tunggu kamu di parkiran aja biar kamu gak perlu masuk"


Ujarku berpura-pura tak melihat dan tau dengan kejadian barusan yang memporak porandakan keteguhan cintaku untuknya.


Beberapa menit kemudian,


"Hai... "


Terdengar sapaan lembut dari suara yang kukenal dibelakangku.


Dengan sekuat hati kutahan semua yang kurasa, kutelan semua sakit yang baru saja terjadi.


Aku membalik tubuhku,


"Haiii... sayanggg.... "


Aku tersenyum merentangkan tangan bersiap memeluk Vina.


Vina berjalan mendekat dan melabuhkan tubuhnya dipelukanku.


"Aku rindu kamu!!"


Ujarku, memeluk erat tubuh yang baru saja kulihat melekat mesra di tubuh laki-laki lain, bahkan Aroma parfumnya saja masih melekat kuat.


Ya Tuhan.... Apa yang harus Aku lakukan?


"Kamu apa kabar sayang,, kamu baik-baik aja? Aku rindu sekali sama Kamu"


Ujarku begitu melepas pelukan itu, Vina mengangguk tersenyum Vina bersikap biasa saja meski baru saja berhasil menorehkan luka dihatiku.


Kulihat Matanya melirik mobil Dirga yang masih belum bergerak,


"Pulang yuk,,"


Ajaknya lalu menyerahkan kunci mobil padaku, dan berjalan menuju mobil dengan tangan yang kusengaja merangkul Vina.


Sampai didepan mobil, mata Vina terlihat mengawasi seluruh bagian mobil., setelah itu lagi-lagi Vina melihat kearah Mobil Dirga, yang masih juga belum bergerak,,


"Sayang, kenapa?"


Sapaku menepak lembut bahunya.

__ADS_1


"Ah... Hem... gak papa..."


Vina menggeleng kemudian masuk kedalam mobil, begitupun Aku.


Setelah berada di dalam mobil, kulihat Mobil Dirga melaju meninggalkan pelataran parkir bandara.


"Sayang... kamu kok... pakai baju gini,, bukannya hari ini kamu udah mulai cuti ya..."


Kuperhatikan penampilan Vina yang menjemputku dengan setelan Blazer yang biasa ia pakai ngantor.


"Oh... ini, ehm... itu... kan kemarin pulang kerja Aku kerumah Nina, diundang ada acara,, nah Aku nginep dirumahnya,, trus tadi gak pulang dulu.. langsung jemput kesini"


Jawab Vina gugup, entah kebohongan apa lagi yang ia tutupi.


"Ohh,, wajah kamu kelihatan capek,, maaf ya ngerepotin kamu,, harusnya Aku bisa pulang naik taxi"


kutatap mata sendu itu, yang terlihat menghitam dibagian kelopak bawahnya. sementara Vina buru-buru mengindari tatapan itu.


"Gak papa,, gak usah minta maaf"


"Ehm,, sayang... Aku punya sesuatu buat kamu..."


Aku merogoh saku jas dan memberikannya pada Vina.


"Apa ini?"


Ujarnya setelah menerima sebuah kotak kecil dariku ditangannya, kemudian ia buka perlahan.


"Suka gak?"


Tanyaku.


"Suka, bagus.... harusnya kamu gak perlu kasih-kasih Aku hadiah gini"


Ucapnya.


"Kenapa? salah ya kalau Aku kasih calon tunangan Aku sendiri.


"Enggak,, bukan gitu... Aku cuma gak mau kamu repot-repot beli hadiah"


"Enggaklah,, Aku gak repot kok..


malah happy banget,, ehm.. kamu gak happy ya Aku kembali?"


"Happy,, udah ah,, yuk jalan"


Ujarnya.


Aku mengangguk, dan mobil mulai bergerak pelan, meninggalkan bandara dan melaju diantara mobil-mobil lain menggilas jalanan kota.


"Ehm... Gung,, nanti Aku langsung pulang aja ya,,"


Pintanya padaku.


"Pulang? iya lah,, kan Aku mau antar kamu pulang"


"Loh,, ini sekarang mau kerumah Aku ya?? kenapa gak kerumah kamu aja,, "


"Gak mau ah,, kan Aku mau antar kamu pulang dulu"


Kutatap Vina manis.


"kalau gini sih berarti bukan Aku yang jemput kamu!!"


Vina menatapku.


"Siapa bilang?? ini buktinya kamu jemput Aku,, nah sekarang Aku nganterin kamu pulang,, nanti pulangnya Aku naik taxi aja"


jelasku,


"Ya... terserah kamu aja!"


Vina mengangkat bahu, kemudian melengos.


"Kamu sudah makan?"


Tanyaku.


Vina cuma mengangguk,


Sampai dirumah,

__ADS_1


Begitu mobil masuk garasi, Tante Yuni membuka pintu menyambut dan kaget begitu melihat Aku keluar dari dalam mobil.


"Loh,, ada Agung?"


Seru Tante Yuni dari ambang pintu,


"Apa kabar Tante..."


Kuhampiri Tante Yuni dan mencium punggung tangannya.


"Sehat... kamu gimana? kok kayaknya kurusan ya..."


Mendengar itu, Vina turut memperhatikan tubuhku,


"Iya, Tante... mungkin gara-gara jauh dari Vina,, makanya kurusan"


Aku melirik Vina, yang buru-buru buang muka.


"Ehm... Aku langsung pulang ya Vin"


Pamitku sembari memesan taxi online.


"Loh, gak masuk dulu Gung?"


"Gak usah Tante,, bentar lagi taxinya datang"


Jawabku.


"Ini sih,, bukan Vina yang jemput kamu... tapi malah kamu yang nganter Vina pulang"


"He... he... he... Gak papa Tan..."


Vina menemaniku menunggu di teras, setelah Tante Yuni masuk kedalam.


"Ehm... gimana lancar kafenya disana??"


Vina membuka percakapan.


"Yup,, lancar... rame,, karyawannya pinter-pinter,, sip lah pokoknya,,"


Jawabku tersenyum menatap Vina.


"Ehm... kalau kamu gimana? lancar kerjaannya?"


Aku balik bertanya.


Vina hanya menganggukkan kepala.


Terkesan sekali, ia tak nyaman dengan keberadaanku.


"Apa selama Aku pergi, Kamu rindu Aku? atau malah sama sekali gak ingat Aku..??"


Aku kembali bertanya, kali ini disertai dengan tatapan dalam.


"Ha.. ha.. Kok pertanyaannya gitu sich,,?"


Jawab Vina salah tingkah.


"Gak pa pa... cuma iseng aja nanya, pingin tau"


"Udah ah,, lagian juga kamu udah balik kesini kan,, nah.. itu taxinya datang.. buruan,, biar kamu cepat sampe rumah dan bisa istirahat"


Vina tak ingin menjawab, malah saja memutus obrolan dan mengalihkan perhatianku pada Taxi.


Apa Aku memang tak pernah ada dihati kamu Vin?


Batinku.


"Oke,, Aku pamit pulang ya... Vin,, love you.. so much... "


Aku berdiri lalu meraih pundaknya, kemudian melabuhkan kecupan di kening itu.


Kutatap mata itu, benarkah tak ada cinta disana meski seujung kuku saja?


Kenapa harus ada kebohongan dihati kamu Vin?


Kenapa kamu harus menerima Aku, jika ternyata memang tak pernah bisa kamu mencintai Aku?


Jeritku dalam hati.


Aku menoleh Vina sekali lagi sebelum masuk ke dalam taxi, lalu melambai dengan bibir mengatup.

__ADS_1


Vina membalas lambaian itu, dan bergegas masuk ketika taxi yang membawaku mulai melaju.


Bersambung***


__ADS_2