
Hampir sampai,
"Ehm... Dir, ngomong-ngomong mobil Aku apa kabar?"
Tanyaku seketika mengingat nasib mobil yang kemarin terparkir di depan kafe.
"Ohh,, iya... astaga,, gimana dong,,? Aku lupa,, haduhh,, "
Dirga menepuk jidatnya.
"Kok bisa lupa sih Dir,,??"
Tanyaku sembari terus memandang wajahnya yang masih fokus dengan jalan didepannya.
"Ya mau gimana lagi,, namanya juga lupa...."
Ujarnya santai.
"Ya udah,, kita puter balik!!"
Pintaku.
"Puter balik?? mau kemana??"
"Ya ke kafe lah... Ambil mobilnya,, biar Aku bawa pulang!!"
cetusku dengan nada sedikit kesal.
"Ngapain?? Gak usah,, ntar besok Aku gak bisa jemput kamu lagi donk!!
Cebik Dirga,embuat mataku melotot.
"Terus nasib mobil Aku gimana??,, lagian kamu!! tau gitu,, aku minta tolong satpam kantor ambil tadi!!"
Ocehku pada Dirga.
"Kamu marah??"
Tanya Dirga menolehku sesaat.
"Bukannya Gitu!! Yaaa... Aku bukannya marah,, tapi kan harusnya kamu bisa tepatin janji kamu, ini kan ide kamu!"
Aku melengos menghindari tatapan Dirga.
"Ya Maaf,, Aku salah... "
"Ya udah,, putar balik!"
hardikku.
Mobil tiba-tiba menepi,
"Kenapa malah minggir dan berhenti sih??"
Tanyaku heran bercampur kesal.
"Please.... gak usah puter balik yaaahhh"
Dirga menangkupkan kedua tangannya mengarah kepadaku.
Aku hanya diam, masih dengan perasaan kesal.
"Kenapa??"
Tanyaku jutek.
"Biarin aja,, Sebab Aku masih ingin menjadi seseorang yang berarti buat kamu,, Aku masih ingin menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan,, menjadi seseorang yang spesial, seseorang yang kamu tunggu,, menjadi seseorang melayani kamu, walaupun itu semua hanya sementara,, tapi Aku ingin menikmatinya"
Dirga menyentuh pipiku dengan siku telunjuknya, mengelusnya turun sampai ke dagu, lalu ibu jarinya mengusap pelan bibirku.
Perlakuan mesra Dirga yang spontan membuat rasa kesalku tiba-tiba menguap begitu saja.. seiring jantung yang terasa berguncang hebat,, hatiku juga bergetar, berdebar tak menentu, mataku tak berkedip memandang mata teduh yang tengah menatapku penuh cinta.
"Aku bahagia melewati hari-hari bersama kamu,, sangat bahagia... tapiiiii... kamu jangan jutek-jutek ya....,, jelek tau!!!"
Dirga mencubit pipiku gemas.
Blass!!!
Perasaan baper yang baru saja kurasakan tiba-tiba ambyar seketika.
Aku menelan ludah lalu mengerjap-ngerjapkan mata yang dari tadi nyaris tak berkedip sama sekali.
Ahh.... sungguh Aku benar-benar terlihat salah tingkah.
"Ehmm... Lalu,, masalah mobil gimana??"
Tanyaku membuang grogi.
"Masalah mobil... ehmmm... biarin aja ya?"
Jawab Dirga santai.
"Kok biarin? kamu gimana sih Dir??"
Aku melipat tangan di dada dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Yaa biarin aja, ngapain dipikirin?? soalnya... mobil sudah aman dirumahku!"
Dirga mendelik sambil senyam senyum.
"Ehmm... Dirgaaaaa!!!"
Aku memukul-mukul bahunya berkali-kali.
"Aku suka deh,, kalau kamu gini... Manjaaa!!!"
Ledek Dirga,, memainkan alisnya, membuat Dirga semakin terlihat manis.
"Ihh apaan sihh,,?"
Aku melengos menghindari tatapan nakalnya yang membuat Aku semakin salah tingkah dan grogi.
"Tuh kan.... muka kamu merah merona gitu, makin tambah gemesss pengennn.... "
Dirga menunjuk mukaku,,
Aku menepuk bahunya cukup keras....
"Ayo pengen apa??"
"Aaww.... kok di pukul sihhh??"
"Biarinn!!!"
"Sakiit,, sayangg!"
Rengeknya manja dengan tatapan maut yang membuatku sulit benafas.
"Salah sendiri ngapain ngerjain Aku!"
Aku mencubit bahunya.
"Aww... awww... Tadi di pukul,, sekarang dicubit!! harusnya tu....."
"Harusnya apa???" potongku.
"Harusnya Di elus kek,, dicium kek,, dipeluk!! huhh..."
Dirga membuang nafas.
Aku tertawa melihat tingkahnya yang tak kalah menggemaskan.
Mobil kembali melaju,, dan berhenti tak jauh dari rumahku, sengaja Aku meminta Dirga untuk berhenti tidak pas didepan rumahku.
Aku tak ingin Mama mengenali mobil Dirga dan curiga.
Pamitku pada Dirga.
Sesaat terdiam,, Dirga menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Andai saja,, Aku bisa mengantar kamu pulang tidak dengan cara sembunyi-sembunyi seperti sekarang,,, menggandeng tangan kamu memastikan kamu baik-baik saja dan mengantarkan kamu sampai kedepan pintu, disambut ramah kedua orang tua kamu,"
Ucapan dirga terdengar penuh sesalan.
Aku mengusap bahunya lalu tersenyum ketika Dirga menatapku.
Dirga membukakan Seat belt, kemudian meraih tanganku.
"Aku sayang kamu Vin... Andai bisa kurubah semua cerita kita,, aku sungguh tak ingin jalannya seperti ini"
Mendengar kalimat itu,, hatiku terasa perih, mataku terasa memanas.
"Tuhan,, tolong kuatkan Aku,, tolong kuatkan hatiku"
Batinku.
"Aku pulang ya...."
Pamit ulangku pada Dirga yang seolah tengah terbenam luka.
Dirga mengangguk, lalu melepaskan tanganku yang sebelumnya ia genggam dan kecup.
"Kamu hati-hati.. segera istirahat,, besok pagi... Aku tunggu dihalte depan, "
Ujarku.
Dirga kembali mengangguk.
Aku keluar dari mobil dan melangkah meninggalkan mobil tanpa menolehnya lagi.
Sampai dirumah,
Begitu pintu kubuka,, Mama sudah menunggu di ruang tamu,
Aku terkejut melihat Mama yamg memasang wajah tak ramah.
"Astaga Ma!! kaget Vina.. kok belum tidur??"
Tanyaku lalu mendekat kearah Mama.
"Sengaja nungguin kamu!"
__ADS_1
Deg!!
Firasat tak enak tiba-tiba menyergap hatiku.
Tak seperti biasanya, Mama berbicara padaku dengan wajah datar seperti itu.
"Apa Mama tau tentang Aku dan dirga ya? Atau Mama curiga dengan sikapku?"
Pertanyaan yang kini ada dikepalaku.
"Nungguin Vina? nungguin kenapa Ma??"
Tanyaku tegang.
"Sini Vin, duduk dulu"
Ajak Mama menepuk sofa disebelahnya.
Aku mengatupkan bibirku, hatiku bertanya-tanya.
"Tadi Agung nelpon!"
Ujar Mama, mendengar itu Aku menarik nafas pelan dengan tanda tanya besar di dalam hatiku tentang kata-kata apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut Mama.
"Agung nelpon ngomong apa Ma?"
Tanyaku tegang.
"Katanya, hape kamu gak bisa dihubungi dari siang,, terus Mama coba telpon kamu untuk membuktikan,, ternyata benar sampai malam ini pun hape kamu masih mati!
Glek!!
Aku menelan ludah.
"Sebenarnya kamu ada apa sih Vin?? beberapa hari ini,, selalu sulit dihubungi, hape selalu mati,, kerja selalu pulang larut, ada apa??"
Aku menunduk, mencoba berpikir dan mencari jawaban terbaik untuk kututurkan pada Mama tentang alasan yamg masuk akal.
Sungguh Aku tak ingin seperti ini, berbohong untuk menutup kebohongan yang sudah terlanjur tercipta.
Namun untuk bicara jujur sepertinya sangat tidak mungkin Aku lakukan, Aku tak ingin Mama kecewa.
"Vin, kenapa diam??"
Desak Mama,
"Ada yang mengganggu pikiran kamu?? ada masalah apa sama Agung? kalian baik-baik saja kan??"
Aku mengangkat kepala, menarik nafas dan mencoba membasahi bibirku yang tiba-tiba terasa kering.
"Maafkan Vina Ma,, sudah membuat Mama Cemas, dan bingung.. Vina gak ada masalah apa-apa kok, begitupun dengan hubungan Vina dan Agung, kami baik-baik saja"
"Lalu,, masalah hape yang selalu mati gimana?? kalau alasan kamu baterai habis, emangnya di kantor gak bisa charge??"
"Itu sengaja Vina matiin Ma,, sebab Vina mau konsentrasi kerja, menyelesaikan semua kerjaan Vina saat cuti nanti dan masalah pulang malam, Vina lembur Ma,, habis itu Vina main dulu sama Anak-anak kantor,, buang lelah Ma"
Mendengar jawaban dariku, Mama menghela nafas, lalu menyentuh bahuku.
"Mama khawatir sama Kamu, soalnya tak biasanya kamu seperti ini,, Mama cuma gak mau hubungan kamu sama Agung rusak, dan acara minggu nanti jadi berantakan"
Lagi-lagi Aku menelan ludah mendengar ucapan Mama.
Menatap mata Mama terlihat begitu besar harapan Mama untuk hubunganku dan Agung.
Aku tak bisa membayangkan jika pertunangan ini batal, berapa banyak hati yang Aku kecewakan.
Mama, Papa, Tante Ruri, Agung, saudara-saudaranya Agung.
Itu artinya pertunangan ini memang harus terjadi,, tak bisa tidak..
Hubunganku dengan Dirga memang tak mendapat restu dari semesta, walau semesta selalu punya cara untuk mempertemukan kami, seperti ucapan Alif, tapi takdir sudah tergaris,, bahwa pertunangan ini harus terjadi dan kisahku bersama Dirga harus terhenti begitu saja.
"Ya sudah, sana istirahat... kamu sudah makan??"
Taya Mama.
"Sudah Ma,, Vina masuk kamar ya Ma..."
Aku melangkah cepat masuk kamar, sebak didalam hati sudah tak bisa lagi kutahan. Setelah pintu kamar tertutup dan terkunci rapat, Aku bersandar pada pintu dan perlahan duduk dilantai bersandar pada pintu kamar. Rasa perih yang sedari tadi kutahan berhasil membuat air mataku kembali tumpah, beban dihati yang kian bertumpuk membuat dadaku terasa sesak dan menyempit,
Aku lelah....
Berusaha kuat dan baik-baik saja didepan Mama, meski harus terus menerus berbohong menutupi segala rasa dan keadaan yang sangat kubenci, berusaha tegar didepan Dirga meski sebenarnya Aku hampir rebah dengan segala rasa yang tertahan. Berusaha bahagia didepan Agung meski sesungguhnya hatiku tertekan terus menerus berpura-pura mencintainya.
Aku meremas rambutku sendiri, sembari mengigit bibirku meredam suara tangis yang semakin tak terkendali.
Aku benar-benar lelah dan menyesali yang pernah terjadi,, hingga membuatku terjebak dalam situasi yang seperti ini.
Mempertaruhkan hati demi menjaga hati, meninggalkan perasaan demi menghargai perasaan.
Aku terpaksa melangkah dijalan yang terlanjur kutunjuk meski hatiku meyakini bahwa ini akan menyesatkanku kedalam luka yang berkepanjangan.
Andai ini sebuah pertempuran, mungkin melambaikan bendera putih sudah kulakukan sejak langkah pertama.
Aku memeluk kedua lututku erat dengan membenamkan kepalaku diantaranya.
__ADS_1
Bersambung***