Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 198 Ibuk masuk rumah sakit


__ADS_3

Langkah lunglai mengantar Aku sampai didepan rumah Paman Usman, ketika langit mulai senja.


Kedatanganku disambut Cia dan Bella yang berlarian mendekatiku sembari berseru girang.


"Abiiiii.... selamat yaa.... bentar lagi jadi murid SMA!!"


Ujar mereka kompak.


Aku memaksakan senyuman yang sesungguhnya terasa amat berat.


Didepan Pintu kulihat kedua orangtuaku berdiri menyambutku dengan tersenyum, tak jauh dari sana juga Paman Usman dan Bik Umi berdiri.


"Selamat ya Nak... Bik Umi sudah cerita, kamu hebat!!"


Komentar Ayah kemudian segera membawa Aku kedalam pelukannya, Ibu mendekat dan merangkul kami.


Aku memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan yang begitu sangat kurindukan selama ini hingga tak terasa mataku terasa basah.


"Besok,, Ayah sama Ibuk ingin mengajak kamu berbelanja keperluan sekolah persiapan masuk SMA"


Ujar Ayah, membuatku tersenyum dan mengangguk.


"Tapi... kenapa cepat sekali Yah? bukankah tahun ajaran baru masih sekitar satu bulan lagi?"


Tanyaku sedikit heran.


Ayah dan Ibuku saling pandang,


"Nanti kita bahas ya Nak, sekarang kamu mandi dulu, ganti baju setelah itu kita makan, nanti kita lanjut bicara"


Jawaban Ibuk membuat Aku penasaran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang nanti akan di bicarakan.


Meski begitu, Aku dengan patuh mengikuti semua yang baru saja diucapkan Ibuku.


Setelah selesai Mandi, acara makan bersama yang kaku mewarnai meja makan Paman Usman, tak seperti biasanya yang selalu hangat dan ramai kini semua nampak serius, bahkan Bella yang biasanya selalu menggiring candaan disela-sela makan kini tak banyak bicara.


Perasaan gelisah mulai menggelayut dihatiku, ada apa sebenarnya ini, apa yang akan terjadi? sepertinya cuma Aku yang belum tau.


Selepas makan,


Semua berkumpul diruang keluarga, termasuk Cia dan Bella yang saling berpegangan tangan.


Aku mendekati mereka, ketika baru saja akan duduk disebelah Cia,


"Abi... sini Nak, duduk sini.."


Panggil Ibuk, sambil tersenyum dan menepuk kursi disampingnya.


Mataku justru tertuju pada deretan koyo putih yang berbaris rapi di dahi Ibu.


"Buk,, kok... itu kepala Ibuk??"


Tanyaku sembari menunjuk benda putih itu.


"Ohh... ini,, Entahlah, dari tadi pagi rasanya kepala ini sakit sekali,, tapi ini udah mendingan.


Ibu terlihat memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Bi,, pendaftaran kamu di SMA Merdeka Raya sudah selesai diurus, besok kita belanja keperluan kamu sekolah ya.. ehm, pasti kamu bertanya-tanya kenapa harus cepat-cepat.. "


Ibuk menatapku yang mengangguk menunggu penjelasan.


"Bi,, lusa Ayah sama Ibuk akan berangkat keluar kota.. Ibuk pengen, Ibuk sendiri yang mengantar kamu memilih semua barang keperluan sekolah kamu,"


"Jadi... Lusa Ayah sama Ibuk pergi? terus.. tidak akan kembali selama 2 tahun seperti yang Ayah bilang?"


Suaraku bergetar menahan sesak didalam hati.


"Bukan seperti itu Nak,, 2 tahun adalah kontrak kerjanya, dan itu akan terus berpindah-pindah lokasi kerja.. masalah pulang, kita lihat nanti,, kalau bisa, Ayah dan Ibuk pasti akan menyempatkan untuk pulang menemui Abi,, dan setelah 2 tahun kontrak kerja berakhir, dan kami sudah mendapat penempatan wilayah, Ayah dan Ibuk akan sesegera mungkin menjemput Abi.. dan kita akan sama-sama lagi"


Aku tak menjawab, hanya tertunduk dan terdiam dalam pikiran yang berantakan.


seketika ada rasa ingin menangis, namun sekuat tenaga Kutahan meski rasanya sulit untuk menjaga mata ini agar tak basah.


"Kamu bisa ngertikan Bi...?"


Tanya Ayah.


Aku masih diam, tak tau harus menjawab seperti apa.


"Kamu baik-baik disini, nurut sama Paman dan Bibik, terus jaga Cia sama Bella juga,, bantuin Paman ya..."


Pesan Ibuk seraya mengelus kepalaku.


Keesokan paginya,


Aku yang sudah siap, menunggu Ayah dan Ibuk di depan kamar lalu mengetuk pintu kamar.


"Buk,, kita jadi pergi pagi ini?"


Tak lama,


Klek!


Suara pintu dibuka, Ayah keluar menemuiku.


"Loh, kok Ayah belum siap?"


Tanyaku ketika melihat Ayah yang masih mengenakan kaos oblong dan kain sarung.


"Bi,, kita agak sorean dikit gak apa-apa ya... Ibuk masih sakit kepala"


Ujar Ayah dengan wajah cemas.


Aku melongokkan kepala kedalam terlihat Ibu meringkuk memegangi kepalanya.


Melangkah masuk dan duduk di samping Tempat tidur,


"Buk,, apa sebaiknya kita kedokter saja?"


Sapaku mengelus kening Ibu.


Dengan membuka matanya perlahan Ibu tersenyum kearahku,


"Gak usah Bi,, Ibu cuma sakit kepala biasa, tiduran bentar juga nanti sembuh,, maaf ya.. kita batal pergi pagi ini,,"

__ADS_1


"Gak apa-apa Buk... sini Abi pijitin kepala Ibuk"


Aku naik keatas tempat tidur dan mulai memijat kepala Ibuk dengan lembut.


Hingga makan siang, Ibu belum juga membaik, bahkan ibuk tak bisa berangkat dari tempat tidur, kecemasan mulai menyergap seisi rumah, ketika melihat kondisi ibu yang semakin drop.


"Apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja Mas.."


ujar Paman Usman pada Ayah yang tengah memandang Ibu dari ambang pintu ketika waktu hampir malam.


"Iya,, Akupun berpikir seperti itu,, "


Ayah disusul Paman Usman, dan Bik Umi menghampiri Ibuk yang terpejam.


Sementara Aku, Cia dan Bella hanya melihat dari luar kamar.


"Buk,, kita kerumah sakit ya... Buk,, Buk..."


Ujar Ayah mencoba membangunkan Ibuk.


"Usman! Umi!! coba kesini!! kalian lihat,, kenapa Mbakmu hanya Diam!!"


pekik Ayah panik membuat Aku dan Cia saling pandang kemudian buru-buru masuk kedalam kamar disusul Bella.


"Mbak...! Mbak!! Astaga,, ini pingsan Mas,, "


Jawab Paman Usman dengan wajah panik dan cemas bercampur jadi satu.


Panik, cemas dan ketakutan tergambar jelas dihatiku tentang kondisi Ibuk.


"Ya Sudah,, biar kupinjam mobil tetangga kita kerumah sakit sekarang!!"


Paman Usman bergegas keluar kamar,


Tak berselang lama,


"Ayo Mas, mobil sudah siap,, Cia... Abi.. Bella,, kalian tunggu dirumah"


"Gak Paman,, Abi mau ikut..!"


Jawabku,


"Kami juga!!"


Cia dan Bella tak mau ketinggalan.


"Hem... ya Sudah,, buruan.."


Bergegas Ayah menggendong Ibu menuju mobil, Bik Umi mengambil tas dan beberapa perlengkapan yang lainnya, Aku, Cia dan Bella berlari masuk kedalam mobil.


Wajah cemas Ayah terlihat semakin pucat, serta keringat di dahinya menggambarkan bahwa ada ketakutan yang sangat besar di pikirannya saat ini.


30 menit, mobil tiba di rumah sakit, kedatangan kami di depan pintu UGD disambut perawat jaga, penanganan pertama diberikan pada Ibuk yang sudah tak sadarkan diri, tak lama terlihat Ayah serta Paman Usman tengah berbincang serius dengan Dokter, yang sama sekali Aku tak mengerti apa yang terjadi.


Yang kulihat selanjutnya adalah Ibu di dorong keluar dari ruangan tersebut dan dipindahkan keruangan lain yang tak boleh orang lain masuk.


Terlihat titik air mata disudut mata Ayah ketika menengadahkan tangannya di depan ruangan yang bertuliskan ICU.

__ADS_1


Bik Umi mengusap punggungku, ketika menyadari mataku sudah basah.


Bersambung***


__ADS_2