
"Ehm... Nin,, Za, Tari minta kita buat menunggu sebentar.. katanya Dia masih pingin ngobrol dan katanya ada yang mau Dia sampaikan pada kita"
"Gimana Pi? Boleh?"
Tanya Nina menoleh pada Alif.
Alif mengangguk, Nina tersenyum lalu menolehku dan mengangguk.
Begitupun Elza dan Daniel yang juga kompak mengangguk kearahku.
Tak berselang lama,
Acara berakhir, nampak tenda tamu mulai sepi, hanya tinggal kami yang tersisa. Agung dan Tari pun beranjak turun dari pelaminan, begitu sampai dibawah, Tari segera menghampiri kami kemudian disusul Agung.
"Kita masuk aja ya..."
Ajak Agung pada kami semua.
Aku, Dirga, Nina dan yang lainnya mengikuti langkah Agung dan Tari masuk kedalam rumah kediaman Agung.
Masih mengenakan gaun pengantinnya Tari duduk dengan mata yang tak henti-hentinya mengucurkan air mata, sementara Agung masuk meninggalkan kami seolah memberikan Tari waktu dan kesempatan untuk bercerita pada kami.
"Tari... Udah donk, jangan nangis kayak gini,, ini hari bahagia kamu.. mestinya kamu tersenyum bahagia"
Bujukku sembari memegang tangannya yang berhias hena merah.
"Vina maafkan Aku...."
Tari kembali memelukku dengan berurai air mata.
"Iya.. Aku udah maafin kamu,, bahkan jauh sebelum kamu meminta maaf"
Jawabku mengusap belakang Tari.
"Aku khilaf... Aku salah.. dan sekarang dihadapan kalian semua Aku mengakui semua kekhilafan dan kesalahan yang pernah Aku lakukan,, Aku ingin kalian mendengar ceritaku"
__ADS_1
Ujarnya terisak.
Aku, Dirga, Nina dan yang lain mengangguk.
"Dulu,, waktu pertama kali Dirga datang.. Aku akui, Aku jatuh cinta padanya.. bahkan sejak pandangan pertama.. dan Dirga adalah cinta pertamaku"
Tari mulai bercerita,
Aku tersentak mendengar penuturan Tari,,
Sulit dipercaya, semua cinta yang saling bertaut diantara kami semuanya adalah cinta pertama,
Aku cinta pertama Dirga, begitupun dengan Agung bahkan menurut cerita teman-temanku Aku juga cinta pertamanya Daniel.
Dirga Adalah cinta pertamaku, dan Dirga juga cinta pertama Tari.
Benar-benar cinta yang sulit untuk dilupakan.
"Aku bahagia bisa mengenal Dirga, dan berharap Aku dan Dirga bisa lebih dari sekedar teman, tapi Aku patah hati setelah tau ternyata Dirga mengenal Vina bahkan mencintai Vina, disinilah kekhilafan itu dimulai... Aku mulai memikirkan banyak cara agar mereka tak bersatu, Aku begitu culas pada saat itu dan Aku menyesal telah memisahkan mereka, Aku menyesal tak menyampaikan semua surat Vina untuk Dirga,, Aku juga menyesal pernah mengarang cerita pada Dirga tentang kisah cinta Daniel dan Vina, Aku juga mengarang cerita tentang kedekatan Agung dan Vina kepada Dirga."
"Maksudnya??"
"Iya Niel, Aku mengarang cerita pada Dirga, Aku bilang kalian pacaran, Aku juga bilang Agung calon tunangan Vina, Aku juga diam-diam mengambil foto ketika kalian sedang berdua, juga foto Vina dan Agung untuk ku tunjukkan kepada Dirga sebagai bukti dari ceritaku, hal itu membuat Dirga cemburu, kesal dan patah hati pada Vina, Aku menggunakan kesempatan itu untuk masuk kedalam hati Dirga,, tapi sayangnya semua usahaku tak berhasil,, mata hati Dirga tak terbuka sedikitpun untuk melihatku, Hati Dirga tak terketuk sedikitpun oleh sikapku, sebab Vina dihati Dirga sudah terpaku kuat menancap dalam hingga Aku sadar,, tak mungkin Aku bisa menggantikan posisi Vina dihati Dirga. Aku malu,, Aku tak berani bertemu kalian semua. Rasa takut untuk menghadapi kalian semua terutama kepada Vina, membuat Aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini,,"
Tari tak melanjutkan ceritanya ia kini menunduk, menahan isak. Mungkin rasa bersalahnya kini menjadi sebuah penyesalan yang sangat dalam dihatinya.
Agung Datang kemudian merangkul Tari, lalu Menyandarkan kepala Tari di bahunya.
"Biar Aku yang lanjutin.."
Ucap Agung pada Tari, dan Tari mengangguk.
"Tiga bulan di Batam, tak membuat Aku melupakan Vina dan semua kejadian yang terjadi padaku, sebab ini bukanlah hal yang mudah."
Dirga menunduk dan Aku tau Dia sedang menyembunyikan perasaan cemburunya Saat mendengar kata-kata Agung barusan.
__ADS_1
"Disaat itu, secara tak sengaja Aku bertemu Tari yang kala itu tengah menjadi penanggung jawab sebuah Event yang sedang berlangsung di kafe milenial, Sejak pertemuan itu.. kami jadi sering bertemu dan bercerita tentang semua yang terjadi, baik padaku maupun pada dirinya sendiri. Semenjak kehadiran Tari pelan-pelan Aku bisa melupakan Vina, perlahan hatiku membaik dan bisa berdamai dengan kenyataan, sampai akhirnya Kami memutuskan untuk segera menikah"
Aku menatap mata Agung yang seperti tak berani menatapku, entah karena luka atau sengaja tak ingin melihat luka lama yang sedang mati-matian ia sembuhkan.
"Aku harap diantara kalian tak ada yang menyalahkan Tari atau berpikir yang buruk tentang Tari,, mengenai semua kejadian masa lalu,, Aku harap kalian bisa melupakan dan membuka hati kalian untuk memaafkan semua yang pernah terjadi"
Sambung nya Lagi.
Sekali lagi Aku menatap Agung, kali ini pelan-pelan Agung melirikku, dan kini giliranku yang menjadi tak kuasa bertentang mata dengannya.
Semua yang pernah terjadi antara kami satu persatu terbayang diujung mata,, menguar bersama semua kenangan yang mungkin akan kami kenang sebagai sejarah,, atau mungkin perlahan akan terlupakan begitu saja, entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya. Apapun itu,, kelak Aku tak ingin lagi ada cerita kebencian antara kami,, Aku ingin segera berdamai dengan keadaan dan fokus menata masa depanku dengan Dirga,, sang cinta pertamaku yang mampu memenangkan hatiku.
Biarkan Agung bahagia bersama Tari,, sementara Daniel telah lebih dulu memutuskan bahagia nya bersama Elza.
Aku hanya ingin semuanya bahagia.
"Kami tak pernah membenci Tari Kak.. kejadian yang sudah berlalu biarkan berlalu.. mungkin dulu kami memang kesal,, tapi Tari tetaplah sahabat kami,, selalu ada dihati kami,, bahkan kami selalu merindukan Tari disetiap kesempatan ketika kami berkumpul bersama tanpanya"
Kata-kata Nina kembali menyadarkanku dari lamunan.
"Benar Kak,, Kami selalu merindukan Tari yang tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi, tanpa kabar berita, meninggalkan kami tanpa kami tau dimana keberadaannya"
Sambung Elza.
Tangis Tari pecah, isaknya membuatku ikut merasakan pilu, Aku menggeser duduk segera mendekat dan memeluk tubuh yang masih berbalut gaun pengantin, bahkan wangi melatinya masih sangat segar menguar keseluruh ruangan.
"Makasih Vina,, makasih Nin.. Za... kalian masih mau menganggapku sahabat"
"Tentu saja Tar.. kita adalah sahabat,, dan selamanya akan tetap menjadi sahabat, kami tak pernah meninggalkanmu.. percayalah,, kami semua merindukan kamu Tar..."
Ucapku.
Nina dan Elza mendekat lalu mendekap Aku dan Tari.
Kerinduan yang sekian lama tersimpan dan terbungkam hari ini pecah dan tercurahkan,,
__ADS_1
Suasana haru membuat kami larut dalam bulir-bulir air mata.
Bersambung***