Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 49 Kecewa kedua kali


__ADS_3

Aku terjaga, ketika suara ketukan di pintu yang entah sudah berapa kali.


"Vin... kamu masih belum bangun??"


Kali ini ketukan pintu diiringi suara panggilan Mama.


"Iya Ma.... udah..."


Seruku yang baru saja berusaha sadar dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna.


Aku menyibak selimut dan duduk bersila mengikat rambut kemudian turun dari tempat tidur.


Berjalan menuju jendela dan menyibak tirainya. Mataku memicing ketika sinar mentari pagi menyapa tepat kearah mataku.


Aku melirik jam di dinding kamar, hampir pukul 7, wajar saja jika matahari sudah masuk ke dalam kamar.


"Hemmm... hari ini pasti akan sedikit terlambat pergi kesekolah"


Gumamku.


Bergegas mandi, dan bersiap.


Baru saja selesai merapikan pakaian, suara motor Agung sudah datang menjemput, Aku berlari keluar kamar, dan buru-buru menghampiri kedua orang tuaku yang tengah sarapan.


"Ma... Pa, Vina berangkat ya....!!"


"Loh.. gak sarapan dulu Vin?"


"Udah telat Ma, gak sempat, biar ntar sarapan disekolah aja.."


"Lagian kamu, udah dibangunin dari tadi tapi gak bangun-bangun, pasti semalam begadang!!"


Omel Mama padaku.


Selepas mencium kedua orang tuaku, Aku pun berlari kedepan menemui Agung.


"Hai... Pagiii"


Sapa Agung.


"Pagi, Ayok berangkat, agak ngebut ya.... Aku kesiangan!!"


Ujarku segera naik keatas motor.


"Bukannya memang biasa berangkat jam segini ya??"


Jawab Agung heran.


"Iya tapi itu biasanya Aku udah siap sarapan, ini gak sempat!"


Jawabku lagi.


Agung hanya manggut-manggut sebelum Akhirnya menyalakan motor dan kami melaju.


20 menit akhirnya tiba disekolah.


"Aku masuk ya..."


Ujarku turun dari motor dan menyodorkan helm pada Agung lalu berbalik bersiap meninggalkannya.


"Vina tunggu...!!!"


Agung menahanku.


Hal itu membuat Aku kembali berbalik menghadapnya.


Belum sempat Aku bertanya, Agung menyodorkan kantung plastik minimarket didepan mukaku.


"Apa ini?"

__ADS_1


Tanyaku menerimanya bingung.


"Entahlah, tadi sebelum berangkat kerumah kamu, hatiku tergerak untuk membelikan kamu itu, dan ternyata benar, kamu mungkin sedang butuh itu"


Aku terperangah mendengarnya, lalu membuka kantong plastik tersebut.


Roti isi coklat dan sekotak susu uht.


"Aku pulang ya.... semangat untuk hari ini"


Pamit Agung padaku.


"Ehm... Gung, Makasih ya... kamu hati-hati"


Ujarku sembari tersenyum dan melambaikan tangan.


Aku berlari masuk kekelas, di pikiranku saat ini bukanlah sarapan melainkan segera menemui Tari, berharap ada kabar gembira yang akan aku dapatkan pagi ini.


"Nah.... ini Vina, kirain gak sekolah"


Sambut Nina begitu Aku sampai di kelas.


Mataku tertuju pada bangku Tari yang masih kosong.


"Tari mana??"


Tanyaku pada Nina.


Nina menggeleng, begitupun dengan Elza dan Daniel.


Setelah meletakkan ranselku, Aku kembali berjalan kedepan pintu kelas, menantikan kedatangan Tari dengan gelisah.


"Kamu kenapa?"


Tanya Daniel yang tiba- tiba saja berada di belakangku.


Jawabku singkat.


"Iya, Aku tau... Maksudku kenapa sampai segelisah ini?"


Aku tak menjawab.


Dan senyumku terkembang begitu dari kejauhan kulihat Tari berjalan cepat menuju kelas.


"Tar, kesiangan bangun ya??"


Sapaku basa basi.


"Iya nich, gara-gara semalam gak bisa tidur!"


Jawab Tari, kemudian menuju bangkunya sementara Aku dan Daniel mengekor dibelakangnya.


Hingga jam pelajaran dimulai, Tari tak mengusikku, tak ada tanda-tanda kabar gembira seperti yang kuharapkan.


Mau tak mau, Aku harus bertanya, tapi untuk sekarang sepertinya semua harus Aku tahan, tak mungkin Aku mengobrol disaat pelajaran Matematika yang terkenal dengan guru killernya.


3 jam dalam ketegangan, Bell istirahat adalah lagu paling merdu untuk semua penghuni kelas, termasuk Aku.


Tak lama setelah Guru meninggalkan ruang kelas, anak-anak kelas pun berhamburan keluar menuju kantin, tak ketinggalan Nina dan Elza.


Aku mengeluarkan bungkusan plastik pemberian Agung pagi tadi, lalu segera memakannya, cacing-cacing di dalam perutku sudah meronta menagih untuk diberi makan.


"Tumben bawa bekal?"


Tanya Tari yang tengah merapikan Buku-bukunya.


"Oh.. ini tadi Agung yang ngasih"


"Agung itu perhatian banget ya... kenapa kamu gak coba buka hati aja buat Dia Vin"

__ADS_1


"Ehm... Kita berdua lebih nyaman seperti sekarang Tar, Oh ya... Ehm... gimana, apa yang kemarin sudah kamu sampaikan?"


Tanyaku.


"Oh... Ehm udah... udah kok Aku kasih ke Dia"


"Terus, apa komentarnya? apa Dia membalasnya Tar?"


Tanyaku penuh harap.


Tari menggeleng lesu.


Seketika rasa lapar yang sedari tadi melilit di perutku lenyap, rasa seleraku untuk makan pun tiba-tiba menghilang, Aku menggigit bibirku bertahan agar air mataku tak jatuh saat dua kali harus kutelan rasa kecewa.


"Vin, sebaiknya tak usah terlalu berharap lagi pada Dirga... Aku gak ada niat buat bicara yang menyakitkan, cuma Aku kasian sama kamu, itu saja"


Aku tertelungkup di meja dengan berbantal lengan di dahiku.


Tari mengusap kepalaku.


"Vin, Dirga tak layak kamu perjuangkan, sementara disini ada orang yang benar- benar sedang mengharapkan hati kamu, kamu sadar gak Vin, Agung itu sedang berjuang meluluhkan hati kamu yang terlalu yakin akan kekuatan cinta pertama!"


Dadaku terasa begitu sesak mendengar ucapan Tari, ada sakit yang terasa begitu nyata tapi Aku tak tau itu apa.


"Gak Tar, Dirga gak mungkin seperti itu, kalaupun Dirga ingin melupakan Aku, Aku harus tau alasannya, Dirga pasti punya alasan kenapa dia setega ini..!!"


"Kamu terlalu naif Vin!!!, ini kenyataan bukan cerita ftv tentang cinta pertama, yang ujungnya akan sesuai dengan ekpektasi kita!!"


"Aku berlari meninggalkan Tari, menyusuri koridor sekolah menuju perpustakaan.


Disinilah tempat ternyaman.


Tak kusangka, kepergianku diikuti Daniel yang tiba-tiba duduk di depanku.


"Nich....!!"


Daniel menyodorkan saputangannya padaku.


Aku mengambilnya dan menyeka mataku yang terlanjur basah.


"Aku paham perasaan kamu, tapi Aku tak menyalahkan Tari juga, Dia juga benar.. Kamu jangan terlalu berharap pada apa yang tak pernah memberikanmu kepastian"


"Tapi Niel... kamu tau kan, tak semudah itu melupakan dan mematikan rasa suka kita terhadap cinta pertama kita!!"


Daniel terlihat menelan ludah,


"Vina, Aku tau bagaimana rasanya cinta pertama, Aku juga paham bagaimana rasanya ketika cinta pertama kita ternyata tak memiliki rasa yang sama seperti apa yang kita rasakan.. sakit, kecewa... tapi kita harus siap dengan semua itu...sebab Akupun sama,,sedang berada di posisi ini!"


Daniel menunduk seolah menyembunyikan lukanya.


Aku teringat kembali cerita Elza beberapa hari yang lalu tentang Daniel kala Kami masih di sekolah dasar.


"Apa benar, Aku orang yang dimaksud Daniel dengan cinta pertamanya??"


Batinku.


"Niel... kamu pernah dengar, istilah first love... never die??"


Daniel mengangguk.


"Cinta pertama tak akan pernah mati.. tapi bukan berarti kita harus memaksa, itu hanya pepatah Vin,,,"


Aku mengangguk, meski hatiku menolak.


Aku tetap pada keyakinanku jika cinta pertamaku akan tetap abadi.


Aku yakin, Dirga suatu saat akan memberikan alasan yang tepat tentang sikapnya.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2