
Keesokan harinya,
Meski hati masih terasa berantakan akibat patah hati yang tak berkesudahan, namun sekolah menjadi hal yang paling Aku tunggu.
Alasannya hanya satu, untuk bertemu Vina lagi.
Iya.. hanya itu, meski bagaimana hancurnya hatiku karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, akan tetapi memandang senyum Vina tetaplah candu terberat bagiku.
Masih terlalu pagi ketika Aku sampai di sekolah, terlihat dengan masih sepinya penghuni disekolah, bahkan dikelasku hanya ada beberapa siswa saja yang sudah hadir salah satunya si Beruang cantik yang tengah sibuk sarapan dengan segala jenis makanan berat.
Aku memperhatikan bangku Vina yang masih kosong.
Setelah beberapa saat, akhirnya Aku memutuskan untuk berdiri di depan kelas yang lurus menghadap kedepan gerbang sekolah, menantikan pujaan hati yang tak pernah memujaku.
20 Menit berdiri mematung, akhirnya sosok yang kutunggu tiba disekolah.
Melihatnya turun dari motor Agung membuat ku kembali harus bersabar dan mengelus sendiri dadaku menenangkan hati yang pasti akan meringis.
Aku yakin, akan ada adegan-adegan sinema bollywood yang akan sukses meremukkan hatiku.
Benar saja,
Tak berapa lama setelah Vina turun dan melangkah, Agung seperti mencegahnya, membuat Vina kembali berbalik, adegan pandang-pandangan pun berlanjut, diselingi percakapan-percakapan manis plus senyum yang begitu romantis.
Aku terus memperhatikan mereka.
Tak lama, terlihat Agung memberikan kantung plastik pada Vina yang disambut manis oleh Vina, terakhir adegan perpisahan yang selalu ada lambaian tangan manja membuatku semakin geram dan sakit hati.
Aku mendengus kesal sembari mengepal geram.
Selepas Agung berlalu, Vina berlari menuju kelas,
Melihat Vina menuju kelas, aku buru-buru masuk dan duduk tenang di bangku.
"Nah.... ini Vina, kirain gak sekolah"
Sambut Nina begitu Vina sampai di kelas.
"Tari mana??"
Bukannya balik menyapa, Vina malah menanyakan Tari yang belum datang pada Nina.
Nina menggeleng, begitupun dengan Aku dan Elza yang menerima tatapan bergantian dari Vina.
Setelah meletakkan ranselnya, Vina kembali berjalan kedepan pintu kelas,Wajah dan tingkahnya nampak cemas dan gelisah, membuatku tergerak untuk mendekat dan bertanya.
"Kamu kenapa?"
Tanyaku.
"Nungguin Tari!"
Jawabnya singkat sembari menoleh kepadaku terkejut.
__ADS_1
"Iya, Aku tau... Maksudku kenapa sampai segelisah ini?"
Tanyaku lagi, namun Vina hanya diam tak menjawab.
Senyumnya terkembang begitu dari kejauhan nampak Tari berjalan cepat menuju kelas.
"Tar, kesiangan bangun ya??"
Sapa Vina begitu Tari berada di kelas.
"Iya nich, gara-gara semalam gak bisa tidur!"
Jawab Tari, kemudian menuju bangkunya disusul Vina sementara Aku mengekor dibelakangnya.
3 jam dengan Matpel Matematika membuat kelas terasa sunyi senyap, ketegangan begitu terasa, namun mataku tak bisa menahan untuk tidak memperhatikan gelagat Vina yang semakin terlihat gusar.
Bell istirahat adalah lagu paling merdu untuk semua penghuni kelas, termasuk Aku.
Tak lama setelah Guru meninggalkan ruang kelas, anak-anak kelas pun berhamburan keluar menuju kantin, tak ketinggalan Nina dan Elza.
Aku masih tak bergerak dari bangku dan meja, masih memperhatikan Vina yang saat ini tengah memegang bungkusan yang tadi diberikan Agung, dan ternyata isinya adalah makanan.
Dalam hatiku hanya bisa mengumpat Agung yang sok perhatian saja pada Vina.
Seperti biasa, Aku selalu saja menguping setiap obrolan Vina.
"Tumben bawa bekal?"
Tanya Tari yang tengah merapikan Buku-bukunya.
"Agung itu perhatian banget ya... kenapa kamu gak coba buka hati aja buat Dia Vin"
Deg!!
Jantungku seperti tersengat, mendengar saran Tari pada Vina.
"Ehm... Kita berdua lebih nyaman seperti sekarang Tar, Oh ya... Ehm... gimana, apa yang kemarin sudah kamu sampaikan?"
Tanya Vina.
"Oh... Ehm udah... udah kok Aku kasih ke Dia"
"Terus, apa komentarnya? apa Dia membalasnya Tar?"
Tanya Vina lagi.
Kali ini, dari obrolan mereka dapat kusimpulkan bahwa yang dimaksud Vina adalah surat biru yang dia titipkan kemarin.
Tari menggeleng,
mendapati tanggapan Tari, Vina menghentikan makannya, ia kini tertunduk, seperti ada luka dan kecewa diwajah itu, ingin sekali Aku mendekat dan meminjamkan pundakku untuk tempat ia menangis seperti adegan-adegan Drama Korea yang selalu diceritakan Elza padaku
"Vin, sebaiknya tak usah terlalu berharap lagi pada Dirga... Aku gak ada niat buat bicara yang menyakitkan, cuma Aku kasian sama kamu, itu saja"
__ADS_1
Ucapan Tari membuat Vina tertelungkup di meja dengan berbantal lengan, sepertinya ia menangis.
Tari mengusap kepalanya.
"Vin, Dirga tak layak kamu perjuangkan, sementara disini ada orang yang benar- benar sedang mengharapkan hati kamu, kamu sadar gak Vin, Agung itu sedang berjuang meluluhkan hati kamu yang terlalu yakin akan kekuatan cinta pertama!"
Mendengar ucapan Tari ingin rasanya Aku berteriak bahwa bukan cuma Agung yang sedang berjuang, tapi Akupun sama, bedanya Agung lebih memiliki keberanian untuk terang-terangan sementara Aku hanya bisa terus menjadi pengagum rahasia yang mencintai dari jauh saja.
"Gak Tar, Dirga gak mungkin seperti itu, kalaupun Dirga ingin melupakan Aku, Aku harus tau alasannya, Dirga pasti punya alasan kenapa dia setega ini..!!"
Jujur, hatiku terasa diremas mendengar jawaban Vina, sebegitu cintanya Vina pada Dirga, itu artinya tak kan ada kesempatan untuk Aku menitipkan namaku dihatinya.
"Kamu terlalu naif Vin!!!, ini kenyataan bukan cerita ftv tentang cinta pertama, yang ujungnya akan sesuai dengan ekpektasi kita!!"
Vina berlari meninggalkan Tari, menyusuri koridor sekolah,
membuatku spontan beranjak untuk mengejarnya.
Sampai di perpustakaan, kulihat Vina menangis, Dia begitu terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba saja sudah duduk di depannya.
"Nich....!!"
Aku menyodorkan saputanganku padanya.
Vina menerimanya dan menyeka matanya yang terlanjur basah.
"Aku paham perasaan kamu, tapi Aku tak menyalahkan Tari juga, Dia juga benar.. Kamu jangan terlalu berharap pada apa yang tak pernah memberikanmu kepastian"
Tiba-tiba saja mulutku berani membuka suara.
"Tapi Niel... kamu tau kan, tak semudah itu melupakan dan mematikan rasa suka kita terhadap cinta pertama kita!!"
Glek!
Aku menelan ludah,
"Vina, Aku tau bagaimana rasanya cinta pertama, Aku juga paham bagaimana rasanya ketika cinta pertama kita ternyata tak memiliki rasa yang sama seperti apa yang kita rasakan.. sakit, kecewa... tapi kita harus siap dengan semua itu...sebab Akupun sama,, sedang berada di posisi ini!"
Entahlah, setelah kalimat itu keluar, hatiku terasa pedih, seperti ada luka yang memerah.
Aku menunduk berusaha menyembunyikan mukaku yang mungkin terlihat sangat menyedihkan.
Hening dan saling diam beberapa saat,
"Niel... kamu pernah dengar, istilah first love... never die??"
Aku mengangguk.
"Cinta pertama tak akan pernah mati.. tapi bukan berarti kita harus memaksa, itu hanya pepatah Vin,,,"
Aku memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap mata itu,
Vina mengangguk, meski ku tahu hatinya masih pada pendiriannya.
__ADS_1
Bersambung***