Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 83 Ayah anak 3


__ADS_3

Sepulang kantor,


Tak sabar sampai kerumah, ingin segera merebahkan diri yang terasa remuk, bukan hanya letih raga, tetapi hati dan jiwa yang kini terlalu banyak beban yang sebenarnya ini mungkin tidak terlalu penting.


Terkadang Aku merasa Aku terlalu berlebihan menyikapi perasaan, akan tetapi untuk bersikap biasa dan santai saja hati ini menolak dan tak terima, ini bukan tentang sikap, melainkan tentang perasaan yang dari awal memang sudah kacau.


Andai saat itu Aku tidak terlalu terburu-buru memutuskan membuka hati dan memulai hubungan dengan Agung, mungkin tidak seperti ini ceritanya, mungkin beban pikiranku hanya tentang Dirga saja, tapi sekarang...


Belum habis mengikis perasaan pada Dirga kini Aku harus mencoba berdamai dengan keadaan bahwa minggu depan Aku harus bertunangan dengan Agung yang sebenarnya belum ada kemantapan hati untuk tujuan kearah sana.


Belum lagi memikirkan bagaimana seandainya keluarga tau bahwa Aku tak betul-betul menginginkan pertunangan ini berlangsung, Aku tak bisa membayangkan bagaimana malunya Mama dan kecewanya Tante Ruri.


Ditambah lagi rasa penasaran yang tinggi akan rahasia Akun Angkasa dan kebohongan Tari padaku,,


Semua masalah ini berawal dari satu Akar,, yaitu perasaan masa lalu yang tak tuntas, bagaimana bisa Aku memutuskan untuk masa depan.


Setiba dirumah,


Mama yang tengah menyiram tanaman menatapku cemas.


"Vin, kamu sakit?? kok lesu gitu, mukanya juga murung dan pucat?"


Mama mendekatiku, buru-buru memegang dahiku dengan punggung tangannya.


"Gak kok Ma, cuma lagi pusing banyak pikiran"


Jawabku tersenyum meyakinkan Mama.


"Kamu mikirin apa Vin, jangan berat-berat minggu depan acara spesial kamu loh.. nanti sakit gimana?"


Mama membelai rambutku penuh kehangatan.


Aku mencoba tersenyum mengangguk meski ini sungguh terasa berat.


Bergegas mandi, dan naik keatas tempat tidur dengan posisi terlentang menatap layar ponsel yang tengah loading membuka sosmed aplikasi biru dengan perasaan tak sabar serta hati yang terus berdebar.


Dan Ahh... Akhirnya, centang bertuliskan permintaan terkirim kini sudah berganti dengan berteman.


Kembali kujelajahi beranda profil Angkasa,


Tak ada aktivitas apapun dalam minggu-minggu ini, namun posisi dalam keadaan online tersebut membuatku memberanikan diri untuk menyapa,


Dengan perasaan ragu-ragu kuketikkan sapaan alakadar,


*Hai Dir, Aku tau ini kamu... Apa kabar?*


Tulisku, tak berapa lama.. terlihat pesan yang kukirimkan terbaca olehnya.


Hatiku semakin deg-degan menunggu jawaban seperti apa yang akan kuterima.


Hingga hampir satu jam menunggu tak ada balasan yang kuterima.


Perasaan gelisah kini merayap dihatiku bersamaan datangnya kekhawatiran kalau-kalau istrinya yang membuka pesan itu, mungkinkah sekarang tengah terjadi pertengkaran antara mereka gara-gara pesanku? itulah yang ada di kepaaku.


Tapi kurasa pesan yang kukirim tidaklah berlebihan, hanya menanyakan kabar, apa mungkin Istrinya secemburu itu??


Aku memejamkan mataku dengan ponsel yang kuletakkan di atas dada.


Astaga!


Ternyata Aku terlelap ketika tak sengaja memejamkan mata sore tadi,


Kulihat jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


Bangkit dan beranjak keluar karena perut yang lapar.


"Baru bangun Vin, kelihatannya kamu capek banget ya... ketiduran sampe ngebo gitu!"


Ujar Mama ketika melintasi meja makan dimana sekarang Aku tengah duduk siap menyantap makan malam.


"Masak sich Ma, ngebo?"


Balasku tersenyum tak percaya.

__ADS_1


"Beneran, Mama ketok-ketok loh, pintu bangunin kamu tadi"


Kali ini Mama menjawab sembari duduk disampingku menemaniku makan.


"Ohh... hehehe.. iya, ya...?"


"Oh ya Vin, besok seragam kita jadi.. kata Tante Ruri Dia yang akan antar kesini, bagus banget loh... sebentar Mama tunjukin fotonya, tadi Tante Ruri yang ambil kesana."


Mama beranjak dari kursi makan dan masuk kedalam kamar, sementara Aku hanya terdiam sembari masih mengunyah makananku yang tiba-tiba saja lidahku berubah tak berselera dan perutku mendadak kenyang.


"Ya Tuhan... sesuatu itu sudah benar-benar didepan mata, tak ada alasan bagiku untuk mundur dan menolak lagi, bahkan semua ini adalah keputusan yang kuambil sendiri"


Batinku.


Aku menyudahi makan malamku,


"Loh, Vin... baru juga makan, kok udahan?? kenapa??"


Mama datang dengan ponsel ditangannya, lalu duduk menatapku curiga.


"Kenyang Ma,, lagi gak selera makan.. mungkin masuk angin"


Jawabku sengaja berbohong.


"Vin,, minum obat ya.. jangan lupa Vitamin juga,, nanti drop loh..."


Aku mengangguk.


"Nih... coba kamu lihat,, keren ya...."


Mama menyodorkan ponselnya yang terdapat Foto kebaya berwarna lilac yang nampak elegan dan mewah.


Aku menoleh sekilas,


"Ehem.... Iya bagus,,"


Jawabku singkat.


Mama kembali membuka galeri foto diponselnya.


"Nah... ini Dia... manis bangetkan??,, emanglah ya... selera Ruri ini keren"


Mama kembali menyodorkan foto Gaun semi kebaya berwarna senada.


Aku kembali menoleh dan memperhatikan baju tersebut, cantik dan mewah, namun hati ini tetap saja dingin tak bersemangat.


"Gimana Vin,, menurut kamu? kok kayaknya kamu gak senang,, gak suka ya??"


Mama menampakkan muka bingung.


"Suka kok Ma,, gaun nya bagus... warnanya cantik,, kebaya keluarga juga keren..."


Jawabku memaksakan senyum.


"Vin, Mama tau kamu... perkataan kamu barusan sepertinya tidak dari hati, kenapa Nak?? Kamu seperti ada beban? cerita aja... "


Mama menatap mataku dalam dengan tangan mengelus kepalaku.


"Gak ada Ma... mungkin karena Vina lagi capek aja,, Vina suka kok..."


"Ehm... Ya udah,, kalau gitu kamu istirahat... jangan lupa obat dan Vitamin yang Mama bilang tadi,"


Aku mengangguk kemudian berlalu pamit masuk kedalam kamar.


Papa yang sedang berdiri tak jauh dari pintu kamarku hanya memperhatikan gelagatku, yang mungkin bagi mereka sedang tak biasa.


Didalam kamar, segera ku buka sosial media biru melalui ponsel,


Mataku membulat ketika melihat sebuah pesan masuk disana, hatiku berdebar berharap itu balasan Dirga.


Segera Aku klik pesan tersebut, sembari memejamkan mata, tak siap kecewa jika ternyata pesan tersebut bukan datang dari orang yang kuharapkan.


Pelan-pelan mataku terbuka,

__ADS_1


Benar, pesan itu datang dari Akun Angkasa alias Dirga.


*Iya, ini Aku Dirgantara Abinata, kabarku baik*


Aku senang karena akhirnya Dirga membalas pesanku, namun ada sedih yang menggantung, melihat cara ia membalas, sedikitpun tak menanyakan kabarku seolah tak ingin pesan ini berlanjut.


Kulihat Akun dalam kondisi online,


Aku memberanikan diri untuk kembali membalas.


*Kamu gak tanya, kabar Aku gimana?*


1 detik, 2 detik, 3 detik, 5 menit....


*Untuk apa? kurasa itu tak perlu, karena Aku tau.. kamu dalam keadaan bahagia*


Kedua alisku terangkat dengan mata membulat lebar membaca balasan dari Dirga,


"Apa maksudnya membalas seperti itu, darimana Dia bisa menyimpulkan jika Aku saat ini sedang berbahagia?"


Ujarku lirih.


*Bahagia?? karena apa?? dan kenapa kamu bisa menulis seperti itu?*


*Tak perlu balik bertanya, kurasa kamu sendiri tau, maksud dari tulisanku*


*Dir... dari dulu kamu tak pernah berubah, masih saja seperti ini, sulit untuk dipahami!! "


*Ya!! Aku memang seperti ini, tak berubah... Bahkan semuanya masih seperti dulu!*


*Kamu keterlaluan!! Aku pikir waktu bisa merubah sedikit saja sifat dan sikap kamu, ternyata Aku salah!! Kamu masih saja seperti dulu,, meski status kamu sudah sudah berubah menjadi suami dan Ayah!! tapi sifat kamu masih seperti Dirga Smp dulu!!!!*


Kesal dan marah, bercampur menciptakan perih dihatiku, hingga tanpa kusadari bulir bening itu meluncur bebas dari kelopak mataku.


Aku pikir dengan kudapatkan media komunikasi ini, Aku dan Dirga bisa senang, tenang dan nyaman bercerita tapi Aku salah, Aku benar-benar sudah tak ada lagi dihatinya.


KLING!


kembali terdengar pesan masuk,


Dengan mengusap pipi, Aku kembali menatap ponselku.


*Tunggu.... Tunggu, Suami?? Ayah?? maksud kamu apa??*


Mulutku ternganga,


"Hah??? Dirga amnesia atau gimana, atau sekarang dia sedikit lemot makanya gak ngerti?"


Ucapku pelan.


*Kamu Amnesia?*


*Sumpah gak paham!!*


*Ya Suami!! Kamu sudah nikah dan punya Anak kan??*


*🤔🤔😆,*


Dirga hanya mengirimkan balasan berupa emoticon, membuat Aku semakin bingung.


*Kenapa ketawa?*


*Iya, Aku sudah punya Anak!! 3 !!*


Membaca itu, Aku lemas... air mataku kembali tumpah, Aku tak menyangka,, ternyata Dirga menikah sudah sangat lama, buktinya Anaknya bukan satu melainkan tiga, itu artinya bayi yang kulihat waktu itu adalah anak bungsunya.


Aku mengepalkan jari memukul-mukul bantal, kesal dan kecewa.


"Bego!!!! Bego!!! Bego!!!! kenapa Aku masih mengharap jika dugaan-dugaanku selama ini salah!! "


Aku meremas bantal didepanku kemudian membanting-bantingnya diatas kasur.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2