Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 106 Hari ke 4


__ADS_3

Selepas subuh, Aku memilih untuk bersantai sejenak.


Duduk di depan televisi hanya untuk sekedar menghabiskan waktu sebelum matahari tinggi dan Aku akan pergi bertemu kembali dengan Dirga di hari ke 4 ini.


Mama baru keluar dari kamar, menuju ruang keluarga, mungkin karena mendengar suara televisi yang sudah menyala subuh-subuh begini.


"Vin,, tumben banget nonton tivi sepagi ini?"


Sapa Mama kemudian duduk disebelahku.


"Gak papa ma iseng aja"


Aku tersenyum menoleh Mama masih dengan posisi yang sama.


"Oh ya Vin, mobil kamu belum kelar?"


"Belum Ma..."


"Ya udah,, Mama mau ke dapur... mau sarapan apa??"


"Terserah Mama aja,, apapun Vina pasti makan."


Mama berlalu meninggalkanku menuju daerah kekuasaannya.


Aku menatap layar ponselku ketika getaran panjang terasa.


Agung menelpon,


"Halo Gung..."


"Halo sayang..... dah bangun yaaa,,???"


"Eh hem.... kok senyum-senyum gitu???''


"Kamu cantik banget polosan gini... suka dehh"


"Gombal terus..., Aku belum mandi,, kamu yang tumben nelpon subuh gini?"


"Iya itu tadi yang aku bilang,, kamu itu makin belum mandi makin cantik,, Aku nelpon kamu subuh gini karna gak sabar nunggu siang,, kebelet rindu"


"Hem.... kabar kamu gimana?"


"Aku sedang tidak baik-baik saja,"


"Kenapa? kamu sakit??"


"Iya, sakit karena menahan rindu... tapi Aku ada kejutan buat kamu sayang...."


"Kejutan apa?"


"Ehmmm.... kasih tau gak yaaaaaa??"


"Apaan? ih... males ah!"


"Oke... oke,, jadi... besok... Aku pulaaaaanggg!!!!"


Seru Agung dari seberang sana.


Deg!!


Jantungku seperti terasa mau lepas mendengar seruan Agung di sebrang sana,,


Aku menelan ludah,, untuk membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba saja mengering.


Bagaimana ini??


Bagaimana dengan Dirga?


Bagaimana dengan janji satu pekan yang kami sepakati,??


Bagaimana dengan hati?


Bagaimana dengan cerita yang belum selesai ini??


Bagaimana dengan perasaan yang belum lkhlas dan tuntas??


Masih banyak lagi pertanyaan - pertanyaan serupa yang memenuhi otak dan terasa berputar-putar di kepalaku.

__ADS_1


Hatiku terasa ngilu, kaki ku terasa lemas bagai tak bertulang.


"Sayang..... halo,, sayang... kamu masih dengar Aku kan?? halooo...Vina!!"


beberapa kali teriakan Agung memanggil-manggil namaku, membuat Aku kembali fokus pada panggilan telepon yang sedang berlangsung.


"Vina.... sayang... kamu gak kenapa-napakan??"


"Ehm... Iya,, aku denger"


Jawabku gugup.


"Ya Tuhan,, Vina... dari mana aja??"


"Maaf... maaf,, Aku ketiduran, apa... apa... kamu bilang apa tadi??


Jawabku berbohong, berpura - pura tidak mendengar.


"Astaga!!! kok bisa?? kamu ngantuk? begadang ya?? hati-hati lohh,, mending tidur dulu bentar ya,, Aku khawatir kamu berangkat kerja ntar malah ketiduran lagi nyetir,, bahaya sayang... besok Aku pulang"


Ujar Agung dengan nada cemas dan kembali memberi tahu kepulangannya.


"Ah,, gak papa,, ni udah segeran,, kok kamu dadakan pulangnya??


"Oh,, gitu,, Ehm... ya... karena Aku pengen cepet-cepet ketemu sama calon tunangan Aku,,oh ya, kamu cuti mulai kapan sayang??"


Pertanyaan Agung membuatku kembali terkesiap.


"Ehm... Ehmmm... kamis,,"


jawabku cepat.


"Wah bisa pas donk,, kalau gitu.. ntar Kamu jemput Aku di bandara ya sayang.... Aku berangkat sore."


"Eh... Iya.. "


"Ya udah,, Aku tutup teleponnya ya... Aku mau mandi dulu.."


"Oke!"


Sambungan telepon terputus.


Saat ini, Aku tak bisa berbuat banyak selain pasrah menerima takdir dan berdamai dengan keadaan.


Mau tak mau, Aku harus menerima bahwa dalam hitungan hari Aku akan menjadi tunangan Agung,, dan Aku harus melupakan cerita lamaku bersama Dirga meski ini adalah guncangan terhebat untuk hatiku dan mungkin juga pukulan terberat bagi Dirga,,namun inilah kenyataannya dan kami harus menerima dengan lapang dada,, bahwa cerita kami harus berhenti sebelum satu pekan sesuai janji.


Aku buru-buru bersiap untuk pergi,, dan Mama tak boleh tau semua ini tentang Aku yang sudah mulai cuti hari ini,, yang Mama tau hari ini Aku berangkat kerja,,


Setelah siap dangan busana kerja, Aku keluar kamar, sebelumnya Aku sudah mengetikkan pesan pada Dirga bahwa Aku segera on the way.


Dirga hanya membalas dengan emoticon jempol dan love,, hanya itu!! ya... hanya itu saja sudah mampu membuat hatiku berjingkrak kegirangan bagai mendapat bintang dari langit.


Mama dan Papa sudah menunggu dimeja makan, dengan menu sarapan pagi buatan Mama, segelas coklat panas dan pisang goreng pasir.


Aku duduk diantara keduanya, setelah terlebih dahulu menyapa dan mencium keduanya, lalu melahap sarapan dihadapanku, setelah selesai Aku bergegas untuk pergi,


"Vin,, apa gak kepagian??"


Tanya Papa, begitu melihat Aku sudah menjinjing sepasang sepatu berwarna mocca berjalan keluar.


Aku menghentikan langkahku, menoleh lalu tersenyum.


"Iya Pa,, hari ini terakhir Vina kerja, besok udah cuti,, jadi banyak kerjaan,, oh ya Pa.. Ma... pulang kerja Vina mau kerumah Nina ya,, Dia ngundang Ada acara dirumahnya,, oh ya... Agung jadinya Besok pulang, gak jadi hari sabtu,,"


Antisipasi yang kulakukan jika ternyata nanti Aku dan Dirga pulang lebih malam.


"Oh, perasaan waktu itu katanya cutinya hari jumat Vin,, maju ya??"


Tanya Papa lagi.


"Iya Pa... soalnya Agung besok minta Vina jemput di Bandara."


Papa manggut-manggut, sementara Mama menatapku seolah mempertanyakan kejujuran tentang ucapanku barusan.


Menyadari hal itu, seketika penyesalan menjalar di seluruh tubuhku, seolah tengah menggerogoti habis kulit dan daging menembus ke tulang.


"Ya Tuhan,, kini Aku bukan saja pandai berbicara ketika sedang presentasi didepan jajaran orang kantor, Aku juga kini bukan cuma pandai menulis di buku harian untuk menceritakan semua pengalaman hidup, tapi kini Aku juga sudah pandai berbohong, dan mengarang cerita fiktif,, untuk meyakinkan orang-orang disekitarku. Maafkan Aku Tuhan...."

__ADS_1


Sesalku.


"Kamu hati-hati ya Nak..."


Pesan Papa.


Aku mengangguk,


"Oh ya,, kamu masih naik Taxi? mobil kamu belum betul juga??"


"He.. em... Pa,, mungkin hari ini,,"


Aku berjalan keluar, seperti biasa memesan Taxi online yang hanya untuk mengantarkan Aku ke halte depan, yang kini sudah disahkan namanya menjadi halte penantian cinta oleh Dirga.


Di dalam taxi, sebuah pesan dari Dirga kuterima,


"Aku sudah disini"


Aku tersenyum, lalu mengeluarkan cermin dari dalam Tas untuk memeriksa wajahku ritual kebiasaan baru yang kulakukan sebelum bertemu Dirga.


Didepan Halte,


Aku segera turun dari Taxi kemudian berjalan cepat menuju mobil Dirga.


"Hai... "


Sapanya begitu pintu mobil terbuka, semerbak wangi Parfum menguar begitu saja masuk ke indra penciumanku, begitu lembut membuatku benar-benar terbuai ingin terus mengendusnya rakus.


Aku hanya tersenyum menerima sapaan itu, lalu duduk dan meraih seat belt, namun dengan sigap Dirga meraihnya dengan memutar sedikit tubuhnya kearahku.


Ya Tuhan.... kini tubuhnya berada begitu dekat dengan tubuhku, bahkan sangat dekat, bahkan Aku kini bisa lebih jelas menatap Mata teduhnya, hidung dan bibirnya yang sejak dulu selalu ku rindukan, bahkan hembusan hangat nafasnya begitu sangat terasa membelai wajah dan leherku, nafasku memburu, mataku tak berkedip sedetikpun.


Oh Tuhan... ingin rasanya kuhentikan waktu, Agar momen ini tak cepat berlalu,, Aku hanya ingin merasakan lebih lama bersama orang yang kucintai,,


"Melamun??"


Aku terkesiap, begitu jari-jari nakal Dirga menarik hidungku dengan tiba-tiba.


"Astaga!! Aku melamun??"


Pikirku, sembari mengelus hidungku.


"Mikirin apa??"


Tanyanya.


"Ehmm... Gak kok,, mikir kita mau kemana pagi-pagi seperti ini?"


"Oh,, entahlah... Aku juga belum kepikiran,, kamu kan cuti.. kok masih pake baju formal gitu?"


"Oh,, iya.. Aku cuma gak mau Orang tuaku tau jika hari ini Aku sudah mulai cuti"


Mendengar itu, Dirga terdiam, raut wajahnya berubah seketika.


"Maafkan Aku Vin,, gara-gara Aku dan ide konyol ini, membuat kamu jadi sering bohong,, "


Dirga urung menjalankan mobil, Kini Dia bersandar dan mengusap wajahnya kasar.


"Dir,, semua sudah terlanjur... tak seharusnya kita menyalahkan diri kita,, bahkan setelah ini kita tak pernah tau apa kita masih bisa bertemu lagi"


Akupun kini turut bersandar menatap jauh jalanan didepan yang begitu lurus dan mulus, sungguh berbanding terbalik dengan jalan cerita Aku dan Dirga yang penuh dengan drama.


Terdengar Dirga membuang nafas berat, lalu tangannya tiba-tiba meraih tanganku kemudian menggenggamnya erat.


"Apapun yang terjadi setelah ini.. Aku tetap menyayangi kamu Vin,, dan harus kamu ingat,, setelah cerita kita ini berakhir,, tak akan ada lagi cerita cinta yang lain,, karena Kamu,, wanita pertama dan terakhir yang akan selalu kucintai"


Tuturnya.


Tak dapat kutahan lagi laju bulir-bulir bening yang menggenang dipelupuk mata, mendengar penuturan cinta yang begitu tulus dari mulut Dirga barusan.


Dirga menoleh, lalu menyeka air mata perih itu, kemudian membelai kepalaku,


"Harusnya semua tak seperti ini!"


Dirga menyalakan mobil, dan melaju tanpa tau kemana arah dan tujuannya.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2