
Tak lama setelah obrolan tentang rencana pernikahan selesai, Dirga berpamitan untuk pulang.
"Ehm.. Om, Tante, Saya pamit pulang dulu.. jika tidak ada halangan, lusa Saya akan mengajak Paman dan Bibi untuk kesini,"
Ucap Dirga.
"Oh, Iya Dirga... kamu hati-hati... Calon pengantin itu aromanya wangi,,"
Aku menatap Papa yang tiba-tiba mengucapkan pesan aneh pada Dirga.
"Aroma wangi gimana sih Pa?"
Tanyaku penasaran.
Mendengar itu, Mama tersenyum menatapku dan Dirga bergantian.
"Itu mitosnya orang dulu-dulu Vin, katanya kalau orang yang mau dekat-dekat menikah, sering ada bahaya yang mengintai,, karena bau wanginya,, misalnya kecelakaan atau apalah.. padahalkan itu terjadi lantaran terlalu banyak pikiran makanya dijalan gak konsentrasi, lagian rejeki, jodoh dan maut itu semua sudah diatur"
Jelas Mama.
"Intinya harus selalu fokus,, hati-hati dan mawas diri...itu saja,, jangan lengah dijalan"
Sambung Papa.
Dirga tersenyum mengangguk.
Aku mengantar Dirga kedepan.
"Ehm... Vin, Aku lega banget sekarang"
Ujar Dirga.
"Lega? lega kenapa?"
Tanyaku memutar badan menghadap Dirga.
"Lega,, tinggal selangkah lagi,, Aku dan kamu akhirnya akan bersama selamanya."
"Iya ya.... gak nyangka, akhirnya kita bentar lagi nikah"
Jawabku.
"Loh, kok ngomong gitu?!"
Dirga menatapku sinis.
"Kenapa? kok ngeliatnya gitu banget? salah ya ucapan Aku?"
"Kok kamu ngomong gak nyangka? emang kamu nyangkanya gimana? kamu nyangkanya akan menikah dengan siapa? berharap menjadi istrinya Agung?!"
Dirga mendengus dan membuang muka.
"Lah kok merembet kemana-mana? bawa-bawa Agung lagi!!"
"Kok kamu jadi marah,, Aku bawa-bawa Agung?! emang benarkan? Kamu pasti dulu nyangkanya akan berumah tangga sama Agung!"
"Kenapa jadi bilang Aku yang marah? bukannya kamu duluan yang marah gak jelas?! pake acara bawa-bawa nama orang yang sama sekali gak ada hubungannya lagi dengan kita!!"
Aku membalik badan membelakangi Dirga.
"Kamu bilang Aku gak jelas? kamu tu yang sampe sekarang masih bikin Aku cemburu!!"
Astaga!!
laki-laki ini!!!
Masih saja seperti dulu!!
Batinku.
"Ah... udah ah,, males!! Aku mau pulang!!"
Serunya.
__ADS_1
Aku tak menjawab bahkan tak menggerakkan sedikit saja tubuhku dari posisi awal.
"AKU PULANG!!"
ulangnya dengan nada yang lebih tinggi dan ketus, namun Kenyataannya tak selangkahpun beranjak maju meninggalkanku untuk pulang.
AKU PULANG YA!!"
Ulangnya sekali lagi bahkan kali ini lebih keras lagi.
Aku tetap pada pendirianku untuk tidak peduli.
"VINA!! AKU MAU PULANG!!"
Kali ini, Dirga membalik tubuhku menghadapnya.
Rasanya Aku ingin ketawa, namun sekuat hati Aku mempertahankan ekspresi kesalku didepan Dirga.
"Dirga apaan sih?!"
Aku menepis tangannya dari bahuku.
"Lagian kamu kayak gak peduli! Kamu seneng ya Aku pulang?"
Tanyanya, menyorot mataku tajam.
"Kalau mau pulang ya pulang aja!"
Jawabku jutek.
"Ohh.... Gitu??!"
Tanyanya cemberut.
Aku mengangguk.
Dirga membuang nafas kasar, lalu menggaruk pelipis matanya.
"OKE!! AKU PULANG!!"
Namun baru beberapa langkah, Dirga kembali berhenti.
"Kenapa berhenti?"
Tanyaku dengan melipat tangan di dada.
Mendengar pertanyaanku, Dirga membalik tubuhnya kembali menatap kearahku.
"Bahkan, Kamu tak berusaha mencegahku?!"
Jawabnya, kali ini dengan wajah sendu.
"Wkwkkwkw.... Wkwkwk... Wkwkkkk"
Aku tak bisa lagi untuk menahan ketawaku atas sikapnya sore ini.
Dirga mengerutkan dahi melihatku tertawa terbahak-bahak.
"Kok kamu ketawa?"
Tanya Dirga bingung.
Aku berjalan mendekat kearah Dirga,
"Ohh,, jadi dari tadi gak pulang-pulang karena lagi nungguin Aku tahan-tahan ya? nungguin Aku cegah ya?? kamu lucu!! makanya kalau cemburu itu dilihat-lihat dulu situasi dan kondisinya,, agar gak cemburu buta kayak gini,, kayak bocah,, malu!! ingat kita udah tua!!! jangan dikit-dikit masukin kehati, ngambek, marah gak jelas!"
"Kok kamu ngatain Aku gitu Vin?!!"
"Tuhkan.... mau marah lagi? ngambek lagi??"
Dirga menatapku malu-malu, kemudian menggeleng.
"Enggak! Abisnya kamu ngomongnya bikin Aku gak enak hati!"
__ADS_1
"Udah Ah,, jangan dibahas lagi.. ingat,, kita harus fokus sama rencana kita"
Dirga memgangguk, lalu meraih tanganku dan jemariku.
"Maafin Aku ya... "
Aku mengangguk, Dirga mencium punggung tanganku.
"Ya udah, Aku pulang ya..."
"Iya,, hati-hati"
Dirga melangkah meninggalkanku masuk kedalam mobilnya.
"Kali ini Aku pulang beneran.."
Aku tertawa mendengar celotehnya, lalu melambaikan tangan membalas lambaiannya sebelum kaca jendela mobilnya tertutup sempurna.
Dalam hitungan detik, mobil tersebut menghilang dari pandanganku.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala mengingat kejadian barusan.
"Hem... Dirga.... Dirga"
Gumamku pelan lalu masuk kedalam rumah.
Aku memutuskan untuk segera mandi saat kurasakan tubuhku sudah sangat gerah.
Malam hari,
Berbaring diatas tempat tidur, sambil senyum-senyum sendiri memandang layar ponsel yang sedari tadi tak berhenti berdenting.
Aku sedang berbalas pesan dengan Dirga.
Ahh,, Aku benar-benar tak menyangka, bahwa sebentar lagi Aku dan Dirga akan menjadi sepasang suami istri, hal yang paling Aku impikan sejak dulu.
Banyak sekali cerita yang sudah kami lewati, suka, duka, penantian, kerinduan dan kesetiaan yang sebentar lagi semuanya akan dilebur dalam sucinya ikatan pernikahan.
Tak sabar menantikan hari itu,, hari dimana Aku dan Dirga akan merasakan cinta yang begitu dahsyat, dan Aku pada saat itu akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Aku mendekap ponsel di dadaku sembari terpejam membayangkan betapa indah hari itu kelak.
Namun Aku tersadar ketika ponselku kembali berdenting.
"Ehmm.. katanya tadi mau tidur,,!"
Omelku mengira pesan yang masuk berasal dari Dirga, padahal di chat terakhir Dirga bilang mau segera tidur.
Aku membuka mata dan kembali menatap layar ponselku.
"Oh,, Elza.. kenapa Dia kirim pesan?"
Tanyaku dalam hati.
💌
"Vin,, Maaf ya... Aku ganggu kamu,, Aku cuma mau minta tolong sama Kamu,, bisa gak kita ketemu besok? kalau bisa... Kamu datang kerumahku ya,, Aku mau cerita-cerita sama kamu"
Membaca isi pesan dari Elza, tiba-tiba perasaanku jadi gak enak, ada apa dengan Elza? kenapa Dia terasa begitu aneh,, Aku kembali mengingat kejadian di acara pernikahan Agung siang tadi,, Hatiku semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Elza, jantungku berdegup kencang, rasa gelisah seketika menyergap batinku.
Segera kuketikkan balasan pada Elza.
"Iya Za... bisa, besok istirahat makan siang Aku meluncur kerumah kamu, Ehm kalau boleh tau,, ada apa ya Za? kamu baik-baik sajakan?"
"Iya, Aku baik-baik saja... cuma mau cerita aja sama Kamu,, Aku kangen"
Balasan Dari Elza semakin membuatku merasa ada sesuatu yang sedang menimpa Elza.
"Apa Elza lagi ada masalah sama Daniel? apa sebaiknya kutanyakan ini pada Daniel?"
Pikirku.
"Tapi... bagaimana kalau itu semakin membuat Daniel marah sama Elza? Ahh... Enggak... Enggak, jangan-jangan nanti malah Daniel makin marah sama Elza karena dianggap ngadu-ngadu!!"
__ADS_1
Aku mengurungkan niatku.