Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 75 Move on


__ADS_3

Ingin sekali rasanya Aku menyudahi perasaan yang terasa begitu rumit ini, rasa sakit dan luka yang tergores membuatku ingin menutup kisah masa remajaku yang manis bersama Dirga, dengan membuka lembar baru dengan cerita baru.


Tapi entah mengapa, sulit untuk Aku membuang jauh rasa cintaku yang terlalu overdosis pada Dirga yang jelas-jelas sudah bahagia.


"Vin, Aku serius... "


Agung meraih tanganku dan mengusapnya pelan, sesaat Aku memandang matanya yang terlihat begitu tulus.


Aku hanya bisa menarik nafas, lalu menarik lenganku kemudian menjauhkan tubuhku dari meja dengan duduk bersandar tegap.


"Kenapa Vin? keraguan apa yang kamu rasakan? sesulit itukah memberi Aku ruang dihati kamu? atau, Aku masih harus berjuang untuk bisa meluluhkan hati kamu? Jika iya... Aku tak keberatan melakukannya untuk kamu, tapi setidaknya berikan Aku gambaran batas waktu, sampai kapan??


Bukannya Aku lelah, tapi setidaknya itu akan menjadi semangat untuk Aku,"


Agung menelan ludah dan mendongakkan kepalanya, terasa sekali jika Dia menahan getir.


"Gung, maaf... bukan, bukan itu maksud Aku?


Aku bukan ragu dengan kamu, tapi ragu dengan perasaanku sendiri, Aku gak mau menjalani hubungan dengan setengah hati.. tolong, beri Aku waktu sedikit.... lagi, untuk Aku agar benar-benar yakin bahwa Aku siap dengan cinta yang baru."


"Kamu jangan khawatir Vin, bahkan dengan secuil hati saja Aku sudah bersyukur.."


Senyum kecil menghiasi sudut bibir Agung.


Menghabiskan waktu berdua Agung, bercerita diselingi canda yang terkadang sampai membuatku lepas kontrol ketika tertawa, sungguh membuatku sedikit melupakan sakit dan kecewa yang baru saja kuterima.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat,


menjelang sore,


"Kita pulang, atau mau mampir kemana dulu?"

__ADS_1


Tanya Agung,


"Kayaknya kita pulang aja ya.. Aku udah capek"


Ujarku yang dibalas anggukan dari Agung.


Diperjalanan pulang, Agung tak banyak bicara, ia fokus dengan kemudi, meski sesekali terjebak olehku sedang mencuri pandang,


Aku bisa merasakan ketulusan hati Agung, dari caranya berbicara, menatap bahkan gelagatnya dalam bertindak kepadaku.


Disampingnya, Aku yang tengah berjuang membuang rasa pada Dirga dan berusaha meyakinkan hati untuk mantap menerima Agung.


Terus membatin,


"Apa, selepas pulang ini, langsung saja kunyatakan kalau Aku siap menjalin kasih dengannya??"


Aku bertanya-tanya dalam hati sembari memejamkan mata bersandar pada sandaran jok mobil.


"Bukankah lebih cepat membuka hati akan semakin cepat membuatku move on?"


Lalu tiba-tiba kurasakan mobil semakin pelan dan akhirnya berhenti ditepi jalan.


Mataku terbuka, dan menoleh pada Agung.


"Ehm.. Maaf Vin, ada yang mau Aku bicarakan.. tadi belum sempat ku utarakan"


Ucapan serius dengan mimik muka yang serius pula membuat Aku sedikit tegang.


"Apa?"


Tanyaku pendek.

__ADS_1


"Minggu depan, Aku mau ke luar kota, mungkin sekitar 3 bulan, "


"Kok, lama banget, ada urusan apa?"


Tanyaku dengan hati yang sedikit kurang enak.


"Iya, urusan kafe, disana Aku buka cabang baru lagi, teman yang menjalankan... jadi mau penyesuaian dan trainee dulu semua rekan-rekan disana"


"Oh.., "


"Kok cuma Ohh sih?"


"Terus, mau nya Aku jawab apa?"


"Ya... apa kek... yang ngenakin hati gitu!!"


"Coba contohkan, yang ngenakin hati itu gimana?"


Aku melipat tangan di dada sembari memainkan alisku.


"Ya... misalnya, kok lama ntar kalo Aku rindu gimana? Atau... Aku gak bisa jauh dari kamu selama itu, Kan bikin Aku meleleh!!"


Agung melengos jengkel.


"Ohhh... gitu ya??, kalau gini gimana...


Ehm.... Gung, Aku mau.. sebelum kamu pergi kita jadian??"


Ujarku.


Agung menoleh dengan mata terbelalak, dan mulut terbuka.

__ADS_1


"Hah.... Kamu serius???! kamu gak sedang bercandakan?? atau kamu lagi ngigau?? atau... ehm... Aku... Aku.... Aku gak lagi mimpi kan???"


Bersambung***


__ADS_2