
Pagi datang,
Setelah rapi, Aku berjalan keluar kamar menuju ruang makan dan duduk sendirian dimeja makan dengan selembar kertas pesan.
Kusingkirkan kertas tersebut dari bawah gelas teh yang masih hangat.
Aku tak perlu lagi membacanya, sebab Aku sudah tau isinya bahkan sudah sangat hafal diluar kepala.
# Selamat pagi Abi sayang...
Selamat sarapan Nak,, maaf Ibuk dan Ayah untuk saat ini belum bisa menemani kamu sarapan,, semoga suatu saat nanti kesempatan itu bisa kita rasakan lagi setiap hari seperti dulu lagi #
Tersenyum getir dan mulai menikmati sepiring nasi goreng dengan telor ceplok.
Hanya sendiri, sepi dan sunyi.
Aku bisa, karna terpaksa dan akhirnya terbiasa.
Disuapan ke tiga,
tiba-tiba bayangan wajah gadis manis itu melintas diam-diam membuatku segera menyudahi suapanku dan bergegas berangkat kesekolah.
Ahh... Ervina,, untung saja Aku bertemu kamu dan mengenal kamu di sekolah, jadi Aku bisa sedikit melupakan kesedihanku dan bisa tetap bersemangat dipagi hari yang biasanya selalu saja membuatku galau dan kesepian.
Semenjak usaha Ayah gulung tikar,, semua keceriaan dalam rumah ini terasa turut tergulung. Aku jadi jarang sekali bertemu mereka yang kini banting setir menjadi buruh di sebuah pabrik plastik, dengan gaji pas-pasan, hal itulah yang membuat mereka harus pergi pagi pulang sore, dan tak jarang mereka harus pulang larut malam untuk mengejar lembur, demi menyekolahkan Aku disekolah swasta terbaik yang tentu saja dengan biaya yang tidak sedikit.
Rasa rindu seharian tak bertemu merekalah yang kadang-kadang membuatku tak sabar menunggu sore tiba, namun tak jarang pula Aku harus menelan kecewa ketika hingga malam hari mereka tak kunjung kembali,
bahkan Aku rela tertidur di kursi demi menunggu mereka pulang kerja,, tapi sayangnya saat Aku terbangun, Aku sudah berada di kamar dan itu sudah pagi hari lagi dimana kedua orang tuaku sudah berangkat kerja lagi yang hanya akan meninggalkan sarapan dengan selembar kertas pesan di meja makan.
Dan ini sudah berlangsung hampir 2 tahun belakangan.
__ADS_1
Bis berhenti di depan gerbang sekolah, Aku melompat turun dan berjalan lambat,
"Caca"
Gumamku ketika melihat gadis dengan rambut panjang hitam yang tergerai berjalan pelan didepanku.
Aku sangat mengenali pemilik rambut indah itu.
"Ca...!!!"
Pekikku.
Salsa berhenti melangkah dan menoleh,
wajah manis itu menyambutku dengan senyuman menampakkan lesung bulat sempurna di dua belah pipinya, mata indahnya berkerling.
"Dirga.., baru nyampe?"
"Iya,, kamu kenapa kok gak semangat gitu?"
Tanyaku.
"Aku Be-te...!! Di kelas, ada anak cowok yang selalu isengin Aku!! Aku mau pindah kelas!! Aku pindah kelas kamu yaaaa"
Rengeknya.
"Dia naksir kamu kaliiiiiii"
godaku.
"Ihh... Dirga,, kok naksir malah gangguin?!"
__ADS_1
Caca mencebik.
"Loh,, ya itu cuma alasan Dia aja biar bisa deket-deket sama kamu"
"Ahh... Dirga,, pokoknya bantuin Aku buat pindah kelas!! Aku Be-te!!"
"Ya mana bisa Ca!! emang kamu pikir Aku anaknya kepsek?? yang bisa gampang ini itu!!"
"Dirga jahat!!"
Caca menepak bahuku berkali-kali, membuat Aku tertawa.
Disaat Aku dan Caca tengah bercanda dan saling tertawa tiba-tiba dari arah belakang Vina memotong kami, Dia berjalan ngebut tanpa menoleh.
Aku tak tau, Dia melihat kami atau sengaja berpura-pura tak melihat.
"Vina,,,,"
Panggilku.
Vina berhenti, terdiam beberapa detik kemudian Dia menoleh,
"Eh..kalian..."
"Nyelonong aja...!"
"Sorry ya... Gak liat,, Aku buru- buru nich... Mau cari Nina."
Jawabnya singkat kemudian segera berlalu.
Bersambung***
__ADS_1