Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
bab 25 Hanya teman


__ADS_3

Aku tergopoh-gopoh menuju meja makan,tak terdapat sarapan di sana,yang kulihat hanyalah papa yang juga buru-buru,masuk kamar mandi,sementara mama,,sedikit tergesa menyiapkan keperluan papa berangkat kerja.


Aku bengong menyaksikan pemandangan pagi ini,Ternyata kami semua kesiangan,pantas saja mama tak membangunkan ku.


Mama menghampiri ku,


"Vin,nanti sarapan di jalan aja ya"


Sembari menyodorkan kotak bekal di lengkapi dengan botol minum.


Aku hanya mengangguk,


lalu dalam beberapa menit,mama datang lagi dengan kotak bekal dan botol minum yang sama,


"Ini buat papa"


ujar mama,meletak kan nya di samping Tas kerja papa.


"Ayo Vin!"


Seru papa,melewati ku dan menyambar tas dan bekal yang di berikan mama.


Aku mengikuti papa dari belakang.


Beberapa menit setelah mobil bergerak maju,aku membuka bekal ku,ternyata mama membawakan ku roti dengan isian coklat,dan sebotol susu hangat.


Tak membuang waktu,segera ku lahap habis bekal sarapan ku,sebelum mobil tiba di depan gerbang sekolah.


Aku mencium tangan papa yang disambut usapan lembut di kepala ku,ketika aku hendak turun.


Aku tak berpaling sampai mobil papa lepas dari pandangan ku.


senyum semangat mengawali langkah perdana ku memasuki gerbang sekolah di tahun ke 2 ini.


Mata ku tak henti melihat ke setiap bagian sekolah,kepala ku menoleh ke kiri dan ke kanan,menikmati suasana sekolah yang sangat aku rindukan,terutama pada Dia.


Eh..tapi dimana Dia,,aku belum melihat nya dari tadi.


Aku mengawasi setiap sudut sekolah,,memperhatikan setiap gerombolan anak- anak yang tengah berkerumun.


tetap tak ku dapati,,


saat memasuki lapangan sekolah,banyak sekali siswa siswi baru yang akan mulai orientasi hari ini,sama seperti ku tahun kemarin,melihat gelagat mereka yang canggung,,malu-malu dan salah tingkah,membuat aku senyum- senyum sendiri..seperti itu lah aku dulu.


Aku menepi dan memilih duduk di bangku taman menghadap lapangan basket,menunggu pengumuman kelas baru.


Tiba-tiba aku ingat Agung..


Tepat setahun yang lalu,,Agung menghadirkan kekesalan,awal mula pertemuan saat aku terlambat,dan juga saat Agung menabrak ku di koridor.


Ehmm..semua berlalu begitu cepat,tak terasa sudah setahun..


Dan....Dirga,


sudah setahun pula Dia ada di hati ku,bermain-main dengan perasaan ku,mengacak-acak rindu serta mengaduk fikiran ku.


Huaaaa...sampai segitunya.😁


Sampai detik ini,aku tak melihat batang hidung nya,begitupun Nina.


Aku duduk sambil menyilangkan tungkai kaki ku dan menggoyang nya.


"Hai..."


Aku terperanjat,ketika dengan tiba- tiba seseorang datang dan duduk di samping ku.

__ADS_1


Dengan cepat aku menoleh,untuk melihat meski sebenarnya,aku mengenali suara khas itu.


"Eh..hai...."


Balas ku pada Dirga yang senyum-senyum menatap ku yang sedang salah tingkah.


Berkali-kali aku merapikan rambut,membetulkan poni,serta memainkan tali ransel yang sedang ku pakai.


"Suka deh,liat kamu kalo lagi gini"


Dirga beranjak dan duduk berlutut di hadapan ku,sambil menatap ku yang tertunduk malu- malu.


"Apa an sich,,☺️☺️"


Aku memalingkan mata ku mencoba menghindari tatapan Dirga.


"Beneran....kesan nya jadi imut gitu"


"Udah ah..."


Aku menutup muka ku.


"Cie..muka kamu merah..."


"Ah..kamu nyebelin.."


Aku beranjak,berlagak ingin pergi,berharap Dirga mencegah ku 🤭


"Hey....mau kemana??"


Dengan sigap,Dirga menarik pergelangan tangan ku.


Deg..!!


"Jangan pergi,,aku masih rindu"


seru nya.


Aku membelalakkan mata,mulut ku terkatup,


"Waaahhh...apa-apaan ini?,dengan lantang,Dirga bilang rindu pada ku??"


batin ku.


"Sini..duduk !"


Perintah nya.


Aku yang bagai terhipnotis kalimat itu,mengikuti perintah nya,


Aku kembali duduk,masih terdiam.


"Kamu jangan ngambek ya,,aku becanda,nich..."


Dirga mengeluarkan sesuatu dari saku nya dan memberikan nya pada ku.


"Apa ini??"


Aku menerima nya,


"Permen kopi"


jawab nya dengan senyum manis.


"Iya...Aku tau ini permen,maksud nya apaan ngasih permen??emang nya aku anak Tk"

__ADS_1


Jawab ku panjang lebar.


"Ehm....ini nich,,kamu harus tau..ada filosofi nya di balik permen kopi"


Dengan mengernyit kan dahi,dan tatapan penasaran yang hebat,aku antusias mendengar kan penjelasan nya dengan sedikit bergeser menghadap nya.


"Apaan??"


"Dalam sebiji permen kopi,kita bisa merasakan 2 buah rasa yang berbeda,manis dan pahit.,seperti itulah rasa persahabatan..kadang ada manis nya kadang ada pahit nya,ya kayak kita gini"


Entah kenapa,perasaan ku perih saat mendengar kalimat terakhir dari Dirga,


"Ehm...iya...sahabat ya?...iya...bener sih..keren..iya keren"


Jawab ku kikuk,dan makin salah tingkah.


"He..eh"


Dirga mengangguk.


"Aku kesana dulu ya,"


Pamit ku meninggalkan Dirga,baru beberapa langkah,panggilan speaker membuat ku terhenti,semua siswa di minta berbaris di lapangan.pembagian kelas di mulai.


Dirga menghampiri ku,meraih tangan ku lalu menarik ku ke tengah lapangan untuk masuk ke dalam barisan.


Aku hanya diam mengikuti langkah nya.


Mungkin kah aku patah hati?,sebab orang yang selama ini aku sukai ternyata menggangap ku tak lebih dari seorang sahabat,terus apa beda nya dengan teman-teman yang lain?,lalu untuk apa semua perhatian nya selama ini?,,lantas apa maksud dari perlakuan manis yang selalu di berikan untuk ku?


Andai Dirga tau,bahwa perlakuan-perlakuan dari nya yang spontan dan penuh kejutan,sukses membuat aku berbunga-bunga,sukses membuat aku tersenyum seharian,sukses membuat aku menari-nari sendirian.


Ahh....ternyata aku yang ke pe-de an.


"Woy....melamun!!"


Hardik nina yang tiba- tiba sudah berbaris di sampingku,entah kapan dia datang,aku tak menyadarinya.


"Eh...Nin,,dicariin dari tadi...kok baru nongol"


ucap ku berbohong,


"Iya,aku telat bangun,,kebiasaan libur bangun nya siang..hehehe"


"Eh vin,semoga kita satu kelas ya.."


Sambung Nina lagi,


"He..ehmmm"


Aku dan Nina bergandeng tangan,sambil tersenyum,


Hal yang kami harapkan jadi kenyataan,Aku,Nina dan Dirga kembali di satukan dalam satu kelas.


Kali ini,kami duduk berdekatan,


Aku dan Nina duduk satu meja,sementara Dirga duduk di depan ku.


Berada dalam kelas yang sama kali ini benar-benar membuat ku canggung,entah lah setelah mendapati,ternyata aku hanya dianggap sahabat oleh Dirga membuat ku merasa canggung untuk bertatap muka Dengan Nya,apalagi untuk berbicara.


Padahal,kemarin- kemarin aku sangat merindukan kembali kesekolah dan satu lokal lagi dengan Dirga.


Semua mungkin karena kaget atau belum bisa terima kenyataan atas penuturan Dirga tadi.


Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2