
Dirga masih menundukkan kepalanya seolah tengah menyembunyikan lukanya,, begitupun dengan Aku yang merasa semakin terhimpit waktu.
"Oh.. jadi Minggu ini ya Vin,,"
Tanya Alif menatapku.
Aku mengangguk, Dirga mencoba mengangkat kepalanya dan tersenyum menatapku.
"Tapi,, kita gak tau ya... Namanya jodoh itukan misteri,, gak ada yang bisa menebak,, ini baru tunangan, belum ijab qobul.. semua kemungkinan masih bisa terjadi"
"Abang!!!"
Hardik Nina ketika mendengar ucapan Alif.
"Aku bicara bener loh Dek,,"
"Iya... tapi jangan buat Nina bimbang donk Bang"
sahut Nina menggosok lenganku.
Dirga tersenyum memandangku yang kini juga memandangnya.
"Kalian ini sebenernya cocok loh,, tapi ya... mau bagaimana juga takdir lah yang akan menetapkan kepada siapa kita akan di persatukan."
Lagi-lagi ucapan Alif membuat hatiku terasa tertoreh,, dan kembali menyesali semua keputusan yang kuambil secara terburu-buru dalam keadaan hati yang rapuh saat itu.
"Vin, Dir.. jangan didengerin omongan Bang Alif,, dia emang suka ngacak-ngacak hati orang"
Ujar Nina,
"Ha..ha... ngacak hati,, emang Aku apaan??"
Alif mengacak rambut Nina.
Terlihat Nina memberi kode pada Alif, seolah paham, Alif mengangguk.
Tak lama,
"Bro.. masih suka burung? mau lihat koleksi ku?"
Alif menunjuk kedalam, dan mengajak Dirga melihat koleksi burung peliharaannya.
Dirga beranjak dari kursi mengikuti langkah Alif menuju taman belakang rumah mereka.
Tinggal Aku dan Nina di ruang tamu.
Tak lama setelah itu,
Nina memutar badannya menghadap Aku,
"Vin, kok bisa kalian berdua bareng kesini? dan kamu gak cerita apa-apa tentang ini sama Aku!"
Nina menatapku tajam.
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Aku juga gak ngerti Nin,, berawal dari Akun Angkasa waktu itu,, kita ketemu dan kembali dekat seperti sekarang"
Jawabku,
"Lalu,, kamu sudah nanya kenapa Dia menghilang? kenapa Dia tak memberi kabar? tentang perempuan yang bersamanya,, anak yang waktu itu??"
__ADS_1
Cecar Nina panjang lebar.
"Udah.... udah semua"
Jawabku mengangguk.
"Apa?? kenapa?? siapa??"
Desak Nina.,
"Dia tak pernah menghilang Nin, bahkan Dia tak pernah menjauhi Aku, Dan kamu tau... Dia beberapa kali mencariku di sekolah,,"
"Vin..... Lalu.... kok Aku merinding dengernya"
Nina menggenggam tanganku.
"Tari bohong Nin... selama ini Tari bilang, sama Dirga Aku sudah punya pacar,, Tari juga diem-diem ngambil foto Aku sama Agung, bahkan sama Daniel juga,, dan foto itu dikasih sama Dirga"
Suara ku bergetar, hatiku kembali sakit mengingat Tari dan kecurangan yang ia lakukan terhadapku.
Nina membekap mulutnya dengan tangan,, matanya terbuka lebar sembari menggelengkan kepala tak percaya.
"Ya Tuhan... kok bisa Tari begitu?! Bener-bener Tari ya... Aku gak nyangka!! jahat banget,, licik!!"
Nina mengusap pundak ku.
"Lalu,, bagaimana perasaan kamu sekarang Vin?"
"Aku gak tau Nin,, Aku bingung... kamu taukan bagaimana perasaan Aku sama Dirga... tapi... tapi...."
Tangisku pecah,, Nina memelukku mengusap pundakku.
"Ya Allah Vin,,, Kamu masih sayang banget ya sama Dirga??"
Kerongkonganku terasa begitu sakit menahan isak dan sesak yang menggerogoti hati.
"Vin,, melihat kamu seperti ini,, Aku gak yakin kamu bisa kuat menjalani hubungan kelak bersama Agung,, apa kamu yakin akan tetap melanjutkan rencana kalian,, kamu masih punya waktu untuk bicara lagi sama Agung"
Aku menggeleng,,
"Terlalu banyak hati yang harus dikorbankan jika itu terjadi Nin,, Aku gak mau "
jawabku dengan suara bergetar.
"Lantas... kamu rela mengorbankan perasaan kamu sendiri demi menjaga perasaan orang banyak??"
Aku menunduk menyeka air mataku.
Nina benar... tapi... Aku tak bisa mundur lagi.. ini sudah terlanjur.
"Vin,, bagaimana bisa kita menjalani sebuah hubungan dengan seseorang,, padahal hati kita untuk orang lain!!"
Nina membelai rambutku.
"Tapi ini tentang prinsip Nin,, ini juga tentang konsisten terhadap ucapan"
tegasku.
"Lalu kamu gak peduli dengan perasaan kamu sendiri?? hanya demi sebuah konsistensi dan prinsip kamu lupa,, hidup itu tak hanya butuh prinsip tapi hati itu yang utama"
Aku menunduk,, tak tau lagi mesti berbuat apa.
__ADS_1
"Kamu tau Vin, apa yang sedang terjadi ini akan membuat kamu perlahan hancur!! paham??"
Lagi-lagi Aku hanya diam.
Setelah terdiam beberapa detik,
"Antara Aku dan Dirga membuat sebuah perjanjian Nin,,"
Nina mengernyitkan dahinya,
"Perjanjian?? perjanjian apa??"
"Kami akan menghabiskan sisa hari bersama sampai hari pertunangan itu tiba, tepatnya satu minggu,, dan kini perjanjian itu tinggal 4 hari lagi, setelah itu... kami akan ikhlas menyerahkan takdir memisahkan kami,,"
"Apa?? konyol!!! ini konyol Vin,, !! kamu tau semua itu malah akan membuat kalian terluka! cinta kalian malah akan semakin kuat dan sulit untuk melupakan,, apalagi mengikhlaskan!! "
Nina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Entahlah Nin, tapi itu akan kami coba"
jawabku.
"Vin, saran Aku jika emang kamu yakin akan bertunangan dengan Agung, stop bertemu Dirga,, cukup sampai hari ini, jangan lanjutkan lagi,, "
Aku menggeleng,, rasanya tak rela jika harus menjauhi Dirga,, Aku masih ingin bersamanya merasakan cintanya sedikit lebih lama lagi.
Nina menarik nafasnya kemudian bersandar seolah turut merasakan lelahnya hati yang Aku rasakan.
"Atau kamu dengarkan saran Aku yang pertama tadi,, bicarakan ini dengan Agung baik-baik, sebelum semua terlanjur,, dan malah akan membuat kalian hancur bersama."
Aku menelan ludah,
Terdengar derap langkah kaki dari dalam, membuat kami menghentikan obrolan.
Dirga dan Alif kembali kedepan menemui kami dan kembali duduk bersama Kami.
Aku merapikan posisi duduk, dan menyeka wajahku yang habis menangis.
Nina mencoba tersenyum menyambut Dirga dan Alif.
Obrolan-obrolan santai kembali mengalir diantara kami hingga jam makan malam tiba dan Nina menjamu kami untuk makan malam dirumahnya.
"Vin, kamu tau gak,, dulu Dirga ini sering loh mengkhayal dan ngomong sama Aku tentang khayalan masa depannya, katanya kelak ketika Dia sudah menikah,, makan malam akan menjadi waktu paling penting untuknya dan istri, Dia bilang, setiap hari akan Dia usahakan untuk selalu makan malam bersama istrinya walau sesibuk apapun Dia"
Cerita Alif disela-sela makan malam.
Memaksaku mengalihkan pandanganku dari Alif ke Dirga dengan cepat
Menatap Mata yang menurutku masih menyimpan banyak rahasia yang belum ku ketahui.
"Kenapa seperti itu Dir,, sebegitu pentingkah makan malam bagi kam?"
Tanya Nina melempar tatapan penasaran pada Dirga.
Dirga meraih gelas air minun di depannya kemudian meneguknya sebelum ia mulai berbicara.
"Bagi Aku,, makan malam sangat penting Nin, karena tentunya seharian kita sudah disibukkan dengan urusan kerjaan,, dan saat pulang kerumah,, waktu santai bersama istri akan dimulai sejak jam makan malam,, untuk sekedar bermanja, saling suap, bercerita hingga memberikan perhatian-perhatian kecil hingga waktu menjelang tidur. Tapi... ya ini sich cuma pemikiran Aku,, orang-orang kan beda-beda.".
Jelas Dirga membuat Nina manggut-manggut.
sementara Aku begitu menikmati menatap wajahnya berlama-lama.
__ADS_1
Bersambung***