Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 81 Permintaan Agung


__ADS_3

Acara selesai,


Satu persatu tamu-tamu kafe berpamitan, termasuk Nina dan keluarganya.


Elza sudah lebih dulu pulang tak lama setelah ia menyusul Daniel keluar.


"Vin, kami pamit ya... Aku doain, mudah-mudahan hubungan kalian langgeng sampai pelaminan ya,, Kak Agung, Aku titipkan Vina sama kakak, jangan sampe buat Vina sedih ya... kami pamit ya...."


Nina memelukku, ada haru yang menyelimuti kami ketika doa itu terlontar dari mulut Nina.


"Aamiin makasih ya Nin... Dadah sayangg.... kapan-kapan main kerumah Aunty ya Twins.. belum puas soalnya main sama kalian disini,, ya sayang ya.... Ajak miminya... oke..."


Aku mencium Bayi kembar Nina satu persatu, celoteh dan tawa khas Bayi memenuhi ruang kafe siang ini.


"Oke siap Moy, kalian juga hati-hati dijalan..


bye Twins... cepet gede ya,, biar ntar kalo Uncle ma Aunty nikah, Twins yang jadi pengiring pengantinnya..."


Agung mengusap lembut kepala Baby twins bergantian.


"Iya uncle..... siappp!!"


Nina menjawab mewakili Baby twins.


membuat tawa kami pecah.


Aku yang melihat tingkah Agung kepada Bayi kembar Nina, Aku yakin sekali jika Agung memang menyukai Anak-anak.


"Makasih ya Bro... dah nyempetin datang,"


Agung merangkul dan menepuk pundak suami Nina setelah berjabat tangan.


"Sama-sama.. sukses ya buat kedepannya moga lancar tanpa hambatan"


Jawab Alif.


"Aamiin.... Aamiin...."


Aku dan Agung mengantar Nina, Alif dan Baby Twins sampai ke mobil.


Lambaian tangan Aku dan Agung mengiringi laju mobil meninggalkan pelataran kafe.


Setelah kafe sepi, hanya tersisa karyawan yang tengah sibuk berberes meja, kursi dan seluruh isi ruangan yang penuh dengan dekorasi.


"Sayang, Aku antar kamu pulang ya... "


Tawar Agung.


Aku mengangguk.


Di perjalanan pulang,


"Kamu berangkat jam berapa?"


Tanyaku dengan sekilas menoleh.


"Jam 3, Kamu doain Aku ya... Aku janji, kalau urusannya cepat selesai, gak nyampe 3 bulan Aku udah kembali... "


"Gak papa Gung, jangan terburu-buru nanti malah kamu gak konsentrasi"

__ADS_1


Sanggah ku.


"Abisnya, kamu candu!!.. Aku jadi gak bisa lama-lama pisah sama kamu, bawaannya rindu mulu!!"


Agung mengelus pipiku dengan siku telunjuknya.


"Ahh... mulaiii dehh, ngegombal!! Padahal dulu bisa aja tuh, bertahun-tahun malah"


"Ya beda lah sayang.... itukan dulu, waktu kamu masih jadi orang yang selalu Aku pinta sama Tuhan disetiap doa untuk di lembutkan hatinya, kalau sekarang, Tuhan sudah mengabulkan doaku menjadikan Kamu orang yang Akan selalu kucinta dan kujaga, jadi gak bisa ditinggal lama-lama"


Tuturnya.


"Jadi sekarang, Aku gak lagi di bawa dalam doa?!"


"Ya tetap donk... tapi doanya beda..."


"Apa bedanya,, emang sekarang doanya gimana??"


Cicitku lagi.


"Sekarang Doanya, semoga tetap bersama kamu sampai tua dan menutup mata, Aku juga meminta, semoga Aku sepenuhnya ada dihati kamu"


Mendengar itu, Aku menarik nafas pelan, hatiku terasa sakit, kata-kata itu bagi menghujam hati, kalimat Agung benar-benar seperti sebuah pengharapan agar Aku bisa sepenuhnya melupakan Dirga dan cerita masa lalu itu.


Aku menatap wajah yang tengah serius menatap jalan didepannya dengan fokus mengemudikan setir mobil.


Seketika Aku merasa menjadi orang yang paling jahat, dimana Aku memutuskan menerima dan membuka hatiku untuk Dia disaat Aku benar-benar kecewa pada kenyataan bahwa Dirga sudah berkeluarga.


Dimana Aku sendiri tak yakin apakah Aku benar-benar mencintainya, atau hanya sebuah pelarian dari hati yang tengah remuk berkeping-keping.


Aku mengakui, Aku nyaman bersamanya tapi Aku tak yakin ini adalah sebuah cinta, terlebih Aku masih merasakan kebimbangan yang sama sekali tak kupungkiri jika sampai detik ini masih ada rasa yang tertinggal untuk Dirga.


Agung meraih tanganku dan mengecupnya lembut,


"Ehm.. Enggak, Aku cuma lagi mencerna omongan kamu tadi?"


"Bagian yang mana?? tentang harapanku sepenuhnya dihati kamu ya??"


Deg!!


Aku tersentak dan dengan cepat menoleh padanya, tak kusangka Agung bisa menebak, apakah jangan-jangan sebenarnya Dia merasa bahwa Aku tak sepenuh hati?


"Gung..."


Sapaku lirih.


"Gak papa sayang, kamu gak perlu maksain diri untuk cepat-cepat mencintai Aku, pelan-pelan saja... Aku paham, sulit bagi kamu membuang rasa yang terlanjur melekat kuat"


Agung membelai kepalaku dengan tangan kirinya.


Tanpa kusadari, Air mataku jatuh perlahan.. Terbuat dari apa hatinya, dengan begitu sabar dan memahami kondisi hatiku yang tak tahu diri ini.


"Hei.... Vina, sayang... kok malah nangis??, udah,, jangan dipikirin, Aku gak papa kok,, udah ya...."


Agung mencabut beberapa helai tissue yang ada di mobil dan memberikannya padaku.


Aku menerimanya lalu menyeka pipi dan mataku.


"Makasih Gung, Kamu terlalu baik.. bahkan sangat baik,,"

__ADS_1


Ujarku, Agung hanya menolehku sekilas dan tersenyum.


"Udah,, jangan sedih lagi.. senyum donk... "


Hiburnya.


Sampai dirumah,


"Mau langsung, atau masuk dulu??"


tanyaku ketika hendak turun.


"Aku langsung aja ya sayang, takut terlambat.. ehmm.. salam sama Mama dan Papa ya.."


Aku mengangguk dan bergegas membuka handle pintu mobil.


"Ehm... Sayang,,"


Agung mencekal lenganku, membuat Aku mengurungkan niat untuk turun.


"Iya... kenapa??"


"Ehm.... Kamu hati-hati ya kerjanya, jangan ngebut bawa mobilnya,, Aku pasti akan merindukan kamu,, Aku.... Sayang sama kamu, sayang.... banget"


Agung meletakkan tangannya di kepalaku, membelai rambutku dan tangan itu berhenti di leher belakang, ia menariknya pelan menuntun tubuhku agar lebih mendekat padanya.


Sebuah kecupan hangat mendarat di pucuk kepalaku, kemudian di dahiku, lalu dikedua mataku, kemudian Agung menatapku dari jarak yang sangat dekat, hanya beberapa inchi saja, sehingga Aku bisa merasakan hela nafasnya yang hangat, matanya menatap mataku dalam.


"I love you... I love You... I love you... Vina,,"


Ujarnya lirih, sembari memiringkan kepalanya semakin mendekat ke wajahku.


Aku memejamkan mata ketika kurasakan bibir itu melekat ke bibirku, bahkan Aku tak mampu menolak setiap debaran yang terjadi siang ini didalam mobil, Hatiku bergetar... jantungku berpacu memburu, kurasakan darah berdesir ketika kecupan bibirnya terasa tengah memijat-mijat bibirku dengan lembut.


Dalam sekian menit, pagutan itu terhenti dan terlepas, Aku mengatur nafasku yang tersengal begitupun dengan Agung, Ia menangkupkan telapak tangannya di pipiku dan mengusapkan ibu jarinya pelan.


"Lipstik kamu berantakan,"


Ujarnya sembari menyabut tissue dan menyeka sudut bibirku dan tepiannya.


Mendengar itu, wajahku terasa hangat dan mengembang malu.


Segera kuambil alih tissue ditangan Agung serta mengarahkan kaca yang ada di mobil untuk melihat wajahku.


"Udah rapi kok... udah cantik lagi..."


Sanggahnya cepat, membuat Aku menjadi sedikit canggung dan salah tingkah.


Agung turun dari mobil dan membukakan pintu.


"Aku masuk ya.... kamu hati-hati"


Ujarku.


"Siap...!! Aku pulang ya..."


Agung kembali masuk kedalam mobil dan melaju dengan kaca terbuka ia melambaikan tangannya padaku yang masih berdiri menatap kepergiannya dari hadapanku.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2