
"Kamu apa kabar sayang,, kamu baik-baik aja? Aku rindu sekali sama Kamu"
Tanya Agung begitu melepas pelukannya, Aku mengangguk tersenyum berusaha bersikap biasa saja meski baru saja hati ini tersayat-sayat oleh sebuah perpisahan.
Mataku melirik mobil Dirga yang masih belum bergerak, kulihat Dirga diam terpaku dibelakang kemudi menatapku yang tengah berbincang bersama Agung.
Ada rasa sakit yang menjalar diseluruh bagian tubuh, seperti tengah dikuliti.
"Pulang yuk,,"
Ajakku menyerahkan kunci mobil pada Agung, dan Agung menerimanya, tangan Agung merangkul pinggangku untuk berjalan disampingnya.
Sampai di mobil, mataku memperhatikan seluruh bagian mobil, terlihat sangat bersih dan mengkilap, begitu pintu mobil dibuka, keadaan dalam mobil pun sama, bersih dan wangi segar, padahal seingatku terakhir kali mobil ini Aku cuci adalah 2 minggu yang lalu , sebelum Aku bertemu Dirga, dan terakhir Aku meninggalkan mobil di kafe, mobil dalam keadaan berdebu dan kotor, itu artinya Dirga menyuruh laki-laki tadi membawa mobil ini untuk dicuci sebelum diantar kesini.
Aku menoleh kearah mobil Dirga yang masih juga belum bergerak,, seperti tau Aku memperhatikannya, Dirga mengangkat tangannya melambai kearahku.
Aku menelan ludah.
"Sayang, kenapa?"
Agung menepak lembut bahuku,
"Ah... Hem... gak papa..."
Aku menggeleng kemudian masuk kedalam mobil, begitupun Agung.
Setelah berada di dalam mobil, kulihat Mobil Dirga melaju meninggalkan pelataran parkir bandara.
"Sayang... kamu kok... pakai baju gini,, bukannya hari ini kamu udah mulai cuti ya..."
Agung memperhatikan penampilanku.
"Oh... ini, ehm... itu... kan kemarin pulang kerja Aku kerumah Nina, diundang ada acara,, nah Aku nginep dirumahnya,, trus tadi gak pulang dulu.. langsung jemput kesini"
jawabku berbohong dengan gugup.
"Ohh,, wajah kamu kelihatan capek,, maaf ya ngerepotin kamu,, harusnya Aku bisa pulang naik taxi"
Agung menatap mataku, sementara Aku buru-buru mengindari tatapan itu.
"Gak papa,, gak usah minta maaf"
"Ehm,, sayang... Aku punya sesuatu buat kamu..."
Agung merogoh saku jasnya dan memberikanku sesuatu,
"Apa ini?"
Ujarku setelah menerima sebuah kotak kecil ditangan.
Setelah kubuka, sebuah gelang dengan batu-batu mungil berwarna merah muda.
"Suka gak?"
Tanyanya.
"Suka, bagus.... harusnya kamu gak perlu kasih-kasih Aku hadiah gini"
Ucapku,
"Kenapa? salah ya kalau Aku kasih calon tunangan Aku sendiri.
"Enggak,, bukan gitu... Aku cuma gak mau kamu repot-repot beli hadiah"
"Enggaklah,, Aku gak repot kok..
malah happy banget,, ehm.. kamu gak happy ya Aku kembali?"
Tanya Agung membuatku menelan ludah.
"Happy,, udah ah,, yuk jalan"
Ujarku.
__ADS_1
Agung mengangguk, dan mobil mulai bergerak pelan, meninggalkan bandara dan melaju diantara mobil-mobil lain menggilas jalanan kota.
"Ehm... Gung,, nanti Aku langsung pulang aja ya,,"
Pintaku pada Agung.
"Pulang? iya lah,, kan Aku mau antar kamu pulang"
"Loh,, ini sekarang mau kerumah Aku ya?? kenapa gak kerumah kamu aja,, "
"Gak mau ah,, kan Aku mau antar kamu pulang dulu"
Agung menatapku manja.
"kalau gini sih berarti bukan Aku yang jemput kamu!!"
Aku menatap Agung,,
"Siapa bilang?? ini buktinya kamu jemput Aku,, nah sekarang Aku nganterin kamu pulang,, nanti pulangnya Aku naik taxi aja"
Terang Agung, membuatku mengangkat bahu.
"Ya... terserah kamu aja!"
Aku melengos.
"Kamu sudah makan?"
Tanya Agung.
Aku cuma mengangguk, jauh disasar hatiku masih memikirkan Dirga dan beberapa hari kenangan bersamanya membuatku kini makin terjebak dalam perasaan rindu.
Sampai dirumah,
Begitu mobil masuk garasi, Mama membuka pintu menyambutku dan kaget begitu melihat Agung keluar dari dalam mobil.
"Loh,, ada Agung?"
Seru Mama dari ambang pintu,
Agung menghampiri Mama dan mencium punggung tangan Mama.
"Sehat... kamu gimana? kok kayaknya kurusan ya..."
Komentar Mama tentang penampilan Agung.
Mendengar itu, Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan tubuh Agung, yang memang terlihat sedikit langsing dari biasanya.
"Iya, Tante... mungkin gara-gara jauh dari Vina,, makanya kurusan"
Agung melirikku, Aku buru-buru buang muka.
"Ehm... Aku langsung pulang ya Vin"
Pamit Agung sembari mengotak atik Ponselnya, dan setelah Aku mendekat ternyata Agung tengah memesan taxi online.
"Loh, gak masuk dulu Gung?"
"Gak usah Tante,, bentar lagi taxinya datang"
Jawab Agung.
"Ini sih,, bukan Vina yang jemput kamu... tapi malah kamu yang nganter Vina pulang"
"He... he... he... Gak papa Tan..."
Aku menemani Agung menunggu di teras, setelah Mama masuk kedalam.
"Ehm... gimana lancar kafenya disana??"
pertanyaan basa basi ku setelah kami berdua duduk, untuk menunggu taxi.
"Yup,, lancar... rame,, karyawannya pinter-pinter,, sip lah pokoknya,,"
__ADS_1
Jawab Agung tersenyum menatapku.
Aku manggut-manggut.
"Ehm... kalau kamu gimana? lancar kerjaannya?"
Agung balik bertanya.
Aku hanya menganggukkan kepala.
"Apa selama Aku pergi, Kamu rindu Aku? atau malah sama sekali gak ingat Aku..??"
Agung kembali bertanya, kali ini disertai dengan tatapan dalam.
"Ha.. ha.. Kok pertanyaannya gitu sich,,?"
Jawabku salah tingkah.
"Gak pa pa... cuma iseng aja nanya, pingin tau"
"Udah ah,, lagian juga kamu udah balik kesini kan,, nah.. itu taxinya datang.. buruan,, biar kamu cepat sampe rumah dan bisa istirahat"
Jawabku begitu melihat Taxi yang dipesan Agung datang.
"Oke,, Aku pamit pulang ya... Vin,, love you.. so much... "
Agung berdiri lalu meraih pundakku, kemudian melabuhkan kecupan di keningku.
Agung menatapku dengan tatapan berbeda dari biasanya, entahlah.. mata yang biasanya memancarkan binar bahagia, tapi kali ini Aku semacam melihat kesedihan di ujung mata itu.
Agung menolehku sekali lagi sebelum ia masuk ke dalam taxi, lalu melambai dengan merapatkan bibirnya.
Aku membalas lambaian itu, dan bergegas masuk ketika taxi yang membawa Agung berlalu dari hadapanku.
Bergegas mandi dan bersalin baju, tubuh yang lelah serta mata yang mengantuk, membuatku ingin cepat-cepat merebahkan diri diatas tempat tidur.
15 menit berlalu,
Aku sudah berada di depan cermin memperhatikan wajahku, sedikit lebih segar namun wajah lelah dan mengantuk tak dapat disembunyikan, terlebih kantung mata yang menghitam nampak jelas dibawah mata.
Pantas saja, tadi Agung sempat menyindir wajah lelahku saat di mobil tadi.
Aku meraba bibirku, tiba-tiba aliran darah terasa berdesir begitu mengingat kejadian dimobil bersama Dirga tadi, ciuman itu masih terasa menempel kuat dibibirku.
Perlahan Aku menggigit bibirku sendiri, dan hati terasa perih.
Ya Tuhan, belum lagi habis hari ini,, tapi rindu ini sudah mulai menghantui,, bagaimana esok, lusa dan seterusnya..?? mungkinkah Aku bisa terbiasa..???
Aku mengusap wajahku, lalu duduk di depan cermin menelungkupkan kepalaku.
Ponselku berdering, membuat Aku beranjak melihat siapa yang menelponku.
"Nina?"
Ujarku pelan kemudian segera mengangkatnya.
"Halo,, Nin..."
"Halo... gimana? kamu dimana sekarang?!"
Tanyanya cemas.
"Aku dirumah,,"
Jawabku.
"Alhamdulillah.... dari pagi Aku mikirin kalian,, syukur deh kalau kamu udah pulang,, kapan kamu mau cerita semuanya ke Aku,, apa yang terjadi!"
"Iya,, ntar Aku cerita... tapi nanti ya Nin,, Aku lelah banget hari ini"
Ujarku.
"Oke,, ya udah... kamu istirahat ya Vin,, siapin diri buat hari minggu besok"
__ADS_1
"Oke,, makasih Nin..."
Bersambung***