
Cukup lama berada dalam pelukan Dirga, tiba-tiba Dirga melepaskan pelukannya.
"Ehmm... Sekarang boleh deh kamu jelasin,, kenapa tadi kamu mikirin Agung?"
Uhh... masih ingat aja Dia,,Aku pikir,, udah di rayu-rayu lupa,,
Batinku.
"Ehhm.. Jadi, tadi itu Aku ingat Agung gara-gara kamu ngomongin anak kembar, jadi dulu itu Agung juga sempat bilang kalau Dia pingin anak kembar juga,, makanya pas kamu bilang gitu,, Aku jadi ingat Dia.."
Aku melirik Dirga yang kini menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Lalu,, kenapa kamu jadi mikirin Dia,,? Kamu rindu Dia ya?"
Tanyanya dengan muka tak ramah.
Aku tersenyum,,
"Rindu? gak gitu Dirga jelekk!! Aku kan lagi ingat Dia jadi.... Ya tiba-tiba aja kepikiran Dia,, apa Dia sudah ada pacar,, eh ternyata bukan cuma pacar,, tapi calon istri,, kira-kira gimana ya calon istrinya?"
"Yang jelas,, cantikan kamu lah... udah ah.. gak usah ngomongin Agung,,!!"
Jawab Dirga sembari membelai rambutku.
"Kenapa emang?"
Tanyaku menoleh dan memainkan alis mata.
"Yaaa... gak tau kenapa,, Aku gak suka aja,, hati Aku jadi panas!!! Gerahhhhh!!!"
Ujar Dirga mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
"Cieee.... cemburu!!"
Aku menunjuk wajah merah Dirga.
"Iya,,!! kan udah Aku bilang,, Aku cemburu!!"
Dirga menarik rambutku, membuat Aku tertawa puas melihat wajahnya yang merona.
"Puas banget ya.... ketawanya!!!"
Dirga menarik lenganku kedalam pelukannya serta mengacak Rambutku.
Tawa kami pecah, bersama romansa indahnya perasaan cinta yang tengah membara, yang membuat kami berdua terbuai larut dalam balutan asmara yang sejak dulu kami damba.
Dirga tertawa lepas, membuat Aku terperangah menatapnya, begitu hangat.
Aku mendongakkan kepala dengan tetap bersandar dalam pelukan lengan kekarnya.
Dirga menatapku, tawanya terhenti berganti senyum simpul dengan tatapan lekat kearah wajahku,
Hatiku bergetar menerima tatapan itu, bahkan berkali-kali Aku melihat Dirga menelan ludah membuat jakunnya turun naik, nafas hangatnya terasa membelai wajah dan melewati leherku dengan sopan.
Ah... Kenapa jantungku jadi berdetak cepat dan tak beraturan?
Dirga menyentuh pipiku dengan ujung jarinya membuatku merasakan desiran darah yang mengalir cepat, terlebih ketika jari itu berhenti di bibirku.
Wajahnya mendekat, semakin dekat dan entah siapa yang memulai lebih dulu kini bibir kami telah berpagut lembut, mesra dan hangat.
Dirga memegang tengkukku, dan sebelah lagi tangannya melekat erat di pinggangku. Aku seperti tak kuasa melepaskan pagutan itu, tak pula bisa menolak tawaran rasa yang terus menerus menggoda untuk kunikmati, Aku hanya bisa terpejam dengan hati yang terus menerus berdebar seolah sedang mengikuti irama nafasnya yang juga terdengar tak beraturan dan Aku begitu menikmati sensasi di setiap kecupan yang diberikan Dirga untukku petang ini.
Seperti tersadar dari alam lain, Dirga melepaskan pelukannya dan sedikit menggeser tubuhnya dariku.
Terdengar Dirga menghela nafas dan mengusap wajahnya.
Serta memandangku sendu.
"Maafkan Aku ya... "
Ucapnya.
"Maaf? buat apa?"
Tanyaku malu dan bingung bercampur baur.
__ADS_1
"Maaf Aku hampir saja lepas kendali.."
Ujarnya dengan wajah yang terlihat penuh rasa bersalah.
Aku menunduk, semakin malu karna bukan cuma Dirga yang merasakan hal itu, Aku pun merasakan hal yang sama bahkan Aku hampir saja terbuai,, andai saja Dirga tak buru-buru menyadari sikapnya,, bukan tidak mungkin hal yang lebih dari ini bisa saja terjadi.
"Ehm... Sekali lagi maaf ya Vin.."
"Aku mengangguk, tak peduli semerah apa pipiku sekarang, Aku hanya berharap Dirga tak menyadarinya.
"Kita duduk diluar aja ya...."
Ajak Dirga.
Lagi-lagi Aku mengangguk.
Dirga beranjak dari kursi dan menggandeng tanganku keluar.
Kini perasaan canggung menjadikan kami berdua terdiam dalam kekakuan sikap masing-masing.
Hening beberapa saat,
"Ehm... Vin,, Aku mau kamu seutuhnya menjadi milikku tanpa rasa bersalah,, Vin... menikahlah denganku,, jadilah seseorang yang selalu bersamaku disetiap waktu tanpa batas,, jadilah istriku"
Dirga meraih tanganku dan menggenggamnya sangat erat.
Aku tertegun,
Bahagia, haru dan bingung bercampur jadi satu, hingga tak tau mesti bagaimana Aku harus menjawabnya.
"Vin, kenapa diam...? bukankah apa yang kita rasakan sama,,?"
Tanyanya lagi sembari menggoyangkan lenganku.
Aku masih termangu, hingga Dirga menyentuh bahuku.
"Vina,,, jawab Aku, Aku ingin pernikahan kita digelar secepatnya.. kamu mau?"
Aku mengangguk.
"Terimakasih Vin,, beri Aku waktu beberapa minggu untuk menyiapkan segalanya, dan secepatnya Akan ku ajak Ayah dan Ibuk bertandang kesini untuk melamar, lalu secepatnya kita akan menjadi sepasang pengantin yang paling bahagia dimuka bumi ini, lalu... lalu... kita akan segera dikaruniai bayi kembar,, dan kita akan bahagia selamanya... iyakan Vin,, kamu percaya itu kan Vin?"
Dengan sangat antusias dan sedikit gugup Dirga mengguncang-guncang tubuhku dengan sorot mata yang berbinar.
Aku tak bisa berkata-kata hanya mengangguk tersenyum melihat seseorang yang paling kucinta mengekspresikan bahagianya didepan mataku.
Tuhan...
Dia, orang yang sangat kusayangi sejak dulu, orang yang sangat kuharapkan menjadi jodohku, seandainya benar Dirga takdir cinta yang kau pilihkan untukku,, maka satukanlah kami,, jangan pisahkan lagi kecuali maut yang menjadi takdir pemisahnya.. maka Aku ikhlas menerimanya.
"Dir, ini hampir magrib.. Apa sebaiknya kita masuk?"
Tanyaku ketika warna langit mulai gelap.
"Ehm,, sepertinya Aku lebih baik pulang aja Vin,, Aku takut berdua didalam dengan keadaan rumah kosong, nanti malah kita di gerbek warga.."
Jawab Dirga tersenyum.
Aku menelan ludah mendengarnya,, mengingat kejadian tadi.. pikiranku jadi kemana-mana,
Dirga benar, untung saja kejadian tadi tak berlanjut,, bagaimana jika tadi ada warga yang datang dan menangkap basah kami berdua,, meski tak melakukan hal yang aneh-aneh.. tetap saja kami salah, berduaan di dalam rumah kosong dengan posisi sedang berciuman mesra seperti tadi cukup buat Aku merinding.
"Vin,, melamun??"
Dirga menyadarkanku.
"Eh... ehm... He.. he... enggak,, eh iya..."
Jawabku gugup dan salah tingkah.
Tak lama,
Terlihat mobil Papa masuk kedalam garasi yang tepat berada disamping teras rumahku.
"Nah.. itu mereka pulang,, "
__ADS_1
Aku berdiri diikuti Dirga menyambut kedatangan kedua Orang tuaku.
"Loh... kok kalian diluar?"
Ucap Mama begitu turun dari mobil.
"Iya Tante, Om... gak papa"
Dirga membungkuk mencium tangan Kedua Orang tuaku begitu sampai dihadapannya.
"Yuk... yuk masuk.. "
Ajak Mama.
"Ini rencana mau pulang Tante..."
"Pulang? Nanti dulu lah .. kita ngobrol-ngobrol dulu..."
Sambung Papa.
Dirga menatapku, Aku mengangguk tersenyum, membuat Dirga menuruti kemauan Papa dan kembali masuk kedalam rumah.
"Ehm.. Vin, Mama punya kabar,, dan pasti ini bikin kamu kaget.."
Seru Mama membuatku penasaran.
"Kabar Apa Ma?"
Tanyaku yang kini sudah duduk di samping Mama berhadapan dengan Dirga dan Papa.
"Kamu tau Vin,, calon istrinya Agung siapa?"
Tanya Mama menatapku serius.
Aku menggeleng,
"Siapa Ma? apa Vina kenal?"
"Bukan cuma kenal sayang... tapi akrab banget"
Aku semakin bingung.
"Akrab?"
Mama mengangguk,
"Coba kamu ingat-ingat... siapa saja teman akrab kamu?"
Tantang Mama.
Aku berpikir,
Akrab? Aku tak punya banyak teman Akrab,, hanya Nina... tak mungkin Nina, dia sudah menikah, Elza? bukannya Elza sudah sah jadi Istrinya Daniel,, lalu.... Tari? Hah??! apa mungkin Tari?
Batinku.
"Ma... siapa calon istri Agung?"
Desakku tak sabar menunggu jawaban Mama.
"Calon Istri Agung,, adalah TARI"
Deg!!
Sontak jawaban Mama membuat jantungku terasa berhenti sesaat..
Begitupun dengan Dirga yang juga terlihat sama kagetnya denganku.
"Tari Ma??"
Tanyaku meyakinkan pendengaranku atas ucapan Mama.
Mama mengangguk.
Aku menatap Dirga yang ternyata juga menatapku.
__ADS_1
Bersambung***