Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 144 Kejutan


__ADS_3

Baru saja mobil memasuki garasi, kulihat Mama sedang menungguku di depan pintu,


Bergegas Aku turun dari mobil dan berlari menghampiri Mama dengan wajah sumringah bahagia tiada tara.


Kupeluk dan kucium Mama membuat Mama kebingungan dengan sikapku.


"Kamu kenapa? aneh banget kelihatannya senang sekali?"


Tanya Mama,


Aku mengangguk cepat, lalu..


"Sini... sini.. Ma... duduk sini"


Aku merangkul dan menuntun Mama untuk duduk di sofa, diruang tamu, lalu mengeluarkan ponsel kemudian melakukan panggilan Vidio kepada Mbak echa dan Mas Irfan.


Mama yang memperhatikan gelagatku hanya diam dalam kebingungan tanpa komentar apa-apa.


Panggilan Vidio tersambung,


"Halooo Uncle Agung.... halo Oma...."


sapa Mbak Echa sembari memangku putrinya dan melambaikan tangan menyapa kami.


"Ada apa Gung? eh... Ada Mama juga...apa kabar Ma?


Mas Irfan juga menyapa kami.


"Alhamdulillah sehat,, enggak tau nih,, Mama juga bingung sama kelakuan Adik kalian ini, aneh banget hari ini, pulang-pulang senyum-senyum lalu mengajak Mama Video call kalian"


Jawab Mama menepuk bahuku.


"Nah.. gini,, Agung ada pengumuman penting,, mau tau, buka kuping kalian semua dan dengarkan ya ..hehhehe"


Ujarku sembari tertawa kecil, membuat mereka semua bertambah penasaran.


Mereka semua diam bersiap menyimak pengumuman yang akan kukabarkan dengan wajah serius.


"Jadi.... sekarang.... Agung sama Vina udah jadiaaaaannnnn"


Seruku,,


Terdiam sesaat dengan memasang wajah kaget, lalu pada akhirnya mereka semua bertepuk tangan dan berteriak seru, seolah turut merasakan betapa bahagia luar biasanya Aku hari ini.


Ucapan selamat dan doa dari mereka semua mengalir satu persatu, tak terkecuali Mama yang terlihat paling bahagia malam ini, dengan mata berkaca-kaca Mama memelukku, terlebih ketika Aku bilang bahwa 3 bulan lagi Aku dan Vina akan bertunangan dan secepatnya akan menikah.


......................


Sehari setelah Vina menerimaku, Aku menepati janjiku untuk menghadap ke kedua orang tua Vina untuk meminta izin sekaligus restu, meski tak jadi acara lamaran nikah yang kurencanakan waktu itu setelah pulang dari luar kota, karena ketidak siapan Vina, dan berganti dengan acara pertunangan saja namun itu tak menyurutkan rasa bahagiaku.


Itu artinya 3 bulan lagi, Vina resmi menjadi tunanganku sungguh hal yang seperti mimpi,, tak kubayangkan akhirnya Aku bisa meluluhkan hati Vina.


Sampai dirumah Vina dan mengutarakan niat itu, tak kusangka sambutan hangat dari kedua orang tua Vina menjadikan niat ini berjalan mulus dan lancar.


Dan semoga tak ada halangan sampai waktu itu tiba.


Seminggu berlalu,


Sesuai yang sudah ku janjikan, bahwa Hari ini Aku akan mengadakan syukuran atas diterimanya Aku menjadi kekasih Vina di kafe sekaligus mengumumkan hari bahagia ini kepada para teman dan sahabat selain itu juga memberi tahu jika kami akan segera bertunangan dalam waktu dekat.

__ADS_1


Sejak Pagi, Aku sudah berada di kafe untuk melihat langsung persiapan acara, memastikan dekorasi terpasang sempurna, Aku ingin Vina tersanjung dengan semua yang telah kusiapkan dengan hati.


hampir selesai, dan kini Aku memutuskan untuk menelpon Vina,


"Ya, haloo Gung..."


Jawabnya,


"Sayang, kamu lagi dimana?"


"Dirumah, emang kenapa??"


"Satu jam lagi Aku jemput ya, ini Aku masih di kafe, teman-teman kamu gimana? mereka bisa datangkan?"


Tanyaku,


"Ehm.. iya udah, Aku siap-siap dulu ya, kamu hati-hati kesininya.. teman-teman Aku, katanya mereka bisa datang, kecuali Tari, Aku gak ada kontaknya lagi"


Deg!!


Tari.. sudah lama sekali Aku tak melihatnya, batinku begitu mendengar nama gadis itu disebut Vina.


"Oke ya udah,, see you sayang..."


Vina mematikan panggilan.


Sekarang saatnya Aku menyiapkan diri untuk menjemput Vina,


Bergegas Aku menuju Mobil, mengambil handuk dan perlengkapan mandi yang sudah kupersiapkan dari rumah, tak lupa kaos couple yang akan kupakai.


Setelah siap, Aku meluncur kerumah Vina, tak lupa menyemprotkan minyak wangi keseluruh bagian tubuh.


ketika mobil berhenti didepan rumah Vina.


Kedatanganku disambut oleh Papanya Vina.


Di ruang tamu, Aku menantikan Vina ditemani kedua orang tuanya.


"Ini Vina,, kalian hati-hati ya.. "


Ujar Tante Yuni begitu Vina berjalan menghampiri kami


Setelah berpamitan..


Kami berangkat menuju kafe.


Dijalan,


kami hanya saling diam, Aku tak tau apa yang terjadi dengan Vina, sejak awal berangkat tadi, wajahnya sendu seperti menyimpan beban, dan Dia juga terlihat gelisah, apa mungkin ia tengah gugup?


Hampir sampai, kutoleh wajah Vina,


"Sayang, kamu kok diem aja dari rumah sampe udah mau nyampe, kamu sakit??"


Tanyaku.


"Ehm... enggak kok, cuma tegang aja.."


Jawabnya.

__ADS_1


Mobil berhenti,


Vina bersiap untuk turun, namun Aku mencekal lengannya mencegahnya untuk segera turun.


"Vin, tunggu...!"


Vina menoleh, dan Aku melepaskan lengannya.


"Kamu sudah siap kan?? Kamu sudah yakinkan sama Aku? entah kenapa Aku jadi takut, Aku takut kamu berubah pikiran.. "


Aku menatap mata itu dalam dan penuh harapan.


Vina tersenyum dan mengusap bahuku.


"Iya, Aku siap, Aku juga yakin.. kamu jangan khawatir ya...."


"Makasih Sayang...."


Kutangkap tangannya yang tengah berada di bahuku, lalu mengecupnya lembut kemudian kami turun, dengan menuntunnya hati-hati bak seorang putri untuk masuk kedalam kafe.


Begitu tiba di depan Kafe, mata Vina terbelalak melihat rangkaian bunga indah dengan nuansa merah dan putih menghiasi pintu masuk, baru saja melangkah masuk iringan lagu romantis dari band kesayangannya terdengar manis ditelinga, nampak juga balon bentuk hati berwarna pink dan putih berserakan dan bertebaran dimana-mana.


Sepertinya Aku dan tim berhasil membuat Vina terpukau dengan kejutan ini.


"Gimana? suka gak?"


Tanyaku.


Vina menatapku tersenyum,


"Selamat datang, Bu Vina..."


Sapa semua karyawan kafe yang kini berjejer didepan pintu masuk menyambut kedatangan kami dengan setangkai bunga mawar ditangan masing-masing.


Satu persatu dari mereka maju dan memberikan bunga mawar itu pada Vina.


Vina terlihat canggung saat menerima bunga dan berucap terimakasih dengan mengulas senyum termanis.


Setelah semua kembali pada barisannya,


kini giliran Aku berjalan maju ke sebuah meja yang telah disiapkan khusus untuk Aku dan Vina diatasnya terdapat buket besar bunga mawar merah, Aku meraihnya dan berjalan maju ke arah Vina yang masih berdiri, dan menyerahkan bunga tersebut.


Vina terdiam haru menyaksikan semua yang sudah kupersiapkan khusus untuknya.


"Yuk Vin, kita duduk di situ"


Aku menggandeng tangan Vina menuju kursi dan meja yang sudah disiapkan.


Vina mengangguk, sembari menatap sekeliling ruangan kafe yang ternyata sudah ramai teman-temanku yang sama sekali tak Dia kenal, matanya masih berkeliling.


"Cari siapa sayang? teman-teman kamu ya...?"


Tanyaku ketika melihat Vina celingak celinguk memperhatikan meja-meja sekitar.


Dan benar, Vina mengangguk,


"Kamu jangan Khawatir, mereka belum datang kok, ini meja mereka... mereka akan duduk didekat kamu..tenang saja ya...."


Wajah tegang nampak jelas di raut mukanya, dengan lembut kuraih tangannya dan kugenggam jemarinya, untuk membuat Vina sedikit merasa lebih tenang dan nyaman.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2