
Aku mematung lama di depan cermin begitu tiba dikamar, menatap pantulan diriku sendiri yang nampak dalam kebimbangan.
"Apa yang baru saja terjadi tadi??"
Tanyaku pada bayanganku sendiri.
Berjalan pelan dan merebahkan diri diatas tempat tidur, memikirkan yang Aku sendiri sebenarnya tak ingin,
Aku membuang nafas berat, menyentuh kembali bibirku yang baru saja terjamah oleh bibir itu.
Aku memejamkan mata sedikit meringis, ada penyesalan yang dalam tentang mengapa ini harus terjadi.
"Ahh... bisa-bisanya Aku diam saja saat Agung menciumku!! harusnya Aku bisa menolak,, !!"
Gerutuku menyesali.
"Hemmmmm.... maluuunya!!!!!"
Aku menarik selimut hingga menutup sampai ke kepalaku, ingin rasanya bersembunyi selamanya.
"Tapi aneh juga, kok bisa-bisanya hatiku berdebar hebat, jantung juga kok bisa ya berdetak kencang, padahal dulu kalo dekat Agung biasa aja, malah kesalnya minta ampun"
Aku berbicara sendiri dari dalam selimut.
"Apa jangan-jangan beneran lagi, Aku sudah jatuh cinta?? Ahhhh.... enggak!!! Gak mungkin!!! dan gak mau!!!"
sambungku lagi, kali ini Aku menyingkap selimut dan beranjak duduk dengan nafas tersengal emosi.
Ponselku berdering,
"Agung,"
Ujarku begitu nama itu tertera di layar ponsel.
Ada ragu ketika tanganku meraih ponsel tersebut dan hendak mengangkatnya, walau akhirnya tetap Aku angkat juga.
"Ya Haloo...."
Ucapku ketus.
__ADS_1
"Belum tidur?"
Tanyanya.
"Ya, kalau Aku tidur mana mungkin bisa angkat telepon kamu!!"
Tukasku.
"Iya maaf, ehm Vin.... tentang yang tadi terjadi, Aku...."
"Stop!! gak perlu dibahas!"
Sanggahku sebelum sempat Agung menyelesaikan ucapannya.
"Ehm... Aku tau, kamu kecewa sama Aku, tapi.. izinkan Aku meminta maaf"
Sambung Agung.
"Gung, udah ya... lupain aja, anggap itu tak pernah terjadi,"
"Ehm..... Vin, kamu lagi apa? Apa kamu merasakan sesuatu dihati kamu?"
Aku tersentak mendengarnya, bagaimana mungkin Agung bisa tau bahwa Aku tengah merasakan sesuatu dihatiku, tepatnya getaran aneh itu!
"Ehm... merasakan apa? gak ada!! Aku udah mau tidur"
Aku berbohong.
"Oh, Mungkin Aku saja yang terlalu percaya diri, Aku pikir.. kamu...."
"Kamu apa??"
Sergahku.
"Ahh... enggak deh.. heheh"
"Ihh... apaan sih, gak jelas!! Kamu buruan tidur, ntar besok kesiangan"
Aku mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Belum apa-apa Aku sudah kangen kamu lagi, bolehkan?"
"Mulai dehhh... Udah, gak usah kangen-kangen, sampe sana, buruan cari pacar ya... biar ada obatnya kalau kangen"
hiburku mencairkan suasana.
"Vin, Kalau obatnya kamu gimana?"
"Ya gak bisa lah, kangen nya Aku udah ada yang pesan, udah gak ada stok!"
"Oh, iya ya... Aku sering lupa, tentang abadinya cinta pertama kamu!"
"Hahha... bisa aja!!"
"Gak papalah, Aku bukan cinta pertama kamu, Aku tetap berharap suatu saat jadi cinta sejati kamu.. hehehhe"
"Jiaahhh... ngomong apaan sihh!!"
"Vin, suatu saat jika tak juga ada kepastian dari Dia, dan kamu lelah, kamu bilang ya... izinkan Aku menghapus lelah itu dengan rasa yang Aku punya.."
Hatiku bergetar mendengar kalimat lirih yang baru saja diucapkan Agung barusan, sederhana namun terasa begitu dalam, entah ini dari hatinya atau sekedar ucapan gombal darinya, tapi cukup menyentuh hatiku.
"Vin... kamu masih mendengarkan Aku kan?? Halooo, Vin tidur ya??"
Sapaan Agung, ketika Aku terdiam beberapa saat terpaku mendengar ucapannya.
"Eh.. iya,, halooo... Iya Aku dengar kok.."
"Kamu kenapa? ucapanku membuat Kamu gak nyaman ya?"
"Ehm... enggak kok, kata siapa??"
"Aku gak pernah maksa kamu untuk memilih Aku, Aku juga gak bilang bahwa Aku lebih baik, tapi Aku janji dengan diriku sendiri bahwa Aku akan selalu ada untuk kamu,"
" Makasih ya Gung... kamu sahabat terbaik! yang pernah Aku kenal"
Aku tak tau apakah jawabanku ini akan melukai hatinya, tapi setidaknya ada penekanan disana jika antara Aku dan Dia tak bisa lebih dari sahabat.
Aku tak ingin memberi Agung harapan, sebab sampai detik ini, dihatiku terpatri keyakinan kuat bahwa hatiku memilih Dirga sebagai pemenang atas segala rasa yang beratas namakan cinta.
__ADS_1
Bersambung***