
Tepat pukul 9 pagi,, suasana rumah sudah mulai ramai tamu-tamu dari pihak keluarga yang sudah lebih dulu datang, sementara dari teman-teman masih belum ada yang terlihat.
Aku masih duduk di dalam kamar menghadap cermin, penata rias baru saja selesai mendandani wajahku.
Kutatap bayanganku sendiri di cermin, tampil flawless dengan riasan yang terkesan natural namun tetap terlihat anggun.
Aku berdiri, sekali lagi menatap kesempurnaan penampilanku hari ini, mulai dari tatanan rambut dengan mahkota mungil diatas kepala, riasan wajah flawless serta gaun semi kebaya berwarna lembut yang menambah keanggunanku pada pagi ini, Andai saja, yang menjadi calon tunanganku adalah Dirga,, tentu ini akan menjadi hari yang paling bahagia dalam hidupku,,
Tak hanya gaun dan mahkota ini saja tapi hati dan dirikupun akan merasa seperti seorang putri, untuk seorang pangeran impiannya.
Ahh... sudahlah,, tak ada gunanya Aku berandai-andai , bahkan kenyataan ini sudah ada didepan mata,, tak akan bisa Aku mundur atau berbalik arah.
Tok...Tok.. Tok....!!
Terdengar pintu kamar di ketuk,,
"Vin,, ini ada Nina sayang...."
Seru Mama dari luar kamar.
"Oh, Iya Ma... suruh masuk aja.."
Jawabku masih berdiri di depan cermin.
Klek!
Pintu dibuka,
"Haiii... ya ampuuunnn,, cantik sekaliii...."
Seru Nina menatapku dengan sumringah sembari mendekat dan memelukku.
"Makasih Nin,, sama siapa kesini.. Twins diajakkan?"
Tanyaku sembari celingak celinguk heran melihat Nina yang hanya sendiri masuk kedalam kamar.
"Iya.... diajak kok,, malah rame-rame loh kami datangnya,, Twins lagi sama Yumi dan Edgar,, sengaja kutitipin biar mereka latihan dulu jadi orang tua he... he... he..."
"Ohh,, gitu,, baguslah.. oh ya,, diluar kamu udah nampak Elza sama Daniel belum?"
Tanyaku.
"Belum datang deh kayaknya mereka.. Oh ya,, denger-denger mereka pacaran loh... sekarang..."
Mendengar itu, mataku terbelalak.
"Hah?? serius Nin? kok mereka gak ngabarin Aku ya? tapi baguslah mereka jadian, mudah-mudahan mereka berjodoh dan segera menikah,, tapi kalau di ingat-ingat dulu lucu yaa mereka"
"Iya,, Aku aja sempat gak percaya...,, Ehmm.. Vin, apa Tari kamu undang??"
Tanya Nina hati-hati.
Aku menggeleng,
"Bukan gak mau,, tapi dimana Dia aja Aku gak tau,, media sosialnya juga sudah tidak aktif lagi"
Jawabku dengan menarik nafas, mengingat Tari.
Jujur,, Aku merindukannya.
"Kamu gak benci sama Tari?"
Selidik Nina.
Aku menggeleng,
"Tari memang pernah salah Nin, tapi Dia pernah menjadi sahabat terbaik Aku,, mungkin saat itu Dia khilaf,, lagi pula menurut cerita Dirga, kisah hidup Tari cukup rumit,, nantilah kapan-kapan Aku cerita...."
"Oh,, iya... Ngomong-ngomong soal Dirga,, kamu juga masih hutang sama Aku tentang...."
"Sssttt.... Nanti aja kita bahasnya,, Aku takut ada yang denger,, dan kamu tau... hari ini Dia akan datang!!"
Aku buru-buru menutup mulut Nina sebelum Mama mendengar cerita rahasia itu.
"Se... ri... usss....!!!!"
__ADS_1
Nina nampak kaget dan tak percaya dengan ucapanku.
Aku mengangguk.
"Dia mau datang??! kamu yakin??!"
Lagi-lagi Nina tak percaya.
" Bahaya!!! Bahaya ini... beneran,, kalian terlalu nekat!! Apa nanti gak jadi masalah buat Agung Vin??"
Nina menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Entahlah Nin,, Aku sudah pasrah aja apa yang akan terjadi nanti"
Aku menunduk,
Nina menuntunku untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Vin, apa kamu bahagia??"
Tanya Nina menatapku lekat.
Aku membalas tatapan Nina cukup lama, tanpa suara.
"Aku nanya Vin,, apa kamu Bahagia dengan pertunangan ini??"
Ulang Nina.
Bibirku bergetar menahan tangis, mataku mulai panas dan pandanganku pada Nina berbayang.
"Astaga!! Vin... kok kayak gini,,udah ya... udah,, jangan nangis gini,,"
Nina kaget begitu Aku terisak dengan air mata yang tiba-tiba mengucur deras.
"Vin,, udah ya sayang.... jangan nangis, kamu udah rapi.. udah cantik,, ntar riasan kamu luntur,, bentar lagi acaranya mulai."
Nina menenangkanku, ia kemudian beranjak meraih tissue diatas meja riasku, dan menyeka air mataku.
"Udah ya... Aku udah tau jawabannya,, kamu gak perlu jawab... tapi mau bagaimana lagi,, acara sudah didepan mata,, tak mungkin dibatalin, kamu sabar ya... minta yang terbaik sama Tuhan"
Aku mengangguk.
"Aku keluar sebentar ya Vin.. mau lihat Twins,, nanti Aku kesini lagi"
Aku mengangguk, sembari menenangkan hatiku sendirian didalam kamar.
10 menit berlalu,
Nina kembali menemuiku dikamar, kali ini dengan mengajak Elza.
"Vin,, coba lihat... ada siapa??"
"Elzaaaaaa.....!!! "
Pekikku, Elza berlari kecil masuk kamar menemuiku.
"Cieee yang udah jadian tapi gak ngasih kabar!!!"
Ledekku.
"Hemmmpp... bukan gak ngasih kabar,, tapi belum sempat ngasih kabar,, Aku aja gak nyangka he.. he... he... bisa sama Daniel,, secara Diakan cinta mati ama Kamu Vin!"
Mendengar itu, Aku menelan ludah, dan kembali teringat semua cerita Elza tentang Daniel waktu itu,, begitupun dengan potongan-potongan kenangan-kenangan bersama Daniel, bahkan sikap aneh Daniel ketika terakhir kali bertemu dengannya di kafe milenial saat Agung mengumumkan hubungan kami.
Tapi.. apapun itu,, Aku bahagia melihat mereka bersatu.
"Ah... apaan sih,, itu dulu!!! cinta monyetnya para bocah,, dan sekarang cinta sejatinya Kamu!!"
Aku mencubit dagu runcing milik Elza.
"Semoga langgeng ya... cepet-cepet naik pelaminan"
Sambungku lagi,, Elza tersenyum lebar...
"Makasih ya Vin...."
__ADS_1
"Vin,, Itu keluarga Agung sudah datang.. keluar ya...."
Salah seorang Tanteku melongokkan kepala dari pintu kamar, menyuruhku bersiap keluar.
Aku mengangguk.
Elza dan Nina menuntunku keluar kamar menuju Ruang Tamu yang sudah disulap menjadi sebuah ruang cantik untuk acara pertunangan Kami,
Setelah berada diluar, mataku berkeliling mencari sosok Dirga diantara tamu-tamu yang datang, namun Aku tak menemukannya, di sudut lain,, kulihat Alif suami Nina tengah berkumpul bersama Edgar dan Ayumi beserta Twins ditengah-tengah mereka, tak jauh dari sana, Aku juga melihat Daniel yang tersenyum dan melambai padaku. Dipojok lain, semua teman-teman kantorku tengah tersenyum sembari mengulurkan kedua tangan dengan simbol love kearahku.
Tapi... Dimana Dirga?? apa dia mengurungkan niatnya untuk hadir? Apa dia marah sebab telponnya hari itu tak kuangkat? atau mungkin sekarang Dirga sedang menata hati untuk segera move on, maka tak sanggup untuk menyaksikan pertunanganku dengan Agung?
"Vin, kenapa? cari siapa?"
Bisik Nina ditelingaku,,
Aku menatapnya.
"Cari Dirga??"
Bisiknya lagi.
Aku menelan ludah kemudian mengangguk.
"Udah,, nanti aja,, sekarang kamu fokus dulu sama acara kamu ya... "
Nina dan Elza mengantarkan aku pada kursi yang sudah disiapkan, disana sudah terlihat Agung yang menatapku dengan mata berbinar.
"Kamu cantik sekali sayang.."
Pujinya begitu Aku tiba di hadapannya.
Aku cuma tersenyum.
Tante Ruri menyambutku dengan cium dan pelukan hangat, namun semua itu semakin menambah sakit dihatiku,, Aku semakin merasa bersalah atas apa yang terjadi seminggu belakangan ini.
Acara dimulai,
Satu persatu rangkaian Acara dilalui dengan lancar, dan tiba di acara inti,, ketika Tante Ruri mendekat dengan membawa kotak merah berisikan cincin tunangan.
Mataku menangkap sosok yang sedari tadi ku nantikan, dadaku berdebar hebat, jantungku berdegup sangat kencang, bahkan mataku tak kubiarkan berkedip,
Dirga berjalan diantara kursi para tamu, matanya menatapku teduh, tanpa senyum namun mampu membuat Aku hanyut dan lebur bersama rasa didalam jiwa.
begitu tiba di kursi yang masih kosong, Dirga menatapku sangat dalam, ia memberiku senyum tulus kemudian anggukan kecil.
Sungguh itu adalah senyum yang menorehkan luka untuk ku.
Sekuat tenaga, kutahan segala rasa yang tengah bergemuruh dihatiku, dengan menatap wajah Mama, wajah Agung, serta wajah Tante Ruri. Aku tak ingin mereka kecewa, ini bukan kesalahan mereka,, semua masalah ini berawal dari Aku,, sikap Aku dan keegoisanku, dan Aku harus menerima konsekuensinya, meski harus mengorbankan perasaanku sendiri.
Terlihat Nina mendekati Dirga dan mengajak bersalaman.
Saat pembawa acara, menyebut namaku untuk bertukar cincin dengan Agung,, Aku yang sedari tadi terus memperhatikan Dirga mengalihkan pandanganku pada Agung,
Semua berdiri dan bertepuk tangan untuk kami ketika pertukaran cincin antara Aku dan Agung selesai di sematkan di jari masing-masing.
Tak terkecuali Dirga, yang turut bertepuk dengan senyum tipisnya, namun Dirga buru-buru membuang pandangnnya ketika Agung mengecup punggung tangan dan keningku di depan para tamu undangan.
Aku tau, Dirga tak sanggup melihat itu, dapat kurasakan perih hatinya bahwa saat ini Dia tengah berusaha menguatkan sendiri hatinya.
Acara Inti selesai, Pembawa acara meminta kami untuk kembali duduk, dengan menuntunku mesra Agung mengantarkan Aku kembali pada kursiku.
Beberapa tamu undangan mulai menikmati makanan, tak sedikit pula yang memilih segera bersalaman dengan kami dikarenakan ada urusan lain dan harus segera pulang.
Satu persatu tamu menghampiri kami untuk memberi ucapan selamat,
Beberapa Tamu juga terlihat tengah menyumbang nyanyian untuk kami, di acara hiburan saat menyantap hidangan, Aku menoleh pada Dirga,, dan teringat perkataannya bahwa dia Akan menyanyikan lagu untuk ku hari ini.
Namun ternyata, Dirga tengah sibuk mengobrol dengn beberapa tamu undangan yang sepertinya mereka saling kenal.
"Ehm... Sayang,, Dirgantara datang kesini sendirian,, kenapa tak mengajak anak dan istrinya?"
Tiba-tiba Agung melontarkan kalimat yang membuatku terhenyak dan buru-buru memalingkan wajahku dari Dirga.
Aku tak menyangka, ternyata Agung menyadari kedatangan Dirga hari ini.
__ADS_1
Bersambung***