Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 204 Bertemu


__ADS_3

Rasanya sulit sekali memejamkan mata mengingat percakapan chat yang baru saja terjadi.


Namun, rasa ingin cepat bertemu Vina esok hari membuat Aku memaksakan diri untuk terpejam dan lelap agar malam segera berlalu dan hari cepat berganti.


...****************...


Gelisah, menunggu kabar Vina yang tak kunjung mengirimkan lokasi tempat bertemu, padahal jam istirahat makan siang sudah berlangsung sejak tadi.


Aku terus memutar ponsel di jari-jariku, sedang Aku sendiri sudah siap meluncur dengan sepeda motor milik Paman Usman.


Sengaja Aku tak membawa mobil, Aku hanya ingin melihat reaksi Vina ketika bertemu Aku yang berbeda 180 derajat dengan Agung yang sudah sukses dengan bisnis Kafe dan distro, begitulah info yang Aku dapatkan dari teman-teman Alumni SMP.


Hampir setengah jam duduk diatas jok motor, akhirnya Vina mengirimkan lokasi dimana kami akan bertemu.


Keningku sedikit berkerut ketika membaca lokasi yang ia kirimkan, sebuah kafe yang tidak terlalu terkenal, karena letaknya yang tidak strategis, kenapa Vina memilih bertemu disini? Bukankah ada banyak kafe yang lebih keren dan wah dari pada ini, tapi ah... Sudahlah,, mungkin Vina punya alasan tersendiri mengapa memilih tempat ini sebagai tempat bertemu kami siang ini.


Tanpa membuang waktu, segera kupacu motor tua milik Paman Usman menuju lokasi.


Sampai disana,


Aku bergegas masuk dan menuju meja kosong di sudut agak kedalam, suasana kafe yang sepi hanya ada beberapa saja orang yang sedang menikmati makan siang.


Ting!


Pesan masuk,


"Aku sudah sampai, kamu dimana??"


Dengan cepat Aku berdiri melongokkan kepala kearah parkiran.


Terlihat sebuah mobil mengkilap baru saja berhenti disana dan gadis manis menyembul dari dalamnya, penampilan khas wanita karier, dengan setelan blazer dan sebuah ponsel ditangannya.


Aku yakin itu Vina, gadis yang selalu kuminta takdirnya agar bersamaku hingga akhir usia, gadis yang selalu kusebut namanya dalam setiap doa.


Ya Allah, kenapa dada ini terasa sesak ketika mengingat bahwa Vina sudah bahagia bersama orang lain, hatiku sakit saat Aku sadar bahwa Aku tak bisa lagi memiliki hatinya.


"Aku sudah didalam"


Balasku.


Lalu kembali duduk dan menenangkan hatiku yang gelisah.


Tak berapa lama, seorang gadis yang begitu sangat Aku kenal, berjalan perlahan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, Aku sengaja berpura-pura tak melihatnya dan sengaja memutar badanku membelakanginya.


Kurasakan derap langkah kaki itu semakin mendekat,


"Hai Dir...."


Deg!


Suara lembut itu membelai indra pendengaranku, jantungku berdegup tak karuan, Aku menolehnya dan mendongakkan kepalaku memberanikan diri untuk menatap mata teduh itu.


Oh... Tuhan, Vina terlihat manis sekali.. Rindu yang terpendam bertahun-tahun lamanya menguap, bersama dengan binar mata yang memancarkan kerinduan yang sama,, benarkah Vina juga merasakan rindu ini?

__ADS_1


Entahlah, yang jelas,, kami hanya terdiam dan terpaku beberapa saat.


"Duduk Vin,"


sapaku mencoba mencairkan suasana.


"Mau pesan apa Vin??"


"Ehm.... Aku ... ehh... oren jus aja"


Jawabnya gugup.


"Makan?"


"Ehm... Nanti aja, belum laper."


masih kaku dan canggung, terlebih ketika Aku menyadari bahwa Vina tengah memandangiku bahkan matanya terlihat mengamatiku secara detil.


"Kok, kita jadi canggung gini ya...?"


Ucapanku membuat Vina kaget, dan salah tingkah hingga beberapa kali terjebak saling pandang dan tersipu lalu membuang tatapan matanya kearah yang lain.


"Ehm... Apa Mungkin karena ini pertama kali kita bertemu setelah bertahun-tahun gak ada kabar?"


Sambungku, namun Vina tetap saja diam tak menjawab.


"Ehm... Kamu apa kabar? sepertinya sudah sukses ya sekarang?"


Kini giliranku yang menatap Vina lekat.


Jawab Vina lalu balik melempar pertanyaan sambil tersenyum.


Mendengar pernyataan itu, Aku hanya tersenyum.


"Seperti yang kamu lihat sekarang, mana ada bos penampilan kere seperti Aku"


Jawabku sesantai mungkin.


"Kabar orang tua kamu gimana??"


Tanya Vina serius.


Mendengar itu, sesak di dada ini kembali.


Entahlah, mata ini menjadi terasa begitu panas.


"Dir... kenapa??"


Tanya Vina bingung sekaligus cemas dengan perubahan raut wajahku.


Menarik nafas dalam-dalam lalu,


"Mereka sudah pergi Vin,,, bahkan mereka pergi sebelum sempat melihat Aku memakai seragam putih Abu-abu"

__ADS_1


"Pergi??"


Kaget Vina dalam kebingungan.


"Mereka sudah kembali ke sang pencipta"


Vina terperangah, matanya membulat seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ku ucapkan, lalu menutup mulutnya dengan dua belah telapak tangan.


"Sehari sebelum keberangkatan Mereka keluar kota , Ibu sakit, beliau mengeluh sakit kepala, namun tengah malam sakit kepalanya semakin hebat, kami membawa Ibu kerumah sakit karena kesadarannya menurun, sampai dirumah sakit hanya 2 jam ditangani Dokter Ibu pergi"


Aku terdiam sejenak, mengatur nafas untuk melanjutkan ceritaku.


"Ayah syok mendengar Ibu pergi dengan begitu mendadak dalam waktu yang sangat cepat, membuat jantungnya kambuh dan disaat itu pula Ayah jatuh dan kemudian pergi karena serangan jantung dihari yang sama dengan kepergian Ibu"


Aku tak bisa menguasai diriku, sesak dan perih di hati membuat Aku menitikkan air mata, bayangan demi bayangan kejadian hari itu masih tergambar jelas dalam benak ku. Betapa hancurnya Aku dihari itu. Seperti retak semua tulang-tulang di tubuhku hingga nyaris tak kuat untuk berdiri.


"Dir.. udah ya,, gak usah dilanjutin,, Aku tau ini berat buat kamu"


Vina menyodorkan oren jus kepadaku sembari menenangkan Aku.


"Kamu minum dulu,, biar tenang"


Aku menatap mata tulus Vina, meraih gelas jus oren yang ia sodorkan lalu menyeruputnya.


"Maaf ya... Aku jadi melow gini..."


"Gak papa Dir, itu wajar... Aku turut berduka cita ya... Maaf, Aku tidak tau berita itu,, dan sepertinya begitu juga dengan teman-teman yang lain."


Jawab Vina.


"Ehm.... Dir,, kamu sibuk apa sekarang?"


Aku tau, Vina sengaja mengganti topik obrolan.


"Aku hanya buruh pabrik Vin,, Tak seperti teman-teman kita yang lain, yang sudah sukses"


"Ah, gak boleh gitu,,, Buruh pabrik pun adalah sebuah pekerjaan bagus, yang penting halal dan kita bersungguh-sungguh pasti kesuksesan akan datang, semangatt ya..."


Aku lega, ternyata Vina masih sama seperti yang dulu,


Sejenak saling diam, tiba-tiba saja sebuah ide konyol melintas di otakku untuk mengajak Vina bernostalgia ke gedung SMP dulu.


"Ehm.. Kamu mau ikut Aku gak??"


mendengar ajakanku, Vina kaget.


"Hah?? Ikut?? Ikut kemana?"


Tanyanya Bingung.


"Ntar juga kamu tau,, yuk...!"


Dengan cepat Aku mengeluarkan uang dan menaruhnya di bawah gelas kopi, dan tanpa pikir panjang kuraih lengan Vina dan segera menariknya keluar.

__ADS_1


Sementara Vina yang masih dalam keadaan bingung, hanya bisa pasrah mengikuti kemana Aku menariknya.


Bersambung***


__ADS_2