
Sampai dirumah, Mama menyambutku..
"Selamat datang kembali bungsunya Mama.."
Mama memelukku, sembari mencium keningku.
"Udah makan belum? Mama masakin masakan kesukaan kamu..."
Sambung Mama lagi.
"Iya Ma, nanti Agung makan,, Agung mau istirahat dulu bentar"
Jawabku lalu masuk ke kamar.
Di dalam kamar,
Aku merebahkan diri dengan berbagai macam pikiran yang terasa menguras otakku.
Bagaimana bisa Aku menjalani hubungan ini jika Vina tak sepenuhnya mencintaiku,, bahkan jelas-jelas mesra bersama Dirgantara, entah dari mana mereka? Apa saja yang dilakukan mereka sebelum Aku kembali pulang kesini? Apa ini yang menjadi alasan Vina selalu mematikan ponselnya hampir setiap hari, bahkan kalaupun Aktif jarang sekali membalas dan mengangkat telpon dariku?
Apa saat itu Vina tengah manja dipelukan Dirga,, Aku memejamkan mata menahan sakit yang tiba-tiba menyergap.
Dirgantara,, seorang yang sangat diidolakan Vina sejak dulu,, kini kembali... apa mungkin cinta mereka akhirnya bersatu? lalu Aku??
Tapi bukannya Vina bilang, bahwa Dirga sudah memiliki istri dan anak,, yang waktu itu ketemu di Mall, lalu bagaimana nasib mereka?
Apa itu artinya, Dirga juga sedang berkhianat pada anak dan istrinya?
Kepalaku mendadak berdenyut memikirkan itu semua.
Hampir 2 jam Aku mengurung diri dikamar, Mengingat ucapan Mama tentang masakannya, Aku tak ingin mengecewakan Mama jika Aku tak memakannya, padahal saat ini Aku sama sekali tak ada rasa lapar sedikitpun, padahal sejak dari pesawat siang tadi Belum ada apa-apa yang masuk kedalam perutku, semua rasa terasa hilang dan tak berselera.
Betapa Vina sangat berpengaruh pada kehidupanku.
Aku keluar kamar, Melihat kondisi ruang tamu yang masih terang benderang, Aku yakin Mama belum tidur.
Mendengar suara pintu kamarku, Mama berlari menghampiriku,
"Mau makan Gung?"
Tanyanya.
"Iya Ma, Mama belum tidur?"
Aku balik bertanya sembari berjalan menuju ruang makan diikuti Mama dari belakang.
"Belum, sengaja nungguin kamu, ada yang Mama mau bicarakan"
Mama menemaniku duduk di meja makan, sambil menuangkan nasi dipiringku.
"Bicara apa Ma,, kok kayaknya penting?"
"Iya.. ini masalah lamaran pernikahan kamu, yang pernah kamu bilang sama Mama bulan lalu"
Mendengar itu, Aku menatap Mama sembari mulai menyuapkan nasi kemulut.
"Jadi, waktu Mama kesana itu, Mama lupa bilang, kemarin Mama baru sempat nelpon Tante Yuni, Mama bilang tentang keinginan Kamu untuk segera melamar Vina setelah acara tunangan ini, dan dalam waktu dekat pernikahan akan kita gelar,, Tante Yuni setuju"
Deg!!
Jantungku berdetak mendengarnya, Lamaran? pernikahan? sedangkan saat ini, hatiku sedang berantakan,,
Aku sendiri tak yakin pertunangan ini akan lanjut, sebab Vina kini kembali mencintai Dirgantara, orang yang sempat ingin Dia lupakan.
__ADS_1
"Gung,, diajak ngomong malah melamun"
Mama menyentuh lenganku,
"Ehm... Ma,, nanti kita rundingkan lagi, kita fokus aja dulu untuk acara pertunangan besok, lagi pula sepertinya Vina belum siap untuk itu"
Ujarku, melanjutkan makan meski rasanya ingin sekali Aku menyudahi makan malam ini.
......................
Hari yang dinanti tiba, sejak pagi Kami sekeluarga sudah rapi dan bersiap meluncur kerumah Vina,
Mbak Echa mendekatiku,
"Kenapa Dek,, kok kelihatannya murung?"
Tanyanya serius.
"Eh... gak kok Mbak, cuma gugup aja"
Jawabku berbohong dan buru-buru memasang senyum palsu.
Mobil membawaku dan keluarga besar menuju kediaman Vina.
Sampai disana, beberapa tamu dari kerabat dan keluarga sudah memenuhi halaman rumah Vina.
Kedatangan kami disambut Tante Yuni dan keluarga yang lain.
Mereka mengantarkan kami ketempat yang sudah disediakan.
"Vinanya masih di dandani"
Komentar Tante Yuni tepat ditelingaku yang ternyata menyadari sikapku yang sejak awal kedatangan celingak celinguk mencari keberadaan Vina yang tak terlihat.
Aku tersenyum malu.
Mereka menatap kearahku kemudian mengangguk tersenyum sembari mengangkat tangan menyapaku.
"Ma... Sebentar ya, Agung kesan dulu ada teman"
Pamitku menunjuk meja Daniel dan Alif,, Mama mengangguk.
Aku berjalan menghampiri mereka, setelah sampai dihadapan mereka,
"Hai Bro... Apa kabar? makasih ya.. udah datang"
Sapaku sembari mengulurkan tangan.
"Baik... alhamdulillah,, selamat ya...."
Balas Daniel menyambut tanganku, kemudian bergantian dengan Alif.
"Oh ya.... Kemarin,, datang juga gak kerumah Nina? emang ada acara apa Bang?"
Tanyaku pada Daniel lalu melempar tatapan pada Alif.
mendengar itu, mereka saling pandang dan kelihatan bingung.
"Acara? emang ada acara?
Daniel balik bertanya, kemudian melempar tatapannya pada Alif?
"Loh,, kamu gak tau?"
__ADS_1
Tanyaku lagi.
"Sebentar... sebentar.... acara apa ya maksudnya Mas?"
"Acara hari rabu kemarin"
Ujarku lagi.
Alif dan Daniel saling pandang,
"Gak ada acara kok Mas.."
Jawab Alif.
Aku menelan ludah dan segera menyadari jika ini hanyalah karangan Vina.
"Ohh,, maaf.. mungkin Aku salah, acara yang dimaksud Vina bang Alif teman kantornya... Aku pikir Bang Alifnya Nina."
Aku buru-buru menetralkan pertanyaan yang sempat membuat Mereka bingung.
"Ohh gitu,, makanya Aku bingung,, acara apaan.. "
"Ya udah,, Bang... Bro.. Aku balik kesan dulu ya"
"Oke... Oke"
Aku meninggalkan meja mereka dan kembali duduk ditengah keluargaku.
Tak lama setelah Aku kembali duduk, Vina datang didampingi Nina dan Elza, Aku benar-benar terkesima menatapnya, Vina terlihat begitu Anggun dan cantik sekali.
"Kamu cantik sekali sayang.."
Pujiku begitu Vina tiba di hadapanku.
Vina tersenyum.
Acara dimulai,
Satu persatu rangkaian Acara dilalui dengan lancar, dan tiba di acara inti,, ketika Mama mendekat dengan membawa kotak merah berisikan cincin tunangan.
Disaat yang bersamaan, Dirgantara Datang berjalan diantara kursi tamu.
Aku segera menatap Vina, dugaanku benar Vina tengah menatap Dirga tak berkedip begitupun Dirga yang juga tengah menatap Vina,
Disaat itu pula, hatiku terasa tersayat, perih dan ngilu sekali.
Terlihat Nina mendekati Dirga dan mengajak bersalaman.
Saat pembawa acara, menyebut namaku untuk bertukar cincin dengan Vina,,
Buru-buru Vina mengalihkan pandangannya dari Dirga.
Semua berdiri dan bertepuk tangan untuk kami ketika pertukaran cincin antara Aku dan Vina selesai di sematkan di jari masing-masing.
Acara Inti selesai, Pembawa acara meminta kami untuk kembali duduk, dengan menuntun mesra Vina dan mengantarkannya kembali pada kursinya.
Beberapa tamu undangan mulai menikmati makanan, tak sedikit pula yang memilih segera bersalaman dengan kami dikarenakan ada urusan lain dan harus segera pulang.
Satu persatu tamu menghampiri kami untuk memberi ucapan selamat,
Beberapa Tamu juga terlihat tengah menyumbang nyanyian untuk kami, di acara hiburan saat menyantap hidangan, Aku kembali menangkap pemandangan menyakitkan ketika terus-terusan Vina menatap kearah Dirga.
"Ehm... Sayang,, Dirgantara datang kesini sendirian,, kenapa tak mengajak anak dan istrinya?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaanku, Vina kaget dan buru-buru memalingkan wajahnya dari Dirga.
Bersambung***