
Cukup lama terdiam dalam pandangan, Akhirnya Vina menarik nafas lalu mencoba membuka suara,, mataku fokus pada wajahnya bersiap mendengarkan kira-kira seperti apa jawaban yang kan keluar dari mulut Vina.
"Gung, maaf... bukan, bukan itu maksud Aku?
Aku bukan ragu dengan kamu, tapi ragu dengan perasaanku sendiri, Aku gak mau menjalani hubungan dengan setengah hati.. tolong, beri Aku waktu sedikit.... lagi, untuk Aku agar benar-benar yakin bahwa Aku siap dengan cinta yang baru."
Mendengar itu,, seperti ada angin segar yang baru saja meniup ketandusan hatiku,
"Kamu jangan khawatir Vin, bahkan dengan secuil hati saja Aku sudah bersyukur.."
Aku tersenyum, berharap akan ada hujan yang membasahi dan pelangi setelah ini.
Menghabiskan waktu berdua bersama Vina, mencoba menghibur dan membuat ia sedikit melupakan lukanya, hingga candaan demi candaan mengalir begitu saja, melihat ia kembali tertawa lepas, membuat hatiku terasa lega, dan turut tenggelam dalam bahagia nya.
Hingga waktu terasa begitu cepat berputar,
menjelang sore,
"Kita pulang, atau mau mampir kemana dulu?"
Tawarku pada Vina.
"Kayaknya kita pulang aja ya.. Aku udah capek"
Jawabnya, kutatap mukanya yang benar terlihat lelah,, Aku mengangguk.
Sepanjang perjalanan pulang, Aku sengaja tak banyak bicara, namun sesekali mataku tak bisa untuk tidak memandangnya, meski selalu terjebak oleh Vina ketika Aku mencuri-curi pandang padanya.
Tiba-tiba Aku mengingat sesuatu yang sedari tadi lupa kesampaian pada Vina, segera kucari tempat untuk berhenti, perlahan mobil melambat membuat Vina yang tengah memejamkan matanya terbangun dalam keadaan bingung.
Aku yang merasa tak enak hati karena membangunkan Vina yang memang terlihat lelah segera meminta maaf.
"Ehm.. Maaf Vin, ada yang mau Aku bicarakan.. tadi belum sempat ku utarakan"
"Apa?"
Jawab Vina.
"Minggu depan, Aku mau ke luar kota, mungkin sekitar 3 bulan, "
Tuturku.
"Kok, lama banget, ada urusan apa?"
Tanya Vina kaget
"Iya, urusan kafe, disana Aku buka cabang baru lagi, teman yang menjalankan... jadi mau penyesuaian dan trainee dulu semua rekan-rekan disana"
jelasku.
"Oh.., "
"Kok cuma Ohh sih?"
Sedikit kecewa dengan respon singkat dari Vina
"Terus, mau nya Aku jawab apa?"
"Ya... apa kek... yang ngenakin hati gitu!!"
"Coba contohkan, yang ngenakin hati itu gimana?"
Vina melipat tangan di dada sembari memainkan alisnya seolah menggodaku.
"Ya... misalnya, kok lama ntar kalo Aku rindu gimana? Atau... Aku gak bisa jauh dari kamu selama itu, Kan bikin Aku meleleh!!"
Aku melengos berharap bujukan dari Vina
"Ohhh... gitu ya??, kalau gini gimana...
Ehm.... Gung, Aku mau.. sebelum kamu pergi kita jadian??"
Ujarnya lantang.
Dengan cepat Aku menoleh dengan mata terbelalak, dan mulut terbuka.
Rasa tak percaya,, Aku berharap telingaku masih waras dalam pendengaran sehingga apa yang baru saja terdengar ditelingaku benar adanya.
"Hah.... Kamu serius???! kamu gak sedang bercandakan?? atau kamu lagi ngigau?? atau... ehm... Aku... Aku.... Aku gak lagi mimpi kan???"
__ADS_1
Aku gugup dan terbata, hatiku terasa bergetar hebat karena bahagia.
Aku mendekat pada Vina dan terus mengguncang-guncang tubuhnya, bertanya tentang apa yang baru saja ia ucapkan, benarkah ini????!!
Dan Vina, ia dengan santai tersenyum lebar menatapku.
"Vin.... tolong cubit Aku, atau... pukul deh... atau... atau.... kamu bisa tonjok Aku sekarang!!! Aku ingin segera sadar jika ini mimpi!!"
Ujarku.
Vina menggeleng,
"Tidak,, ini bukan mimpi... ini kenyataan. Aku sudah memikirkannya dan Aku memutuskannya detik ini!"
Jawaban Vina sungguh membuatku nyaris gila akibat terlalu bahagia, hingga tak tau lagi bagaimana Aku mengekspresikannya,, bagaimana Aku mengatakan pada dunia bahwa Aku tengah berbahagia detik ini..
Bahkan kini, Aku hanya bisa terdiam dengan nafas tak beraturan, mataku terasa panas dengan pandangan yang mengabur.
"Ya Tuhan.. inikah buah kesabaranku...? terimakasih Tuhan.... terimakasih"
Rasa syukur yang tak henti kuucapkan untuk hari ini, kemudian segera ku tarik tubuh Vina kedalam dekapanku.
Kupeluk erat tubuh itu,, dengan segenap rasa cinta yang seutuhnya.
"Makasih sayang.... Aku janji, tak kan ada lagi air mata dan kesedihan di sini?"
Kini Aku menangkupkan tanganku di kedua belah pipi Vina, lalu kucium mesra keningnya.
"Pokoknya, kita mesti rayakan ini sayang.... minggu depan sebelum Aku pergi, kita mesti undang teman-teman kamu, biar kita rayain di kafe Aku, terus Aku akan umumkan hari bahagia ini sayang..Aku janji, secepatnya Aku lamar kamu"
Tak ingin membuang-buang waktu, Aku sudah sangat yakin ingin segera menikahi Vina, dan ini pastinya akan sangat mengejutkan Mama dan kedua saudaraku.
"Ehm... Tak perlu sampe segitunya Sayang..."
Jawaban Vina semakin membuat hatiku dag dig dug tak karuan, untuk pertama kalinya Aku mendengar Vina memanggilku dengan sebutan sayang.
"Hah... Apa? Apa? coba ulang!! Aku gak denger kamu tadi manggil apa??"
kudekatkan wajahku tepat didepan wajahnya.
"Iya sayang.... gak perlu sampe segitunya...."
"Sumpah.... mimpi apa Aku semalam ya Allah....???!"
pekikku.
"Cukup kita aja yang merasakan, tak perlu pake acara-acara pengumuman segala, Aku malu"
ujar Vina.
"Gak bisa, semua harus tahu, bahkan bila perlu seluruh dunia harus tahu betapa bahagianya Aku"
tegasku.
Tak lama, mobil kembali melaju,
"Vina sayang, setelah Aku pulang dari luar kota.. Aku akan lamar kamu, bila perlu langsung nikah aja,, kamu mau??"
tanyaku pada Vina.
Mendengar itu, Vina dengan cepat menolehku, lalu kembali menatap jalan, dan terdiam.
"Vin, kok diem?? kamu mau kan jadi istriku?"
Tanyaku lagi ketika tak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut Vina.
rasa gelisah menyergapku,
"Ehm... Apa gak terlalu kecepatan ya Gung?? mungkin lebih baik kita jalani dulu seperti ini, sampe kita benar-benar siap, baik hati maupun mental"
Mendengar itu, Aku jadi berpikir apa sebenarnya Vina menerimaku hanya ingin berusaha melupakan Dirga saja, bukan karena tulus membuka hatinya untukku?
Tapi.. ah sudahlah,, Aku tak ingin merusak hari bahagia ini dengan pikiran negatif.
"Oh... Ehm.... gitu ya,, ya udah... gak apa-apa, maafin Aku ya Vin, bikin kamu jadi gak nyaman"
Aku berusaha menerima keinginan Vina.
"Oh... Ehm... itu, Ehm... bukan gitu maksud Aku, cuma masih pengen hubungan yang kayak gini dulu, masih belum siap untuk kejenjang yang lebih serius, tapi bukan berarti Aku gak mau serius sama Kamu, kamu ngertikan Gung maksud Aku?"
__ADS_1
Vina memegang tanganku, untuk pertama kalinya dengan tatapan yang membuat hatiku meleleh.
Aku mengangguk.
"Gung, kamu gak marahkan?"
Vina kembali membuat Aku baper, dengan menyentuh bahuku, dan menatap manja membuat Aku gemas.
"Jangan Khawatir sayang, Aku tidak apa-apa, dianggap pacar saja Aku sudah bersyukur banget, mungkin tadi Aku cuma terlalu bersemangat, Aku yang terlalu takut keadaan ini berubah, makanya Aku berpikir untuk cepat-cepat menjadikan kamu istri, Aku minta maaf ya..."
Kuraih jari-jari Vina kemudian mengecupnya lembut.
"Gak usah minta maaf, Aku juga mungkin terlalu kaget dengan keputusan kamu yang begitu cepat."
"Ya udah, kalu gitu kita tunangan aja dulu mau??"
Tawarku dan Vina mengangguk
"Yess!!! Kalau gitu, pulang dari sini Aku langsung ngomong sama Mama, terus besok Aku menghadap orang tua kamu, gimana?"
semangat ku kembali berkobar.
"Iya... boleh"
"Ehmm...kalau tahun depan, kayaknya bisalah ya... kita nikah hehhehe..."
Aku mencubit lengan Vina.
"Ehm... gimana ya,, emangnya kenapa sih mau cepat-cepat aja??"
"Loh,, ya apalagi kalau bukan pengen punya twins.. kayak Nina hehheh"
candaku yang di balas tawa lepas Vina.
"Hahhh... jawabannya absurd!! kayak yakin aja bakal dapat baby twins..."
Vina mencebik manja.
"Yakin aja,, tapi gak dapat twins juga gak apa-apa,, yang penting Ibunya tetap kamu!"
rayuku.
"Huh... mulai gombal!!"
"Tapi suka kan????"
"Sok tauuuu!!!"
"Tuh... pipinya merah..... bikin gemes deh Ayang!!!"
ledekku pada Vina
"Ihh... Ayang??? "
"Hahhha... biar kayak orang-orang beb!"
"Ihhh... apaan beb...beb... geli ah"
"Idih geli, diapa-apain belum udah main geli aja!"
Aku menatap Vina genit.
"Agung!!!!"
Pekiknya dengan menepuk keras bahuku.
"Aku rela di timpuk sama kamu berkali-kali kok, asalkan bisa terus bersama kamu seumur hidup"
"Ih... bucin alay!!"
Vina dan Aku sama-sama tertawa lepas,
Ya Tuhan... ini sungguh seperti mimpi,, Aku tak pernah menyangka,, hari ini adalah hari terkabulnya doa-doa yang pernah kuminta padamu.. sejak dulu setelah lebih kurang 10 tahun kini semua menjadi nyata.
Aku hanya berharap ini bukan mimpi... atau kalaupun ini hanya mimpi Aku mohon,, jangan bangunkan Aku Tuhan...
Aku bahagia... Aku bahagia... Aku sangat bahagia.....
Bersambung***
__ADS_1