
Ada sesak yang tertahan, rasa menyesal telah memilih diam dan menunggu, mengutuk diri sendiri untuk sebuah perasaan yang tak sempat ku ungkapkan.
Sepanjang perjalanan pulang, tak terasa mata ini basah, mengingat semua yang terlewati 3 tahun belakangan ini, ada bimbang dan tanda tanya besar yang menggantung, dan entah kapan bisa kudapatkan jawaban atas semua tanya dihati.
2 halte pemberhentian lagi sebelum sampai di halte dimana Aku sampai kerumah, ku keluarkan tissue dari dalam tas, menyeka mata yang basah dan menepuk pelan pipi yang sempat dibanjiri air mata.
Masih kugenggam sebiji permen pemberian Dirga.
Ada banyak makna yang ku tangkap dari caption di bungkus permen, mungkinkah Dirga merasakan hal yang sama, mencintai dan merindukan seperti yang tengah kurasakan? Atau hanya rindu kebersamaan sebagai teman dan tidak lebih.
"Ahh.. Dirga, sulitkah bagimu untuk mengatakan yang sebenarnya tentang kita?"
Aku menyelipkan dan menyimpan kembali permen itu disaku bajuku.
Mencoba menghela nafas menenangkan diri, merapikan penampilanku sebelum Aku turun dari Bis.
Aku tidak ingin Mama melihat keadaanku yang mungkin saat ini berantakan dan sangat kacau.
"Oh.. tuhan, Aku masih belum cukup dewasa untuk merasakan asam manis nya perasaan cinta, ini hanya rasa suka dan Aku yakin, ini pasti akan segera berlalu baik-baik saja"
Gumamku dalam hati.
Halte pemberhentian sudah terlihat, Aku bersiap turun.
Melangkah gontai dan perlahan, Aku seperti kehilangan semangat, mengingat hari-hari kedepan Aku tak kan lagi melihat Dirga di sekolahku yang baru.
"Assalamualaikum..."
Ucapku begitu memasuki pintu rumah.
Kepulanganku disambut Mama dan Papa yang ternyata sudah berada dirumah.
"Loh... Pa, kok sudah pulang?"
"Iya donk... spesial, hari ini Papa pulang cepat, karena putri kesayangan Papa lulus dengan nilai terbaik, mau hadiah apa??"
Tanya Papa antusias.
"Ehm... Apa ya?? nanti deh Pa, belum kepikiran mau apa,, bolehkan?"
"Ohh ya tentu saja... Apa sih yang enggak buat kamu sayang"
__ADS_1
"Ya udah, kamu mandi gih, dah sore.. "
Seru Mama yang kembali duduk menemani Papa di depan televisi.
Aku mengangguk lalu bergegas masuk kamar.
Namun ternyata perasaan seorang Ibu sangatlah peka, Aku tersentak begitu keluar kamar mandi melihat Mama duduk di tepi tempat tidur menungguku.
"Ma... kok Mama disini?"
Tanyaku heran bercampur bingung.
Mama tersenyum simpul,
"Kamu ganti baju dulu sayang, Mama mau bicara"
Glek!!!
Aku menelan ludah, sejenak Aku berpikir tentang apa yang akan dibicarakan Mama, sepertinya sesuatu yang penting.
"Apa mungkin Mama tau kalau tadi Aku berduaan dengan Dirga?"
Aku menebak-nebak dalam hati.
"Mama mau bicara apa?"
Tanyaku pelan dan sangat hati-hati.
"Sayang... Kamu sehatkan?"
Tanya Mama.
Aku yang tak paham hanya mengangguk.
"Mama perhatikan, waktu pulang tadi muka kamu murung, mata kamu juga agak sembab, kamu ada masalah?"
Mama mengusap bahuku.
Aku menunduk,
"Enggak Ma, Vina baik-baik aja kok, cuma capek aja"
__ADS_1
"Vin, jangan bohong... Mama tau kamu, ada apa sayang, cerita... anggap Mama teman kamu, gak papa kok"
Mama menatapku lekat.
Aku tersenyum getir, antara bahagia dan malu jika harus jujur.
"Sayang, Mama paham sekali, diusia kamu yang sekarang akan banyak banget problem yang dihadapi, dan kamu tau Nak.. kamu harus punya tempat untuk mencurahkan apa yang menjadi beban kamu, dan Mama siap menjadi tempat ternyaman untuk kamu bercerita"
Mama membelai kepalaku, dan dengan cepat tanpa aba-aba Aku memeluk tubuh Mama.
"Vina cuma sedih Ma, harus berpisah dari teman Vina, gak ketemu lagi, gak bareng lagi, gak cerita lagi.."
Terdengar Mama menghela nafas.
"Siapa Nak? Nina??"
Tanya Mama.
Aku Diam tak menjawab.
"Ehm... Teman cowok ya?"
Tanya Mama lagi.
Aku menunduk, mukaku terasa hangat mungkin saja Mama melihatnya menjadi merah jambu.
"Vin, gini... dengerin Mama, perjalanan kamu itu masih panjang, diusia sekarang akan ada banyak sekali teman yang datang dan pergi, jangan pernah disesali, kamu ingat, dulu waktu lulus SD, kamu juga kehilangan teman-teman dekat karena kamu harus berbeda sekolah dari mereka, tapi apa yang lantas terjadi di SMP, Kamu mendapat teman-teman baru yang juga tak kalah baik, sementara teman SD kamu masih menjadi teman selamanya.. Iya kan?
Begitupun nanti, di SMA, kamu juga pasti menemukan teman-teman baru, orang baru, Guru baru, lingkungan baru, jangan pernah takut dan khawatir ya sayang"
Penjelasan Mama memang masuk akal, Aku percaya, seiring berjalannya waktu... Aku dan Dirga juga pasti saling melupakan, apalagi nanti di SMA, Dirga bertemu teman Cewek yang jauh lebih cantik pasti dia juga bakalan lupain Aku, begitupun Aku.
Mama benar, apa yang perlu Aku khawatirkan, semua akan berlalu dan baik-baik saja.
Aku melepas pelukan Mama.
"Iya Ma.. Vina paham.. makasih ya Ma..."
Jawabku menyeka air mata.
"Ya udah, jangan sedih-sedih lagi ya... yuk kita makan."
__ADS_1
Aku mengangguk,
Bersambung***