
Pulang ke kost an dengan hati bercampur aduk, bahagia, takut, sedih dan masih banyak lagi perasaan-perasaan yang lainnya yang kini memadati hatiku.
"Ya Tuhan... apa yang baru saja kulakukan pada Vina tadi?"
Ujarku pelan lalu menghempaskan tubuh diatas tempat tidur.
Pikiranku melayang, mengingat potongan kejadian didepan rumah Vina tadi,
Aku menyentuh bibirku, lalu memejamkan mata meresapi kembali rasa yang sempat membuatku hanyut terbuai.
Rindu itu pelan-pelan kembali menyusup masuk dan menempati ruang hati.
Namun tiba-tiba mataku terbuka dan duduk dengan perasaan cemas.
Bagaimana jika Vina marah dan membenciku atas perbuatanku tadi?
Bagaimana jika Vina menjauhiku?
Bagaimana jika Vina tak ingin lagi mengenalku?
Ketakutan kini menyergapku,
Tidak!! Aku tidak ingin itu terjadi!!
Aku masih ingin bersama Vina meski bukan menjadi siapa-siapanya!
Aku berdiri, dan mondar mandir mengusir gelisahku,
Lalu kuputuskan untuk menelpon Vina untuk meminta maaf.
Segera kuraih ponselku, dan menelponnya.
Nada sambung panggilan terdengar, namun panggilanku tak kunjung di angkat, hal itu semakin membuat hatiku cemas.
"Ayo Vin,, angkat donk...Aku mohon"
Batinku.
Disekian detik,
"Ya Haloo...."
Terdengar suara ketus dari seberang sana.
Alhamdulillah,, akhirnya Vina mengangkat teleponku, lega namun masih berdebar-debar.
"Belum tidur?"
Tanyaku masih dalam perasaan was-was.
"Ya, kalau Aku tidur mana mungkin bisa angkat telepon kamu!!"
ketusnya lagi.
"Iya maaf, ehm Vin.... tentang yang tadi terjadi, Aku...."
belum sempat kulanjutkan kata-kataku, Vina telah lebih dulu memotong omonganku.
"Stop!! gak perlu dibahas!"
__ADS_1
Sanggahnya, nada kesal masih sangat jelas terasa.
"Ehm... Aku tau, kamu kecewa sama Aku, tapi.. izinkan Aku meminta maaf"
ucapku tulus dari lubuk hati, sungguh... Aku takut kehilangan Vina.
"Gung, udah ya... lupain aja, anggap itu tak pernah terjadi,"
Ujarnya membuatku semakin merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, namun begitu.. Aku tetap berusaha bersikap tenang.
"Ehm..... Vin, kamu lagi apa? Apa kamu merasakan sesuatu dihati kamu?"
Vina tak menjawab, hening sesaat antara kami, kemudian tak lama,
"Ehm... merasakan apa? gak ada!! Aku udah mau tidur"
ketusnya lagi.
"Oh, Mungkin Aku saja yang terlalu percaya diri, Aku pikir.. kamu...."
"Kamu apa??"
Potong Vina dengan nada tinggi, membuatku sedikit ngeri mendengarnya.
"Ahh... enggak deh.. heheh"
kilahku, tertawa palsu, padahal kenyataannya Aku hampir tak bisa bernafas karena terlalu cemas.
"Ihh... apaan sih, gak jelas!! Kamu buruan tidur, ntar besok kesiangan"
Ya Tuhan... Vina masih perhatian? atau ini hanyalah bentuk pengalihan pembicaraan yang dilakukan Vina agar Aku tak menyenggol lagi masalah tadi.
kini kebimbangan muncul dipikiranku.
Entahlah, mengapa Aku bisa seagresif ini, bertanya pada Vina, padahal jelas-jelas itu hanyalah kesia-siaan, karena tak kan membuat luluh hatinya dan mengizinkanku masuk kedalamnya.
"Mulai dehhh... Udah, gak usah kangen-kangen, sampe sana, buruan cari pacar ya... biar ada obatnya kalau kangen"
jawab Vina.
"Vin, Kalau obatnya kamu gimana?"
Ucapku masih terus berharap entah sampai kapan.
"Ya gak bisa lah, kangen nya Aku udah ada yang pesan, udah gak ada stok!"
Jawab Vina kembali mematahkan hati yang sebenarnya sudah tak kelihatan bentuknya lagi.
Seharusnya Aku sadar dan tau sejak awal, akan seperti ini jawaban yang keluar dari mulut Vina, tapi kenapa masih saja Aku memancing pertanyaan yang pada akhirnya menyakiti hatiku sendiri, kini yang kulakukan hanyalah menelan ludah dan pahitnya rasa kecewa,, tapi sungguh Aku kuat dan sudah sangat terbiasa dengan rasa seperti ini.
"Oh, iya ya... Aku sering lupa, tentang abadinya cinta pertama kamu!"
Aku berusaha baik-baik saja, selalu baik-baik saja, Aku sudah kebal dengan rasa kecewa seperti ini.
"Hahha... bisa aja!!"
"Gak papalah, Aku bukan cinta pertama kamu, Aku tetap berharap suatu saat jadi cinta sejati kamu.. hehehhe"
kalimat yang kujadikan sebagai penghibur diri sendiri saat mentalku benar-benar jatuh dan semangatku sedang diuji.
__ADS_1
"Jiaahhh... ngomong apaan sihh!!"
"Vin, suatu saat jika tak juga ada kepastian dari Dia, dan kamu lelah, kamu bilang ya... izinkan Aku menghapus lelah itu dengan rasa yang Aku punya.."
Lagi-lagi hening, Vina diam tak menjawab.
"Vin... kamu masih mendengarkan Aku kan?? Halooo, Vin tidur ya??"
Aku mencoba menyadarkannya jika memang ternyata Vina tengah tertegun karena ucapanku.
"Eh.. iya,, halooo... Iya Aku dengar kok.."
Vina menjawab terbata, menandakan bahwa ia baru saja melamun,, entah apa yang dipikirkannya, ya... semoga saja kata-kataku bisa sedikit membuka hati Vina mengenai keyakinannya akan cerita tentang sebuah cinta pertama.
"Kamu kenapa? ucapanku membuat Kamu gak nyaman ya?"
Aku mencoba menebak.
"Ehm... enggak kok, kata siapa??"
"Aku gak pernah maksa kamu untuk memilih Aku, Aku juga gak bilang bahwa Aku lebih baik, tapi Aku janji dengan diriku sendiri bahwa Aku akan selalu ada untuk kamu,"
Aku semakin gencar.
" Makasih ya Gung... kamu sahabat terbaik! yang pernah Aku kenal"
Jawaban ini,, sebenarnya biasa saja... tapi entah kenapa hatiku perih mendengarnya,, padahal ini adalah kenyataan yang seharusnya bisa kuterima lapang dada karena memang seperti inilah hubunganku dan Vina sejak dulu.. tapi kenapa...kini menjadi luka setiap kali Aku mendengarnya?
Tapi ah.. sudahlah,, Aku tak ingin berlarut-larut dalam perasaan sakit hati.
Anggap saja,, ini adalah perjuangan yang belum usai.
Telepon berakhir,
Dan Aku tertidur dalam buai harapan.
......................
Selepas subuh, Aku sudah bangun, bersiap untuk pulang ke Samarinda dan kembali meninggalkan kota kelahiranku.
Mengemas ransel dan duduk sendiri ditepi tempat tidur menunggu hari sedikit terang.
Setelah mengembalikan kunci kamar dan kunci kotor, Aku dengan taxi online meninggalkan kost-kost an menuju bandara yang letaknya tidak terlalu jauh.
Masih menunggu,
Sesaat sebelum Terbang meninggalkan Palembang, Aku sempat menoleh kebelakang berharap Vina tiba-tiba muncul untuk sekedar melambaikan tangan dan tersenyum padaku,, tapi itu tak mungkin terjadi.
Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan memeriksanya.
Nihil, tak ada telepon ataupun pesan yang masuk, itu artinya memang Aku bukanlah orang yang spesial dihati Vina, bahkan untuk sekedar mengirimkan pesan hati-hati dijalan saja Vina tak ada waktu.
Lantas, apa Aku harus kecewa karena ini?
manusiawi sekali, tapi tentu saja tak mengurangi rasa sayang dan cintaku untuknya,, Aku sudah buta... Aku sudah tuli bahkan mungkin Aku sudah Gila hingga tak bisa lagi Aku melihat cinta yang lain,, Karena Vina seolah telah mengikatku dengan rantai-rantai pesonanya hingga sulit untuk Aku berlari bahkan bergerak sekalipun.
Terbersit dihatiku keinginan untuk menelponnya selain rindu mendengar suaranya, Aku juga ingin berpamitan, tapi.. ah.. sudahlah, bukankah semalam Aku sudah melakukannya, masalah rindu.. biarlah kusimpan rapat-rapat.
Aku mematikan ponsel yang tengah ku pegang,
__ADS_1
setelah Hari ini.. Entah kapan Aku akan datang lagi kesini,, namun Aku yakin.. suatu saat Aku akan kembali dengan rasa yang sama.. tak pernah berubah,, kecuali jika kepulanganku untuk menghadiri pernikahan Vina,, mungkin disitulah batas titik berhentinya sebuah harapan dan perjuanganku, dengan sangat ikhlas akan kurelakan Vina meraih bahagianya.
Bersambung***