Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 193 Tahun ke dua


__ADS_3

Masih pukul 8 malam, Aku beringsut dari sofa di depan televisi dan masuk kedalam kamar, menyusun semua perlengkapan sekolah yang akan kubawa besok pagi dan memasukkannya kedalam tas.


Besok adalah hari pertama masuk sekolah di kelas 2, rasanya sudah tak sabar ingin berjumpa kembali dengan Vina setelah libur panjang yang menguntai rindu padanya.


Karena bagiku saat ini hanya Dialah yang benar-benar bisa membuatku melupakan kesepian dihidupku setahun ini.


Pagi datang,


Dengan penuh semangat dan percaya diri Aku melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah, jauh di lubuk hati, Aku sudah bertekat dan meyakini diri untuk merubah sikapku pada Vina,, Aku tak ingin terlalu kaku dan gugup lagi jika bertemu,, Aku juga ingin sedikit lebih berani dan manis didepannya,, Aku harus lebih peka dan inisiatif, ini adalah tekatku di tahun kedua.


Lapangan sekolah tampak ramai, anak-anak baru yang akan melaksanakan orientasi memenuhi lapangan dan taman sekolah, namun mataku segera tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk menyilang kali di pinggir lapangan, ya... Dia yang selalu kurindukan.


kupercepat langkahku menghampirinya yang tengah melamun.


"Hai..."


Sapaku, tersenyum lalu duduk disampingnya penuh percaya diri.


"Eh..hai...."


Vina nampak kaget dengan kedatanganku secara tiba-tiba, gelagatnya menggambarkan jika Dia sedang salah tingkah.


Berkali-kali merapikan rambut, membetulkan poni, serta memainkan tali ransel yang sedang disandangnya.


"Suka deh, liat kamu kalo lagi gini"


Aku beranjak dari samping Vina dan beralih duduk berlutut di depannya, sambil menatap Wajahnya yang tertunduk malu-malu.


"Apa an sich,,☺️☺️"


Vina memalingkan wajah mencoba menghindari tatapanku.


"Beneran.... kesan nya jadi imut gitu"


"Udah ah..."


Vina menutup muka.


"Cie.. muka kamu merah..."


godaku yang sebetulnya juga deg-degan parah,, hanya saja Aku menahan sekuat hati agar bisa tetap santai di hadapan Vina


"Ah..kamu nyebelin..!!"


Vina beranjak, dan bersiap meninggalkanku dengan memasang muka kesal


"Hey.... mau kemana??"

__ADS_1


Cegahku menarik pergelangan tangannya.


Vina terdiam, matanya memandang kearah tanganku yang mencekal lengannya lalu kembali menatapku.


"Jangan pergi! Aku masih rindu"


Ucapku lantang,,


Ya Tuhan... Tak kusangka, Aku berani mengucapkan kalimat itu.


Mendengar itu, Vina terbelalak menatapku.


Tiba-tiba saja, ada rasa takut kalau-kalau Vina jadi ilfil gara-gara ucapanku barusan.


"Sini..duduk !"


Ajakku.


Vina mengikuti ajakanku,


"Kamu jangan ngambek ya,, Aku becanda, nich..."


Sambil merogoh saku, kuambil sebiji permen kopi dari sana dan kuberikan pada Vina.


"Apa ini??"


Tanyanya.


jawabku sembari tersenyum manis.


"Iya... Aku tau ini permen, maksudnya apaan ngasih permen?? emang nya Aku anak Tk"


Jawab Vina panjang lebar.


"Ehm....ini nich,, kamu harus tau, ada filosofi nya di balik permen kopi"


Jelasku,


Dengan mengernyit kan dahi, dan tatapan penasaran yang hebat, Vina menatapku penuh antusias mendengarkan penjelasanku dengan sedikit bergeser menghadapku.


"Apaan??"


"Dalam sebiji permen kopi, kita bisa merasakan 2 buah rasa yang berbeda, manis dan pahit, seperti itulah rasa persahabatan, kadang ada manisnya kadang ada pahitnya, ya.. kayak kita gini"


Seketika wajah Vina berubah, terlihat kaku dan canggung.


Aku merasa ada yang salah dengan ucapanku, hingga melukai hatinya.

__ADS_1


"Ehm... iya... sahabat ya? ya... bener sih, keren... ya keren.."


jawab Vina.


"He..eh"


Ya Tuhan,, apa jangan-jangan Vina kesal gara-gara Aku bilang persahabatan tadi ya? tapi masak iya Aku mesti bilang percintaan?!"


batinku.


"Aku kesana dulu ya,"


Pamit Vina meninggalkanku.


Bersamaan dengan itu, panggilan dari pengeras suara meminta semua siswa berbaris dilapangan.


Segera ku kejar Vina, dan meraih tangannya lalu menariknya kedalam barisan di tengah lapangan.


Vina hanya mengikutiku.


Hal yang kutakutkan terjadi, Vina tak bicara apa-apa Vina hanya diam tanpa ekspresi, sungguh berbeda tidak seperti pada saat awal berjumpa tadi.


"Woy.... melamun!!"


Nina yang tiba-tiba hadir membuat Vina terkejut.


"Eh...Nin,, dicariin dari tadi... kok baru nongol"


ucap Vina.


Aku menoleh sekilas.


"Iya, Aku telat bangun,,kebiasaan libur bangun nya siang..hehehe"


"Eh vin, semoga kita satu kelas ya.."


Sambung Nina lagi,


Dalam hatiku juga berharap Agar Aku juga masih bisa satu kelas dengan Vina.


Hal yang kami harapkan jadi kenyataan, Aku, Nina dan Vina kembali di pertemukan dalam satu kelas.


Kali ini, Aku memutuskan untuk duduk berdekatan dengan Vina.


Andai saja tidak ada Nina, ingin rasanya Aku duduk di sebelah Vina,, tapi sayangnya Nina tak mungkin dipisahkan dari Vina, apa boleh buat, Aku memilih duduk di depan mereka.


Berada di dalam satu kelas, bahkan kali ini dengan jarak yang dekat membuatku lebih bersemangat, itu artinya kapan saja Aku bisa menolehnya untuk menatap mata indah itu,, setiap saat Aku bisa dengan leluasa mendengar suaranya bahkan kini Aku juga tak lagi susah untuk mengajaknya bicara.

__ADS_1


Meskipun sejak dilapangan tadi sampai saat ini, Vina masih saja diam.


Bersambung***


__ADS_2