
AKu baru saja selesai mandi, ketika kudengar suara deru mobil berhenti tepat didepan rumahku, senyumku terkembang lebar,, yakin bahwa yang datang adalah Dirga.
Bergegas Aku bersiap,
Tok... Tok.... Tok...
"Vina.... ada Dirga..."
Seru Mama dari depan pintu kamar yang masih terkunci rapat.
"Iya Ma,, Vina siap-siap dulu..."
Ujarku begitu pintu kubuka kemudian kututup lagi begitu Mama mengangguk tersenyum dan berlalu.
Didepan cermin, Aku menatap pantulan wajahku sendiri,, masih terasa seperti mimpi akhirnya Dirga bisa sampai kesini,, kerumah ini.. walau Aku tak tahu bagaimana nanti cerita kedepannya,, yang jelas.. bahagia sampai disini saja Aku sudah bersyukur,, setidaknya.. sudah tak ada lagi beban dan kebohongan yang Aku lakukan pada orang-orang disekitarku.
Tapi... tunggu dulu,
Aku tiba-tiba mengingat sesuatu,
Kebohongan?
Ya masih ada kebohongan dalam hubungan ini, tentang Diri Dirga dan pekerjaannya,, meski itu sepele tapi tetap saja itu sebuah kebohongan.
Aku harus menanyakannya nanti!
Batinku.
Tinggal langkah terakhir,, yaitu memoleskan lipstik di bibirku yang masih nampak pucat, memilih warna nude lalu mengoleskannya ke bibirku dan Aku tersenyum,, namun tiba-tiba saja Aku merasa tak menyukai warna itu di bibirku,
"Hem.. Kenapa Aku seperti tak berwarna!!"
Batinku.
Kembali menghapusnya dan menggantinya dengan warna merah terang menyala,, namun Aku terbelalak melihat wajahku sendiri kemudian tertawa geli..
"Ah... tidak... tidak,, Aku terlihat seperti perempuan penggoda"
Ujarku pelan, sembari menggelengkan kepala, Dengan cepat Aku menghapusnya, kemudian kembali memilih yang lain,
"Ehm... mungkin ini,,!!"
Kali ini warna moroon yang ku sapukan tipis-tipis pada bibir,
"Astaga!!! kenapa seperti Ibu-ibu?"
Ucapku kaget.
"Ahh... Aku kenapa sih,, pakai lipstik aja sampe serepot ini?
Padahalkan semua ini koleksi ku, bahkan setiap hari kupakai, tapi kenapa hari ini Aku merasa semua warna ini jadi tak ada yang cocok denganku?!"
Umpatku, menghembuskan nafas kasar.
"Apa ini semua gara-gara mau ketemu Dirga,, jadinya Aku salting sendiri!"
Aku memejamkan mata dan tersenyum geli sendiri.
Lama menatap deretan koleksi warna lipstik yang berjejer rapi dan akhirnya tanganku meraih lipcream berwarna pink lembut, dan memoleskannya tipis, kali ini Aku tersenyum dan beberapa kali mendekatkan wajah kearah cermin memastikan wajahku terlihat cantik dan natural.
Setelah kupastikan semua aman Aku menarik nafas dan mengaturnya setenang mungkin, kemudian meraih Tas dan beranjak meninggalkan kamar, berjalan pelan menuju ruang Tamu.
Terlihat Papa sedang duduk berhadapan dengan Dirga, tak lama Mama datang dari arah dapur membawa dua cangkir Teh dan beberapa potong kue.
"Loh udah mau jalan Vin? nanti dulu, Mama baru juga bikin minum"
Tegur Mama padaku membuat Dirga dan Papa kompak menoleh kearahku dan Mama.
"Ehm... belum Ma,, Ehm,, sini biar Vina aja yang bawa Ma.."
__ADS_1
Jawabku gugup lalu mengambil alih nampan yang berada ditangan Mama, kemudian berjalan kearah kursi Tamu.
"Ini tehnya Pa... ehm.. silahkan diminum Dir"
Aku meletakkan cangkir teh milik Papa dan juga mempersilahkan Dirga untuk minum, mata Dirga memandangku, dari ujung rambut hingga ujung kaki,, kemudian tersenyum simpul.
Begitupun Aku, yang begitu terpesona dengan penampilannya hari ini, meski hanya dengan mengenakan kaos yang dilapisi jaket jeans tapi sungguh dimataku Dirga keren sekali.
Dirga meraih cangkir teh yang kusuguhkan dan mengangkatnya.
"Makasih Vin,,, Diminum ya Tante, Om..."
Ujarnya.
"Iya silahkan... "
Jawab Papa yang juga kemudian menyeruput teh hangat miliknya.
Tak lama setelah ngobrol,
"Ehm... Om, Tante.. Dirga mau pamit, mau ngajak Vina main kerumah ketemu sama Paman dan keluarga yang lain,,"
"Oh, ya gak papa, pergi aja.. asal jangan sampai malam ya,, meski kalian sudah sama-sama dewasa,, tapi Om, masih sering was-was kalau Vina keluar malam"
Pesan Papa pada Dirga.
"Baik Om,, sebelum jam 9 Dirga pastikan Vina sudah kembali"
Jawab Dirga mantap, kemudian melirikku, membuat hampir lepas jantungku.
Ya Tuhan, ini bukan pertama kalinya Aku bertemu dan menerima lirikan itu dari Dirga namun entah mengapa,, selalu dan selalu saja gagal tenang.
Mama dan Papa mengantar kami sampai ke teras, lalu berbalik masuk ketika mobil berlahan melaju meninggalkan pelataran rumah.
Didalam mobil,
Hening...
Sesekali Aku bisa merasakan bahwa Dirga tengah melirikku.
Hal itu menciptakan debaran-debaran yang tak karuan dihatiku.
"Nih....!"
Dirga menyodorkan sesuatu didepan mukaku membuat Aku terkejut dan buru-buru menerima benda tersebut dari tangan Dirga untuk melihat apa yang ia berikan kepadaku.
"Hah,, apa ini?!"
Tanyaku bingung, menatap tablet hisap vitamin c rasa jeruk ditanganku.
"Emangnya kamu gak tau itu apa?"
"Ya tau... maksud Aku kok kamu ngasih ini?"
Aku menunjuk Vitamin tersebut.
"Kamu lagi sariawankan?"
Jawab Dirga tenang dengan menolehku sesaat.
"Hah? sariawan? apa sih... jadi bingung?"
Jawabku sedikit membalik tubuhku kearah Dirga.
"Iyakan? lagi sariawan?"
tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Lalu... kalau gak sariawan,, kok dari tadi diem? gak suka pergi sama Aku?"
Mendengar itu, Aku tersenyum,,
"Astaga... mau nanya kenapa Aku diem aja pake acara muter-muter Pake vitamin c segala??"
Ledekku pada Dirga berharap suasana segera hangat dan mencair.
"Lagian kamunya mendadak canggung gitu,, Aku kan jadi bingung mau mulai dari mana?"
Aku menatap Dirga,,
"Ehm,, Dirga... Dirumah kamu ada siapa aja?"
Tanyaku,
"Rumah Paman,"
Selanya.
"Iya, maksud Aku rumah tempat kamu tinggal sekarang ada siapa aja?"
"Rame... Ada Paman, bibi, syintia dan anaknya sama bella juga"
"Haduh.. kok Aku jadi gugup ya,,"
Aku mengatur nafas.
"Gugup kenapa? santai aja, mereka baik-baik kok.. gak makan orang!"
Dirga menolehku tersenyum.
"Bukan gitu,, tapi... ya.. maklumlah,, kan belum pernah ketemu, Aku gak pede..."
"Ngapain gak Pede... kamu baik.. cantik... dan pintar, kurang apa lagi?"
Aku menoleh Dirga, jantungku berdegup ketika senyum itu terkembang, terlebih dibubuhi pujian yang terlontar tulus dari mulutnya.
"Ya Tuhan... Dirga manis sekali..."
Batinku, sementara hatiku terus saja berdebar memainkan iramanya.
"Kamu tenang aja ya... mereka asyik kok"
Dirga mengusap pucuk kepalaku, membuat Aku merasa nyaman.
Sebenarnya, Aku ingin sekali bertanya tentang pekerjaannya dan maksud kebohongannya kala itu, tapi Aku takut akan merusak riak-riak ombak cinta yang tengah kunikmati deburannya saat ini.
Segera kuurungkan niat itu, nanti saja sepertinya waktunya belum tepat.
Tak lama,
Mobil memasuki kawasan perumahan komersil yang lumayan wah, jika dibandingkan dengan perumahan tempat tinggalku.
Tapi seingatku, Tari pernah cerita tempat tinggalnya bukan di daerah sini,, bukankah Tari bilang, rumahnya di perkampungan gitu, bukan komplek perumahan seperti ini,,
Lalu... apa itu artinya,, Dirga bohong lagi,,
"Ehm.. Dir,, nanti kamu kasih tau Aku ya.. rumahnya Tari yang mana,,"
Ujarku memancing.
"Ehm.. itu,, Eng.. Tari gak tinggal disini"
jawabnya gugup.
"Loh,, kan tetanggaan,, oh.. iya Aku lupa kamu pernah cerita Tari gak tinggal disini lagi,, tapi ya Gak Papa,, Aku cuma ingin tau rumahnya aja kok"
Sambungku lagi.
__ADS_1
"Bukan,, bukan Gitu... Aku yang udah pindah,, udah 3 tahun ini Aku pindah kesini"
Bersambung***