
Vina oh Vina, terkadang Aku menyesali mengapa Aku harus mengenalmu dulu dan terjebak disebuah ikatan persahabatan sejak kecil.
Andai kita tak pernah bertemu, mungkin Aku tak menanggung beban perasaan seperti sekarang.
Aku menghela nafas, dan menelungkupkan tubuhku pada meja, lalu kemudian memejamkan mata, masih ada sekitar 40 menit sebelum jam pulang.
Siapa tau dengan tertidur sebentar, hatiku akan baik-baik saja saat terbangun nanti.
40 menit berlalu,
Tettt..... Tettt .... Tett...
Bel sekolah membangunkanku,
Aku menggeliat sesaat kemudian mengusap wajah.
Mataku menatap Vina dan Tari yang sudah bersiap meninggalkan kelas.
Buru-buru kurapikan buku yang berserak dimeja lalu memasukkanya kedalam Tas.
Elza menghampiriku, lalu segera menarik lenganku.
"Buruan Niel... Aku pengen cepat-cepat rebahan!!!"
Rengeknya manja seperti biasa.
"Ya Tuhan.... sabar... sabar... ini tahun terakhir!!!"
Gumamku pelan sembari mengelus dada.
"Apa?? kamu barusan bilang apa?? kamu gak ikhlas???"
"Ikhlas za!! tapi makan hati!!"
Ujarku kemudian mendahului langkahnya.
"Ihhh... Daniel....!!!! tungguuuuuu!!!"
Elza mengejarku.
Aku tertegun tak jauh dari depan gerbang sekolah, langkahku terhenti, pemandangan tak indah tengah terpampang didepan mata.
"Niel... Ayo pulang ngapain matung disini!"
Elza menatapku heran.
"Za... kamu duluan gih ke parkiran,, nanti Aku nyusul, tiba-tiba perut Aku sakit"
__ADS_1
Ujarku berbohong , padahal kenyataannya hatikulah yang sedang tercabik-cabik.
Elza memelintir poni centilnya kemudian berbalik dariku dan melangkah menuju parkiran.
Mataku terus menatap Vina yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki diatas motor jadul, disana juga nampak Tari,
Mungkinkah itu Dirga yang selama ini dia maksud? atau itu temannya Tari?
Tak lama kemudian Tari melambai dan pergi meninggalkan Vina dan laki-laki itu.
Hatiku nyeri, mataku memanas.
"Ya Allah, ternyata sesakit ini rasa cemburu?"
Aku memegang dadaku yang detaknya memburu.
Melihat keakraban dari mereka, Aku bertambah yakin Dialah Dirga si cinta pertama Vina.
"Nina... iya, harusnya Nina tau dan kenal sama Dirga,, tapi kemana si beruang cantik itu??"
Mataku berkeliling mencari keberadaan Nina, namun tak kutemukan.
"Huhh,, cepat sekali menghilang!!"
Gerutuku.
Ingin rasanya Aku menjerit siang ini, tapi bisa-bisa Aku di amankan sama Pak Satpam sekolah karena dianggap sinting, atau malah dianggap sedang kerasukan jin penunggu sekolah.
Aku cuma bisa meringis mengepal kedua tanganku berharap bisa sedikit mengurangi kesal Dihati.
"Vinaaaa,, sesakit ini mencintai kamu!!!"
Gerutuku yang terduduk di sudut lapangan, meratapi nasib.
"Elza!! Astaga.. Aku lupa!!"
Aku beranjak dan bergegas lari keparkiran yang sudah nampak sepi.
Terlihat Elza mengibas-ngibas kan tangannya kearah leher dan wajahnya yang sudah dibanjiri keringat.
Mukanya cemberut, namun tetap tak mengurangi imut parasnya.
"Astaga!!! kenapa Aku jadi memuji Elza"
Aku bergidik.
"Daniell... kamu dari mana sich... lama banget, Aku hampir kering disini!!"
__ADS_1
Rengeknya lagi, yang sebenarnya cukup membuatku mual, tapi karena sudah terbiasa, ya Aku juga biasa-biasa saja menanggapinya.
"Siapa bilang kering?? tuh masih basah!!"
Aku menujuk wajahnya yang penuh keringat.
"Panas Danielll.... ini keringet,, tuh.. luntur deh bedak Aku,, jadi gak kece lagi kan?!"
Elza terus mengomel manja.
"Udah, gak usah bawel!! Ayo naik!! Udah mau pulang juga, ngapain masih mikirin bedak!!"
Aku menyerahkan helm pada Elza.
"Ihh,, tuh kayak gini nich wajar aja cewek pada gak ada yang mau deket sama Lu!!! kasar!!, gak perhatian!! Gak peka!! gak ada manis-manisnya sama sekali sama cewek!!"
Jleb..!
Omelan Elza barusan terasa menamparku.
Apa benar, sikapku seburuk itu dimata perempuan, benarkah hal itu juga yang membuat Vina gak bisa melihat hatiku.
Aku kembali merenung, namun tiba-tiba.
Plak!!
"Woy... buruannn!!!"
Elza menepak bahuku.
Aku tersentak, dan segera menyalakan sepeda motorku dan bersiap melaju.
"Siap-siap, pegangan yang kenceng, Aku lagi pengen ngebut!" Ujarku pada Elza.
Tanpa menunggu jawaban dari Elza, Aku melaju menembus jalanan kota yang padat di terik siang ini.
"Daniellll.... Akuuu belummm Mauuu Matiiiiii!!!!!"
Teriak Elza sembari meremas pinggangku.
"Lu gilaaa yaaaa....??! kalau mau matiiii jangan ngajak-ngajak Akuuuuu,, !!"
Sambungnya kali ini mencubit pinggangku.
Aku tak menghiraukan mulut Elza yang terus-terusan berteriak, Aku juga tak memperdulikan cubitan, remasan dan pukulan yang dilayangkan Elza ke tubuhku.
Bagiku itu tak seberapa sakit dibanding melihat Vina bersama laki-laki itu.
__ADS_1
Bersambung***