
Aku menarik lengan Dirga,
"Dirga tunggu dulu!!"
Seruku.
"Apa lagi? Kamu gak mau kita nikah?"
Jawabnya sengit.
"Bukan gitu,,"
"Lantas?? nunggu apa lagi... Aku udah kebelet tau!!"
Aku tertawa mendengarnya,
"Oke...!"
"Oke? Oke apa??!"
"Oke kita nikah!"
Jawabku.
Dirga menatapku matanya berbinar, senyumnya terkembang manis sekali.
"Yess!!!"
Serunya, mengepal tangan.
"Yuk....!! "
Dirga menarikku untuk segera meminta restu pada kedua orang tuaku.
"Assalamualaikum...."
Sapaku.
Tak lama,
Suara langkah kaki mendekati pintu dan Mama menyembul dari dalam.
"Walaikum salam"
Aku dan Dirga segera mencium tangan Mama dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Ehm.. Ma, Papa mana?"
Tanyaku begitu sudah berada di depan ruang tamu.
"Ada dikamar.. kenapa Vin?"
Tanya Mama menatapku penasaran.
"Ehm... Ada yang mau disampaikan Dirga Ma,, sama Mama dan Papa juga"
Jawabku.
"Disampaikan? "
Ulang Mama kembali menatapku dan Dirga bergantian, dengan dahi berkerut.
"Ya Tante,, ini tentang hubungan kami"
kali ini Dirga bersuara.
"Oh, ya udah.. tunggu sebentar ya... Tante panggil Om dulu"
"Baik Tante"
"Duduk dulu Dir, Aku buat minun dulu ya..."
Aku beranjak meninggalkan Dirga namun langkahku tertahan ketika dengan cepat Dirga menangkap dan menarik lenganku.
"Dir... kenapa? dari dulu gak pernah berubah!! suka sekali tarik-tarik tangan!"
Ujarku menoleh.
Dirga mengecup punggung tanganku dengan mata menatapku dalam dan hangat membuat dadaku bergetar,
"Otewe punya Baby!!"
Ujarnya pelan sembari memainkan alis matanya turun naik, membuat mataku terbelalak.
"Dirga!! Nikah aja belum dah otewe punya baby!!"
Jawabku menepuk jidat.
Haha... hhaha...haha...
Dirga tertawa lepas, sangat jelas terlihat raut bahagia luar biasa dari wajahnya sore ini.
__ADS_1
"Udah ah,, lepas..! Aku mau kebelakang"
Aku menarik lenganku dan bergegas ke belakang untuk membuat minum.
Tak lama Aku kembali dengan 3 gelas coklat panas dan segelas kopi panas.
Terlihat Mama dan Papa baru saja duduk di sofa ruang tamu menghadap Dirga.
Belum ada percakapan serius dari ketiganya sampai ketika Aku tiba di hadapan mereka.
"Sini, duduk sini Nak..."
Panggil Papa menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku mengangguk, lalu meletakkan minuman diatas meja sebelum akhirnya duduk disamping Papa.
"Mau ngomong apa Dirga?"
Tanya Papa, tak lama setelah menyeruput kopi panasnya.
"Begini Om, Kami berdua sudah sepakat memutuskan untuk segera menikah, dan maksud Saya berbicara dengan Om dan Tante adalah dengan tujuan untuk meminta restu,,, jika sudah ada restu itu,, besok lusa Saya akan membawa kelurga Saya untuk datang kesini"
Dirga berbicara sungguh-sungguh dihadapan kedua orang tuaku, terlihat dari tatapannya yang tak berkedip ketika bicara, serta tak ada ragu dalam setiap ucapannya.
Papa menatap serius wajah Dirga, kemudian beralih menatapku.
"Kalau kalian sudah sepakat dan yakin dengan keputusan kalian, kami sebagai orang tua setuju-setuju saja, dan hanya bisa berdoa agar semua dimudahkan,, kapan rencana baik itu akan kalian laksanakan?"
Tanya Papa,
"Bulan depan Om,, masalah tanggalnya... Kita belum pastikan.."
Jawab Dirga, Aku hanya diam mematung menyimak semua yang Dirga dan Papa bicarakan.
"Kalau nikahnya bulan depan,, itu artinya pertunangan dan acara lamaran?"
Dahi Papa nampak berkerut bingung.
"Ehm.. masalah itu, kami tidak akan menggelar acara pertunangan Om,, kami ingin langsung menikah saja, sementara lamaran akan diadakan ketika keluarga Saya datang kesini besok lusa"
"Ehm... gitu ya,, baguslah kalau kalian maunya begitu...lebih cepat lebih baik iyakan Ma??"
Jawab Papa tersenyum begitupun dengan Mama
"Alhamdulillah,, makasih Om, Tante sudah memberi Saya restu untuk menikahi Vina"
Bersambung***
__ADS_1