
Rindu terus bergelayut di hatiku, dua minggu terlewati setelah perpisahan itu, tak kudapati lagi senyum manisnya, candanya, rambut tanduk nya.
Ahh... Vina, sedang apa kamu disana? bahagiakah dengan teman-teman remajamu yang baru, masihkah kau mengingat Icikiwir, dan Aku tentunya??.
Sebenarnya Aku menyimpan nomor telepon rumahnya, ingin sekali hatiku menelpon Vina, cuma kadang Aku berpikir bagaimana kalau Orangtuanya yang mengangkat, perasaan takut dan khawatir itulah yang selalu menghantuiku setiap kali gagang telepon
Aku angkat untuk menelpon rumah Vina.
Tapi sepertinya Semesta sedang berpihak padaku, tanpa hujan dan angin tiba-tiba saja Anak-anak mengajak berkunjung kerumah Vina.
Tentu saja hatiku merekah, senyumku lebar tubuhku terasa seperti melayang, Aku sangat bahagia.
"Jadi nanti pulang sekolah, kita kumpul dirumah siapa??"
Tanya tari saat jam istirahat.
"Terserah sich, kalau Aku ngikut aja"
Jawabku tak henti tersenyum, terbayang sudah bagaimana mataku akan bisa kembali menatap si anak kuncir tanduk lagi setelah lebih kurang 2 minggu tak bertemu.
"Ada yang senang tuh.... senyumnya lebar sampai kuping!!!"
Ledek Diki disambut tatapan menggoda dari Elza dan Tari.
"Eh, Dik.. gimana kalau kumpulnya dirumah kamu aja ya...."
Tari menyuarakan pendapatnya.
"Oke....!! Aku tunggu ya, kita kesana naik ojek ya..."
Sahut Diki.
Waktu yang kutunggu-tunggu tiba, Aku sudah tak sabar ingin cepat pulang dan bertemu Vina.
Tergesa-gesa Aku pulang kerumah untuk berganti pakaian, makan siang dan segera meluncur kerumah Diki, ternyata disana sudah ada Elza dan Tari yang sampai lebih dulu.
"Niel, telpon Vina dulu gih, takutnya Dia gak ada dirumah.."
Tari menyarankan Aku menelpon Vina dari rumah Diki.
"Iya bener Niel, buruan telpon!!"
Seru Elza.
Hatiku bersorak riang, seperti mimpi... untuk pertama kalinya Aku menghubungi Vina via telepon.
Aku berjalan kearah meja telepon rumah Diki, tanganku sedikit gemetaran ketika menyentuh gagang telepon dan mulai menekan nomor telepon rumah Vina yang sangat kuhafal luar kepala.
Tutttt...
Terdengar suara panggilan tersambung dari seberang sana.
Tak berapa lama,
Klik..
telepon terangkat.
Deg!!
Jantungku tiba-tiba berdetak dadaku berdebar-debar menantikan suara sapa diseberang sana.
"Iya Tante,,kenapa...??"
Terdengar suara Vina yang sedikit membuat dahiku berkerut bingung.
"Tante??"
batinku.
"Woyyy,,, Tante siapa??"
Jawabku.
"Ohh,, sorry-sorry...!! salah,, Kupikir tadi Tanteku."
Suara Vina terdengar lagi, ternyata Dia salah kira tentang siapa yang menelponnya, disambung dengan tawa renyah yang membuatku candu ingin berlama-lama mendengar tawa itu.
"Vin,, Ntar sore kami mau kerumah mu ya..."
Kupaksakan untuk bersuara meski sebenarnya Aku begitu gugup hampir tak bisa berkata-kata.
Agak lama terdiam, akhirnya Aku mendengar kembali suara itu.
"Yang benar??"
Tanyanya seolah tak percaya.
"Iya,, ini aku lagi dirumah Diki."
Aku menoleh Diki.
"Ada cemilan kannnnnn?"
Seru Diki dengan lantang.
"Tuch... Dengerkan suara Diki??"
Aku mencoba meyakinkan.
"Iya.. Iya...Percaya..
oke Aku tunggu yaaaa...
ya udah bye..."
Klik,
Vina mematikan telponnya tanpa memberiku kesempatan untuk bicara lagi.
Mau tak mau Aku kembali meletakkan gagang telepon dan gontai melangkah kembali bergabung dengan Diki dan yang lain.
Kami sudah bersiap menunggu Ojek di depan rumah Diki, hampir jam 2 siang, ketika Kami semua meluncur kerumah Vina.
Hatiku terus berdebar tak sabar.
4 motor melaju membawa kami.
__ADS_1
Tepat didepan rumah Vina, ojek kami berhenti, terlihat seorang remaja cantik tengah menunggu kami di depan teras rumahnya.
Ya, Dia adalah Ervina Delia gadis kecil yang telah mencuri hatiku dan membawanya pergi bersama rindu.
Tapi tunggu,,,
Dia benar Vina, tapi dengan penmpilan yang berbeda..
Aku terperangah, Dia semakin manis dengan rambut lurus yang digerai sebahu, nampak melayang-layang tertiup angin.
Benar-benar mataku tak berkedip, memandang pesonanya yang kini tengah melompat-lompat bersama Tari dan Elza, di iringi tawa renyah yang rasanya sudah lama sekali kurindukan.
"Ayo..ayooo..masuk..ya ampunnn..kangen kaliannn"
Ujarnya mempersilahkan masuk.
Aku yang segera tersadar dari hipnotis alami pesona Vina cepat-cepat mencegah langkah Vina dengan berdiri didepannya, menatapnya lekat dari atas hingga bawah.
Ada decak kagum yang ku gambarkan lewat pandanganku yang mungkin saja tak pernah disadari Vina.
"Ada yang aneh gak sih,,dari Vina??"
Ujarku menarik perhatian yang lain untuk mendekatiku dan turut memperhatikan Vina.
"Apaan sich??"
ujar Vina malu-malu.
Sikapnya semakin membuatku gemas.
Lalu Tari, Elza dan Diki menyerbunya dari depan,,mereka pun melakukan hal yang sama seperti yang Aku lakukan.
"Iyaaa ..ihh..kok..ada yang hilang"
Diki menimpali, yang di iringi tawa cekikikan dari Tari dan Elza.
Tentu saja Vina tak dapat menghindar.
"Vin,, tanduk kambing mu kok gak ada lagi??"
Ujar Elza.
Lagi- lagi mereka tertawa, kali ini sampai terbahak- bahak.
Sembari memainkan rambut lurus nan indah milik Vina.
Sementara Vina hanya bisa pasrah sambil ikut tertawa meski dengan wajah merona yang semakin menambah manis wajahnya.
Ingin sekali Aku mencubit pipi gemasnya.
Aku terus menatap Vina.
"Jangan- jangan,,, Vina sekarang udah punya pacar yaaaaa"
Ledek Elza.
Deg!!
Lagi-lagi jantungku berdegup mendengar dugaan Elza, entah kenapa rasanya tak rela.
"Bener juga ya za,, gara-gara udah pacaran makanya gak kuncir 2 lagi hahahah..."
"Cieeee,,,yang udah puberrrrr"
Tari pun turut bersuara.
Diikuti tawa dari semua nya, termasuk Aku yang sebenarnya merasa gerah.
"Eh..vina udah puber ya,,?? terus puber itu apa sich??"
Pertanyaan Elza barusan membuat kami semua saling pandang lalu kembali tertawa.😆😆😆
"Elzaaaaa,,,oh Elzaaa... kirain Smp bikin kamu sedikit naik tingkat,, ternyata....ehmmm,, pengen Aku geplak tu muka,,tapi takut Dosa"
Ujar Diki geram.
Tari mendekati Elza yang masih termangu bingung,
"Za,, Puber itu singkatan dari pubertas, yang artinya masa-masa peralihan kita yang dari anak-anak menjadi remaja.
Akan banyak hal yang terjadi pada masa itu..
Perubahan fisik, sikap dan emosi.
salah satu nya ya itu.. mulai tertarik pada lawan jenis, istilah nya mulai cinta-cinta an alias pacaran."
Tari menjelaskan secara detail kepada Elza yang terlihat menyimak dengan seksama.
Begitupun dengan Aku yang merasa jika puberku bahkan sudah dimulai lebih awal.
Ingin sekali Aku bertanya benarkah dugaan Elza dan Diki pada Vina, tapi Aku tak siap jika nanti pertanyaanku malah akan menjadi bahan ledekan teman-teman yang lain.
Aku cuma bisa pasrah dengan harapan hal itu tidak benar.
Aku terus memandang Vina yang asyik bercengkrama bersama Elza dan Tari, ingin rasanya bilang kalau Aku kangen, tapi Aku malu.
Vina beranjak ke dapur dan kembali dengan seteko sirup ditangannya.
"Nich minum,,dah Aku siapin"
Tawarnya.
"Gimana,,disekolah baru??"
Sambungnya lagi.
"Asyik Vin, seru,,, banyak anak cewek nya"
Jawab Diki, yang memancingnya untuk di soraki Elza.
"Huuuuuu "
"Kalian masih satu kelas ya?"
tanya Vina lagi.
"Enggak Vin, Aku dan Tari sekelas, kalo Elza sekelas sama Diki"
__ADS_1
Aku menjelas kan pada Vina dengan mata terus menatapnya lekat.
"Kamu gimana disana?? "
pancingku.
Sembari menuang es sirup di gelas kami, Vina mulai bercerita tentang sekolah barunya.
"Jadi,, di kelas Aku menjabat sekretaris, Aku punya teman yang lucu dan unik,, Dia keturunan orang cina namanya Nina.
Ada lagi Dirga,, Dia ketua kelas, Dia..."
Ucapan Vina terhenti,,
Hatiku seperti tersengat mendengar nama yang baru Dia sebut dengan ekspresi tak biasa.
Aku merasakan panas di dalam hati seketika, tentang nama Dirga yang ia sebut sebagai ketua kelasnya, mungkinkah Vina menyukainya??
"Ya tuhan... beginikah rasanya cemburu?? kenapa begitu ngilu, padahal Aku sendiri tak tau bagaimana rupa si Dirga!"
batinku.
"kenapa dia??"
Tari menyambung ucapan Vina yang terhenti.
"Gak pa-pa, Dia.. dia baik seperti kalian"
Sambung Vina dengan sedikit gugup dan salah tingkah.
"Eh,, tau gak Vin,, Daniel ada pacar sekarang..hehhehe.."
Ucapan Elza di iringi sorakan dan tawa dari semua.
Tentu saja itu membuatku malu dan berharap Vina tak mempercayainya.
"Enggak..enggak Vinn,, bohong luuu!!!"
Aku segera menampik ceplosan Elza barusan.
"Hhhhaa,, iya juga gak pa-pa kali niel.."
Diki menggoda Daniel sembari memasang wajah yang sangat menyebalkan.
"Iya Vin,, pacarnya gendut...item lagi..wkwkwkw"
Elza lagi-lagi menggodaku membuat Aku benar-benar kikuk.
Aku tak bisa berbuat apa-apa selain memasang tampang masam kepada Elza,,yang di iringi cekikikan dari Elza dan Diki.
Sementara Tari,, memperhatikan dengan tersenyum lebar.
"Trus..trus..Diki gimana??"
tanya Vina lagi.
"Ahhh kalo Diki mah gak ada yang mau Vin,, orang dianya selengek an gitu!! hhahahha"
Elza seolah tak ada habis nya menggoda.
Diki menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa malu.
"Eluuuu ya Za... awassss aja"
Diki mengancam Elza dengan mengepalkan tangan nya ke arah Elza,,
Elza hanya cengar cengir sesekali melelet kan lidah nya ke arah Diki.
"Oh iya....Tari gak ditanya vin??"
Aku balas bertanya pada Vina yang tertegun sesaat.
"Tari sedang di taksir ketua osis...wkwkkwkw"
lagi-lagi Elza yang menjawab.
Tari buru- buru menutup mulut Elza dengan telunjuk nya.
Tapi terlambat, kata-kata itu telah meluncur lebih dulu.
"Wawww... seru ya kalian disana, andai Papa mengizinkan Aku sekolah disana kemarin, pasti Icikiwir..tetap utuh"
Ujar Vina, terlihat kesedihan tergantung di matanya.
Tari mendekati Vina,
"Gak papa sayang, icikiwir gak akan bubar,,kita cuma terpisah jarak.. tapi hati kita selalu sama- sama."
Vina, Elza dan Tari saling rangkul
"Ehhhmmm so sweeetttt...."
teriak mereka.
Sementara Aku dan Diki memandangi mereka.
Ingin rasanya Aku turut serta, tapi itu tidak mungkin.
Menjelang petang, Aku dan semua pamit pulang, sebenarnya Aku masih ingin bersama, masih ingin bercerita dan menatap wajah gemasnya yang begitu menggoda.
"Kami pulang ya sayang..."
Pamit Tari,saat kami telah berada di teras rumah Vina.
Tak berapa lama,, ojek pesanan tiba dan kamipun meninggal kan Vina.
"Dah.... Vina...byee...."
Teriak Kami sambil melambaikan tangan dan
Vina membalasnya.
"Lain waktu kesini lagi yaaaaaa..."
Teriaknya yang sempat kudengar ketika ojek mulai melaju.
"Vina... Aku masih rindu!!"
__ADS_1
bisik hatiku ketika ojek mulai menjauh dan pandanganku tak sampai lagi menjangkau manisnya gadis kecilku yang kini tak lagi bertanduk.
Bersambung***