
Jam istirahat tiba, Aku yang tak bersemangat berjalan pelan keluar kelas meninggalkan Tari, Elza, Nina dan Daniel yang masih berada dikelas.Sempat terdengar olehku mereka yang saling bertanya tentang sikapku yang tiba-tiba berubah diam.
Langkah pelanku menyusuri koridor sekolah mengantarku pada perpustakaan, tak berniat membaca, hanya saja sepertinya perpustakaan tempat yang paling tenang saat ini.
10 menit terduduk dipojok ruangan, dengan sebuah buku yang tak kubaca,
Seseorang menyapaku.
"Vin..."
Panggilnya pelan.
Aku mengangkat kepalaku dan Daniel tersenyum.
"Hai..."
Aku membalas sapanya dengan mengulaskan senyum tipis.
Daniel duduk di depanku.
"Hei... kenapa murung? ada apa?"
Tanyanya.
"Gak kenapa-napa Niel... cuma males aja"
"Gak lah... Aku tau, ada yang kamu pikirkan"
Tebakan Daniel benar, Aku tengah memikirkan Dirga, mungkinkah Dia sudah melupakan Aku dan tak ingin lagi mengenalku, walau hanya sekedar menyapa lewat surat.
Ingin sekali rasanya Aku bercerita pada Daniel tentang yang Aku rasakan saat ini, tetapi mulutku terasa berat.
"Vin...."
Ulang Daniel membuat Aku buru-buru tersenyum menatapnya.
"Kenapa? cerita sama Aku, apa Dia nyakitin kamu?"
Daniel menatap dalam mataku.
"Hah??! Dia??! Dia siapa maksud Daniel? Apa jangan-jangan Daniel tau tentang Dirga, Ah rasanya tidak mungkin.. Tari tak mungkin bercerita pasal Dirga dengannya, Aku tau betul sifat tari yang selalu bisa menjaga rahasia, apalagi Tari sahabat terbaikku"
__ADS_1
Aku berkata dalam hati.
"Hei.... ditanya malah bengong!"
Daniel menjentikkan jarinya dikeningku.
"Hah, Dia siapa maksudnya?"
Tanyaku dengan cepat sembari mengusap keningku.
"Ya... Dia, pemuda yang beberapa hari ini menjadi bodyguardmu itu!"
Dari nada bicaranya, Aku yakin sekali sepertinya Daniel tak menyukai Agung,
Ahh... Syukurlah ternyata Dia yang dimaksud Daniel adalah Agung, bukan Dirga.
"Hahhaha... Bodyguard, kayak apa aja,, Agung maksudnya?"
Aku mencairkan suasana.
"Ya... mungkin, mau Agung kek, Akbar, Udin atau siapa, Aku gak mau tau siapa namanya!"
"Kok jutek??"
"Emang Dia siapanya kamu sih, Atau Dia Pacar kamu ya?? "
Pertanyaan Daniel membuatku kembali mengingat Dirga ketika dulu, Dia juga pernah menganggap Agung adalah pacarku, saat itu hatiku benar-benar berbunga mengetahui sebenarnya Dirga cemburu.. tapi itu dulu, masihkah Dirga akan cemburu melihat Aku bersama anak laki-laki lain saat ini seperti masa dulu?
Ehm... entahlah....
"Pacar?! ya bukanlah, Agung itu dah kayak saudara sama Aku, dia itu anaknya Tante Ruri sahabat Mamaku"
"Wah... bahaya.... nich!!"
Daniel menarik nafas dalam-dalam, membuatku menatapnya heran.
"Bahaya? Bahaya kenapa, jelas-jelas donk kalau ngasih info!"
Aku menatap Daniel serius.
"Ya itu tadi, bahaya.. udah kayak serial FTV, awalnya Anak teman Mama, abis itu dekat, akrab, terus dijodohin deh! Ckckckck"
__ADS_1
Danil menggelengkan kepalanya sambil mendecak decakan mulutnya.
"Ahh.. sembarangan kalo ngomong!"
Aku menempelkan buku tepat diwajah Daniel.
"Udah Ah, mau balik kelas"
Aku meninggalkan Daniel.
"Vin... Vin... tunggu dulu, Aku belum selesai nanya, kamu juga belum jawab!"
Daniel mengejarku dan menarik tanganku.
"Apa sih Niel, Aku gak kenapa-napa kok"
Kini Daniel berjalan disampingku.
"Vin, Kalau ada apa-apa tolong kamu jangan sungkan ya untuk cerita sama Aku, Aku 24 jam siap mendengarkan semua keluh kesahmu"
Aku menatap Daniel dengan senyum.
"Makasih ya, tapi beneran Aku gak apa-apa"
Aku berhenti melangkah dan meyakinkan Daniel.
"Aku gak mau ada yang nyakitin Kamu Vin, Aku gak mau kamu murung, apalagi sampai menangis, Aku ingin kamu selalu bahagia itu saja!"
Daniel menggenggam tanganku dengan sedikit meremasnya.
Deg!!
Jantungku seolah berhenti berdetak, ucapan Daniel barusan membuat Aku sedikit terperangah, terlebih ketika jemarinya tiba-tiba menggenggam dan meremas jari-jariku"
Untuk pertama kalinya Daniel berani menyentuhku.
Ada apa ini??
Aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Daniel, sontak hal itu membuat Daniel kaget dan salah tingkah.
"Ehm... Niel, Aku baik-baik saja, makasih ya.. kamu memang sahabat terbaik!"
__ADS_1
Ujarku kikuk, dan sepertinya Daniel menyadari hal itu dan Diapun kini terlihat canggung.
Bersambung***