Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 34 Seharian bersama Agung


__ADS_3

Selepas dari warung bakso, Agung mengantarku pulang, sepanjang perjalanan pulang, kami hanya saling diam.


Tiba dirumah,


"Kok lama Vin? itu siapa yang nganter?"


Tanya Mama ketika menyambutku pulang.


"Ayo tebak Ma.... Dia siapa?"


Jawabku cengar cengir.


Mama menatap bingung Agung yang masih diatas sepeda motor dan belum membuka helmnya.


"Siapa ya?? ehmmm..."


Nampak raut Mama yang makin penasaran.


Namun senyum Mama terkembang seketika, begitu Agung melepas helm dan berjalan mendekat pada Mama.


"Owalahhh.... Ini Agung, Ya Allah... makin tinggi, gagah ya... "


Komentar Mama pada Agung yang memberi salam serta mencium tangan Mama.


"Sehat tante??"


"Alhamdulillah Gung, sehat... Masuk yuk duduk..."


"Makasih Tante..."


"Kapan datang? gimana Kabar Mama kamu? Ya allah jadi rindu sama Ruri..., "


"Semalam Tante... kabar Mama sehat.. "


"Syukurlah... nginep sini ya Gung,"


tawar Mama pada Agung.


"Ehm... Maaf tante, Nanti aja Tante, lain kali kalau pulang kesini sama Mama aja, Agung gak enak..hehee"


"Loh kenapa? Anggap aja rumah sendiri Gung, emangnya kamu tinggal dimana?"


"Agung kost di dekat bandara Tante"


"Ohh... Ya udah, Buruan ganti baju Vin, abis itu ajak Agung Makan siang"


Aku mengangguk dan beranjak meninggalkan Agung Dan Mama yang masih mengobrol diruang tamu.


Dikamar, Aku kembali teringat surat untuk Dirga yang kutitipkan pada Tari.


"Apa Tari sudah memberikannya pada Dirga ya? trus Apa Dirga senang menerimanya, atau malah ilfill, Apa Dirga nanti akan membalas? atau malah cuek dan membuang suratku ke tong sampah?"


Gumamku sendiri.


Aku sungguh tak sabar menunggu besok.


"Ahh... lihat saja besok!"


Aku berjalan mendekati meja belajarku dan mencatat tanggal hari ini di dalam buku harianku agar Aku tidak lupa tanggal pertama kali ku kirimkan surat pada Dirga.


Setelah berganti pakaian, Aku kembali keruang tamu menemui Agung yang tengah duduk sendiri memainkan ponselnya.


"Ayooo... lagi balas2an pesan sama yayangnya ya.....?


Aku meledek Agung.


"Ngapain balasan pesan, kalau mau ngomong ya ngomong aja, orangnya ada disini kok"


Agung berceletuk yang membuatku sedikit terbelalak.


"Ada disini?? maksudnya???"


Tanyaku bingung.


"Iya... kan yayang nya kamu hehehhe"

__ADS_1


Agung kembali membuat pernyataan yang membuatku menelan ludah.


"Ihh.. garing Ah"


Aku menepis pernyataan Agung.


"Vinn..... Makan sini.. udah Mama siapin!!"


Seru Mama dari meja makan.


"Oh... iya Maaaa......"


Jawabku Segera memberi kode pada Agung untuk mengajaknya makan.


Dimeja makan,


Semangkuk besar sup ayam, tempe goreng tepung dan sambal tempe kacang tersedia.


Tak menunggu lama, kami berdua mulai menyantap masakan Mama yang tiada duanya dimuka bumi hehhe.


Selepas makan, Aku dan Agung memilih ngadem di teras rumah dengan duduk lesehan dilantai.


Masing-masing kami memainkan ponsel.


"Eh.. Vin, gimana kabar teman Smp kamu yang dulu suka cemburu liat Aku ngintilin kamu, apa masih kontak?"


Tiba-tiba Agung bertanya tentang Dirga.


Memang cuma dengan Agung lah, Aku sering bercerita tentang Dirga meski tak semua perasaanku kuceritakan padanya.


"Siapa??"


Jawabku pura-pura tak tahu siapa yang Dia maksud.


"Pura-pura gak ingat atau emang udah dilupain....???!"


Seloroh Agung membuat wajahku memerah malu.


"Dirga??"


"Nah... tuh masih inget,, Dir... gan... ta....ra...."


Agung kembali menggodaku dengan mengeja pelan nama Dirga.


"Gak kontak lagi,, tapi tadi disekolah, ternyata sahabat Aku tetanggaan sama Dirga, ya udah Aku kirim surat deh..."


"Hah???Apa??? Surat?? jaman dulu banget sih, emangnya teman kamu gak punya nomor telponnya, atau paling gak..ya... Akun medsosnya lah... masak iya Sidia gaptek, gak mungkinkan??!"


Jawab Agung panjang lebar.


"Ya... emang gak punya, mau gimana lagi donk..."


Jawabku santai.


"Coba Aku cari"


Agung mulai fokus pada layar ponselnya mencari Akun Dirga.


"Coba... coba,, siapa nama lengkapnya?"


Tanya Agung dengan mata tak beralih dari layar ponselnya.


Aku mendekat.


"Dirgantara Abinata"


Jawabku.


Setelah sekian detik, terlihat Agung menggeleng-geleng.


"Benerkan gak ada?"


Aku menyenggolkan bahuku pada bahu Agung.


"Rasa-rasanya tak mungkin anak jaman sekarang gak main media sosial,"

__ADS_1


Ujar Agung menatapku.


"Iya sih..."


jawabku membenarkan pernyataan Agung.


"Menurutku sih,, mungkin Dia pakai media sosial, Dia punya Akun tapi mungkin saja pakai nama lain, "


"Nama lain??"


Aku melempar tatapanku pada Agung yang disambut anggukan pelan dari Agung.


Hal itu membuat hati dan pikiranku kemana-mana.


Namun tak ingin galau, Aku mengalihkan obrolan dengan Agung.


"Oh ya,, kamu sendiri gimana?"


Tanyaku memiringkan kepalaku menatap Agung, yang dibalas lirikan hangat dari Agung yang sempat membuat hatiku sedikit bergetar.


"Gimana apanya,?? ya begini-begini aja"


Jawabnya singkat.


"Ih... ya gak gitu, maksud Aku tu, pacar!! mana fotonya mau lihat donk..."


Aku menadahkan tangan pada Agung.


"Ohhh.... Pacarrr, bilang yang jelas donk...tunggu!"


Agung mengotak atik ponselnya lalu menyodorkan ponselnya padaku.


Dengan cepat kusambar ponselnya, dengan perasaan tak sabar kubuka ponsel tersebut.


Namun sedetik kemudian kuserahkan kembali ponsel itu ditangannya.


"Aahhh... curang!! Serius donkkk,!!"


Aku menepak bahu Agung yang disambut tawa renyahnya.


"Hahhah... yaa... gak percaya? gimana cantikkan??"


Agung terlihat memandang sebuah foto dilayar ponselnya, yang tak lain adalah fotoku dengan seragam SMA tengah tersenyum.


"Lagian darimana dapetnya, nyolong dimana, dimedsosku ya... gak ijin lagi!!!"


Aku cemberut.


"Ngapain ijin, salah sendiri ngapain di pajang gak ada larangan buat orang ngesave!"


ujar Agung membela diri.


Aku mendengus dan meyilangkan tangan didada.


Waktu terus berjalan tak terasa Menjelang petang.


Agung berpamitan untuk pulang.


"Ehm.. Vin, besok kita nongkrong yuk.. ajaknya sebelum meninggalkan rumahku.


Aku mengangguk mengacungkan jempol tanda setuju.


Agung menyalakan motornya dan berlalu dari hadapanku.


Malam hari,


Hatiku terus gelisah, tak ada tanda-tanda Dirga menghubungiku.


Andaikan Dia sudah membaca suratku, setidaknya Dia berinisiatif meminta nomorku pada Tari dan mencoba menghubungiku, tapi sampai semalam ini, tak ada panggilan dari nomor baru.


Yang ada malah pesan-pesan yang tergolong sweet dari Agung untuku.


"Ahh... mungkin Dirga malu untuk menghubungiku lebih dulu, siapa tau balasan surat besok Dia mencantumkan nomor ponselnya."


bisikku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2