
Aku terus memperhatikan langkah buru-buru Vina meninggalkan Aku dan Salsa. Ingin sekali rasanya jujur ke Salsa bahwa saat ini Aku sedang jatuh cinta tapi entah kenapa rasanya malu sekali, padahal tak seperti ini biasanya.
Antara Aku, Salsa dan sepupu-sepupuku yang lain tak ada rahasia diantara kami,, kebetulan dalam keluarga hanya Aku laki-laki satu-satunya.
Jadi, selalu dan selalu Aku yang paling mereka andalkan dalam segala hal, terlebih ketika curhat tentang semua yang sedang mereka alami,, tapi kenapa disaat Aku sendiri yang ingin bercerita mulutku rasanya berat untuk bercerita pada mereka, antara segan dan malu menyatu.
Ahh,, nantilah.. mungkin memang belum saatnya Salsa, Syintia dan Bella tau tentang hatiku yang sedang cenat-cenut setiap kali bertemu Vina.
Bell berbunyi tepat ketika Aku tiba didepan kelas.
Aku berjalan menuju meja, sekilas mataku mengarah pada meja Vina, tak seperti hari-hari lalu, pagi ini Vina terlihat begitu cuek, padahal biasanya mata kami selalu beradu pandang meskipun pada akhirnya sama-sama membuang pandangan malu-malu,, tapi hari ini hal itu tak terjadi membuat hatiku sedikit kecewa dan bertanya-tanya.
Baru saja kuletakkan tas di dalam laci meja, belum lagi bokongku menyentuh kursi, Aku dikagetkan dengan kemunculan Salsa di depan pintu kelas.
"Dir..."
Panggilnya dengan wajah merah padam, entah apa yang baru saja terjadi padanya.
Salsa masuk kedalam kelasku lalu melangkah kearah tempat duduk menemuiku, terlihat ada sesuatu ditangannya.
Setengah berbisik Salsa menyerahkan lipatan kertas itu kepadaku.
"Kamu harus baca ini!!"
tegasnya.
Tak ingin ada yang melihat, Aku mengajak Salsa untuk keluar kelas.
"Apa ini Ca?"
Tanyaku pada Salsa begitu kami berhenti di koridor sekolah yang sudah sepi.
"Dia ngasih Aku surat!!"
jawabnya dengan nada kesal.
"Dia?? Dia siapa?"
"Itu,,si cowok tengil yang tadi Aku ceritain!! Ahh,, sebel!!"
Salsa melipat tangan di dada.
"Ohh... tuh betulkan dugaan Aku,, Dia naksir kamu"
ujarku tersenyum sembari perlahan membuka lipatan kertas surat ditanganku.
Sebuah surat yang bertuliskan kata-kata sederhana yang intinya menyatakan perasaan suka.
__ADS_1
"Terus,, Aku mesti gimana Dir??"
"Ya udah sih... santai aja, terima kalau kamu juga suka,, tolak kalau kamu gak suka,, mudahkan??"
"Ya gak sesimpel itu juga kali Dir!!"
"Kenapa enggak?!"
"Maksud Aku nolaknya gimana?! Ngomong sama Dia aja Aku males"
"Ya udah,, ntar kita lanjutin lagi pas istirahat ya.. Tuh,, Guru-guru udah pada keluar kantor mau masuk kelas,,"
Aku menunjuk para guru yang bersiap mengajar.
Salsa mengangguk, kemudian kami dengan langkah cepat kembali kedalam kelas.
"Selamat pagiiii...."
"Pagiii buuukkk...."
Jam pelajaran pertama dimulai, beberapa kali Aku mencoba mencuri-curi pandang kearah Vina,, tapi tetap saja Aku tak memperoleh kesempatan untuk saling pandang seperti kemarin-kemarin, bahkan sampai jam istirahat tiba,, Vina terasa berbeda.
Aku terus memandanginya berharap bisa melihat senyum manisnya untukku, tapi nihil yang ada Vina malah bergegas meninggalkan kelas.
Tak lama setelah kepergian Vina meninggalkan kelas, Aku berjalan keluar menuju ujung balkon dimana dari sana Aku bisa melihat dengan leluasa ke seluruh bagian penjuru sekolah.
Dan Ah,, rasanya menyesal sekali Aku memutuskan untuk mengetahui keberadaan Vina,,
Hatiku terasa panas, ketika kulihat dibawah sana Vina tengah berdua dengan salah seorang yang menjadi panitia orientasi kemarin, Aku masih mengingat betul wajah Anak laki-laki itu,, Dia Agung yang pada saat itu tak berkedip memandang Vina saat Vina terlambat.
Belum lagi detak jantungku kembali normal, kini kulihat tangan mereka bertaut,, ingin sekali rasanya berlari turun dan melerai tangan itu,, tapi siapa Aku? bisa-bisa Aku yang malu sendiri.
Aku hanya bisa mendengus sendiri, lalu mengepal tangan geram.
Aku seolah mendapatkan jawaban tentang perubahan sikap Vina hari ini.
"Ternyata mereka sedang pedekate,, pantas saja Vina seperti menghindariku"
gumamku dalam hati.
Sebisa mungkin kuatur nafas untuk menenangkan hatiku yang kini jadi kacau balau.
"Dirgaaaaaa,!!!"
Pekik Salsa sembari melambai dari depan kelasku.
"Dicariin ternyata mojok disini! ngeliatin apaan sich?"
__ADS_1
Salsa mencoba mencari titik jatuhnya pandanganku,
"Gimana-gimana? udah kamu terima??"
Sengaja kualihkan perhatian Salsa.
"Terima apaan? enggak lah,, Aku udah tolak,, "
"Kok bisa??"
"Aku bilang aja,, Aku udah punya pacar!!"
Salsa tersenyum sumringah.
"Punya pacar?? emang ada?"
"Sstttt.... jangan keras-keras,, nanti dia denger,, gak ada!! kan Aku pura-pura He.. he... he..."
"Ehmmm.. dasar"
"Biarin!! yang penting,, Dia gak lagi ganggu Aku!"
Setelah obrolan panjang dengan Salsa, Aku yang sedang tak enak hati memutuskan untuk masuk kedalam kelas.
Tak berapa lama, Vina dengan muka bertekuk, dan langkah cepatnya hampir saja menabrak Aku yang masih berdiri di dekat pintu.
Sebenarnya ingin sekali Aku tersenyum dan bertanya kenapa buru-buru, namun bayangan Vina dan Agung berpegangan tangan tadi membuat hatiku terasa berderit-derit.
Vina yang kaget menatapku tanpa ekspresi, sekian detik memandangnya, Aku memutuskan untuk menjauh dan meninggalkannya keluar kelas.
baru saja beberapa langkah keluar kelas, Aku mengurungkan niatku dan memilih kembali kedalam kelas. Aku dan Vina berpapasan di depan pintu kelas.
Aku melewatinya begitu saja menuju meja seolah tidak melihatnya
"Dirga..."
Panggilnya lembut, membuat hatiku bagai tersiram air dingin, sejuk sekali tapi bukankah saat ini Aku sedang kesal,, tak ingin kujawab sapaaan itu.
Aku hanya menolehku tanpa menjawab sepatah kata.
"Ini Aku mau ngasih struktur yang kemarin kamu suruh buat"
Vina menyerah kan kertas itu padaku.
Aku menerima kertas itu tanpa mengeluarkan sepatah kata, tak kuhiraukan Vina yang masih berdiri canggung disamping mejaku.
Bersambung**"
__ADS_1