
Dirga melangkah lebih dekat dihadapanku,
ia menyentuh daguku dan mengangkatnya,
matanya menatapku dalam dan teduh menyiratkan makna kerinduan yang lama terpendam.
"Vin, kenapa menangis??"
ujarnya sembari menyeka pipi dan sudut mataku.
Aku tak mampu berkata apa-apa, hanya menggeleng.
"Aku tau, ini salah Vin... ini mungkin terlambat.. tapi setidaknya Aku lega.. Aku lega bisa menyatakan ini pada kamu,"
Dirga menggenggam erat tanganku.
Aku menelan ludah,,
mendengar kalimat yang diucapkan Dirga,
Kata terlambat yang Dia ucapkan, membuatku tak dapat menahan derasnya air mataku,
Aku paham kata-kata itu, cinta ini memang terlambat, kini Dirga sudah bahagia dengan keluarganya, Aku tak mungkin merusaknya.
Tubuhku terasa ringan, kepala memberat dan langkahku pun terhuyung.
Dengan sigap, Dirga menangkap tubuhku yang nyaris tumbang, hingga Aku jatuh di dalam dekapannya, hangat dan nyaman.
Aroma tubuh yang maskulin menguar tercium rakus di hidungku.
Sungguh rasanya Aku ingin waktu berhenti, tak ingin momen ini berlalu,, dan jika ini adalah mimpi.. Aku tak ingin lagi terbangun dan menghadapi kenyataan pahit ini.
"Kamu tak apa-apa?"
Dirga membantuku bangkit dan menuntunku untuk duduk di bangku tepat di depan perpustakaan,
"Jangan menangis.., Aku tau ini berat.. "
ucap Dirga dengan masih menggenggam tanganku.
"Aku menyesal, tak menyatakan ini sejak lalu... dan ketika Aku tau kamu sudah bersamanya,, rasa penyesalan itu semakin dalam, tapi Aku belajar untuk menerima kenyataan, jika memang Dialah yang terbaik buat kamu bukan Aku"
Mendengar itu, Aku benar-benar sudah tak tahan lagi ingin mengeluarkan semua yang kutahan selama ini.
"Kamu yang jahat Dir!!!"
Teriakku histeris sembari berdiri, Dirga kaget menatapku yang tiba-tiba terbakar emosi.
"Maksud kamu??"
Jawabnya yang juga kini berdiri.
"Kamu yang menghilang begitu saja setelah hari itu!!"
"Vina... Aku..."
"Ssttt, Aku belum selesai!! Kamu bukan hilang! tapi menghilangkan diri!!
Kamu lupa, Kamu pernah meminta Aku untuk selalu mengingat kamu!! tidak melupakan kamu!!! Semua Aku lakukan Dir!! bahkan sampai kemarin sebelum Aku mendapatkan media untuk berkomunikasi sama kamu Aku masih terus mengingat kamu!!! tapi kamu???!"
Ujarku berapi-api.
"Vin..."
Ucap Dirga, namun sama sekali tak kuberi kesempatan Dirga untuk bicara dengan membentangkan telapak tangan di depan wajahnya.
"Bahkan bertahun-tahun Aku menunggu kabar dari kamu,, menunggu dan berharap suatu saat kamu datang menemui Aku,, tapi itu tidak pernah terjadi!!
Kamu tau Dir,, kubuang Maluku, kusingkirkan Egoku bahkan kujatuhkan harga diriku demi mengirimi kamu surat,, bukan sekali!!! bahkan sampai 2 kali!!! tak ada satupun yang kamu balas!!!
Sampai pada akhirnya Aku sadar bahwa kamu memang sudah melupakan Aku ketika kudapatkan kabar jika kamu sudah menikah dan punya anak!!"
"Vin, kamu ngomong apa?? semua ucapan kamu sama sekali Aku ga paham, surat??! surat apa?! Menikah?? Anak?? sama sekali Aku gak ngerti!! Dan kamu bilang Aku gak berusaha nemuin kamu?? kamu lupa?? ketika kita bertemu di halte hari itu??
Kamu harus tau Vin, hampir setiap hari Aku menunggu kamu disana, tak pernah kita jumpa,, dan hari itu..Aku malah menyaksikan kemesraan kamu dan Agung didepan mata!!"
Dirga menghela nafas dan membalik badan membelakangiku.
Aku tersentak mendengar ucapan demi ucapan dirga, benarkah semua itu??
tentang ia menungguku setiap hari dihalte, namun emosiku saat ini membuatku tak mengindahkah ucapannya,
"Ya!! surat yang kutitipkan pada Tari waktu kita masih kelas 3 SMA,"
__ADS_1
cetusku geram.
"Aku sama sekali tak pernah tau surat itu Vin, sumpah demi Tuhan, Aku tak pernah menerima surat dari kamu!!"
Jawabnya dengan wajah panik dan bingung.
Deg!!
Aku benar-benar terkejut mendengar jawaban Dirga, benarkah Dirga tak menerima suratku?? lalu kemana surat itu? mungkinkah Tari tak menyampaikannya? tapi kenapa? apa maksud Tari ??
ataukah Dirga yang saat ini tengah berbohong?
Aku terduduk lemas, kepalaku kini dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang sama sekali tak kumengerti.
Dirga duduk disampingku,
"Sepertinya, antara kita terlalu banyak kesalahpahaman selama ini,, kamu tenang dulu,, kita bicarakan ini baik-baik"
Ucapnya menenangkanku.
"Jika tentang surat yang tak pernah kamu terima,, lalu bagaimana dengan perempuan yang selalu bersama kamu saat SMA?"
Lanjutku lagi.
"Perempuan?? perempuan yang mana??, Aku sama sekali tak pernah dekat dengan perempuan selama SMA, Aku tak punya waktu untuk itu"
Kilahnya.
"Baik,, untuk itu Aku bisa terima semua jawaban dan alasan-alasan kamu, tapi satu hal yang tak bisa kamu pungkiri saat ini adalah status kamu yang sudah menjadi suami sekaligus Ayah dari anak-anak kamu!"
Aku menunduk, entah mengapa menyebutkan itu membuat terluka, hatiku tiba-tiba terasa teriris, perih dan pedih bercampur baur bersama air mata yang terburai serta isak yang tak dapat kutolak.
Hening,
Aku dan Dirga sama-sama terdiam saling membelakangi.
"Kamu sudah selesai menangis??"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Dirga ketika menyadari Aku menyeka wajahku dengan beberapa lembar tissue yang kuambil dari dalam Tas.
Aku meliriknya dari ekor mata.
"Vina, sampai saat ini Aku masih sendiri, masih memikirkan kamu, masih mengingat kamu dan masih merindukan kamu!!"
Aku menoleh dengan cepat meminta penjelasan dari apa yang bru saja keluar dari mulutnya.
"Ya... Aku belum menikah!! apa lagi memiliki anak!"
Jawaban mantap dari Dirga membuatku terperangah tak percaya.
Lalu,, cerita tentang Baby shop dari Nina??
dan... dan.. perempuan dengan bayi yang kulihat di Mall waktu itu??
Aku memejamkan mata mengatur nafasku yang tiba-tiba menjadi tak beraturan.
"Aku... Aku tidak percaya!!!"
tampik ku kesal.
"Aku berkata jujur Vina, Aku masih sendiri"
Tegasnya.
"Lalu... perempuan dan bayi yang kamu ajak berbelanja di baby shop beberapa waktu yang lalu? kemudian perempuan dan bayi yang bersama kami di Mall 21 beberapa bulan yang lalu??"
Dirga menarik nafas, dan mengusap wajahnya.
"Vina,, Kamu sepertinya perlu mendengar cerita hidupku lebih banyak lagi, agar kamu tau dan tidak salah paham"
Dirga berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku mendongak dengan mata menyelidik.
"Ayo,, ikut Aku... kita cari tempat ngobrol"
Ajak dirga dengan menggerakkan jari-jarinya.
"Udah,, disini aja kalau mau ngejelasin!!"
tolak ku.
"Vina... Ayolah, ceritanya panjang.. tak mungkin aku ceritakan disini, ini sudah senja... kamu mau kita kemalaman disini? Pak Min juga mau pulang,, kasian Dia kelamaan nunggu, lagian apa kamu pernah dengar cerita hantu penunggu sekolah? serem kan kalo sampe Dia nemenin kita ngobrol disini"
__ADS_1
ucapan Dirga ada benarnya, tak mungkin Aku disini sampai malam berdua dengan Dirga, apalagi tentang hantu penunggu sekolah,, mataku mengamati semua bagian gedung sekolah.
Hiii... Aku mengusap tengkuk ku yang tiba-tiba bergidik ngeri.
"Iya.... iya.. ya udah, kita mau kemana?"
Aku menyambut uluran tangannya, dan meninggalkan bangku depan perpustakaan, berjalan kembali menyusuri koridor dan lapangan sekolah.
Sampai di depan pagar,
"Udah selesai napak tilasnya Bi?"
Tanya Pak Min begitu melihat kami berjalan keluar.
"Sudah Pak Min, makasih banyak ya sudah diizinkan, kami pamit pulang."
Jawab Dirga.
"Sama-sama... hati-hati Bi...."
Dirga mengangguk dan melambaikan tangan, kemudian menyalakan motor dan Aku menyusul dibelakangnya.
"Ehm.. Dir, kok Pak Min manggil kami Abi sich??"
"Oh.. itu... Karena di rumah Aku memang dipanggil Abi."
Aku manggut-manggut.
"Ehm... Vin, seriusan kamu gak Papa nich, Agung gak marah kamu belum pulang kerumah?"
Pertanyaan Dirga sebelum motor melaju, namun sengaja tak kutanggapi dan kualihkan.
"Ayo jalan... ntar keburu gelap"
Ujarku.
Dirga menyalakan motor dan melaju tanpa Aku tau kemana Dirga akan membawaku setelah ini.
Hampir setengah jam perjalanan,
Motor memasuki jalanan yang tak terlalu lebar jauh dari kebisingan kota, dan berhenti tepat di sebuah danau dengan lampu warna warni ditengah-tengahnya, ditepinya ditanami rumput jepang yang tebal hingga membentuk seperti karpet hijau yang sangat lembut.
Aku tak pernah datang kesini, bahkan Aku juga tak pernah tau ada tempat seindah dan setenang ini.
"Sini duduk Vin,"
Ajak Dirga.
Aku mengangguk dan duduk disampingnya.
"Vin, kamu belum jawab.. Apa Agung tak marah sampai jam segini kamu belum ada dirumah?"
Dirga memandang wajahku.
"Agung tak ada disini, Dia sedang di luar kota,"
Jawabku.
"Ehm... apa dia gak menelpon??"
Aku menggeleng,
"Dia akan menelpon menjelang aku tidur"
Dirga manggut-manggut.
"Agung kerja apa Vin?"
Dirga kembali bertanya.
"Dia pemilik kafe Milenial"
Mendengar jawabanku, Dirga menghela nafas dan membuang mukanya.
"Sekarang, tolong jelasin ke Aku apa yang tadi belum tuntas kita bahas"
selaku.
"Oke,, setelah Ayah dan Ibuku meninggal,, Aku menetap dirumah Pamanku, disana Aku tinggal bersama 2 anak perempuan pamanku, usia mereka hampir sama denganku lebih tua Aku sedikit, Aku orangnya cukup tau diri, bersyukur diizinkan makan dan tempat tidur gratis, Aku tak ingin menambah beban Paman dengan biaya sekolahku, apalagi kedua anaknya juga sekolah sama sepertiku, meski ia adalah keluargaku sendiri, tapi Aku tak ingin menjadi beban.
Aku sekolah sambil bekerja, sampai tamat SMA, dan perempuan yang selalu bersamaku saat SMA hanya 2 orang itu, Syintia dan Bella anak Paman."
Dirga menceritakan secara detil kehidupannya selama SMA,
__ADS_1
Sementara Aku hanya menyimak dan masih menunggu klarifikasi lanjutan darinya tentang Baby shop dan Mall 21.
Bersambung***