
POV >>> VINA
Cuaca malam yang sejuk akibat hujan deras yang mengguyur dari siang, membuatku lebih memilih menghabiskan waktu dengan beraktivitas diatas kasur bergulung selimut.
Hanya sekedar membaca novel koleksiku yang belum sempat kubaca dari sejak awal membeli.
Sengaja menghibur diri sendiri yang sebetulnya sedang tidak baik-baik saja,
Tentang harapanku pada Dirga, yang sebenarnya masih sangat besar, terpaksa harus ku singkirkan sementara demi sebuah kewarasan jiwa.
Terus memikirkan Dirga membuat Aku hampir gila, membayangkan bersama Dirga di setiap kejadian yang terjadi di hari-hariku sama saja menciptakan goresan luka.
Apa harus kuikuti nasehat Tari untuk membuka hati untuk Agung, ataukah mencoba memberi peluang bagi Daniel untuk masuk lebih dalam lagi di hatiku?
Tetapi, bagaimana jika suatu saat Dirga hadir kembali untuk mempertanyakan hatiku, sanggupkah Aku menyakiti mereka yang tak bersalah, atau dengan mantap menggelengkan kepala untuk Dirga yang sudah kuanggap sebagai masa lalu?
Ahh... rumitnya perasaan ini,
Aku menutup novel yang sedang terbuka di depan mukaku.
Lalu memilih merebahkan tubuhku, lalu memejamkan mata.
Berharap ketika bangun dan membuka mata, perasaan ini sudah lebih baik.
__ADS_1
Harus kuakui, cinta pertama adalah sebuah rasa yang sulit untuk kuhapus begitu saja, tapi untuk menunggu sebuah ketidakpastian rasanya sama sulitnya dengan berjalan ditengah badai.
......................
Waktu terus berlalu, berjalan bersama seribu harapan yang sesungguhnya tak pernah padam,
Begitupun dengan bayang-bayang Dirga yang tak pernah berhenti mengikuti kemana pun Aku melangkah.
Hari berganti, bulan berlalu hingga tahun demi tahun terus kujalani masih dengan harapan yang entah kapan bisa jadi kenyataan.
Aku bukan lagi Anak Sekolahan, kini statusku sudah berganti menjadi staf karyawan disebuah kantor swasta yang cukup bonafide
Masih di Kotaku.
Yang ku ingat, Elza pernah berkata padaku, jika Tari memilih kuliah sambil bekerja di sebuah Universitas swasta, mungkin hal itulah yang membuat Tari sibuk dan tak memiliki waktu senggang untuk sesekali bertemu dan berkumpul dengan kami lagi.
Padahal, andai ia tau..
Aku merindukannya, dan ingin sekali bercerita banyak seperti dulu, namun apa hendak dikata, semua kontak menghilang dan tak ada satupun yang bisa dihubungi bahkan termasuk sosial medianya yang tiba-tiba saja menghilang dari daftar pertemananku.
Aku dan Elza serta Daniel masih memilih kampus yang sama, sementara Nina, memutuskan menikah setahun setelah lulus dari SMA, dan saat ini ia sudah dikaruniai sepasang anak kembar, suaminya seorang ASN.
Elza yang kini serius dengan bisnis onlinenya, yang berkecimpung di dunia kecantikan. sementara Daniel sukses menjadi salah satu karyawan BUMN.
__ADS_1
Dan Diki yang kini berubah menjelma menjadi seorang ustadz dengan penampilan agamis.
Komunikasi kami masih terjalin sangat baik, sesekali ketika libur, kami selalu menyempatkan diri untuk ngafe bareng.
Oh ya, Aku lupa bercerita tentang Agung yang kini sudah kembali lagi ke Kotaku dan menetap tinggal disini, membangun usaha Kafe yang tengah menjamur, dan beberapa distro pakaian anak-anak muda yang selalu ramai pengunjung.
Kehidupanku berjalan dengan sangat baik, karir, keuangan dan persahabatan dan keluarga semua terasa begitu mulus tanpa celah.
Hanya saja, untuk masalah hati..
Sampai detik ini, Aku tak bisa membuka hati untuk siapa-siapa, bukan karena terlalu memilih, hanya sepertinya masalahnya masih sama, Aku masih menyimpan rapat nama Dirga dihatiku.
Dan Aku sendiri tak pernah tau, kapan bisa kulepas nama itu dari hatiku bahkan sampai detik ini, meski tak sedikitpun kudapatkan kabar tentangnya.
Kadang, Aku merasa ingin kuakhiri harapan ini dan melangkah maju menjalin hubungan dengan seseorang lalu menikah, tapi mungkinkah Aku bisa menjalaninya?
Rasanya tak adil jika Aku menjalani sebuah hubungan namun hatiku masih menyimpan rindu pada orang lain.
Aku tak ingin jadi jahat, Aku tak ingin menyakiti.
pikiran itulah yang lagi-lagi mengurungkan niatku membuka hati.
Bersambung***
__ADS_1