Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 122 Ketulusan Agung


__ADS_3

Didalam kamar,


Aku meletakkan paper bag diatas meja, sementara Aku bersiap berganti piyama tidur.


Setelah berada di atas tempat tidur, Aku menatap lama layar ponselku, menunggu kabar dari Agung yang akan mengirimiku lagu untuk di dengarkan menggunakan headphone yang baru saja diberikannya padaku tadi.


Sebenarnya hatiku masih bertanya-tanya tentang lagu apa yang akan dikirimkan Agung sampai harus menggunakan headphone untuk mendengarkannya.


Hampir setengah jam, tetap tak ada pesan yang masuk, sementara mataku belum menunjukan tanda-tanda mengantuk.


Aku mencoba membuka-buka galeri ponsel, dan jariku berhenti menggeser slide, hatiku bergetar, menatap sebuah foto. kebersamaanku dengan Dirga pada waktu itu.


Dari sekian banyak foto yang kami ambil menggunakan ponsel Dirga, hanya satu foto ini yang sengaja kukirim ke ponselku untuk kusimpan sebagai kenangan.


Kutatap lama gambar itu, betapa bahagia kami berdua kala itu,, terlihat jelas dari senyum yang terkembang lepas di wajah masing-masing.


Aku menarik nafas dalam kemudian memilih menghapus foto tersebut.


"Maafkan Aku Dir,, yang tak bisa lagi menyimpan kenangan kita, maafkan Aku hati.. terpaksa merelakan rasa yang tak bisa kupertahankan lagi.. ini yang terbaik.."


Gumamku lirih bersama sakit dan perih yang menyesap pelan-pelan didalam hati.


Tak lama kemudian, dua buah pesan masuk.


"Agung,,"


Ucapku kemudian beranjak duduk bersila membuka pesan tersebut dengan hati berdebar.


Dua buah file lagu,, melihat itu Aku beranjak meraih headphone diatas meja lalu kembali keatas tempat tidur dan menyambungkan perangkatnya ke ponselku.


Begitu lagu pertama di play, tubuhku terasa lemas, hatiku terasa tersayat,, lagu ini adalah lagu yang dibawakan Dirga saat acara pertunanganku waktu itu.


Kenapa Agung mengirimkan lagu ini?


apa maksudnya?


Aku mematikan lagu tersebut, dan memejamkan mata mengatur perasaan yang tiba-tiba kacau setelah mendengarkan kembali lagu itu, membuat Aku mengingat Kembali Dirga, sedangkan saat ini Aku tengah berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya.


Aku menatap kembali ponselku, melihat file ke dua, ada ragu untuk memutarnya,, tapi Aku juga penasaran dengan lagu kedua yang dikirimkan Agung.


Dengan hati deg-degan dan tangan gemetar, ku tekan play,


Aku tersentak ketika nada-nada intro mulai dimainkan,, Aku tau lagu ini... lagu yang menceritakan tentang sebuah kisah dimana seseorang bekum bisa melupakan masa lalunya, meski kini telah bersama orang lain.


Dan ketika bait demi bait syair lagu kudengarkan,, rasa sesak tiba-tiba menekan hatiku,, rasa sedih dan pedih menyeruak dalam jiwa.


Tanpa kusadari, air mataku jatuh perlahan, mengalir membasahi pipi,


rasa sesak didalam hati membuatku tak sanggup lebih lama lagi mendengar bait demi bait lagu tersebut.


Kumatikan lagu dan kuletakkan kembali headphone diatas meja.. Aku terisak sendiri memegang dada yang terasa menyempit, sakit dan terhimpit.


"Ya Tuhan,, kenapa begitu sakit.. begitu sulitkah untuk ku melupakan perasaan yang sudah tak ingin lagi kurasakan"


Tak lama setelah itu,, ponselku berdering,

__ADS_1


panggilan masuk dari Agung.


Kuusap pipiku yang basah.


"Halo... Vin.."


Sapa Agung.


kerongkonganku terasa tercekat, tak kuasa untuk menjawab sapaan itu, ketika tangis dan isak masih tersisa.


Beberapa saat hening,, Agung kembali memanggilku.


"Vin..."


"Ya..."


Hanya kata itu yang bisa kuucapkan.


"Kamu menangis??"


Aku tak menjawab.


"Menangislah... biarkan air mata itu mengalir bebas.. melepaskan segala rasa yang kamu simpan.. jangan ditahan,, makasih kamu sudah mengikuti saranku untuk mendengarkan lagu ini menggunakan headphone menjelang tidur,, Aku cuma ingin tau reaksi kamu,, jika tiba-tiba matamu basah, barangkali masih ada sisa masa lalu yang belum tuntas yang sedang memaksa masuk kembali menuju pikiran dan hatimu, sisa masa lalu itu adalah seseorang yang pernah membuat kamu sangat bahagia,, dan kini harus kamu lepas karena hal yang tidak memungkinkan.


Karena itu,, maka menangislah.. biarkan matamu basah,, jangan diusap... "


Kata-kata Agung sangat pelan dan mengalir lembut masuk kedalam telinga hingga meresap sampai kehati,, membuat isak tangisku semakin menjadi.


Entah apa maksud dari kalimat-kalimat yang diucapkan Agung,, yang pasti kalimat itu seolah tengah menggali lagi semua perasaan yang sudah dengan susah payah ku kubur dalam-dalam.


Cukup lama saling diam, dengan panggilan yang masih tersambung, Aku tak tahu apakah Agung masih disana mendengarkan sisa tangisku.


Setelah merasa lebih tenang, Aku beranjak dari tempat tidur menuju kursi dan duduk menghadap jendela.


"Gung..."


Sapaku untuk memastikan Agung masih berada disana dan mendengarku.


"Ya..."


Jawabnya,, terdengar juga helaan nafas beratnya.


"Kenapa kamu melakukan ini? ada apa? apa ini yang membuatmu terasa berbeda 2 bulan terakhir ini,,"


"Kamu merasakan perubahanku?"


"Ya... sangat terasa,, tepatnya tadi...Aku benar-benar merasa kalau kamu aneh"


"Vina,, sebetulnya Aku tidak berubah,, Aku hanya sedang bingung,, "


"Bungung? bingung kenapa?"


"Bingung dengan sikap kamu,, bagaimana bisa kamu menjalani hubungan dengan Aku tapi hati kamu tersiksa"


"Gung,, maksud kamu?!"

__ADS_1


Hatiku berdetak mendengar jawaban Agung, keringat dingin membanjiri tubuhku, ada perasaan was-was dan takut yang bercampur baur.


"Aku sudah tau semuanya Vin,, Kamu masih belum bisa melupakan Dirga dan kamu juga belum ikhlas dengan hubungan kita.."


"Gung... Aku..."


"Kenapa kamu bohong sama Aku Vin,, tentang status Dirga? kalau ternyata Dirga belum menikah apalagi punya anak,, padahal kamu sudah tau itu"


Agung memotong ucapanku dengan cepat.


"Gung Aku bisa...."


"Kamu masih mencintai Dirga,, masih sangat mencintai Dirga... begitupun sebaliknya..Aku tak ingin menjadi penghalang untuk kalian,, Aku tak ingin kamu melepaskan kebahagian kamu demi Aku, sementara kamu sama sekali tak mendapatkan kebahagiaan itu dari Aku."


"Agung Please... kasih Aku kesempatan buat menjelaskan,, Aku..."


"Aku gak sejahat itu Vin,, Aku ikhlaskan kamu.. jika memang kebahagiaan kamu adalah Dirga,, bukan Aku."


Tangisku kembali pecah, kali ini benar-benar terburai bebas,, bukan cuma karena beratnya melupakan Dirga tapi juga karena ucapan-ucapan Agung yang terasa menusuk kedalam hati.


Aku tak bisa membayangkan hari esok, jika Agung benar-benar memutuskan ikatan pertunangan kami, apa yang akan terjadi dengan hubungan baik Kedua orang tuaku dan keluarga Agung, terutama Tante Ruri.


"Hapus Air mata kamu Vin, jangan menangis lagi.. kita akhiri sandiwara ini,, dan kejarlah kebahagian kamu yang sebenarnya."


Aku tak bisa menjawab apa-apa bahkan Aku tak mampu untuk menemukan sepatah katapun yang bisa ku lontarkan pada Agung.


"bye Vina..."


Klik, sambungan terputus.


Aku menangis sejadi-jadinya, tak pernah kubayangkan sebelumnya hal ini akan terjadi,, tak kusangka malam ini Agung dengan sangat ikhlas melepaskan Aku., tapi bagaimana dengan Mama? Tante Ruri? apa mereka bisa terima?


Dan... Agung,, apa yang sebenarnya sudah terjadi,, mengapa Agung tau jika Dirga belum berkeluarga? siapa yang memberitahunya?


Agung juga tau dari mana jika sampai saat ini Aku masih belum bisa melupakan Dirga.


Dan tentang perasaanku, disatu sisi Aku senang, Aku bahagia bisa lepas dari belenggu yang mengikatku selama ini, tapi disisi lain,, Aku tak tega dengan Agung yang mungkin saja saat ini sedang hancur dan patah hati.


Ponselku bergetar, satu pesan masuk..


"Vina.. jangan risaukan Aku, Aku baik-baik saja.. dan jangan pula bertanya-tanya tentang mengapa Aku memilih keputusan ini,, karena bagiku.. level tertinggi dalam mencintai seseorang itu adalah ketika kita ikhlas melepaskannya demi untuk melihatnya bahagia."


Sungguh pesan yang paling menyayat hati yang pernah kuterima dari seorang Agung.


Dengan cepat ku ketikkan balasan.


"Aku gak tau harus bicara apa,, dan Aku gak tau harus bagaimana... kamu begitu baik,, sangat baik... maafkan Aku....maafkan Aku"


Tak lama, pesan balasan kembali kuterima,


"Tak perlu bicara apa-apa,, mengenai pertunangan kita,, anggap saja itu tak pernah terjadi,, Aku akan bicara sama Mama,, kamu tenang saja... Mereka akan sangat mengerti,, Setelah ini, Aku sudah memutuskan untuk tinggal lumayan lama di Batam, setidaknya sampai diantara kita sudah terbiasa dan siap untuk bertemu lagi, dengan status yang berbeda,,"


Agung mengakhiri pesannya, dan Aku tidak lagi membalasnya.


Agung benar, jika suatu saat kami dipertemukan lagi, tentu dengan status yang tak sama lagi,, dan kami harus siap,, dan Aku tau ini tak mudah bagi Agung.

__ADS_1


Melupakan seseorang yang kita cintai apalagi cinta pertama, itu sama sulitnya dengan menahan air mata yang terlanjur menggenang di kelopak mata, yang harus kita lakukan hanyalah memberinya waktu untuk mengalir perlahan lalu menyekanya.


Berambung***


__ADS_2