Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 54 Gerimis hati


__ADS_3

Detik demi detik berganti, menit berlalu yang kurasakan lebih panjang dari biasanya, Menanti jam pulang yang begitu mendebarkan bagiku hari ini.


Tanpa ba bi bu, Aku berlari meninggalkan kelas dan yang lainnya ketika bel baru saja dibunyikan.


Nina yang keheranan berhasil mengejarku sampai batas gerbang sekolah, disusul Daniel dan Elza namun tidak dengan Tari.


Hosh... hoshh... hoshh..!!


Terdengar nafas tersengal dari Nina yang kini setengah membungkuk memegang perutnya.


"Vin... Kamu kenapa? buru-buru.. mau kemana.. hoshh..hossshh"


Tuturnya terbata dan ngos ngosan.


"Mau pulang"


Jawabku singkat.


"Tumben, pulang kayak dikejar hansip?? emang mau ngapain sih buru-buru amat?"


Sambung Elza sembari memelintirkan ujung poninya.


"Kamu beneran cuma mau pulang Vin??"


Timpal Daniel curiga.


"He ehm..."


Lagi-lagi Aku menjawab singkat dengan anggukan meyakinkan.


"Eh... Tari mana ya??kok Aku baru ngeh ternyata Dia gak nyusulin kita?"


Nina celingak celinguk mencari keberadaan Tari yang tak kunjung keluar kelas.


"Iya ya.... kemana Dia??"


Elza turut melongokkan kepalanya.


"Mungkin masih mencatat tugas di papan tulis tadi, udah ya Aku duluan,"


Jawabku bergegas pergi begitu nampak bis sekolah berhenti di depan halte tak jauh dari gerbang sekolah.


"Vin, tunggu!!"


Cegat Daniel begitu Aku hampir meninggalkan mereka.


"Ada apa?"


Tanyaku begitu Daniel berhasil menghentikan langkahku.


Daniel berjalan mendekatiku.


"Tumben naik Bis,, ??"


Tanyanya heran, sebab yang mereka tahu semenjak SMA, Aku lebih suka memesan Ojek online ketimbang naik Bis.


"Lagi pingin nostalgia ya Vin??"


Celetuk Nina sembari tersenyum.

__ADS_1


Kubalas senyum Nina dengan kerlingan mata menggodanya.


Daniel terdiam begitupun Elza yang sepertinya tak paham.


Aku meninggalkan Nina, Elza serta Daniel dan dengan cepat naik kedalam Bis yang sudah bersiap kembali melaju meninggalkan Halte SMA.


Memilih duduk di bagian pinggir kaca dan melambaikan tangan pada ketiga sahabatku yang masih berdiri menyaksikan kepergianku dari mereka.


Aku bersandar dengan banyak angan-angan.


Entahlah, apakah angan-angan ini bisa ku genggam atau akan menyisakan kekecewaan Aku tak peduli, Aku cuma berharap hari ini akan menjadi hari keberuntunganku.


Terbayang sudah didepan mataku, senyum hangat Dirga, jabat tangannya yang akan menerima uluran tanganku, begitupun dengan tatap sendunya yang telah lama kurindu, belum lagi kata demi kata manis yang akan ia ucapkan untukku tentang kerinduan beberapa tahun ini, belum lagi tindakan-tindakan spontan Dirga yang kerap membuat detak jantungku berhenti sesaat pasti akan sangat mewarnai hari ini.


"Ahhh... rasanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di halte itu!!"


Batinku.


Aku mengepal tangan dan memejamkan mata dengan hati berdebar.


Hampir setengah jam berlalu,


Ketika Bis terasa memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depan halte yang kutuju.


Hatiku berdebar hebat, sebisa mungkin Aku mengatur nafas dan mengendalikan Diriku sendiri.


Aku beranjak lalu turun dari bis.


Seketika terlihat cukup ramai orang-orang duduk dan berdiri di halte tempat dimana Aku turun.


Dengan seksama kuperhatikan satu persatu wajah-wajah mereka, mencari seseorang yang kukenal yang tengah kurindukan.


Hingga sampai diujung, sama sekali tak kujumpai Dirga, bahkan merasa tak yakin dengan penglihatanku, Aku mecoba mengulanginya lagi.


Dan benar!! Memang tak ada Dirga disana.


Dengan langkah kaki yang gontai Aku menuju ujung bangku halte dan terduduk lemas disana.


Rasanya sakit sekali, ketika harapan besar ini tidak menjadi kenyataan, semua angan-angan ku sepanjang berada di bis tadi seolah terhembus bersama angin yang bertiup cukup kencang siang ini, langit pun tampak gelap segelap hatiku saat ini.


Dan benar saja, tak berapa lama gerimis turun mengguyur kota ini, seolah turut menangisi kebodohanku siang ini.


Aku tertunduk dengan butir-butir bening yang terlanjur mengalir dari sudut mataku.


Aku tak menyalahkan siapa-siapa, ini murni kebodohanku yang membuat keputusan untuk bertemu Dirga dihalte ini tanpa ada janji sebelumnya, jadi hal yang wajar jika siang ini Aku tak berjumpa dengannya.


Memang bukan suatu hal yang patut ku tangisi, Aku juga tak pantas kecewa pada keadaan ini, tapi entahlah ada rasa nyeri yang teramat hebat saat harus keterima kenyataan jika harapanku sia-sia.


Nampak dikejauhan sebuah Bis Akan kembali tiba di halte tempat ku duduk saat ini, Aku menoleh, dan menghapus air mataku.


Tiba-tiba saja muncul harapan baru.


"Jangan-jangan Dirga ada disalah satu penumpang disana"


batinku.


Dengan cepat Aku berdiri,, menyambut Penumpang keluar dari dalam Bis yang berhenti.


Dan lagi-lagi, Aku harus kecewa, keadaan bis yang kosong membuatku menelan ludah, hanya ada satu penumpang yang turun, dan itu bukan Dirga, Sementara satu persatu orang yang ada di halte tempatku menunggu masuk kedalam Bis kemudian Bis kembali melaju membawa mereka menjauh dariku.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Aku seorang diri duduk di ujung bangku halte, terisak menahan pedihnya rindu yang tak kesampaian.


Untuk pulang kerumah, rasanya tidak mungkin berjalan menerobos hujan yang semakin lebat, sesekali terdengar petir menggelegar.


Aku menutup wajahku, menangis melepaskan sesak yang mendera hatiku.


Hingga tanpa kusadari, seseorang datang menghampiriku, berdiri tepat dimana Aku sedang duduk.


Aku terkejut ketika mendapati sepasang kaki ada di hadapanku.


Dengan hati bertanya-tanya tentang siapa yang tengah mendekatiku di saat hujan deras melanda.


Kepalaku mendongak,


"Daniel??"


gumamku.


"Kamu kenapa??"


ucapnya dengan mata lurus memandangku.


Aku menggeleng dan kembali menunduk.


Daniel menangkupkan kedua tangannya dipipiku, lalu mengusap bawah mataku.


"Lihat kamu sekarang!! begitu menyedihkan!!"


Umpatnya.


Aku menelan ludah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa masih disini?"


Daniel mengeluarkan sapu tangan dan menyodorkannya kepadaku.


"Filing Aku benar, pasti kamu kenapa-kenapa, makanya Aku susulin kamu, dan benar saja, duduk sambil menangis sesegukan dipojokan halte seperti ini!! "


Sambungnya lagi, kali ini dengan duduk disampingku.


Aku tidak menjawab, bahkan tak berani menatap matanya.


"Kamu nungguin siapa?? cinta pertamamu? lalu kenapa menangis?? Dia tak menepati janjinya??"


Dicecar pertanyaan beruntun dari Daniel membuatku semakin tak bisa membendung air mataku.


"Aku gak ngerti ya sama kamu!! Aku gak tau, apa isi hati dan kepala kamu, hingga kamu begitu yakin tentang cinta pertama yang sampai detik ini tak ada kabar sejak dia meninggalkan kamu tanpa kepastian apa-apa!"


Daniel memijat pelipisnya sesaat, kemudian kembali menatapku yang terpaku lesu.


"Buka mata dan hati kamu Vin, masih banyak yang mungkin lebih baik dari sekedar mengharap sebuah ketidak pastian!"


Sambung Daniel lagi.


"Berhenti membodohkan mata hati demi sebuah perasaan sepihak!!!"


Kali ini Daniel sembari menggenggam jemariku yang telah dingin kaku akibat percikan hujan.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2