
Waktu terus berjalan, hari-hari indah tanpa kepastian tetap begulir hingga detik ini, 3 tahun berlalu, sungguh terasa begitu cepat.
Aku tak tau harus bagaimana menyimpulkan semua ini, sebuah hubungan tanpa kepastian, tanpa status, namun terasa begitu indah dan sangat berkesan.
Dirgantara Abinata, sebuah nama yang mengisi hati di perjalanan masa remajaku, tanpa pernah Aku tau bagaimana perasaannnya selama 3 tahun ini kepadaku, begitupun sebaliknya, semua mengalir begitu saja, bahagia dan berwarna, sesekali ada cemburu yang kerap membumbui hari-hari indah yang mungkin akan segera berlalu.
Dan hari ini, mungkinkah menjadi hari terakhirku menatap wajah itu?
Aku menatap diriku di depan cermin, merapikan seragam yang mungkin akan sangat aku rindukan.
"Vin.... Buruan Nak, nanti kita terlambat.."
Mama berbicara dari luar kamar.
"Iya Ma..."
Jawabku.
Hari ini penerimaan kelulusan, dan ada rasa sedih yang samar-samar muncul dihatiku, entahlah..
Setelah selesai sarapan,
dengan diantar Papa, Aku dan Mama berangkat kesekolah.
"Sayang... Papa gak ikut gak kenapa-kenapa kan?"
Ujar Papa,
"Iya Pa,"
Jawabku singkat.
"Tapi nanti langsung kabarin Papa ya Nak hasilnya"
"Siap Pa... tapi kalau ternyata Vina gak lulus gimana Pa?"
Aku menunduk.
"Hahha... gak mungkin lah.. Papa yakin, kamu dapat nilai terbaik kok"
Hibur Papa.
Tak terasa mobil sampai dan berhenti tepat di gerbang sekolah.
Setelah berpamitan pada Papa, Aku dan Mama segera turun dan melambaikan tangan pada Papa yang segera berlalu meninggalkan sekolah.
Baru saja kakiku melangkah memasuki gerbang sekolah, mataku menatap wajah itu.
Dirga tengah berdiri di samping gerbang menatapku terpaku.
Ingin sekali Aku berlari menghampirinya, namun semua tak mungkin kulakukan, Ada Mama disampingku, selama 3 tahun ini tak pernah sedikitpun Aku bercerita tentang Dirga dan perasaanku terhadap siapapun termasuk Mama.
Aku hanya melempar senyum tipis dan sedikit mengangguk pada Dirga, sambil terus melangkah disamping Mama. Beruntungnya Dirga paham posisiku, iapun membalas senyumku dengan sorot mata teduhnya.
Setelah mengantar Mama kedalam ruangan,
"Ma.. Vina mau keluar ya, mau cari Nina dulu Mama disini gak papa kan?"
"Iya sayang gak papa, lagian ini juga udah ramai orang tua siswa yang datang"
Terlihat Mama mengambil tempat duduk di sebelah Ibu-Ibu lain yang datang lebih awal dari kami.
__ADS_1
Begitu diluar, Aku berjalan dan menoleh keseluruh tempat mencari keberadaan Dirga,
namun tak kutemukan.
"Kemana Dia?"
ujarku pelan.
"Haiii tayang Akuuuuuuu"
Suara cempreng Nina mengagetkan Aku.
"Hai.."
Jawabku singkat tanpa menoleh, mataku terus berkeliling mencari Dirga.
"Waduhh... Responnya gitu aja, gak rindu nih... satu minggu gak ketemu Eke....?"
Nina menggodaku.
"Hahha, rindu... Kata siapa Aku gak rindu?"
"Abisnya... kamu cuek, lagian kamu kenapa sih... celingak celinguk gitu? Nyari apaan, nyari siapa??"
Cecar Nina cemberut.
"Dirga, kamu lihat gak??"
"Ohhhh... lagi mencari si tuan muda itu? disana noohhhh... tadi Aku lihat dia jalan kesana!"
Nina menunjuk arah perpustakaan.
"Oh.. iya.... kenapa juga Aku gak kepikiran dari tadi ya...."
"Oh.. disana ya? oke, makasih ya Nin... Aku kesana dulu ya... ehm.. kamu tunggu Aku dikantin ya, nanti Aku nyusul, Oke Bye...."
Aku berlari kearah perpustakaan, namun tiba di tikungan koridor, tiba-tiba Aku berhenti sejenak.
"Tempat ini.. tempat pertama kali Aku ngobrol sama Agung waktu Dia nabrak Aku kala itu"
batinku yang tiba-tiba mengingat Agung.
Ahh.... entahlah, tiba-tiba saja Aku merindukannya.. sudah lama sekali Dia tak mengontakku, begitupun Aku padahal dulu Agung sempat janji akan pulang menemuiku saat libur sekolah.
"Loh... kok Aku malah berhenti disini, dan... sempat-sempatnya mikirin Agung"
Aku menepuk jidat dan segera berjalan cepat menuju perpustakaan.
Sesampainya di depan pintu perpustakaan, mataku segera menyorot tempat dimana biasa Aku dan Dirga bertemu.
Senyumku terkembang, melihat seseorang yang tengah membaca buku dengan bersandar.
Aku melangkah cepat mendatanginya.
"Hai... lagi serius nih?"
Sapaku.
Dirga menutup bukunya lalu tersenyum padaku.
"Tidak ada yang lebih serius dari ketika Aku menatap kamu"
__ADS_1
Ujarnya.
Bukan Dirga jika tak berkata-kata manis yang mampu membolak-balikkan hatiku.
Aku menunduk malu menghindari kontak mata dari Dirga.
Lalu memilih duduk disampingnya.
"Vin, setelah ini kamu melanjutkan kemana?"
Tanya Dirga masih memegang buku.
"Aku lanjut ke SMA Putra Bangsa, kamu?"
Jawabku yang dalam hati berharap Dirga akan menyebutkan nama sekolah yang sama denganku.
"Ehm.. berarti, kita gak sama-sama lagi"
Tutur Dirga dengan satu tarikan nafas.
Mendengar penuturannya barusan seperti ada yang menusuk dihatiku, perih yang tak bisa kupahami.
"Emangnya kamu melanjutkan kemana?"
tanyaku menatap Dirga serius.
"Orang tuaku sudah mendaftarkan Aku di SMA Merdeka Raya"
"Bukannya sekolah itu jauh banget ya dari rumah Kamu?"
Tanyaku bingung tentang mengapa Orang tua Dirga memilihkan sekolah yang sangat jauh dari tempat tinggalnya.
Dirga mengangguk sesaat sebelum ia menjawab.
"Iya Vin, setelah ini Aku akan tinggal di rumah saudaraku yang dekat dengan sekolah itu, karena orang tuaku dalam waktu dekat Akan pindah kerjaan"
Aku tercekat mendengar jawaban Dirga, dengan kondisi seperti itu akan sangat sulit untuk bisa kembali bertemu dengan Dirga.
"Ehm... kenapa kamu gak ikut pindah aja sekalian sama orang tua kamu?"
"Gak bisa, kerjaan orang tuaku tidak menetap akan sering berpindah tempat"
Hening...
Hingga panggilan dari pengeras suara menyadarkan kami dari kebisuan.
"Eh..Dir, kayaknya udah mau mulai"
Aku beranjak dari bangku,
"Ehm... Vin, tunggu....."
Dirga mencekal lenganku untuk menghentikan langkahku meninggalkannya.
Aku menoleh.
"Vin.. pulang nanti, Aku tunggu kamu disini lagi ya..."
Ucapnya.
Aku yang bingung hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkannya yang masih duduk memegang buku.
__ADS_1
Bersambung***